
Femila menyandarkan kepalanya di dada laki-laki yang memang sudah sah menjadi suaminya. Wajah Femila mendongak menatap laki-lakinya.
"Kalau kamu terus tatap aku kapan tidurnya," ucap ustadz Mirza dengan merekahkan senyum di bibirnya.
"Ustadz gantengnya kelewatan," ujar Femila tanpa mengedipkan mata. Bahkan sekarang dia tengkurap dan menatap intens wajah suaminya.
Senyum lagi tergambar di wajah ustadz Mirza.
"Aku memang ganteng, kamunya saja yang baru menyadarinya," tukasnya sambil menoel hidung istrinya.
"Auw...sakit Ustadz," pekik Femila dengan memegang hidungnya.
Ustadz Mirza terkekeh melihat raut muka istrinya dan tangannnya langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Ustadz...," panggil Femila jemarinya masih bermain manja di dada suaminya.
"Hmmm," dengung ustadz Mirza matanya dia pejamkan.
"Ada apa?" Tanya ustadz Mirza karena sang istri tetap diam tidak melanjutkan kalimatnya, tangannnya kini membelai rambut sang istri.
Femila menggeleng malah mengeratkan pelukannya.
Ustadz Mirza tersenyum mendapati sikap istrinya.
"Lanjut sesi dua?" Goda ustadz Mirza yang langsung mendapat cubitan dari sang istri.
...****************...
Sudah dua hari ini Habibi cuti pulang kampung. Aliyah juga 8 hari ke depan cuti akan mengikuti ujian skripsi. Pulang kerja dia di jemput ustadz Mirza karena ada sesuatu yang tertinggal, akhirnya ustadz Mirza memutuskan kembali ke kampus.
Mata Femila menatap tajam ke spion mobil. Sedikitpun tidak berkedip. Gigi atas dan bawahnya gemeretak menahan emosi dan gemuruh dalam dadanya.
Orang yang di tunggu sedari tadi masuk ke mobil dan duduk di jok pengemudi.
"Maaf agak lama," ucapnya sambil memasang seat-belt.
Ustadz Mirza menatap Femila karena wanita di sampingnya diam dengan wajah cemberut. "Kenapa?" Heran ustadz Mirza.
"Ustadz...saya minta tanda tangannya, Ustadz...foto dulu, Ustadz...,Ustadz... Issttt enggak banget sih," ketus Femila dengan menirukan gaya bicara mahasiswi-mahasiswi yang baru menghampirinya sebelum dia masuk ke mobil.
Ustadz Mirza tersenyum melihat Femila menunjukkan rasa tidak sukanya kepada mahasiswi-mahasiswi yang baru menghampirinya.
"Mereka tetaplah mahasiswiku." Ucap ustadz Mirza lalu melajukan mobilnya.
Femila tetap diam bibirnya terlihat manyun karena masih merasa kesal.
"Kamu cemburu?"
"Ustadz jangan besar kepala. Biasa saja. Tidak suka bukan berarti cemburu," sanggah Femila.
"Oya?"
"Hmmm"
__ADS_1
Ustadz Mirza tersenyum kecil. Femila masih saja si keras kepala yang gengsinya luar biasa.
"Mengapa gengsi mengucapkan cemburu?" Tanya ustadz Mirza.
Femila terdiam, dalam batinnya mengutuk tindakannya, "Ih...apaan Fem! Jangan kekanakan! Nggak banget sih kamu!"
Tiba-tiba ustadz Mirza menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti Ustadz?" Heran Femila.
"Ada yang perlu diperbaiki."
"Mobilnya?" Lugu Femila.
"Kamu mendekat dulu," pinta ustadz Mirza tangannya mengisyaratkan agar wajah Femila mendekat.
Femila menurut mendekat.
"Mendekat lagi."
Seperti terhipnotis ucapan ustadz Mirza, Femila mendekat dan tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di bib*r Femila.
"Ustadz!" Femila menepuk paha lelaki yang memang sudah sah menjadi suaminya.
Ustadz Mirza tersenyum mendapatinya, " Itu hukuman kalau kamu terus memancingku dengan memanyunkan bib*r kamu," terangnya.
"Issst apaan sih Ustadz, menepi tiba-tiba hanya mau cium," gerutu Femila.
"Mesum." Celetuk Femila.
Ustadz Mirza malah terkekeh.
"Ayo cepat jalan," pinta Femila.
"Iya, aku tahu kamu sudah tidak sabar."
"Ustadz...," Femila melirik ke arah ustadz Mirza mengisyaratkan agar stop menggodanya.
"Saya tidak salahkan? Kamu memang sudah tidak sabar ingin...," Ustadz Mirza sengaja menggantung kalimatnya.
"Ustadz. Fokus nyetir."
"Tapi benarkan kamu tidak sabar ingin sampai rumah."
"Hmmm," dengung Femila yang akhirnya mendengar jawaban berbeda dari ustadz Mirza.
...****************...
Femila asik membaca buku di ruang kerja ustadz Mirza, tubuhnya ditengkurapkan menatap buku yang ada di depannya, kakinya bermain manja digoyangankan menekuk ke pantat kembali rentangkan, menekuk, rentang.
Tanpa sadar ada sepasang mata yang menatap tajam dan gelisah dengan tingkah Femila. Kancing atasnya langsung dia buka, merasa gerah saja.
"Fem..." Panggil Ustadz Mirza, dia tetap duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
Femila menoleh namun tetap diposisi semula, "Apa Ustadz?" Jawabnya.
"Kemari," pinta ustadz Mirza.
Femila menurut, berjalan ke arah ustadz Mirza.
"Apa Ustadz?" Tanya Femila kembali dan pantatnya duduk di tepian kursi kerja itu. Tangannya melingkar ke bahu suaminya.
"Tetap seperti ini," titahnya dengan mengelus tangan Femila yang melingkar di bahunya.
"Itu maunya Ustadz. Tidak tahu ya, kalau lama-lama seperti ini kaki kanan saya merasa nyeri," protes Femila.
"Duduklah," ustadz Mirza menepuk dua pahanya.
Femila langsung menggerakkan tubuhnya dan duduk di pangkuan sang suami.
Ustadz Mirza menjuntaikan dagunya di bahu sang istri. Sementara dua tangannya bergerak lincah di atas keyboard.
"Saya ambil buku dulu Ustadz," pinta Femila dan pantatnya akan dia angkat namun ustadz Mirza malah menurunkan tubuh itu dengan dua tangannya.
"Tetap di sini."
"Ustadz...," Femila bergerak manja di atas pangkuan.
"Jangan banyak gerak," protes ustadz Mirza karena di bawah sana ada yang lebih protes mendapati gerakan Femila.
"Aku hanya mengayunkan kaki." Ucap Femila dan masih mengayunkan kakinya.
Ustadz Mirza membulatkan matanya, menahan sesak sesuatu yang menyesakan di sana.
Jemari ustadz Mirza berhenti berselancar di atas keyboard kini tangannnya beralih selancar di bahu Femila dan turun di perut sang istri.
Dagunya masih dibiarkan menjuntai di bahu sang istri.
"Kamu harus tanggung jawab, sudah berani memancingku," bisik ustadz Mirza di telinga Femila.
Femila melepas tangan yang melingkar di perutnya, tubuhnya beranjak dari duduk dan sekarang berdiri menghadap ustadz Mirza. Kedua tangannya kini menangkup rahang lelakinya.
cup
Sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuh
dua ingsan yang kini mulai melancarkan serangan demi serangan. Saling berpaut dalam melodi gairah cinta dan berakhir dengan sengatan kenikmatan surgawi.
Mengobati rindu kalian tidak ya🤔🤭.
Hai readers... Bagaimana kabar kalian. Author kok kangen dengan kalian padahal baru ditinggal berapa hari. Sebagai pengobat rindu nih aku kasih extra bab...semoga suka.
Jangan julid kok dikit amat Thor🤭. Ah...kurang Thor🤭, kurang greget. Wuideih🤣🤣🤣🤣
Kalau komen kalian masih banyak yg minta extra bab, ok...lain hari aku lanjut. Catat, banyak komen dan like🙏🤭
Mampir juga ya...ke karya baruku insya Allah rilis besok. Om Kamu! Bukan Ayahmu. Yakin dech ceritanya tidak kalah seru.🙏
__ADS_1