
Ustadz Mirza langsung masuk ke toilet dan wanita yang dia khawatirkan menghambur mendekapnya. Pipinya sudah basah dengan air mata.
"Tamu bulanan datang," lirihnya.
Tangannya mengelus halus rambut sang istri. "Dipakai dulu pembalutnya," pinta ustadz Mirza.
Femila masuk kembali ke kamar mandi, sementara ustadz Mirza menunggu di luar. Setelah pintu toilet dibuka, Ustadz Mirza segera membopong Femila. Tubuh itu dia naikkan di ranjang.
"Tidurlah," ajak ustadz Mirza tangannya meraih tubuh Femila agar tidur dalam dekapannya.
"Maafkan aku Ustadz," ucap Femila pelan.
"Loh...minta maaf kenapa?"
Femila sesenggukan tidak mampu menjawab tanya dari lelaki yang masih mendekapnya.
"Sayang...ini alasan aku kurang setuju konsultasi ke dokter kandungan. Ok semua itu benar, untuk memeriksaan kesehatan reproduksi kita. Itu salah satu bentuk ikhtiar. Tapi yang aku khawatirkan, ya ini. Kamu jadi stres dan merasa tertekan untuk mendapat garis dua."
Femila terdiam, suara sesenggukannya tidak terdengar lagi.
"Kita serahkan sama Allah. Kalau dibawa stres malah tidak menghasilkan garis dua. Kita juga baru menikmati masa-masa bersama sayang," sambung ustadz Mirza.
Femila mengangguk pelan.
"Jangan dengarkan orang bicara. Jangan ambil pusing. Bahagia tidaknya sebuah rumah tangga tidak ditentukan dari anak. Memang anak hadiah sekaligus amanah yang luar biasa dari Allah tapi kalau Allah belum menitipkan kepada kita itu artinya kita belum mampu menerima titipan itu. Yakinlah Allah akan memberi di waktu yang tepat," terang ustadz Mirza
Femila diam hanya tangannya yang mampu menjawab apa yang diucapkan sang suami. Tangan yang melingkar itu semakin memeluk erat tubuh sang suami.
"Sayang, aku sulit bernapas, pelukannya bisa dilonggarkan sedikit?" Pinta ustadz Mirza.
Femila terdiam pura-pura tidak mendengarkan permintaan sang suami. Pelukannya malah semakin dieratkan dan kali ini kaki kirinya dia angkat dan taruh di atas kaki ustadz Mirza.
Mata ustadz Mirza terbelalak. Hatinya bergumam, " Femila, kenapa makin menyiksa terompetnya adek? Dia semakin tidak bisa bernapas. Sesak di sana. Ya Allah... kuatkan hamba."
"Ustadz bener-bener sesak napas?" Tanya Femila kepalanya mendongak menatap wajah ustadz Mirza yang sedang menggigit bibir bawahnya dan tangannnya sudah melepas pelukan tapi kakinya bergerak menekan paha ustadz Mirza.
Ustadz Mirza mengangguk pelan. Matanya dia pejamkan meremang.
"Kaki kamu jangan banyak gerak sayang," ucap ustadz Mirza datar.
Femila tersenyum, menenggelamkan kepalanya dalam pelukan sang suami.
"Selamat tidur sayang," ucap Femila.
"Hmmmm," dengung ustadz Mirza matanya terbuka menunggu Subuh datang.
...****************...
"Ini proyek penting Fem! Kenapa sampai tidak kamu menangkan?!"
Femila terdiam di depan pak Freddy. Emosi atasannya memang seperti roller coaster sering naik turun dan tidak segan-segan kalau marah.
"Saya bicara dengan kamu Fem! Jangan diam saja. Ayo jawab."
__ADS_1
"Saya menunggu Bapak tenang baru saya bicara," jawab Femila langsung keluar ruangan ceo itu karena hampir 30 menit dia sudah mendengarkan omelan dari atasannya. Setiap sanggahan yang dia lontarkan selalu salah di mata atasannya, akhirnya dia menyerah dan lebih memilih keluar dari ruangan itu.
"I-i-itu anak...," greget pak Freddy tangannya meremas berkas yang dipegangnya akan mengarahkan ke Femila.
"Bos...yang tenang," rayu Aufar tangannya mengelus punggung atasannya dan tangan satunya meraih berkas yang diremasnya.
"Tarik napas dalam-dalam Bos, keluarkan perlahan. Ulangi, tarik dalam-dalam keluarkan perlahan...," ajak Aufar dan diikuti bosnya.
"Sudah mending tenang Bos?" Aufar memastikan.
Pak Freddy masih melakukan treatment atur napas, kepalanya mengangguk sebagai jawaban dari bawahannya.
"Boleh eke bicara?"
Pak Freddy mengangguk.
"Femila and tim sudah bekerja keras untuk proyek ini. Soal berhasil tidaknya bukankah itu rejeki Bos? Dia selalu memenangkan tander kalau kali ini gagal wajarlah. Bukan seperti itu Bos?"
Pak Freddy lagi mengangguk atas penuturan Aufar.
"So...eke berharap Pak Bos nggak ngulang lagi dech. Kasihan tuh Femila."
"Ya, ya."
Sementara di ruang kerja Femila.
"Ya Allah... amit-amit deh itu Bos," keluh Femila dengan membuang napas kasar.
"Dia tidak tahu apa, bagaimana kita bekerja. Sampai dibela-belain lembur," protesnya mulutnya memanyun.
"Kamu kaya tidak tahu sifatnya si bos. Paling bentar lagi memanggil kamu dan meminta maaf," ucap Silla.
"Hmmmm," dengung Femila merasa frustrasi.
"Aliyah kok tidak kelihatan?" Alih topik Silla.
"Sedang salat Ashar."
"O...kamu tidak ikut salat?"
"Tamu bulanan datang."
"Gagal progam anak?" Tanya Silla pelan.
"Belum rezeki."
"Betul, kalau sudah rezeki pasti datang ke kalian."
Femila tersenyum kecil kepalanya mengangguk menyetujui ucapan sahabatnya itu.
"Aku siap-siap mau pulang," pamit Silla kemudian beranjak dari duduknya.
"Ya," jawab Femila juga mulai berkemas.
__ADS_1
Bumi terus berputar pada porosnya, menjemput sang waktu yang tanpa sedetik pun tetap bergeser dari masa lalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.
Femila sedang duduk menyandar di kepala ranjang. Tatapannya tidak beralih dari ponselnya. Ustadz Mirza yang sedari tadi di sampingnya sesekali melirik ke wanita yang memang sah menjadi istrinya.
"Sepertinya masih sibuk?" Tanya ustadz Mirza yang menghentikan jemarinya berselancar di atas layar ponsel.
"Tanggung Ustadz,"
Ustadz Mirza mengangguk pelan.
Femila menghempaskan napasnya kasar. Matanya berhenti menatap layar ponselnya.
"Kenapa, ada masalah dengan pekerjaan?"
"Bos uring-uringan, perusahaan kami gagal memenangkan tender," curhat Femila.
"Pak Freddy melakukan itu?"
"Hmmm," dengungnya kemudian matanya fokus kembali ke layar ponsel dan jemarinya berselancar.
"Apa lebih baik kamu mengundurkan diri, tidak usah bekerja?"
Femila menghentikan kegiatannya matanya menatap tajam ke arah lawan bicaranya, "Ustadz ingin aku berhenti kerja?" Tanya Femila namun mulutnya sudah mulai mewek.
"Bu-bukan itu maksudku, cuma..."
"Ustadz kan yang setuju kalau aku masih tetap kerja, kenapa sekarang malah disuruh berhenti kerja," sanggah Femila memotong bicara ustadz Mirza.
"Sayang...,"
"Nggak! Ustadz berubah," Femila memotong bicara ustadz Mirza dan menepis tangan yang hampir membelai pucuk kepalanya.
Tangannya segera meraih kruk yang ada di tepi ranjang dan melangkah ke toilet kamar.
"Astaghfirullah haladhim...apa wanita yang datang tamu bulanan emosinya labil seperti itu? Katanya kalau mau datang tamu bulanan baru emosinya labil. Ini kenapa sebelum dan saat datang labil seperti ini?" Ustadz Mirza menghempas napasnya pelan.
Femila keluar dari toilet kemudian naik ke ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya tidur membelakangi ustadz Mirza.
"Baca doa dulu sayang," ajak ustadz Mirza.
Mulut ustadz Mirza melantunkan doa sebelum tidur diiringi Femila.
"Jangan salah tanggap Fem, apapun yang kamu lakukan asal tidak melanggar agama aku restui. Hanya saja aku tawarkan kamu untuk berhenti kerja barangkali kamu bosan kerja. Kalaupun kamu tetap ingin kerja, silahkan sayang," tutur ustadz Mirza. Tangannya kini melingkar di pinggang wanita yang ada di sampingnya.
Femila memegang tangan itu kemudian menciumnya.
Mendapat respon sang istri ustadz Mirza tersenyum tangan satunya mengulur di leher Femila dan menyandarkan kepala Femila di lengannya.
Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Femila, "Tidurlah sayang," ajak ustadz Mirza yang mulai memejamkan mata menjemput mimpi dengan sang istri.
Dalam berumah tangga pasti ada masalah, pasti ada pertikaian, pasti ada beda pendapat. Dua isi kepala tidak mungkinlah sama. Semoga kekurangan dan kelebihan pasangan kita menjadi nilai lebih dalam berumah tangga.
Selamat siang readers... Terima kasih masih setia dengan tulisan remahan ini. Maafkan author yang sudah lama tidak nongol. Kalau author janji mau lanjut Insya Allah author lanjut walaupun harus nunggu lama🤭🙏.
__ADS_1
Lope lope pull buat kalian. Semoga kita selalu sehat. Amin 🤲.
Adakah sisa vote?🤭bolehlah kirim ke karya remahan ini. Like, komen jangan lupa ya.