KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 73


__ADS_3

Kini jantungnya seperti kena sengatan listrik, terkejut hingga ritmenya terlampau cepat.


"Mengapa terlalu mendadak?" Tanya Femila dengan nada ketus.


Ustadz Mirza tersenyum. Tangannya akhirnya menoel hidung istrinya." Kamu bisa ikut kok."


"Si-siapa juga yang mau ikut. Tinggal pergi saja kenapa laporan denganku." Gerutu Femila, tangannnya menarik selimut dan menutup tubuhnya.


"Padahal sudah saya izinkan ke pak Freddy loh..."


"Kenapa tidak konfirmasi ke aku dulu!" Femila menyibak selimutnya dan duduk menatap ustadz Mirza.


"Karena pasti ada yang bakal kangen kalau saya tinggal sampai 10 hari," canda ustadz Mirza.


"Pasti kangen, kalau yang ditinggal itu Habibi." jawab Femila dengan tawa terkekeh.


"Habibi itu selalu ikut kemana saya pergi. Saya juga ingin wanita yang di hadapan saya nanti juga ikut saya pergi."


Femila mencibirkan bibirnya.


"Jangan memancing saya dengan memainkan bibir kamu," goda ustadz Mirza dan Femila langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Ustadz Mirza hanya tersenyum melihat tingkah Femila.


"Berdoa dulu istriku," ajak ustadz Mirza melihat Femila menarik selimut mengambil posisi nyaman untuk tidur.


"Hmmm."


Setelah berdoa mereka terlelap dalam tidur, menjemput mimpi.


...****************...


Siang hari, di hari Minggu.


Femila duduk di kursi ruang kerja ustadz Mirza. Selama menikah dengan ustadz Mirza, hanya beberapa kali dia duduk-duduk di ruang itu. Ruang yang lumayan luas untuk sebuah tempat kerja pribadi. Berukuran 4x10 meter ruangan itu di tata rapi, meja kerja dengan dua kursi dan satu kursi untuk yang empunya ruang itu. Ada juga karpet yang biasanya untuk duduk lesehan dengan sahabat-sahabatnya yang selalu betah di ruang kerja itu dan yang paling menarik untuk seorang Femila, di ruang itu ada dua lemari yang diisi penuh buku-buku koleksi ustadz Mirza. Mulai dari ilmu umum sampai ilmu agama. Boleh dibilang ruang kerja itu sebagai perpustakaan mini. Jumlah buku itu mungkin sudah mencapai ribuan buku.


Tangan Femila bergerak menyapu buku-buku yang tertata rapi di rak itu. Matanya terus mengeja judul-judul buku itu. Tangannya berhenti pada satu buku dengan judul tafsir al Jalalain, memorinya tiba-tiba teringat pertama kali Aliyah bekerja dengannya.


Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Tidakku sangka, sekarang kita malah akrab Al," lirih Femila.


Matanya kemudian memandang ke buku yang ada di rak paling atas. Kaki Femila sudah berjinjit mengambil buku itu. Tiba-tiba ada tangan yang memegang erat pinggangnya dan membopong tubuhnya ke atas.


Femila tersentak kaget, "Turunkan Ustadz." Pinta Femila, dia tahu orang yang membopongnya pastilah ustadz Mirza.


"Ambil dulu bukunya baru saya turunin."


"Sudah," ketus Femila.


"Mana bukunya?" Tanya ustadz Mirza begitu tubuh Femila dia turunkan dan wajahnya sekarang menghadap dia.


Femila tersenyum kecil. "Lupa mau ngambil buku apa," jawab Femila dan tubuhnya langsung beranjak dari hadapan ustadz Mirza.


Ustadz Mirza duduk kembali ke kursi kerjanya menghampiri Femila yang sudah duduk di kursi depan meja kerja.


"Besok beneran tidak ikut?"


"Hmmm."


"Saya sudah pesan tiga tiket pesawat."


"Ustadz...saya kan sudah bilang, saya tidak ikut. Titik."

__ADS_1


"Barangkali kamu berubah pikiran."


"Tidak akan!" Jelas Femila.


Ustadz Mirza mengangguk.


"Walaupun saya memohon?" Pelan ustadz Mirza.


Femila langsung menatap ke arah ustadz Mirza karena kini suaranya memelan. Bibirnya kini keluh untuk berucap dan entah kenapa merasa iba.


"Saya...saya pikir nanti. Tidak mungkinkan meninggalkan pekerjaan yang menumpuk." ucap Femila.


"Kalau ada hal yang mendesak, bisa kamu kerjakan via on line, Aliyah kan sudah mewakilimu."


"Ya ya...nanti saya lihat dulu schedule-nya. Lagian kaya perusahaan sendiri saja main cuti mulu," gerutu Femila.


Ustadz Mirza langsung tersenyum, tubuhnya beranjak dari kursi dan mendekat ke arah Femila. "Terima kasih," ucapnya sambil menoel hidung Femila.


"Mengapa suka sekali menoel hidung saya," keluh Femila sambil memegang hidungnya.


Ustadz Mirza terkekeh, "Kalau hidung tidak boleh bagian mana yang boleh saya sentuh?" Tanya ustadz Mirza wajahnya mendekat ke wajah Femila bahkan hanya berapa inci jaraknya.


Jari telunjuk Femila menempel di dahi ustadz Mirza dan memundurkannya dengan pelan.


"Tidak ada." ketus Femila langsung keluar dari ruangan itu dengan langkah cepatnya.


Ustadz Mirza tersenyum melihat Femila begitu gugup menanggapi perlakuannya.


"Masya Allah Femila...kamu harus bertanggung jawab pada perasaanku," gumam ustadz Mirza masih dengan senyum yang nampak di wajahnya.


"Semoga Allah membuka hati kamu untukku. Semoga kita menjalani rumah tangga selayaknya rumah tangga yang diberkahi Allah SWT," batin ustadz Mirza mengucap doa dalam batinnya.


...****************...


Femila tidak memberitahu ustadz Mirza kalau dia akan ikut ke Kalimantan. Sengaja akan memberi surprise.


Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. Femila sudah memperhitungkan hanya akan menemui rekan bisnisnya satu jam saja. Walaupun sebenarnya enggan untuk bertemu dengan rekan bisnisnya kali ini. Tapi mau tidak mau harus dia ditemui demi profesionalitas kerja.


"Al, semua berkas sudah kamu persiapkan?"


"Sudah Non," jawab Aliyah.


"Kalau sudah, kita segera ke sana," ajak Femila bangkit dari duduknya.


Aliyah mengangguk dan mengekor nonanya.


Tiga puluh menit waktu tempuh untuk Sampai di kantor PT Perkasa Bintang. Femila menarik napas dalam dan mengeluarkan perlahan.


Pintu ceo room dibuka, Mario menyambutnya dan mempersilahkan Femila dan Aliyah untuk masuk.


Di sofa ruangan sudah duduk seseorang yang sangat tidak asing untuk Femila. Belum lama ini dia bertemu dengannya.


"Selamat sore Pak Andra," sapa Femila.


"Sore," jawab Andra sambil mempersilahkan Femila dan Aliyah untuk duduk.


"Ini berkas yang Bapak minta," Femila menyodorkannya.


Andra membuka berkas yang diserahkan Femila, halaman perhalaman dia baca.


"Ok. Artinya perusahaan anda sanggup menambah jumlah produksi barang."

__ADS_1


"Berdasarkan kapasitas produksi sebelumnya, Insya Allah kami mampu menyediakan."


"Kami butuh kepastian."


"Maksud Anda?"


"Tidak sekedar yang kamu ucapkan."


"Maksud Pak Andra? Insya Allah?" Tanya Femila yang sepertinya paham akan keraguan Andra dengan kalimat itu.


"Insya Allah artinya jika Allah menghendaki. Saya tidak tahu akan seperti apa kedepannya walaupun kami mampu memproduksi lebih banyak."


Andra mengangguk, "Kamu banyak kemajuan Fem." Puji Andra namun raut mukanya tiba-tiba berubah. Sakit yang dirasa tidak dapat disembunyikan lagi. Tangannya memegang perutnya.


"Kenapa Dra?" Cemas Femila melihat Andra nyeringis memegang perutnya.


Andra hanya melambaikan tangannya, mengisyaratkan tidak apa-apa hanya mulutnya keluh untuk berucap karena terlalu sakit menahan rasa sakit di perutnya.


Peluh sudah membanjiri tubuh Andra, wajahnya juga nampak pucat.


"Tuan, tuan baik-baik saja?" Tanya Mario yang sudah memapah Andra.


"Antar saya ke dokter," pinta Andra.


...****************...


Sepanjang perjalanan Femila hanya diam. Matanya menatap keluar jendela dan berharap agar cepat sampai rumah. Namun otak satunya masih juga mengingat peristiwa tadi di rumah sakit ketika ikut mengantar Andra ke rumah sakit. Akan tetapi ada hal yang lebih mencengangkan adalah fakta yang terkuak dari mulut Mario.


Femila menghempas napasnya kasar. Dia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Matanya menatap tajam ketika seseorang yang akan dia temui masih menunggunya di ruang tengah.


"Alhamdulillah kamu sudah pulang. Sudah salat?" Tanya ustadz Mirza sembari berdiri dari duduknya.


Femila mengangguk.


"Aku antar sampai ke bandara," tawar Femila.


"Tidak usah, kamu istirakhat saja. Tapi nanti pas pulang dari Kalimantan kamu harus jemput di bandara," pinta ustadz Mirza sambil menoel hidung Femila dan sebuah senyuman merekah dari bibirnya.


"Insya Allah," jawab Femila pandangannya tertunduk ke bawah.


"Maaf Ustadz, mungkin minggu-minggu ini saya harus menemui Andra, ada hal yang harus saya selesaikan." dengan berat akhirnya kalimat itu lolos dari mulut Femila.


Bagai di sengat listrik mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Femila dan ustadz Mirza mengangguk pelan mengizinkan permintaan Femila walau itu sangat berat untuknya.


"Aliyah akan menemanimu," ucap ustadz Mirza


Femila terdiam.


"Assalamualaikum," pamit ustadz Mirza.


"Ustadz..."


Ustadz Mirza menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Femila melangkah dengan cepat dan tubuhnya menghambur ke laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Maafkan saya Ustadz," ucap Femila tubuhnya masih memeluk erat laki-laki yang katanya sudah sah menjadi suaminya.


like, komen, komen, komen, biar author makin rajin nulisnya. bolehlah kasih hadiah, rating 5 juga ya🤩😍🥰😘


itu vote sampai malam Minggu masih nganggur sumbangkan di mari kenapa?🤭

__ADS_1


__ADS_2