KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 42


__ADS_3

Melihat ada pergerakan dari Femila. Ustadz Mirza langsung memejamkan matanya. Kini keduanya beradu wajah. Femila membulatkan matanya, menatap dengan intens wajah suaminya. Sebuah senyum tergambar dari wajah cantiknya. Namun senyum itu langsung dia tarik dari sudut bibirnya.


Plak!


Ustadz Mirza ikut membulatkan mata, sebuah tamparan keras menyengat di dahinya dan Femila tersenyum tanpa dosa menunjukkan mahluk hitam kecil yang menempel di telapak tangannya.


"Nyamuk." Ucap lirih Femila masih dengan senyum tanpa dosanya itu.


Ustadz Mirza menghela nafasnya mendapati kekonyolan dari yang katanya sudah sah menjadi istrinya.


Femila langsung membalikkan posisi tidurnya memunggungi ustadz Mirza, begitu juga ustadz Mirza. Memiringkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Femila. Lamat-lamat dua pasang mata itu akhirnya terpejam dan masuk ke alam mimpi.


Alarm jam kamar telah membangunkan Femila dari tidur. Ustadz Mirza sudah duduk di tepi ranjang menatap Femila yang sedang mengucek matanya dan menggerakkan tubuhnya, dua tangannya dia rentangkan dan mulutnya menguap. Mata Femila terbuka penuh dan begitu kaget mendapati ustadz Mirza.


Femila menatap wajah ustadz Mirza tepatnya menatap dahi ustadz Mirza. Ustadz Mirza merasa dahinya ditatap langsung dia pegang.


"Tidak ada nyamuk lagi kan?" Tanya ustadz Mirza.


Femila hanya tersenyum puas dan turun dari ranjang melangkah ke lemari pakaian, mengambil baju ganti untuk mandi.


"Saya tunggu untuk salat Subuh berjamaah."


Femila menghentikan langkahnya tepat diambang pintu kamar mandi.


"Hmmm." Dengung Femila mengisyaratkan iya. Kemudian langkah kakinya lanjut masuk ke kamar mandi. Femila merasa tidak enak saja tiap diajak salat selalu penolakan yang dia lontarkan.


Ustadz Mirza tersenyum. "Kalau hari ini masih dengan niatan terpaksa semoga lain hari kamu salat dengan niatan lillahita'ala." Batin ustadz Mirza.


...****************...


"Ustadz Mirza tahu Fem, calon klien kamu itu om nya Andra." Tanya Silla setelah menyerahkan berkas ke ruang kerja Femila.


Femila masih diam berkutat pada laptop yang ada di depannya.


Silla menarik kursi yang ada di depan meja kerja Femila. Mendudukkan pantatnya di kursi itu. "Benar, si ustadz tampan tidak apa-apa?"


Femila menghentikan jemarinya menari di atas laptop. Memandang ke arah sahabatnya Silla.


"Saya rasa tidak apa-apa." Ucap Femila.


Silla menganggukan kepalanya. "Apa tidak sebaiknya kamu bilang ke ustadz tampan itu?"


"Bilang apa? Ini hanya urusan kerja! Sudah ah, kamu keluar. Saya harus menyelesaikan proposal ini." Kesal Femila.


"Punya atasan kerja kaya kamu itu lebih tegang dan menantang Femila Ahmad." Bisik Silla di telinga Femila.


"Silla!"


Femila menatap tajam ke arah sahabatnya itu. Sedangkan Silla langsung terkekeh dan melangkah pergi dari ruangan.


"Hai Cin... ." Sapa Aufar ketika masuk ke ruang Femila.


"Ada apa Far?"


"Isst. Ketus banget sih." Merajuk Aufar. "Dipanggil pak bos." Lanjut Aufar.


"Ya, nanti saya ke sana."


"Gitu aja ya Cin, Aufar mau ke divisi lain. Ba bay..." Aufar keluar ruangan.


"Bay..."


"Aliyah, tolong kemasi barang ini."


"Baik Non."

__ADS_1


tok


tok


tok


Femila mengetuk pintu ruang pak bosnya.


"Permisi pak." Femila mendongakkan kepalanya ke dalam.


"Masuk Fem." Ucap pak Freddy.


"Tadi pak Fery sudah menghubungi saya. Dalam waktu satu minggu ini kamu diutus pak Fery untuk membereskan berkas kerja sama, jam tiga sore harus sudah di kantor pak Fery."


Femila terdiam. Dia mengiyakan ucapan bosnya itu dan tidak harus pusing mencari alasan untuk izin keluar dari kantor selama satu minggu ini.


"Segera saya ke sana Pak." Jawab Femila karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.30.


"Tunggu Fem."


"Apa Pak?"


"Harus berhasil ya!" Pak Freddy mengepalkan tangannya memberi dukungan semangat.


"Ya Pak." Femila melangkahkan kembali kakinya keluar ruangan.


"Sudah kamu bereskan Al."


"Sudah Non." Jawab Aliyah.


"Kita keluar."


"Sekarang Non?" Tanya Aliyah.


Dua puluh menit telah di tempuh, dan kini sampailah di gedung kantor PT Perkasa Bintang.


Aliyah masih berjalan mengekor nonanya sampai di depan ruangan yang bertuliskan ceo room.


Om Fery yang sudah membukakan pintu mempersilahkan dua wanita yang ada di ambang pintu untuk masuk.


Femila menatap gadis yang sedang asik bermain masak-masakan di sofa.


Femila mendekat dan menyapanya. "Hai cantik." Tangan Femila melambai.


Safera menatap Femila agak malu malah berlari mendekat ke papanya dan bersembunyi di balik kedua kaki papanya.


"Safera kok malu? Sudah lupa ya sama Tante?"


Gadis kecil itu mendongak malu dari kaki papanya.


"Bak..." Femila ikut memiringkan kepalanya menatap Safera dan memperagakan cilukba.


Om Fery membalikkan tubuhnya dan mengangkat tubuh gadis kecil itu. "Safera lupa? Dia Tante cantiknya Safera." Bujuk om Fery.


Femila menepuk kursi sebelahnya agar Safera duduk di situ. Om Fery mendudukkan Safera.


Femila mengulurkan tangannya. Safera meraih uluran tangan itu dan mencium punggung tangan Femila dengan tingkah yang masih malu.


Femila tersenyum. "Boleh Tante cium pipi yang menggemaskan itu?"


Safera tersenyum dengan memainkan jari telunjuknya di dalam mulutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun Femila langsung mencium pipi kanan Safera. "Kena." Ucap Femila. "Satunya belum."


Muachhh


Satu pipi kiri sudah tercium Femila.

__ADS_1


"Tante cantik curang." Ucapnya dengan ucapan yang fasih.


Femila tersenyum mendengar ucapan Safera artinya dia sudah mendapat respon dari gadis kecil itu.


"Kalau Tante curang balas kakak dengan pelukan Safera." Femila merentangkan tangannya dan tubuh gadis kecil itu menghambur dalam pelukan Femila. Femila mengelus rambut panjang bocah itu dan mencium pucuk kepalanya.


"Tante bawa hadiah untuk Safera." Ucap Femila.


Safera langsung melepas pelukan Femila, dengan semangat menanyakan hadiah itu. "Hadiah?"


Femila mengangguk dan mengeluarkan sebuah boneka kecil berbentuk pokemon.


"Ta Ra Ra..."


"Pokemon." Safera mengambil boneka itu dengan girang.


"Asik, pokemon Safera akhirnya punya teman." Safera mengambil pokemon miliknya yang dia taruh di meja kerja papanya. Kemudian menunjukkan kedua pokemon itu ke Femila.


Femila tersenyum meraih bocah kecil itu untuk bersandar di pangkuannya dan memainkan dua pokemon yang ada di tangannya.


"Pokemon yang dulu kamu berikan ke Safera." Ucap om Fery.


"Ternyata masih dia simpan."


"Boneka itu takkan bisa jauh dari jangkauannya. Bahkan tidur pun selalu ditidurkan di sampingnya." Terang om Fery.


"Satu tahun yang lalu dia masih cadel, sekarang bicaranya sudah fasih."


Om Fery mengangguk "Dia anak yang cerdas. Awal bertemu pasti malu, tapi kalau sudah saling kenal akan ketahuan malu-maluinnya." Seutas senyum tergambar di wajah om Fery.


Femila tersenyum mengelus kepala Safera.


"Tante, itu siapa?" Tunjuk Safera ke Aliyah.


"Akhirnya sekian puluh menit saya berdiri di sini ada yang menyadari keberadaan saya. Saya seperti sedang menyaksikan telenovela pertemuan keluarga kecil yang telah berpisah sekian tahun. Begitu indah di pandang dan membuat siapapun yang melihatnya, pasti akan mengatakan keluarga kecil yang bahagia." Gerutu batin Aliyah agak didramatisir.


Femila tersenyum melihat tampang Aliyah yang sepertinya kesal karena dari awal masih berdiri di samping kursi dan tidak dipersilahkan duduk.


"Duduklah Aliyah. Maaf sampai lupa kalau kamu juga ada di sini." Jujur Femila dengan tawa kecil.


Aliyah langsung duduk dan menyapa Safera "Hai cantik."


Safera hanya diam tidak membalas sapaan itu.


"Kita main boneka-bonekanan bersama yuk." Ajak Aliyah.


Safera mengangguk.


"Kakak pokemon yang kecil, Safera yang besar ya."


"Ok cantik."


"Dia siapa?" Tanya om Fery dagunya mengarah ke Aliyah.


"Asisten saya."


"Hebat sekali belum ada satu bulan sudah diberi asisten."


Femila hanya tersenyum mendengar ucapan om Fery. "Pertanyaan yang sama yang pernah dilontarkan Silla." Batinnya.


Aliyah melirik ke arah Femila dan ayah dari bocah yang ada di sampingnya.


"Kenapa non Femila malah ke sini. Ini masih jam kerja, dan siapa laki-laki itu? Sepertinya non Femila akrab sekali dan tatapan laki-laki itu ke non Femila bukanlah tatapan biasa. Apa dia mantannya non Femila? Bagaimana kalau ustadz Mirza tahu kalau diam-diam istrinya bertemu dengan mantannya?" Monolog Aliyah otaknya penuh dengan seribu pertanyaan.


"Oh, saya ingat kata mbak Silla. Apa mungkin dia yang dikatakan mbak Silla. Om nya A- Andra ya, tapi siapa Andra? Dan mengapa mbak Silla mengingatkan non Femila untuk izin ke ustadz Mirza dulu untuk menemuinya?" Masih bermonolog batin Aliyah.

__ADS_1


__ADS_2