KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 69


__ADS_3

"Aliyah jangan katakan apapun pada ustadz Mirza. Biar saya yang langsung bicara padanya."


Aliyah paham arah pembicaraan nonanya, "Insya Allah Non." Jawab Aliyah.


Malam sudah menyapa, setelah salat Isya Aliyah duduk di sofa ruang tengah.


Sore tadi sebelum pulang ke rumah, Ustadz Mirza memberi kabar kalau dia pulang malam dan Aliyah disuruh menemani Femila.


"Non, belum ngantuk?"


"Emmm." Dengung Femila mengiyakan pertanyaan Aliyah.


"Saya boleh menyinggung mengenai kejadian siang tadi Non?"


"Apa yang akan kamu singgung?"


"Apa saya boleh berargumen mengenai itu?"


"Silahkan saja." Jawab Femila tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia baca.


"Tuan Andra ternyata orangnya baik. Dulu saya mendengar namanya pertama kali ketika ustadz Mirza dipukul tuan Andra, sampai beliau harus rawat di rumah sakit." Aliyah menghempaskan napasnya.


"Jangan cepat menyimpulkan sifat seseorang." Jawab singkat Femila.


Aliyah tersenyum, "Dia mengikhlaskan Nona, padahal kalau saya lihat tuan Andra masih menyimpan rasa cinta untuk Non Femila."


Femila terdiam. Matanya berhenti mengeja kata-kata yang tertoreh di buku yang dia pegang. Namun tatapannya tetap ke buku itu.


"Apa Non tidak merasa itu?" Aliyah melambatkan pertanyaannya takut menyinggung perasaan lawan bicaranya.


Femila lebih memilih diam. Matanya kini mengeja kembali kata-kata dalam buku.


"Tapi benar apa kata tuan Andra. Non Femila harus menatap masa depan dan mengikhlaskan masa lalu Non Femila."


Aliyah menelan salivanya. Berharap nonanya menyahuti ucapannya.


"Kebencian yang menguasai jiwa Non Femila mengubur rasa cinta yang harusnya berkembang dengan baik aantara Non dan ustadz Mirza."


"Tidak ada rasa cinta diantara kita," jawab Femila.


"Karena rasa cinta itu tidak Non sadari." Sanggah Aliyah.


Femila terdiam kembali.


"Sadar tidak sadar Non Femila sudah lama hidup dengan Ustadz Mirza. Hampir setiap hari bercengkrama dengan Non. Bahkan kejadian terakhir, Non rela tertusuk untuk melindungi ustadz Mirza." Aliyah menarik napas dalam.


"Terlepas dari keadaan Non yang disebabkan oleh ustadz Mirza. Tapi saya lihat ustadz Mirza tulus mencintai Non." Sambung Aliyah.


"Jangan sampai kebencian menguasai jiwa Non. Kebencian itu tanpa disadari mengikis kelembutan hati," Aliyah mempertegas kalimat sebelumnya.


Femila diam.


"Jangan sampai menyesal Non. Stok yang model ustadz limited edition Non."


Femila tersenyum, "Berasa sepatu saja, limited edition Al."


"Ya Allah Non...beneran loh. Kalau Non beneran tidak mau apa sebaiknya saya kembalikan ke pemilik hati yang dulu."


"Maksud kamu?" Ketus Femila mendengar ucapan Aliyah.


"Non tahu sendiri kalau ustadz Mirza dahulu punya hubungan dekat dengan teman saya," pancing Aliyah.


"Saya masih berhubungan baik dengan dia loh Non." Sambung Aliyah.


"Terserah kamu." Jawab Femila seucapnya.


"Bener Non. Alhamdulillah...dapat restu dari Non Femila, nanti saya langsung hubungi mbak Hana."

__ADS_1


Femila menatap tajam ke arah Aliyah.


"Tadi kata Non terserah saya. Tapi mengapa mata Non mengatakan lain." Gumam Aliyah namun masih terdengar oleh Femila.


"Saya bercanda Non," Aliyah menampilkan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Tapi saya tidak bercanda soal limited edition. Jangan sia-siakan cinta yang nyata untuk Non Femila, balas dengan cinta pula Non. Itu juga salah satu bentuk kewajiban sebagai seorang istri."


"Kewajiban seorang istri?" Femila mengulang kalimat itu.


Aliyah mengangguk pelan, "Ustadz Mirza mencintai Non Femila adalah bentuk kewajiban sebagai seorang suami seharusnya sebaliknya."


"Ustadz Mirza tidak pernah menuntut saya untuk membalas cintanya."


"Karena ustadz Mirza tidak suka memaksakan kehendak orang lain. Beliau tahu kalau memaksakan kehendak pada akhirnya akan membuahkan kekecewaan dan penyesalan."


Femila terdiam. "Saya ke kamar dulu Al." Ucap Femila.


Aliyah akan membantu Femila berdiri. "Saya bisa sendiri Al," tolak Femila.


Sementara Ustadz Mirza, Habibi dan sahabat lawyer's sedang sibuk membuka konten YouTube yang ada di channel Kajian Islam. Satu persatu mereka buka. Karena kemungkinan pelaku penusukan adalah salah satu penganut paham yang sudah dinyatakan terlarang oleh MUI. Barangkali dalam ceramah ustadz Mirza ada yang menyangkut masalah paham tersebut.


"Sudah berjam-jam;mereka buka satu persatu isi konten. Namun belum membuahkan hasil. Walaupun di tengah ke frustasian mereka selalu diselingi dengan canda tawa tapi tetaplah rasanya menyerah dengan hasil yang hampir nihil.


"Gila! Videografer nya bener-bener tahu sisi mana yang harus dibidik. Ckckc...pasti cewek cantik yang sering terlihat." Ucap Iqbal sambil menunjukkan layar ponselnya agar semua melihat ke ponsel itu.


Semua terkekeh mendengar ucapan Ikbal setelah melihat apa yang ditunjukkan Iqbal.


"Kamu juga sangat jeli Bal kalau lihat yang bening-bening." Timpal Farhan.


"Issst...Itu manusiawi bro," jawab Iqbal. "Bukankah begitu Ustadz?" Iqbal melempar pertanyaan.


Ustadz Mirza hanya tersenyum.


"Kamu jangan bahas wanita cantik. Nanti ustadz jadi pengen cepet pulang," ledek Habibi.


Ustadz Mirza tersenyum kecil otaknya langsung terlintas wajah Femila, wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya dan tiba-tiba ada rasa rindu karena satu hari ini belum melihatnya.


"Kalau bercanda terus tidak akan selesai. Buruan kita lanjutkan." Ucap Sidiq.


"Nah benerkan apa saya bilang. Akhirnya Ustadz Mirza pengen cepat menyelesaikan pekerjaan ini dan akhirnya bisa cepet pulang." Ucap Habibi yang disusul tawa sahabat lawyer's.


Ustadz Mirza hanya tersenyum menanggapi itu.


"Coba kalian lihat konten ini," Farhan menunjukkan layar ponselnya.


"Ustadz Mirza di situ sempat menyinggung paham x dan ustadz Mirza menyampaikan pula paham x adalah paham yang dilarang di Indonesia sesuai dengan keputusan MUI." Simpul Habibi.


"Dan di konten tersebut ada beberapa nama akun dengan komentar menulis kata MUI dan diakhiri tanda baca tanya," terang Habibi.


"Bener Bi. Komen akun lain sama persis dengan itu juga ada," timpal Farhan.


"Tidak hanya satu akun. Itu artinya kemungkinan pelaku tidak hanya sendiri." Gumam Habibi.


Raut muka ustadz Mirza terlihat tegang. Jarinya langsung mengusap aplikasi hijau untuk menghubungi wanita yang ada di rumahnya. Namun panggilan itu tidak tersambung. "Coba kamu hubungi Aliyah Bi." Pinta ustadz Mirza.


"Ya ustadz."


Habibi langsung menghubungi Aliyah.


"Assalamualaikum...sekarang kamu dimana Al?"


"Waalaikum salam. Baru saja masuk kamar."


"Non Femila?"


"Dia juga baru masuk kamar."

__ADS_1


"Ya sudah. Tidak usah keluar rumah. Kita segera pulang. Assalamualaikum."


"Ya. Waalaikum salam."


Habibi dan Aliyah menutup sambungan itu.


"Kita pulang sekarang Bi." Ajak ustadz Mirza.


"Ya ustadz." Jawab Habibi mengiyakan ajakan ustadz Mirza.


"Kita pulang dulu, Assalamualaikum." Pamit ustadz Mirza.


"Waalaikum salam."


Habibi melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang masih ramai walaupun malam sudah kian menuju puncaknya.


Ustadz Mirza langsung menuju kamar, hatinya merasa lega melihat wanita yang dia khawatirkan baik-baik saja.


"Kenapa belum tidur?" Sapa Ustadz Mirza begitu masuk kamar dan melihat Femila duduk bersandar kepala ranjang dengan lampu tidur temaram.


Femila hanya tersenyum.


Ustadz Mirza memandang kaki Femila. "Belum dilepas?" Dagunya menunjuk kaki palsu Femila.


"Nanti," jawab singkat Femila.


"Saya wudhu dulu."


Ustadz Mirza melangkah ke kamar mandi mengambil air wudhu. Sudah kebiasaannya berwudhu dulu sebelum tidur. Mengikuti Sunnah Rasulullah.


"Ustadz sudah mandi?" Tanya Femila begitu ustadz Mirza keluar dan sekarang tangannnya meraih kaki palsu Femila untuk dilepas.


"Saya mandi di markas kajian Islam," jawab ustadz Mirza kemudian menaruh kaki palsu di dekat nakas. Lalu kakinya melangkah untuk membaringkan tubuhnya yang terasa sudah lelah.


"Terima kasih." Ucap Femila karena kaki palsunya sudah dilepaskan.


"Tangannya sudah mending?"


"Emmm."


"Sudah ganti perban?"


"Sore tadi dibantu Aliyah."


"Berdoa dulu, setelah itu kita tidur."


Femila dan ustadz Mirza mengucap doa. Setelah selesai Femila memiringkan posisi tidurnya, membelakangi ustadz Mirza.


Mata ustadz Mirza lekat menatap punggung wanita yang sehari ini baru dijumpainya setelah pukul 22.30.


"Belum ada sehari, tapi kenapa aku rindu setengah mati Fem? Apalagi kalau kamu benar-benar meninggalkanku," batin ustadz Mirza bermonolog. Hatinya tiba-tiba begitu sakit.


deg


Femila merasa ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Matanya langsung melebar penuh. Namun raganya tak mampu menolak.


"Kalau kamu keberatan katakan," ucap ustadz Mirza di telinga Femila.


Femila hanya diam, pura-pura tertidur.


Ustadz Mirza tersenyum menanggapi diamnya Femila.


Selamat malam....


Semoga senantiasa sehat selalu, amin.


jangan lupa like komen komen komen...🥰😍🤗

__ADS_1


Ada yg kasih bunga kopi, ya Monggo dengan senang hati author menerimanya. itu vote yang masih dianggurin boleh jg disumbangin dimari🤗


__ADS_2