KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 30


__ADS_3

"Izin Papa dan Mama dulu." Ucap Femila dengan senyum yang memiliki arti berbeda.


"Mana mungkin Mama dan Papa mengizinkan." Batin Femila.


"Nanti saya bicarakan dengan mereka." Ucap ustadz Mirza kemudian melangkah pergi meninggalkan Femila yang masih duduk di ruang tengah.


"Silahkan saja." Gumam Femila tersenyum penuh kemenangan.


Klontang.


Satu pesan masuk dari sahabatnya Silla.


Selamat pagi pengantin baru. Bagaimana nih malam pertamanya?🤭🤭


"Ini anak masih jam kerja sempat-sempatnya mengirim pesan." Sewot Femila


Kenapa hanya dua centang biru?


Ledek Silla dari sebrang sana karena Femila hanya membaca pesannya tanpa membalas.


Saya mengganggu ya? Apa semalam belum gol akhirnya berlanjut sampai pagi🤭? Atau sama sekali melakukan pertandingan?🤣🤣


Lanjut Silla.


"Beraninya dia menulis seperti itu! Sementara dia sendiri masih jomblo!"


Apa perlu saya lapor atasan, jam kerja malah asyik chatting !


Balas Femila.


Nggak asyik banget. Kenapa main ancam!😡😡


Gerutu Silla.


Femila tertawa puas membaca balasan sahabatnya, Silla. Kemudian menutup aplikasi WA-nya. Melanjutkan kembali membaca sebuah artikel tentang pasar dan bisnis.


Satu buah apel telah habis dilahap dan tanpa terasa dua bungkus makanan ringan dia lahap pula.


"Isst baterai nya tidak bisa diajak kompromi." Gerutu Femila melihat layar ponselnya yang menunjukkan 5 persen baterai yang tersisa.


Femila beranjak dari duduk, meraih kruk yang ada disampingnya kemudian mengapit di kedua ketiaknya. Dengan cepat dia melangkah ke kamar tidur. Membuka pintu kamar, perlahan, mendongakkan kepala namun tatapannya berhenti ketika sesosok ustadz Mirza sedang khusuk menjalankan ibadah salat.


Femila menutup kembali pintu kamarnya secara perlahan. "Mengapa changer nya ada di dekat dia sih."


Karena memang, ustadz Mirza salat dhuha di kamar, dekat dengan nakas dan di atas nakas itulah changer Femila berada.


Bumi masih berputar pada porosnya, sinar matahari semakin menikung ke Barat, Mega merah nampak membentuk garis cakrawala yang melukiskan matahari di langit ujung namun matahari belum sempurna tenggelam dalam gelapnya malam. Ustadz Mirza keluar dari kamarnya setelah setengah hari penuh hanya ada di kamar.


"Masih betah duduk di sini?" Sapa ustadz Mirza pada Femila.


"Hmmm"


"Saya sudah mandi, silahkan kalau mau mandi, gantian saya yang jagain kursinya, barangkali kamu takut kehilangan itu kursi."


"Nggak lucu." Ketus Femila. Melangkah meninggalkan ustadz Mirza.


Ustadz Mirza mendengus menatap punggung wanita yang yang satu hari ini telah resmi menjadi istrinya. Dia mengekor Femila yang sudah terlebih dahulu masuk ke kamar karena sayup-sayup mendengar suara azan Maghrib.

__ADS_1


"Mau saya tunggu untuk salat berjamaah?" Tawar ustadz Mirza pada Femila yang masih diambang pintu kamar mandi.


"Ustadz duluan." Jawab Femila.


Ustadz Mirza mengangguk. "Ok." Ucapnya.


Tiga rakaat ustadz Mirza tunaikan dengan khusuk. Selesai dia salam dilanjutkan dengan dzikir pendek. Tidak ketinggalan rawatib ba'diyahnya nya juga dia tunaikan. Kemudian meraih ponsel yang ada di atas nakas. Membuka aplikasi Alquran di ponsel tersebut dan membacanya ayat demi ayat.


"Femila, suami kamu belum keluar?" Tanya mama Anita yang sudah siap di meja makan untuk makan malam.


"Paling juga bentar lagi keluar Ma."


"Issst ini anak dari tadi jawabannya bentar lagi, bentar lagi.


"Mama mintanya jawaban apa?"


"Tengok gih, ajak makan bersama."


"Ogah Ma!" Sewot Femila.


"Kalian kenapa sih, dari pagi ribut terus." Sela papa Riyan.


"Mama yang mulai nyebelin Pa." Lapor Femila.


"Sama saja kamu sama mama. Sudah biar papa yang panggil."


Baru papa Riyan mengangkat pantatnya, orang yang akan dipanggil muncul di tengah-tengah mereka.


Papa Riyan memposisikan duduk seperti semula.


"Maaf telat Ma, Pa." Ucap ustadz Mirza kemudian menarik kursi yang ada di samping Femila dan menduduki kursi itu.


Mama Anita mengangkat piring lalu mengambilkan nasi untuk suaminya.


Femila menempelkan sendok berisi makanan ke mulutnya.


"Sudah berdoa belum." Ucap ustadz Mirza di dekat telinga Femila ketika makanan itu baru mendarat ke dalam mulut Femila.


Sontak Femila menyemburkan makanannya ke muka ustadz Mirza karena kaget.


"Ma- maaf." Gugup Femila langsung mengambilkan tisu dan menyodorkannya ke ustadz Mirza.


Ustadz Mirza langsung meraih tisu itu kemudian membersihkan wajahnya. Femila kemudian tersenyum nyengir.


"Ya ampun Femila. Nak Mirza membisikan apa sih sampai kamu menyemburkan makan." Tanya mama Anita.


"Bisikan setan Ma." Jawab Femila se ucapnya.


"Karena ada orang yang makan tanpa baca doa Ma." Ucap ustadz Mirza menatap ke wajah Femila.


Mama Anita tersenyum. "Kalian so sweet banget." Terpancar rona kagum di wajah mama Anita.


"Terserah Mama." Pasrah Femila.


Mama Anita tersenyum menang.


"Pimpin doa Pa." Pinta Mama Anita.

__ADS_1


"Kenapa harus papa, kamu saja Nak. Papa takut bacaannya salah." Mengalihkan pandangan ke ustadz Mirza.


"Silahkan Papa saja."


"Kalau salah benarkan ya."


Ustadz Mirza mengangguk.


Bismillahirrahmanirrahim. Allahhumma bariklana fiima rozaqtana wa qina adzabannar.


"Amin."


Ucap serentak setelah doa selesai dibacakan papa Riyan.


"Bagaimana pekerjaan kantornya Pa?" Ustadz Mirza membuka obrolan ringan di sela-sela makan.


"Lancar, tapi lumayan banyak juga pekerjaannya karena dua hari kemarin Papa kan izin tidak masuk kerja."


"Kalau Mama, di butik lumayan banyak pembeli." Sela mama Anita.


"Alhamdulillah." Sambung ustadz Mirza.


"Siapa juga yang tanya Ma." Lirih Femila.


"Kenapa Fem? Ya setidaknya mama punya kesibukkan dari pada seharian duduk di kursi sampai kursinya berlubang itu saking panasnya." Sindir mama Anita sambil tersenyum karena mama Anita tahu dari mbok Mina kalau Femila seharian duduk di kursi ruang tengah.


"Mama!" Femila mengerucutkan bibirnya merasa tersindir dengan ucapan mamanya.


"Ya ampun Mama, Femila, selalu seperti itu." Ucap papa Riyan.


Ustadz Mirza hanya tersenyum melihat pertengkaran kecil Femila dan mama Anita yang sebenarnya jelas tergambar dua wanita itu sebenarnya saling menyayangi.


"Kamu tidak perlu heran Nak Mirza. Bahkan setiap hari mereka seperti ini. Kadang akrabnya kebangetan, nanti dikit-dikit sindir menyindir, bertengkar rebut barang seperti anak kecil." Papa Riyan menggelengkan kepalanya.


"Papa!" Empat mata menatap kearah papa Riyan.


"Benarkan Nak, sekarang mereka kompak dengan tatapan siap menerkam papa." Papa Riyan menggetarkan bahunya.


Ustadz Mirza tersenyum lebar. "Saya iri sama kamu Femila masih bisa bersama dua orang tua yang begitu menyayangi kamu." Batin ustadz Mirza. Namun senyum itu seketika dia tarik. "Kalau seperti ini, Mama Papa mengizinkan Femila untuk tinggal di rumah saya tidak?" Batinnya masih bermonolog.


"Pa, Ma." Ucap ustadz Mirza namun ragu untuk melanjutkan bicaranya.


Panggilan Papa dan Mama satu minggu sebelum pernikahan memang sudah disematkan pada kedua orang tua Femila atas permintaan mama Anita.


"Ada apa Nak?" Tanya mama Anita.


"Sa - saya minta izin untuk membawa Femila pindah ke rumah saya." Kalimat itu berhasil lolos dari mulut ustadz Mirza.


"Ya silahkan bawa saja Nak." Spontan mama Anita.


Ustadz Mirza begitu kaget mendengar jawaban mama Anita namun yang tidak kalah kaget sesosok yang ada di samping ustadz Mirza, dia sampai membelalakkan matanya.


"Mama! Sepertinya Mama bahagia sekali saya dibawa orang!" Kesal Femila.


"Sayang, yang bawa kamu kan suami kamu."


"Pa! Apa jangan-jangan papa juga sama menyetujuinya." Femila mengiba ke arah papanya.

__ADS_1


"Nanti Papa dan Mama akan sering berkunjung ke rumah kalian." Ucap papa Riyan.


"Sebenarnya saya anak kandung bukan sih. Saya mau dibawa orang kenapa wajah kalian terlihat bahagia." Femila memanyunkan bibirnya dan langsung mengambil kruk kemudian melangkah ke kamarnya.


__ADS_2