KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 74


__ADS_3

"Maafkan saya Ustadz," ucap Femila tubuhnya masih memeluk erat laki-laki yang katanya sudah sah menjadi suaminya.


Tangan ustadz Mirza melingkar di pinggang Femila tangan satunya mengusap halus rambut wanita yang ada dalam pelukannya.


Bibirnya keluh untuk mengucapkan barang satu kalimat pun. Tangannya kemudian menepuk halus punggung istrinya.


"Kamu jaga diri," pinta ustadz Mirza setelah melepas pelukan itu.


"Ustadz... juga jaga diri."


cup


Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Femila, "Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam."


Taxi on line yang sudah dipesan terparkir di depan rumah. Ustadz Mirza dan Habibi segera masuk ke mobil dan mobil itu melaju.


Ustadz Mirza terdiam. Otaknya masih teringat salam perpisahan dengan Femila.


"Ada hal yang harus dia selesaikan dengan Andra?" Monolog batin ustadz Mirza. Tangannya mengusap kasar wajahnya dan otaknya penuh tanya yang belum terjawab.


"Ustadz masih kepikiran apa yang non Femila ucapkan?" Tanya Habibi melihat ustadz Mirza begitu gusar.


"Mungkin saya terlalu berharap pada Femila. Kenyataanya dia begitu cinta dengan Andra." Lirih ustadz Mirza.


"Ustadz jangan pesimis dulu. Kita belum tahu apa yang menimpa non Femila. Nanti saya tanyakan ke Aliyah." ucap Habibi.


Ustadz Mirza terdiam, dalam hatinya tiba-tiba terbesit kata menyerah. Namun senyum, tawa dari Femila juga menghias pikirannya membuatnya getir harus menyerah.


"Astaghfirullah haladhim," napas ustadz Mirza dihembuskan perlahan.


Malam menyapa dan waktu terus berjalan semakin membawa ke puncak malam.


Di bawah lampu temaram kamar, Femila masih menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Matanya belum bisa terpejam. Pikirannya begitu berkecamuk dan otaknya berhenti memutar pada kejadian sore tadi di rumah sakit.


Flashback on


Mario keluar ruang rawat setelah tuannya mendapat perawatan dan sekarang tertidur karena obat yang diberikan dokter.


Mario memposisikan duduknya di samping Femila.


Femila menatap ke Mario yang terlihat cemas, "Dia sudah mendingan?" Tanya Femila.


Mario menganggukan kepalanya pelan.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Andra?" Penasaran Femila.


"Asam lambungnya naik. Selama di Kalimantan sudah masuk ke rumah sakit dua kali."


"Bagaimana bisa asam lambungnya naik? Kamu tidak jaga pola makannya?"


"Semenjak pisah dengan Non Femila, pola makan tuan Andra tidak teratur. Tidak jarang saya memaksanya untuk makan tapi selalu dia abaikan. Dia juga terlalu stres menerima perpisahan dengan Non Femila."


"Dia yang meminta pisah denganku. Kenapa malah dia yang selemah ini."

__ADS_1


"Pisah karena terpaksa Non. Dari awal tuan Andra pindah lagi ke Jakarta, sebenarnya saya mau menyampaikan ini pada Non. Tapi sayang belum juga bisa kusampaikan."


"Karena menuruti keinginan bunda Rima kan? Hanya itu alasannya. Dia sudah minta saya untuk berjuang bersama mendapat restu bunda Rima tapi kenyataan, dia lebih memilih menyerah!" Suara Femila meninggi, rasanya kekecewaan yang selama ini terpendam ingin dia keluarkan tanpa sisa.


"Penyakit jantung nyonya Rima kambuh. Itu alasan yang paling mendasar. Tuan Andra, tidak ingin melihat keadaan bundanya terpuruk. Dia lebih memilih menyerah dan membiarkan Non Femila melanjutkan jalan hidup sendiri."


Femila membungkam mulut dengan tangannya, matanya sudah terlihat merah dan air mata sudah menetes ke pipinya. Tubuhnya bergetar karena mendengar itu.


"Bunda Rima punya penyakit jantung?" Tanya Femila dengan terbata menahan getaran tubuhnya.


Mario mengangguk.


"Me-mengapa Andra tidak pernah cerita. Saya tahu saat itu bunda sakit, ta-tapi setahu saya hanya sakit biasa," isakan terdengar dari mulut Femila.


"Andra menanggung sakit hati dan membiarkan saya terus memandangnya dengan kebencian. Bagaimana bisa!" Keluh Femila.


"Sejak awal berpisah dengan Non Femila, tuan Andra berusaha mengikhlaskan semuanya. Bahkan mengikhlaskan ketika Non menikah dengan laki-laki yang telah membuat Non cacat."


Femila menutup wajah dengan kedua tangannya. Isakan tangis masih terdengar dari mulutnya.


"Nyonya Rima trauma dengan kehidupannya dulu. Suaminya cacat karena diabetes yang dideritanya, akhirnya suaminya menceraikan nyonya Rima karena merasa minder dengan keadaannya. Beliau takut kalau nantinya Andra akan mengalami hal yang sama dengannya."


Femila terdiam.


"Non Femila tahu, tuan Andra memiliki kelebihan dari banyak hal. Dia kaya, tampan, mapan, fisik sempurna, dermawan, cerdas, dan banyak hal positif lainnya. Mungkin ini yang dikhawatirkan nyonya Rima, suatu saat Non Femila akan merasa minder dengan kelebihan yang dimiliki tuan Andra dan akhirnya lebih memilih meninggalkan tuan Andra. Hal yang sama dilakukan oleh suami nyonya Rima."


Femila masih terdiam.


"Tapi itu semua masa lalu. Saya hanya meluruskan keadaan. Bukan berarti mengharapkan Non Femila untuk kembali bersama tuan Andra. Non Femila sudah mempunyai kehidupan baru, dan sepertinya Non bahagia dengan kehidupan sekarang."


"Tuan Andra hanya membutuhkan maaf dari Non. Saya yakin dia bahagia melihat Non bahagia," ucap Mario matanya sudah berkaca.


"Dia sahabat saya, sekaligus majikan saya bahkan saya merasa dia lebih dari saudara. Saya sudah lama bersamanya. Mungkin sedikit tahu tentangnya. Maafkan dia, berusahalah untuk saling mengikhlaskan dan melanjutkan hidup dengan jalan masing-masing."


Femila berdiri dari tempat duduknya. Berjalan ke pintu ruang rawat mendongakkan kepalanya menatap dari jauh wajah yang terlelap di atas ranjang. Tangannya kemudian menutup pintu itu.


"Salam buat Andra. Paksa dia agar mau makan teratur. Saya akan menjumpainya setelah dia sehat kembali. Saya sudah memaafkan dia dan belajar mengikhlaskan perasaan yang memang tidak pantas saya pertahankan. Assalamualaikum..."


Femila berjalan meninggalkan Mario yang mematung menatapnya pergi. Aliyah berjalan mengekornya.


Flashback of.


Mata Femila menatap nanar atap kamar. Matanya menahan bendungan air yang sekali saja berkedip maka bendungan itu akan bongkah dengan luapan air mata yang membanjiri anak sungai.


Femila menoleh ke samping. Kosong, hanya ada bantal yang tertata rapi. Femila mendekatkan tubuhnya ke bantal itu memejamkan matanya di atas bantal itu dan lelehan air matanya mengalir membasahi bantal. Rasanya begitu nyaman hanya dengan memeluk bantal di sampingnya. Lamat-lamat dia tertidur masuk ke alam mimpi.


...****************...


Femila sudah duduk di sofa. Di ruang tamu yang dulu sering dia kunjungi. Dia membalas senyum ketika sesosok orang yang sengaja dia temui menampakkan sebuah senyuman.


"Selamat siang Fem."


"Siang Pak Andra."


"Silahkan duduk."

__ADS_1


"Terima kasih. Bagaimana, Pak Andra sudah baikan?"


"Ya. Setidaknya jauh lebih baik."


"Maaf terpaksa saya menemui Pak Andra ke sini. Saya meminta tanda tangan laporan untuk pertemuan kemarin. Jujur sekalian jenguk Pak Andra. Apakah sudah baikan?" tanya Femila sambil menyodorkan berkas yang diserahkan Aliyah.


Andra menerima berkas itu membaca sekilas kemudian menandatanganinya.


"Kamu tidak ikut ke Kalimantan?"


Femila tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Andra. Sudah menjadi hal yang tidak mengejutkan seorang Andra bisa tahu segalanya.


"Saya tahu ustadz Mirza ke Kalimantan dari bunda."


Femila membulatkan matanya seakan tidak percaya apa yang dituturkan Andra.


"Kenapa bunda tahu? Maksud saya kenal dengan ustadz?" Tanya Femila penuh dengan kebingungan.


"Tiga bulan ini bunda sedang memperdalam agama. Pertama kali tertarik untuk memperdalam agama saat bunda melihat konten YouTube ustadz Mirza."


Femila diam.


"Satu minggu yang lalu harusnya bunda sudah di Jakarta tapi demi bertemu langsung dengan ustadz Mirza dia rela menunggu sampai besok."


"Bunda akan ke Jakarta?"


Andra mengangguk.


"Dia sebenarnya ingin bertemu dengan kamu tapi malu untuk menemuimu."


Femila menundukkan kepala, "Kalau bunda mau bertemu silahkan temui saja," lirih Femila.


"Nanti saya sampaikan ke bunda."


"Saya harap kamu cepat sembuh. Seharusnya yang sakit itu saya. Saya korban, sudah ditinggalkan kamu, dalam keadaan cacat lagi. Apa kamu tidak malu, kenapa malah kamu yang lebih lemah? Sampai asam lambung naik segala." Ucap Femila dengan nada meledek dan senyum yang terlihat dari sudut bibirnya.


Andra tersenyum mendengar ucapan Femila.


"Kamu beruntung dipertemukan dengan orang yang begitu telaten, tulus menerima kamu, mendukung kamu, dan satu hal dia sangat menyayangi kamu."


Femila terdiam. Perlahan bayangan ustadz Mirza hadir di depannya. Sosok yang dua hari ini tanpa kabar atau hanya sekedar memberi pesan. "Benarkah seperti itu?" Gerutu Femila dalam batinnya.


"Apa yang aku ucapkan nyata Fem, mengapa wajah kamu besengut seperti itu?" Andra terkekeh.


"Sudahlah tidak usah dibahas." ujar Femila.


"Kami ucapkan terima kasih, maaf sudah mengganggu istirakhat Pak Andra." Sambung Femila.


"Kita pamit assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Andra dan Mario menyaksikan dua wanita yang tadi duduk di hadapan mereka kini pergi.


Minggu malam menjumpai readers...


Terima kasih masih setia dengan cerita ini.

__ADS_1


like, komen, komen, komen,😍😘🥰


__ADS_2