
Dua tahun tiga bulan...
Berlalu dengan manis dan kelabu yang tentu terkisah di kalbu. Bahtera rumah tangga terjalin begitu indah tak terusik kata pisah hingga mautkan datang menyapa. Gambaran semacam itu kehidupan ustadz Mirza dan Femila. Menjadi sepasang suami istri tanpa sengaja atau lebih tepatnya sesuai dengan skenario Sang Mahakuasa, dari hati yang belum terpaut cinta hingga saling berjuang asa dalam lantunan doa untuk selalu bersama dalam satu rasa.
Semua tidak manis, terkadang perdebatan kecil menambah bumbu kedalaman cinta tatkala bisa menahan amarah untuk tidak mengedepankan keegoisan. Saling melengkapi dalam kekurangan atau kelebihan pasangan. Itu mereka lakukan.
Malam itu, ketika sinar sang surya tergantikan cahaya bulan nan purnama, sepasang kekasih halal itu duduk bercanda di kursi rumah yang menghadap taman. Angin malam tidak mengusik mereka untuk beranjak dari tempat duduk. Sesekali terdengar tawa renyah dari keduanya.
"Ustadz..."
Ustadz Mirza menoleh menatap wajah wanita di samping, "Apa sayang?," ustadz Mirza memastikan karena Femila tidak melanjutkan ucapannya.
"Maafkan aku belum bisa memberi keturunan untuk Ustadz," lirih Femila dengan wajah tertunduk.
"Astaghfirullah haladhim...sayang," tangan ustadz Mirza memegang dagu sang istri hingga wajahnya terlihat dan kini kedua pasang mata itu bersitatap. "Sudah mendengar sendiri penjelasan dari dokter. Janin terbentuk bukan karena faktor perempuannya tapi keduanya. Suami harus sehat dalam arti normal, perempuan juga sama. Kita sudah periksa dokter dan sama-sama dinyatakan sehat."
Femila diam mendengarkan sang suami.
"Ikhtiar sudah kita jalankan, doa insya Allah ya kita panjatkan setiap lima waktu. Bahkan Dua bulan lalu kamu resign dari perusahaan karena mau mengurangi aktifitas agar tidak terlalu capek. Hanya Allah sedang menguji kita, Allah sedang sayang dengan kita agar makin rajin ibadah dan makin mendekatkan diri pada-Nya."
Femila masih diam.
"Sabarlah Allah pasti akan mendatangkan kebahagiaan untuk sebuah kesabaran," tegas ustadz Mirza tangannya menoel hidung wanita yang memang sudah sah menjadi istrinya.
"Auw...Ustadz kebiasaan main toel hidung," ucap Femila bibirnya mengerucut karena itu.
Ustadz Mirza terkekeh, "Sudah aku bilang, jangan memancingku dengan memonyongkan itu benda," canda ustadz Mirza sambil menunjuk bib*r sang istri dan wajahnya mendekat ke Femila.
Femila refleks langsung menutup mulutnya, kepalanya menggeleng dan tangannya mendorong dada sang suami.
Ustadz Mirza merasa semakin tertantang. Dia tersenyum senang melihat reaksi Femila. Tangannya meraih tubuh sang istri. Membopongnya ala bridal style masuk menuju kamar.
Teriakan manja Femila dan pukulan kecil di dada ustadz Mirza tidak dia hiraukan malah menambah mood tersendiri untuk lelaki yang kini sudah naik ke atas ranjang. Mendekat kan wajahnya ke wajah sang istri. Semakin dekat, mendekat dan jarak keduanya terkikis dengan sebuah benda halal yang menempel di bib*r keduanya.
Femila tidak kalah menyahut pungutan itu. Tangannya sudah melingkar di leher sang suami hingga sebuah doa memakan istri terucap dari mulut keduanya. Atau mungkin doa memakan suami karena malam itu Femila lah yang paling mendominasi untuk merengkuh kenikmatan surgawi.
(Waduh...terlalu vulgar nggak ya?ππ₯±π)
...****************...
Femila menghentikan langkah kakinya di depan pintu kos yang sederhana. Sudah beberapa kali dia menginjakkan kaki di kos Aliyah. Semenjak resign dari perusahaan Femila memiliki banyak waktu luang. Kali ini dia sempatkan untuk main ke kos Aliyah karena sudah satu minggu ini dia absen main di situ.
"Cari siapa ya mbak?" tanya seorang wanita yang baru datang.
Femila menoleh ke arah suara.
deg
Wajah itu seperti tidak asing di mata Femila. Matanya menatap lekat dengan sedikit mengingat-ingat identitas wanita yang kini di depannya.
Wanita itu juga tidak kalah terkejut, " Mbak Femila...," tebaknya karena melihat penampilan yang berbeda dari pertemuan sebelumnya.
Femila tersenyum kecil masih bingung bahkan bertambah bingung karena wanita itu mengenalnya. "Ya," jawabnya ragu.
"Assalamualaikum... Aliyah, buka pintunya," teriak Hana.
Terdengar gagang pintu di buka dan muncul sesosok Aliyah dengan mukena yang masih dia kenakan.
"Waalaikum salam...Non Femila?" terkejut Aliyah dengan kedatangan nonanya.
Hana langsung masuk melangkah ke dapur untuk meletakkan 2 plastik belanja.
"Non, tidak telepon dulu mau main ke sini," ujar Aliyah setelah mempersilahkan Femila duduk.
"Wanita tadi sepertinya tidak asing?" tanya Femila tanpa menjawab pertanyaan dari Aliyah karena pertanyaan ini yang lebih mendominasi di otaknya.
"Oh...dia mbak Hana,"
"Pantesan aku merasa tidak asing," seru Femila.
__ADS_1
"Sudah 1 minggu mbak Hana di sini," lanjut Aliyah.
"O...," sahut Femila.
"Hai Mbak...," sapa Hana kemudian ikut duduk di antara mereka. Tangannya mengulur dan Femila menyambut uluran itu.
"Hai juga," ucap Femila.
Hana tersenyum dan Femila membalas senyum itu. Walaupun dibuat sebiasa mungkin namun terasa ada kecanggungan di antara mereka.
"Aku taruh mukena dulu," sela Aliyah kemudian bangkit dari duduk dan melangkahkan kaki masuk ke kamar.
"Sudah selesai study-nya?" tanya Femila mengurai kecanggungan.
"Alhamdulillah Mbak sudah...tinggal cari kerja," jawab Hana.
"Jangan panggil Mbak kesannya aku terlalu tua," ucap Femila diselingi tawa kecil.
"Ya Femila,"
Femila mengangguk mengiyakan panggilan itu.
"Umur kita kayaknya tidak jauh beda."
"Umur? Jangan bahas umur Fem, aku sangat sensitif," canda Hana diikuti tawa.
"Dua puluh delapan," ucap Femila dan dagunya menunjuk ke arah Hana isyarat agar Hana menyebutkan pula umurnya.
"Kita sama? Aku bulan Desember awal," jawab Hana.
"Aku November akhir, tanggal 25."
Femila dan Hana terkekeh, dengan sikap keduanya yang seperti bocah sedang memperkenalkan diri.
"Sudah dapat pekerjaan?"
"Belum, kemarin baru taruh CV di kampus A,"
"Amin...," jawab Hana.
"Oya Fem, tadi aku belanja kita masak bersama yuk," ajak Hana.
"Kamu bisa masak?" tanya Femila.
"Tanya atau meledek Fem?"
"Issst...beneran aku tanya,"
"Kita buktikan ke dapur," ucap Hana yang sudah melangkahkan kaki ke dapur. Femila pun mengekor.
Satu jam mereka asik di dapur, mengolah beberapa menu makan untuk santap siang. Canda tawa mengiringi aktifitas itu terkadang pula obrolan ringan sampai obrolan serius mereka ucapkan pula.
"Masakan kamu enak semua Han," puji Femila di akhir kunyahan makan.
"Siapa dulu, Hana...," jawab Hana dengan tawa yang menyertainya.
"Percaya deh...aku harus banyak belajar dari kamu nih," seru Femila.
"Ok, tapi tidak gratis ya...," jawab Hana dengan tawa.
"Jelas masakan mbak Hana enak, dulu saja us...," Aliyah langsung membungkam mulut merasa terlalu keceplosan bicara.
Femila menatap aneh ke arah Aliyah.
"Us...usaha kuliner, maksudnya cita-cita mau usaha kuliner," sambung Hana dengan cepat.
"Dulu saja ustadz Mirza suka dengan masakan Hana. Begitu lanjutan yang tepat Al?" ucap Femila dengan tersenyum kecil.
Aliyah tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Membenarkan bapa yang terucap dari mulut nonanya.
__ADS_1
"Itu kan dulu. Setiap manusia punya masa lalu. Walaupun aku merasa iri dengan Hana yang pandai memasak, pintar, lulusan S2, dan cantik rupanya.
"Non Femila jangan banyak memuji, nanti besar kepala mbak Hana," sela Aliyah yang diikuti tawa mereka.
"Aku yang iri dengan kamu Fem, cantik, cerdas, selera humoris, dan sekarang semakin terlihat mempesona dengan balutan hijab," monolog batin Hana. Ada rona senyum di bibirnya.
drt
drt
drt
Femila langsung meraih ponsel yang dia taruh di dekat tempat duduknya.
"Nona angkat saja teleponnya, biar kita yang cuci piring," ucap Aliyah sambil membawa bekakas yang baru mereka pakai.
Femila mengangguk dan tangannya sudah mengusap telepon berwarna hijau.
"Assalamualaikum sayang," sapa ustadz Mirza.
"Waalaikum salam," jawab Femila.
"Sudah makan?"
"Sudah, barusan juga selesai makan."
"Makan apa?"
"Nasi."
"Lauknya apa sayang...," tanya ustadz Mirza merasa gemas dengan jawaban sang istri.
Femila terkekeh, "Udang pedas manis,"
"Enak tu..."
"Enak sekali, apalagi makannya sambil ngobrol sana-sini. Ustadz sudah makan?"
"Sudah, tadi ada teman dosen yang selamatan bagi-bagi nasi kotak. Sudah salat Zuhur dan sekarang di parkiran mau pulang," jawab ustadz Mirza secara lengkap.
"Jemput aku ya," pinta Femila.
"Jemput?" tanya ustadz Mirza.
"Ustadz lupa? Tadi pagi sebelum ustadz berangkat aku kan izin mau main ke kosan Aliyah," terang Femila.
"Astaghfirullah haladhim...sampai lupa. Ok, nanti aku mampir. Assalamualaikum... ."
"Waalaikum salam," jawab Femila kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Mereka duduk santai di ruang kecil serba guna, untuk makan, nonton tv, duduk santai, tempat tamu. Maklumlah namanya juga tempat kos. Luas 4 x 9 m, hanya ada satu kamar tidur, dapur, kamar mandi, dan satu ruang serbaguna.
"Assalamualaikum... ."
"Waalaikum salam," jawab mereka bertiga.
Femila keluar kos disusul Aliyah dan Hana.
"Assalamualaikum Han," sapa Habibi.
"Waalaikum salam Bi, Ustadz."
Ustadz Mirza membalas dengan senyum.
Femila menatap interaksi mereka, tidak ada cemburu malah terbesit satu keinginan yang sudah dia rancang satu bulan yang lalu.
"Aku pulang ya," pamit Femila sambil cipika-cipiki dengan Aliyah dan Hana, "assalamualaikum... ."
Semangat pagiπͺπͺπͺ Menyapa kembali. Yuk beri komen like yang masih ada vote bolehlah kirim ke mari.ππ₯°.
__ADS_1
komen komen komenπ