
"Us - tadz, terima kasih untuk semua kebaikan Ustadz dan minta maaf atas segala khilaf saya selama ini." Hana menarik nafas panjang, rasanya mulutnya kaku untuk melanjutkan bicara.
"Sama Han, saya juga minta maaf atas segala khilaf saya. Semoga kamu sukses dan meraih cita-cita kamu."
Hana memberikan sebuah kotak kecil persegi panjang untuk ustadz Mirza.
"Untuk saya?" Tanya ustadz Mirza sembari menerima benda itu.
Hana mengangguk. "Saya serahkan kembali ke Ustadz." Ucap Hana.
"Assalamualaikum Ustadz."
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatu."
Hana masuk ke dalam mobil.
Mobil itu melaju menelusuri jalanan kota semakin jauh, jauh dan menghilang dari pandangan mata. Sementara, ustad Mirza masih berdiri menyaksikan mobil itu menghilang dari pandangan matanya. Hatinya seakan tidak rela melihat kepergian salah satu penumpang mobil itu. Ingin rasanya berkata tetap lah di sini namun hatinya belum tertata dengan mantap. Ada rona yang kini mengganjal dalam keputusannya.
"Mau berapa lama Ustadz berdiri di sini?"
Ustadz Mirza tersenyum kecut mendengar ucapan Habibi. Dia tidak menanggapinya hanya menoleh kemudian berjalan masuk dalam rumah.
"Saya permisi dulu kak."
"Mau kemana?"
"Pulang kos lah."
"Saya antar."
"Nanti ngrepoti kakak?"
"Hari ini ustadz tidak ke kampus."
Habibi masuk mengambil kunci mobil.
bip bip...
"Buruan masuk."
Aliyah membuka pintu mobil kemudian duduk di jok depan.
Sementara, ustadz Mirza sedang duduk di tempat kerjanya. Mengamati kotak pemberian Hana. Kemudian membukanya, ada dua pulpen Hi Tech 0,25 dan satu pulpen Parker Sonnet Matte Black Gold Trim. Dia membaca lembar kertas bertulis: "Masih ingatkah ustadz dengan dua pulpen Hi Tech 0,25 ini?" .
__ADS_1
Ustadz Habibi tersenyum membaca tulisan itu. Pikirannya terekspos mengenang masa lalu. Dua pulpen Hi Tech 0,25 adalah pulpen untuk mengapsahi (mengartikan) kitab kuning, ketika dirinya masih nyantri di pesantren Mubtadi'in. Setiap malam pasti ngaji kitab kuning ditemani si Hi Tech 0,25. Saat itu, sepulang ngaji ustadz Mirza dipanggil Abah Yai untuk memijat Beliau. Karena sedang main kejar-kejaran dengan kakaknya tanpa sengaja Hana menabrak ustadz Mirza hingga dahinya benjol.
"Kenapa tiba-tiba ada di depan pintu?" Sewot Hana kala itu sambil menahan sesenggukan.
"Ya Allah Hana, kenapa malah menyalahkan nak Mirza. Kamu yang tidak hati-hati." Ucap Abah Yai.
"Bener tuh Bah. Salahkan saja Hana." Timpal Amar sang kakak.
"Kamu juga salah Amar, bercandanya terlalu berlebihan."
Amar mengerucutkan bibirnya. "Kenapa jadi Amar juga yang disalahkan." Ucapnya kemudian pergi masuk ke kamar.
"Astaghfirullah haladhim." Abah Yai mengelus dadanya.
Ustadz Mirza yang kala itu dengan sigap ke dapur membawa kain kompres dan es batu berjalan ke arah Hana dan memberikannya. "Saya minta maaf Neng," Mohonnya.
Hana menerima kain kompres dan es batu itu dengan terpaksa. Menatap ustadz Mirza dengan tatapan yang kesal. Namun tatapannya berhenti pada pulpen yang ustadz Mirza sematkan di kantong bajunya. Hana menarik pulpen Hi Tech 0,25 dengan cepat. "Sebagai jaminan untuk benjolan yang saya terima." Ucap Hana langsung lari masuk ke kamarnya tanpa mendengar persetujuan dari ustadz Mirza.
"Hana, Masya Allah itu anak." Greget abah Yai dengan tingkah anaknya.
Dua hari setelah kejadian, ustadz Mirza yang disuruh Abah Yai membuat teh untuk tamu, bertemu dengan Hana yang kala itu mengambil air minum.
"Apa lihat-lihat!" Ketus Hana.
Ustadz Mirza langsung menundukkan pandangannya kembali mengaduk teh yang baru dia beri gula.
Ustadz Mirza menghentikan langkahnya nampan gelas isi teh, agak sedikit tumpah karena berhenti mendadak.
"Kamu lihat sendiri benjolannya masih ada, itu artinya, kamu harus tambah jaminannya." Ucap Hana sambil menarik paksa pulpen yang disematkan di kantong baju ustadz Mirza yang sama persis kemarin namun terlihat masih baru.
"Neng, pulpennya masih baru. Itu juga satu-satunya pulpen saya."
"Bodoh amat." Hana langsung pergi.
Ustadz Mirza kembali tersenyum mengenang kenangan itu. Kemudian melanjutkan membaca lembar kertas dari Hana "Ustadz pasti sedang tersenyum karena mengingatnya. Atau bahkan sama sekali tidak mengingatnya??? Huffft! Saya marah kalau sampai ustadz tidak mengingat kenangan itu! Tapi wajarlah, bukankah itu sudah dua belas tahun yang lalu. So, terima kasih banyak atas kebaikan ustadz selama ini. Sematkan selalu pulpen yang satunya untuk mengukir setiap momen indah yang ustadz jalani."
Dia mengambil pulpen Parker Sonnet Matte Black Gold Trim. mengamati pulpen yang terlihat mewah dengan bahan stainless, "Insya Allah akan selalu saya manfaatkan pulpen ini Han." Ucap ustadz Mirza kemudian menaruh pulpen itu dalam wadahnya.
...****************...
Lima hari telah berlalu sejak kepergian Hana. Ada rasa yang berbeda ketika tidak menatap wajahnya yang dalam dua Minggu lalu tanpa absen memberi makan siang. Entah rasa rindu atau sebatas merasa kehilangan, yang jelas rasa ini sungguh membuat ustadz Mirza tidak nyaman.
"Assalamualaikum Hana. Bagaimana kabarnya? Sehatkan? Sedang apa sekarang? Apa sibuk mengajar santri? Apakah saya mengganggu kamu?"
__ADS_1
Ustadz Mirza menghapus pesan itu memilih menu kembali dan mengunci ponselnya. Mengusap kasar rambut dan membuang kasar nafasnya. Rasanya tidak pantas dia mengirim pesan itu, namun dari lubuk hati terdalam ingin sekali menghubungi atau sekedar menanyakan kabarnya. Dia harus menata hatinya, memantapkan hatinya untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius. Menunggu esok ketika sudah berjumpa dengan seseorang yang satu minggu ini masuk dalam istikharahnya. Kalimat istighfar keluar dari mulut ustadz Mirza.
"Kenapa Ustadz?"
Suara itu hampir membuat ustadz Mirza menjatuhkan ponselnya karena kaget. "Bisa tidak salam dulu Habibi."
"Iya maaf. Assalamualaikum Ustadz."
"Waalaikum salam."
"Bukankah kamu izin mau keluar? Mengapa tiba-tiba nongol seperti jailangkung?"
"Astaghfirullah haladhim Ustadz. Jadi saya datang tak diundang pergi tak diantar?"
"Baguslah kalau sadar."
"Saya tidak tega membiarkan seorang ustadz yang sedang galau ditinggal sendiri." Sindir Habibi.
"Maksud kamu?" Memicingkan alis.
"Ya begitulah bukankah benar." Habibi terkekeh.
"Kita keluar." Ajak ustadz Mirza.
"Kemana?"
"Makan siang."
"Mbak Atik tidak memasak?" Tanya Habibi karena ustadz memang lebih suka makan di rumah dibanding makan di luar.
"Sesekali makan di luar."
"Mengapa tiba-tiba otak saya terlintas pada sesosok dek Hana yang sedang membawa bungkusan makan siang, sama kah ustadz?"
"Habibi!" Menatap tajam Habibi, tahu maksud Habibi menyindir dirinya.
Habibi terkekeh kembali. "Maaf Ustadz kalau terlalu menyinggung Ustadz. Mari jalan."
Dua puluh menit sampailah ustadz Mirza dan Habibi di sebuah rumah makan. Mereka langsung duduk di saung yang kosong.
"Saya ke toilet dulu Ustadz."
Ustadz Mirza mengangguk.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Habibi tidak sengaja menabrak seseorang.
Ustadz Mirza reflek langsung membantu memapah orang yang ditabrak Habibi. Betapa kaget ustadz Mirza, dia adalah seseorang yang dua hari ini muncul dalam mimpinya. Seseorang yang dengan lantang meminta untuk dinikahi dengan alibi pernikahannya batal dilangsungkan karena ustadz Mirza dan sebagai ganti, ustadz Mirza harus menikahi sesosok yang kini tangannya dalam genggaman ustadz Mirza.