KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 49


__ADS_3

"Pasti Andra tahu, sore tadi Femila ada di dekat Safera." Batin om Fery masih bermonolog.


Om Fery dan Safera berpamitan pulang. Aliyah juga sama, setelah makan malam bersama dia pulang diantar Habibi. Kini tinggal Femila yang lebih memilih merebahkan tubuhnya di ranjang dan ustadz Mirza yang masih fokus memainkan jemarinya di layar ponsel sambil menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang tidur.


Sesekali dia melirik ke arah Femila. Posisi tidurnya membelakangi ustadz Mirza. Nampak Punggung sampai lengan wanita itu bergetar. "Apa mungkin dia menangis?" Batin ustadz Mirza tidak dapat menanyakan langsung ke Femila.


Sejak kejadian sore tadi, Femila terlihat diam.


"Fem, Femila." Panggil ustadz Mirza ingin memastikan keadaan wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya.


Tidak ada sahutan dari Femila. Getaran punggung dan bahunya sudah terhenti.


"Semoga suatu saat kamu mau berbagi masalahmu Fem dan tidak ada lagi air mata kesedihan mengalir di pipimu." Batin ustadz Mirza mengucap sebuah doa harapan.


...****************...


Satu minggu ini Femila masih terlihat lebih diam. Lebih tepatnya memilih diam, bicara hanya seperlunya. Orang tuannya yang biasanya satu minggu sekali berkunjung, sudah tiga hari ini tiap pulang kerja mereka mampir dengan membawa makan malam untuk di makan bersama.


"Fem, besok ustadz Mirza kan mau ada acara di luar kota selama satu minggu, apa sebaiknya kamu menginap di rumah mama?" Tawar mama Anita.


"Femila di sini saja Ma. Lagian nanti Aliyah menginap di sini." Tolak Femila.


Mama Anita membuang napasnya kasar. Anak semata wayangnya itu memang sangat keras kepala.


"Femila ke kamar dulu." Mengambil kruk yang ada di samping kursi, mengapit di kedua ketiaknya kemudian berjalan menuju kamar.


"Andra masih singgah di hatinya, bagaimanapun dia sudah lama menjalani cinta bersama Andra dan hampir menikah. Tapi kenyataan pahit harus dia terima." Mata mama Anita menerawang, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya agar tidak terjatuh.


Ustadz Mirza diam mendengarkan mertuanya bicara.


"Seharusnya Femila bersikap dewasa." Ucap papa Riyan.


"Mengapa Papa menyalahkan Femila! Femila mulai bangkit dari keterpurukan, mulai tersenyum walaupun tak seceria dulu, tidak minder untuk kerja kembali. Itu semua kemajuan yang sangat pesat. Kita harus selalu support dia, sedikit mengalah dan bersabar menghadapi Femila!" Geram mama Anita pada suaminya yang dengan entengnya menyalahkan anaknya.


"Semua salah saya Ma, Pa. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi pasti Femila sudah hidup bahagia." Sela ustadz Mirza.


"Maaf bukan maksud kami seperti itu Nak. Kami juga tidak menyalahkan sepenuhnya pada kamu Nak," Ucap mama Anita sedikit terbata. "Mungkin ini jalan dari Tuhan. Yang harus kita lakukan sekarang bukan penyesalan, tapi usaha membangkitkan semangat Femila."


"Kita serahkan ini padamu. Kami yakin, kamu bisa mengatasi ini." Papa Riyan menepuk pundak menantunya.


Ustadz Mirza mengangguk pelan.


"Mama, Papa harus pulang karena sudah semakin malam." Ucap Mama Anita.


Setelah kepulangan mertuanya. Ustadz Mirza lebih memilih duduk di ruang kerjanya. Habibi belum menampakkan batang hidunganya sejak mengantar Aliyah pulang.


"Begitu besarkah cintamu pada Andra, Fem?" Ustadz Mirza mengusap wajahnya dan membiarkan kedua tangan itu menangkup wajahnya lama.


"Ada apa Ustadz?"


Suara tiba-tiba dari Habibi mengagetkan ustadz Mirza.


"Saya tidak habis pikir, apa berumah tangga itu serumit ini? Apalagi si istri masih belum move on dari cinta sebelumnya. Apa karena suami yang belum memberi perhatian yang lebih? Apa karena suami juga masih setengah-setengah dalam mencintai? Atau Istri yang sama sekali tidak bisa melihat itikad baik sang suami? Mungkin pula hati istri tergembok untuk lelaki lain bahkan untuk suaminya sendiri! Atau juga ustadz tidak menyebut namanya dalam doa?" Ucap Habibi terasa menghakimi seorang terpidana.


"Siapkan untuk keperluan besok. Jangan lupa laptopnya diisi baterai full. Bahan materi yang dikirim ke panitia harus dipastikan sudah di foto kopi. Satu hal lagi. Aliyah besok pagi sudah sampai di sini sebelum kita berangkat." Ucap Ustadz Mirza mengalihkan pembicaraan Habibi.


Habibi mengangguk. "Selalu begitu. Mengalihkan pembicaraan." Keluh Habibi.


"Hotel yang nanti kita tempati diganti ke hotel yang lebih dekat dengan kampus pelatihan. Tadi sore pihak panitia memberitahu saya dan saya baru sempat mengabari ke Ustadz." Ucap Habibi kemudian.


Ustadz Mirza mengangguk. "Kamu pastikan semuanya siap. Saya mau istirakhat dulu."

__ADS_1


"Ya Ustadz."


"Ustadz." Panggil Habibi.


"Apa." Ustadz Mirza menghentikan langkahnya hanya menoleh ke Habibi.


"Semangat Ustadz." Habibi mengepal tangannya, siku tangan ditekuk, kepalan itu diangkat sejajar wajahnya.


Ustadz Mirza hanya tersenyum mengahadapi asistennya yang tiada habis ide membuat dirinya selalu semangat menghadapi segala masalah.


...****************...


Terhitung sudah enam hari Ustadz Mirza di luar kota. Jarak tempat yang memisahkan antara dirinya dengan Femila semakin menambah jarak hubungannya dengan yang katanya sudah sah menjadi istrinya.


Kendati demikian, Ustadz Mirza selalu menyempatkan untuk mengirim pesan walau hanya menanyakan kabar atau sekedar mengingatkan untuk makan.


Sudah tidur?


Satu pesan masuk ke ponsel Femila dan telah Femila baca.


Bukan balasan yang ustadz terima malah video call yang masuk dari kontak dengan nama ISTRIKU.


Ustadz Mirza mengusap gambar video dan muncul sesosok wanita cantik yang katanya sudah sah menjadi istrinya.


"Assalamualaikum." Sapa Ustadz Mirza.


"Wassalamu'alaikum salam. Basa-basinya terlalu kuno. Sudah tahu saya on line kenapa tanya sudah tidur?" Ucap Femila dengan memasang wajah cemberut.


Seutas senyum terpancar dari raut wajah ustadz Mirza. Rasa yang tidak bisa digambarkan oleh apapun karena terlalu bahagia. Sesederhana itukah sebuah kebahagiaan? Salah satunya ini, melihat istri tersenyum menyapanya.


"Kenapa hanya tersenyum saja. Tidak mau klarifikasi. Apa perlu saya tambahkan. Setiap hari kirim pesan hanya tanya sudah makan, sudah minum, sudah pulang kerja, sudah bangun, apa tidak ada pertanyaan yang lain?"


"Saya harus bagaimana?" Tanya ustadz Mirza.


Femila mencibirkan bibirnya. "Seharusnya Ustadz tanya, kartu debitnya masih ada saldonya? Sudah belanja apa saja? Sudah shopping kemana?" Femila tertawa terkekeh.


"Itu yang ingin saya lihat."


"Mengapa jawabannya tidak nyambung. Apa nya yang ingin dilihat."


"Senyum kamu, tawa kamu."


Femila langsung terdiam.


"Ustadz, barangnya sudah dibawa pak Rohim ke ruang tengah. Saya mau istirakhat."


"Ya." Jawab ustadz Mirza.


"Itu suara Habibi Ustadz? Ruang tengah? Jadi Ustadz sudah di rumah?" Cerca Femila terkejut karena tidak tahu kalau suaminya sudah sampai di rumah.


"Saya di depan pintu kamar dan kamarnya kamu kunci, makanya saya kirim pesan menanyakan kamu sudah tidur apa belum?"


Wajah Femila langsung memerah dan sambungan ponsel langsung terputus.


Ustadz Mirza tersenyum menang.


Flashback on.


Sebelum meninggalkan kamar Femila, Aliyah sedikit berbincang mengenai dunia marketing dengan Femila. Bincang sana sini, kanan-kiri , dan akhirnya pembicaraannya berujung mengenai ustadz Mirza.


"Beliau sudah yatim piatu sejak kecil Non. Berkat kerja kerasnya dan kecerdasannya akhirnya dia sesukses ini."

__ADS_1


Femila masih diam tidak memberikan ekspresi.


"Tolong jangan marah pada beliau karena gagalnya pernikahan Non dengan mas Andra."


Femila masih terdiam, tangannya meraih ponsel dan jemari itu lincah berselancar di atas layar ponsel.


"Kalau boleh memilih pasti ustadz Mirza takkan membiarkan hal ini menimpa pada Non Femila." Lanjut Aliyah.


Femila tetap fokus ke layar ponsel namun telinganya melebar mendengar ucapan Aliyah.


"Hanya itu yang ingin saya sampaikan Non. Assalamualaikum, selamat malam."


Aliyah melangkah keluar dari kamar Femila.


"Waalaikum salam." Lirih Femila setelah bayang Aliyah tertutup pintu kamar.


Flashback of


Ustadz Mirza melayangkan senyum setelah pintu kamar terbuka. "Assalamualaikum." Sapa ustadz Mirza.


"Waalaikum salam." Jawab Femila dengan ekspresi datar.


Ustadz Mirza masuk dan membersihkan diri, setelah bersih dia naik ranjang bersandar di kepala ranjang.


Mereka terdiam. Femila menatap ponselnya sesekali mengusap layar ponselnya dengan jemarinya.


"Terima kasih Fem," ucap ustadz Mirza mencairkan kebekuan diantara mereka.


"Terima kasih untuk apa.?" Tanya Femila masih tanpa berpaling dari layar ponselnya.


"Kamu sudah tersenyum kembali."


Femila terdiam, jemarinya berhenti berselancar di layar ponsel.


"Dan saya minta maaf, luka yang belum kering itu terbuka kembali. Seharusnya saya lebih hati-hati, bahkan seharusnya saya melarang Safera membicarakan Andra."


Femila masih terdiam mengikuti arah pembicaraan ustadz Mirza.


"Maksud Ustadz Mirza apa?"


"Bukankah dari kemarin kamu marah dengan saya karena saya meneleponkan Safera ke Andra?"


Femila terkekeh.


"Kenapa kamu malah tertawa?" Rona bingung tergambar di wajah ustadz Mirza.


"Kenapa Ustadz menyimpulkan seperti itu?"


"Bukankah begitu?"


"Saya benci diri sendiri Ustadz." Femila mulai ke pembicaraan serius.


Membuang napas dengan kasar. "Saya benci, karena mendengar nama Andra saja irama jantung saya tidak beraturan, Apalagi ketika mendengar suaranya dan menatap sekilas wajahnya benar-benar membuat saya gila seketika." Bulir putih itu meluncur dari pelupuk Femila.


Femila menarik napas dalam dan membuang kasar napasnya, mencoba mengontrol diri agar tidak terbawa emosi yang berlebih setelah mengutarakan kejujuran hatinya.


"Maaf Ustadz, itu kejujuran hati saya." Air mata itu kembali lolos dari pelupuk matanya.


Senin amal, bolehlah kasih votenya 🤗🥰😍. Biar authornya makin rajin up....


likenya jg jgn lupa dari bab1 sampai bab ini ya😍🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2