
Tangan itu meraih dagu Femila, dia tatap lekat wajah dan mata yang menahan cairan bening yang tertampung di pelupuk mata indahnya. Dua jemari jempol sang ustadz menyapu bendungan air mata itu.
"Tidurlah." Ucap ustadz Mirza kemudian mengelus pucuk kepala Femila.
Napas Femila terdengar teratur, ustadz Mirza memiringkan tubuhnya menatap Femila yang sudah tidur.
"Saya yakin kamu wanita yang kuat. Sebelumnya, hanya mendengar dan melihat Andra dari video call reaksi kamu sampai diam tidak mau berbicara apapun dan kepada siapapun. Sekarang, kamu lebih terbuka dan lebih kuat. Semoga Allah melindungi kamu dari segala bahaya." Batin ustadz Mirza.
Ustadz Mirza bangkit dari ranjang tidur, melangkah ke luar dan masuk ke ruang kerjanya.
"Ustadz, belum tidur?" Terkejut Habibi.
Ustadz Mirza membuang napasnya kasar.
"Kamu kenapa belum tidur juga?"
"Ada pekerjaan yang belum selesai." Jawab Habibi.
"Ustadz masih memikirkan pertemuan non Femila dengan tuan Andra?" Tanyanya kemudian.
Ustadz Mirza hanya menarik sudut bibirnya.
"Apakah ustadz cemburu? Atau was-was kalau tuan Andra mengambil kembali barang yang tertitip ke Ustadz?"
Ustadz Mirza tersenyum kecil. "Mengapa baru sekarang saya takut dosa. Membiarkan seorang istri kembali merajut kasih dengan mantan kekasihnya. Bukankah itu dosa." Ustadz membuka isi dalam pikirannya.
"Istri, apa selama ini ustadz menganggap dia istri? Atau sebaliknya non Femila menganggap anda suami? Bukankah hubungan ustadz dan non Femila hanya sebatas formalitas?"
"Pernikahan bukan hal formalitas tapi saya menyebut nama Allah dalam ikrar tersebut. Saya rasa kewajiban saya sudah saya penuhi terkecuali kewajiban nafkah batin."
Habibi tersenyum kecut. "Mengapa tidak sekalian Ustadz penuhi kewajiban yang satu itu."
"Itu tentang hati, saya tidak bisa memaksanya."
"Tapi Ustadz belum pernah mencobanya?"
"Bagaimana bisa saya mencobanya, kalau dia berbicara masih mencintai mantan kekasihnya."
"Dan Ustadz membiarkan itu terjadi?"
"Apapun demi kebahagian Femila."
"Ustadz tidak merasa kalau itu sama saja menjerumuskan Femila ke jurang dosa?"
"Saya akan mengontrolnya agar itu tidak terjadi."
"Dengan cara apa?"
"Lihat nanti."
"Mengapa begitu miris kisah percintaan Ustadz? Ckckck. Masih mendingan saya yang jomblo."
"Status jomblo kamu juga sangat miris, kenapa harus disombongkan." Balas ustadz Mirza.
"Saya sombong karena ada yang disombongkan, dari pada sombong tapi tidak ada yang patut disombongkan." Habibi terkekeh.
"Terserah kamu Bi, biar kamu puas tertawanya."
Habibi masih terkekeh. Membuang napasnya dengan kasar dan memulai pembicaraan lagi dengan serius .
"Setelah ini, apa Ustadz akan menyerahkan Femila pada tuan Andra? Enam bulan hidup bersama apa tidak ada dari kalian yang goyah hatinya? Atau mungkin Ustadz mulai mencintainya? Atau mungkin non Femila yang mulai ada rasa empati atau simpati pada Ustadz? Sedikit saja. Adakah?" Cerca Habibi.
Ustadz Mirza hanya tersenyum menanggapi serentetan pertanyaan yang terlontar dari mulut Habibi.
"Kalau Ustadz tidak mampu menjawab semua pertanyaan saya. Cukup jawab satu pertanyaan dari saya. Dulu Ustadz pernah berkata, akan berusaha mencintai Femila setelah Ustadz menikahinya. Apakah usaha itu sudah berhasil?"
__ADS_1
Lagi-lagi ustadz Mirza hanya tersenyum dan membuang napasnya dengan kasar.
"Jawaban itu ada di hati Ustadz. Jangan Sampai Ustadz salah mengambil keputusan." Nasehat Habibi.
"Pekerjaan saya sudah selesai, saya mau istirakhat. Assalamualaikum." Sambungnya.
"Waalaikum salam." Lirih Ustadz Mirza mengiringi langkah Habibi keluar dari ruang kerja.
Ustadz Mirza pun ikut melangkah meninggalkan ruang kerjanya dan masuk ke kamar.
Dia tatap wajah polos milik istrinya yang terlelap tidur. Dia selipkan ke belakang telinga anak rambut yang nampak menutupi wajahnya. Satu kecupan berhasil mendarat di kening itu.
"Sudahkah saya mencintaimu Fem? Pertanyaan ini pula yang selama ini hinggap di otak saya. Menjadi tanya yang sampai sekarang belum berbuah sebuah jawaban." Monolog batin ustadz Mirza.
...****************...
Selamat ya Al...kamu mendapat pekerjaan yang bagus 👍👍🤗
Satu pesan masuk di WA Aliyah. Tertulis nama pengirim, Mbak Hana.
Aliyah tercekat membaca pesan itu. Wajahnya langsung terlihat pucat. "Apa yang harus saya tulis untuk membalas pesan mbak Hana?" Batinnya penuh tanya.
Terima kasih Mbak... Sebenarnya sudah lama saya akan kabarkan hal ini pada Mbak Hana, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana pembicaraannya. Balas Aliyah.
Kenapa harus ditutup-tutupi, toh itu hak kamu. Sekalipun kamu menjadi asisten istrinya ustadz Mirza.
Aliyah mengulang pesan kedua dari mbak Hana.
Saya tetap setia menjadi sahabat mbak Hana kok. Percayalah, saya hanya berusaha bekerja profesional. Tulisan itu berhasil dikirim ke mbak Hana.
🤣🤣🤣🤣 Ya Allah kamu kenapa Al. Saya tidak apa-apa lagi. Ustadz Mirza hanya masa lalu saya. Saya sudah ikhlaskan dengan siapapun ustadz melabuhkan hatinya.
Aliyah tersenyum lega membaca balasan dari Hana.
Amin. Ya Allah...sudah dulu ya Al, saya ada kelas mata kuliah. Assalamualaikum.😍🥰
Waalaikum salam...🤗😍🥰. Balas Aliyah kemudian melanjutkan dengan fokus ke layar laptopnya.
tok
tok
tok
"Masuk." Ucap Aliyah.
"Cin, sepertinya kamyu sibuk sekali." Cerocos Aufar langsung mendekat ke meja Femila.
"Hmmmm." Dengung Femila.
Aufar mencibirkan bibirnya mendapati respon dari Femila.
"Sombong amyit sih Cin..." Sindir Aufar dengan gaya gemulainya.
"Ada perlu apa?" Femila buka suara.
"Dipanggil bos uncit tuh."
"Iya, ini tanggung."
"Buruan Cin...kayaknya itu bos lagi marah besar sama kamyu."
Femila membuang kasar napasnya kemudian melangkah mengekor Aufar.
"Bagaiman ini Femila! Masalah seperti ini saja tidak bisa kamu atasi!" Bentak Pak Freddy begitu Femila sudah duduk di depan meja kerjanya.
__ADS_1
"Maksud Bapak, masalah..."
"PT Perkasa Bintang!" Potong pak Freddy.
"Saya tidak mau tahu! Hari ini harus kamu selesaikan! Besok truk angkut yang mengangkut semen sudah tidak mengular di proyek PT Perkasa Bintang!"
"Iya Pak." Femila beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, mau kemana? Saya belum selesai bicara!"
"Kata Bapak ke PT Perkasa Bintang?"
"Oya ya." Barisan gigi nampak dari mulutnya, sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Femila langsung mendudukkan pantatnya begitu sampai ruang kerjanya. Otot kepalanya yang terasa kaku dia pijat pelan. "Kita ke PT Perkasa Bintang Al." Ucapnya kemudian.
"Sekarang Non?" Terkejut Aliyah karena perintah ini begitu mendadak.
"Kamu persiapkan dokumennya."
"Baik Non."
Setelah dua puluh lima menit mereka sampai di kantor PT Perkasa Bintang. Femila masih berdiri di depan meja resepsionis.
"Kalau mendadak seperti ini tidak bisa Bu, anda harus janjian dulu dengan Tuan Andra."
"Kamu sambungkan teleponnya ke Tuan kamu, bilang Femila Ahmad akan menemuinya."
"Femila Ahmad? Setahu saya nama Non Femila itu Femila Amore Ibrahim." Batin Aliyah mendengar ucapan dari nonanya.
"Upss!" Aliyah langsung membungkam mulutnya.
"Jadi Femila Ahmad, Ahmad itu nama belakang ustadz Mirza." Batin Aliyah bermonolog.
"Kenapa Al?" Tanya Femila melihat asistennya bertingkah aneh.
Aliyah hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Dasar aneh." Gumam Femila.
"Silahkan Bu, anda boleh masuk." Ucap resepsionis itu.
"Terima kasih Mbak." Balas Aliyah yang langsung menyusul nonanya yang sudah melangkahkan kaki terlebih dahulu.
Femila dan Aliyah sudah duduk di ceo room. Di depan mereka juga sudah duduk sesosok yang menurut Aliyah tampannya kebangetan, mirip aktor ternama Indonesia.
"Tampan sekali mantan kekasihnya non Femila, pantesan non Femila susah move on. Ahhhh kalau begini saya juga mau jadi kekasihnya." Batin Aliyah masih dengan mulut menganga menatap Andra tanpa berkedip.
"Aliyah dokumennya tolong ambilkan." Ucap Femila berusaha bersikap setenang mungkin walaupun jantungnya sudah tidak beraturan ritmenya.
"Aliyah." Siku Femila menyenggol tubuh Aliyah.
"Eh, iya Non, maaf tadi apa?" Terkejut Aliyah dari lamunannya.
"Dokumen." Mata Femila menatap tajam ke Aliyah.
Andra hanya tersenyum dengan tingkah dua wanita yang ada di depannya.
"Ada puluhan truk semen yang tertahan karena PT Perkasa Bintang menunda proyek yang seharusnya dilanjutkan minggu ini. Saya ingin permasalahan ini cepat teratasi. Karena pihak PT Perkasa Bintang sudah menyetujui untuk pengiriman semen." Terang Femila.
"Kami harus menyelesaikan masalah internal terlebih dahulu. Mungkin butuh tambahan waktu selama satu minggu. Jadi saya harap Nona Femila Ahmad memahami itu."
deg
Femila Ahmad! Nama yang Femila juluki untuk dirinya. Namun ketika nama itu disebut jelas oleh Andra mengapa menjadi lain arti bagi Femila?
__ADS_1