KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 54


__ADS_3

"Andra." Bibir Femila bergetar menyebut nama mantan kekasihnya.


"Apa kabar Femila?" Sapa Andra dengan tenang kemudian duduk di kursi kerjanya.


Femila masih diam rasa terkejutnya tidak mampu membuka mulutnya untuk membalas sapa.


"Syukurlah kelihatannya kamu baik-baik saja." Ucap Andra tanpa mendengar jawaban dari Femila.


Femila masih terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Dari lubuk hatinya yang terdalam ada rasa ingin memeluk orang yang dia rindukan selama ini dan sekarang berada di depannya. Di sisi lain ada rasa benci yang membuncah dan ingin mengutuknya hingga kutukan itu benar menimpanya.


"Saya permisi dulu." Akhirnya satu kalimat berhasil lolos dari mulut Femila walaupun terdengar gugup.


Tangan Andra mempersilahkan Femila untuk keluar.


Setelah tubuh wanita itu hilang dari pandangan matanya Andra mengambil ponselnya.


"Mario, kamu cek Femila turun ke bawah, pastikan dia tidak apa-apa sampai masuk mobil." Ucap Andra dan dari sebrang sana mengiyakan ucapan Andra.


Ponsel itu dia matikan, dengan tubuh yang lemas, dua matanya dia pejamkan dan kedua tangannya menutup muka itu hingga dia Raup dengan pelan.


"Terima kasih Fem, karena kamu masih semangat untuk menjalani hidup." Batin Andra.


Femila melangkahkan kakinya pelan. Membuka pintu mobil, memilih mendudukkan diri di belakang kemudi.


"Sudah selesai Non?" Retoris Aliyah begitu tahu nonanya sudah duduk di jok, walaupun tidak seperti biasanya dia duduk di samping kemudi dia memilih duduk di belakang kemudi.


Femila diam tidak menyahuti kalimat retoris yang terlontar dari mulut Aliyah. Air mata yang sedari tadi dia bendung kini pecah membanjiri pipinya dan terdengar Isak yang tertahan dengan berat.


Aliyah menoleh ke spion dalam mobil. Dia masih belum mengerti apa yang menimpa nonanya sampai dia menitihkan air mata.


Mobil itu melaju, melesat menerobos jalanan kota hingga sampailah di kantor tempatnya bekerja.


"Non tidak apa-apa?" Tanya Aliyah memberanikan diri ketika sampai di ruang kerja nonanya.


Lagi-lagi pertanyaan itu menguap tanpa ada sahutan dari lawan bicara.


"Minumlah Non." Aliyah memberikan segelas air putih.


Femila meraih gelas itu setengah gelas masuk dalam perutnya.


"Apa perlu saya telepon ustadz untuk menjemput Non kesini?"


"Jangan."


Sesuai dugaan Aliyah, dengan tawaran seperti itu pasti nonanya akan membuka suara.


Femila membuang napasnya kasar. Tangannya kini meraih laptop yang ada di meja kemudian membukanya.


"Saya mau ke kantin. Non minta apa?" Tawar Aliyah setelah melihat nonanya mulai melanjutkan kerjanya.


Femila hanya menggelengkan kepala.


Di kantin.


Ke kantin sebenarnya hanya alasan Aliyah untuk memastikan apa yang menimpa nonanya. Sepuluh menit yang lalu dia melihat status om Fery: Syamsuddin Noor airport dengan foto Om Fery mendorong troli berisi koper.


"Itu artinya, di kantor PT Perkasa Bintang non Femila tidak bertemu dengan om Fery, tapi dengan siapa sampai non Femila menangis seperti itu?" Batin Aliyah.


Aliyah memberanikan diri memencet kontak atas nama om Fery, masuk mode memanggil.


"Assalamualaikum." Sapa Aliyah begitu kontak itu sudah tersambung.


"Waalaikum salam. Ada apa Al? Tumben kamu telepon saya, sepertinya ada yang sangat penting."


"Saya lihat status Om Fery di Syamsuddin Noor airport, Om beneran di situ."


"Iya, kenapa. Kamu kangen?"


"Issst apaan sih Om. Berapa hari?"


"Mungkin dua minggu, atau satu bulan, atau dua bulan, atau..."


"Atau selamanya." Potong Aliyah


Om Fery terkekeh mendengar ucapan Aliyah. "Kalau kamu rindu, saya jemput kamu untuk menetap di sini."


"Saya jadi merinding Om." Ketus Aliyah.


Tawa om Fery makin terkekeh mendengar jawaban Aliyah.


"Safera juga ikut Om?"


"Ya, dia ikut. Tapi dia sedang tidur mungkin kelelahan."

__ADS_1


"Kalau Om ke kembali ke Kalimantan siapa yang mengurus perusahaan?"


"Kembali lagi pada yang dulu mengurus."


"Maksud Om?"


"Andra." Singkat om Fery memotong tanya Aliyah.


deg


Aliyah menelan salivanya dengan susah. "Pantesan non Femila menangis seperti itu ternyata dia bertemu dengan mantan kekasihnya." Batin Aliyah.


"Sebenarnya ini yang akan kamu tanyakan?"


"I-iya." Jawab Aliyah dengan gugup.


"Apa Femila sudah bertemu dengan Andra?" Tanya Om Fery kemudian.


"Tadi siang kami ke kantor PT Perkasa Bintang." Jujur Aliyah karena tidak ada yang perlu ditutupi, percuma Om Fery juga akan tahu. Seperti sederet basa-basinya sekarang untuk memastikan siapa yang ditemui nonanya di PT Perkasa Bintang, ujungnya om Fery juga tahu.


"Cepat atau lambat mereka pasti bertemu dan harus menyelesaikan masa lalu mereka yang belum terselesaikan."


"Tapi non Femila kan sudah menikah Om."


"Pernikahan hanya simbolis, tapi hati wanita itu masih terpaut dengan masa lalunya."


"Itu tidak adil untuk ustadz Mirza."


"Bukan bicara tentang keadilan tapi yang berbicara hati mereka."


"Om kan saudara mas Andra, jadi wajar kalau membelanya."


Om Fery terkekeh kembali. "Apa kesannya saya membela Andra?"


"Ya...begitu." Jawab Aliyah ragu.


"Sudah dulu ya Om, saya harus ke ruang non Femila."


"Ya, kalau kamu kangen telepon saja."


"Tidak akan kangen!" Ketus Aliyah.


"Assalamualaikum."


Aliyah mematikan sambungan telepon itu. Memencet beberapa pesan kemudian mengirimkannya.


Sore hari telah menyapa lebih dari beberapa jam. Pegawai kantor sudah mulai bergegas pulang. Femila dan Aliyah juga sudah berjalan menuju parkiran mobil.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Jawab Femila dan Aliyah.


Femila terkejut dengan kedatangan ustadz Mirza sedangkan Aliyah tersenyum sumringah.


"Kalau begitu saya pulang dulu karena non Femila sudah dijemput." Ucap Aliyah langsung lari pergi.


Ustadz Mirza membukakan pintu mobil untuk Femila. Setelah duduk di jok, ustadz Mirza menutup pintu itu.


"Mengapa Ustadz menatap saya seperti itu?" Tanya Femila melihat ada netra yang tanpa kedip menatapnya.


Ustadz tersenyum menampakkan barisan gigi putihnya.


"Kita mau kemana? Makan di luar atau langsung pulang?" Tanya ustadz Mirza.


"Langsung pulang."


"Ok." Ustadz Mirza melajukan mobilnya.


"Ustadz...fokus ke depan." Pinta Femila.


Ustadz Mirza tersenyum kembali, "Bukankah dari tadi saya memang fokus ke depan."


"Tidak, sudah empat kali ini Ustadz melirik ke saya." Ketus Femila.


"Mungkin lebih." Sangkal ustadz Mirza sekaligus membenarkan tindakannya.


Mobil terparkir di parkiran rumah.


Mereka turun dari mobil. Masuk rumah, bebersih diri dan sekarang tampil dengan pakaian yang bersih dan rapi.


"Kita salat Magrib berjamaah." Ajak ustadz Mirza.


Femila terdiam. "Nanti saya menyusul." Ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Saya tunggu di tempat salat."


Tujuh menit kemudian Femila sudah mengenakan mukena dan berada di tempat salat.


"Yang lain tidak ikut salat Ustadz?"


"Pak Rohim dan mbak Anik salat jamaah di masjid."


Dua salam mengakhiri salat jamaah yang mereka tunaikan.


"Mau ngaji bersama?" Tawar ustadz Mirza setelah zikir.


Femila nampak ragu untuk menjawab pertanyaan dari Ustadz Mirza.


"Kamu cukup mendengarkan saja."


Femila mengangguk.


"Ustadz begitu soleh. Pintar ngaji, suaranya bagus. Pantas saja banyak yang menggilai ustadz." Batin Femila. Telinganya masih mendengar ayat suci yang dilantunkan ustadz Mirza.


Sodaqallahul adzim.


Femila tersenyum setelah ustadz Mirza mengakhiri bacaannya kemudian menaruh mushaf Al-Qur'an ke tempatnya.


"Apa sedari tadi kamu menatap saya seperti ini?" Ledek ustadz Mirza melihat Femila masih menatapnya lekat.


"Artinya kita impas." Jawab Femila dengan senyum kecil.


Waktu terus berjalan, sekarang sudah menunjukkan pukul 21.00.


Ustadz Mirza naik ke atas ranjang setelah wudhu. Bersiap-siap untuk tidur.


"Belum tidur?" Retoris ustadz Mirza.


Femila tetap membaca buku yang dia pegang.


"Tidurlah, besok kan harus berangkat kerja."


Femila menaruh bukunya di atas nakas samping ranjang tidur.


"Kita baca doa dulu." Ajak ustadz Mirza.


Femila mengikuti bacaan itu.


"Ustadz, terima kasih untuk semuanya."


"Apa yang sudah saya berikan sampai kamu ucapkan terima kasih."


"Banyak hal. Terutama mengerti hati saya."


deg


Ustadz Mirza terdiam.


"Sore tadi,mengapa ustadz Mirza jemput saya pasti karena Aliyah sudah menghubungi ustadz dan memberitahukan kejadian yang menimpa saya."


Femila terdiam mengambil napas dan membuangnya kasar.


"Dia mengkhawatirkan kamu, makanya langsung menghubungi saya."


"Apakah Ustadz juga khawatir?"


"Kamu istri saya, jelas saya khawatir."


"Tidak ada hal yang lebih."


"Kalau pun ada hal yang lebih. Saya ingin menghapus air matamu. Takutnya tisu kantor sudah habis."


"Ustadz!" Femila memanyunkan bibirnya.


Ustadz Mirza tersenyum menampakkan barisan gigi putihnya.


"Saya bercanda. Apapun masalah kamu, bicaralah pada saya."


Femila terdiam kemudian menganggukan kepalanya pelan.


"Walaupun itu tentang Andra." Lirih Femila matanya menahan cairan bening yang takkan dibiarkan lolos dan kepalanya masih menunduk.


"Iya." Jawab singkat ustadz Mirza.


Tangan itu meraih dagu Femila, dia tatap lekat wajah dan mata yang menahan cairan bening yang tertampung di pelupuk mata indahnya


Senin amal, mau dong vote nya buat novel ini, biar authornya makin semangat😍🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2