
"Dasar bocah polos. Selalu menilai dari luarnya." Ucap Habibi.
"Kak, kalau mereka punya anak, pasti anaknya genius semua. Secara bibit bobot bebetnya seperti ustadz Mirza dan non Femila." Ucap Aliyah masih dengan daya khayalnya.
"Hmmmm." Dengung Habibi menanggapi lanturan Aliyah.
"Beda kalau kita, pasti anaknya gagal genius. Memang Kak Habibi genius tapi kalau saya kan nilai semesteran saja selalu pas-pasan." Aliyah tertawa terkekeh, maksudnya bercanda dengan ucapannya.
Habibi masih diam menyaksikan Aliyah tertawa, membiarkannya puas tertawa.
Aliyah langsung terdiam begitu menyadari Habibi tanpa ekspresi memandangnya agar berhenti tertawa.
"Sudah puas tertawanya." Tanya Habibi.
Aliyah tersenyum nyengir kemudian menganggukan kepalanya pelan.
"Apa ini cara kamu menyatakan cinta?" Tanya Habibi memojokkan Aliyah.
Skakmat. Mulut Aliyah terkunci, wajahnya merah padam. Langsung angkat pantatnya melangkah pergi. "Saya tunggu di mobil." Teriak Aliyah.
Habibi tersenyum menang.
...****************...
"Saya bantu pakaikan." Tawar ustadz Mirza yang langsung mengambil sepatu yang akan dikenakan Femila di sebelah kiri.
Femila membiarkan itu, karena tangannya memang sulit meraih kaki palsunya.
Tiga minggu yang lalu setelah luka bekas amputasi kering dan dinyatakan sehat oleh dokter Wisnu. Ustadz Mirza langsung memesankan kaki palsu untuk Femila. Beruntung amputasi yang dilakukan Femila di bawah lutut jadi kaki palsu yang dipesan tidak harus lama dan tidak serumit yang di atas lutut.
Ini pertama kalinya Femila memakai kaki palsu itu ke kantor. Setelah melalui uji coba dan serangkaian latihan untuk mendapatkan kaki palsu yang pas dan nyaman barulah kaki palsunya dipakai untuk beraktifitas
Tangan ustadz Mirza meraih tangan kanan Femila membantunya untuk bangun dari duduk.
"Terima kasih." Ucap Femila.
Ustadz Mirza mengangguk.
"Perlu saya gandeng sampai ruang makan?" Tawar ustadz Mirza.
"Apa Ustadz meragukan gerakan kaki palsu saya?"
Ustadz Mirza tersenyum, nyatanya si keras kepala Femila sudah berjalan mendahuluinya dengan menjinjing tas di tangan kirinya dan kedua kakinya telah menapak di lantai.
"Aliyah belum datang?" Tanya Femila setelah mendudukkan pantatnya di kursi ruang makan. Tanganya mengambil satu centong nasi dan beberapa lauk untuk sarapan.
"Aliyah absen, dia mau buat SIM A." Jawab ustadz Mirza.
"Aliyah bisa mengemudi mobil?" Kaget Femila.
"Itu guru lesnya." Ustadz menunjuk dagunya ke arah Habibi.
"Antar Aliyah pulang sekalian dia latihan mengemudi." Terang Habibi.
"O..." Femila mengiyakan ucapan Habibi.
"Nanti malam kamu beneran tidak ikut?" Ustadz Mirza memastikan.
"Tidaklah. Salam saja buat pakde dan bude."
"Padahal setiap ke Jepara, kita pasti mampir ke pondoknya Ustadz Mirza dulu. Ya...untuk menyambung silaturahmi dan tentunya ustadz Mirza juga ingin memperkenalkan istrinya ke gurunya." Ucap Habibi.
Femila langsung mengunyah makanannya dengan pelan mendengar penuturan Habibi. Namun tetap diam tanpa menyahuti ucapan Habibi.
"Insya Allah saya dan Habibi sekalian mampir ke sana." Pamit ustadz Mirza.
__ADS_1
Femila masih mengunyah makanannya kemudian menelannya. "Saya sudah siang. Cepetan Bi antar saya." Pinta Femila meninggalkan ruang makan.
"Guru di pondoknya? Berarti orang tua Hana." Batin Femila menyimpulkan ucapan Habibi.
Ustadz Mirza mengekor di belakangnya. Setelah sampai mobil dia membukakan pintu depan.
"Kenapa depan?"
"Hari ini saya yang antar." Ucap ustadz Mirza.
"Habibi?"
"Dia antar Aliyah buat SIM A."
Femila masuk dan duduk di samping jok kemudi.
Setelah ikut masuk dan duduk di jok kemudi, ustadz Mirza menatap Femila yang sibuk menatap layar ponselnya. Dia mendekat ke arah Femila, semakin mendekat bahkan nyaris tidak ada jarak antara mereka.
"U-Ustadz mau ngapain?" Gugup Femila.
"Menurut kamu mau ngapain?" Pita seat-belt yang ada di samping Femila langsung ustadz Mirza tarik kemudian menguncinya.
"Kalau mau jalan pengemudi harus pasang seat-belt nya." Ustadz Mirza menatap tajam ke arah Femila.
"Mengapa pagi-pagi sudah segalak ini." lirih Femila sambil memanyunkan bibirnya.
Ustadz Mirza tersenyum menang.
Mobil itu kemudian jalan memasuki jalanan kota. Bekejaran dengan pengguna jalan lainnya menuju tempat tujuan masing-masing.
Sesampai di gedung pekantoran. Ustadz Mirza turun membukakan pintu mobil.
"Terima kasih. Tidak usah." Ucapan Femila terhenti karena ketika menoleh ke belakang mobil ustadz Mirza langsung melaju jalan.
Tidak usah menunggu saya masuk ke gedung. Seharusnya itu yang terucap dari bibir Femila.
Satu kaki berhasil menjepit pintu lift untuk tertutup.
Femila sangat kaget begitu pintu lift terbuka. Sesosok orang tadi dikira meninggalkannya begitu saja muncul di hadapannya.
"Saya parkir mobil di tempat parkir dulu, sengaja akan mengantar kamu sampai ruanganmu." Ucap ustadz Mirza menjawab keterkejutan Femila.
"Siapa juga yang tanya." Lirih Femila.
"Raut muka kamu yang jelas menanyakan kenapa saya masih di sini."
Ting.
Femila melangkah keluar dari lift, ustadz Mirza mengekor di belakangnya.
"Ini ruangan saya." Femila menaruh tasnya di meja kerja.
"Cukup bagus dan luas." Ucap ustadz Mirza matanya tetap mengedar ke penjuru ruangan.
Femila meraih tangan ustadz Mirza, mencium punggung tangan itu. "Sudah ustadz pulang." Ucap Femila.
"Kamu usir saya?"
"Ya!" Ketus Femila.
Ustadz Mirza tersenyum melihat tingkah yang katanya sudah sah menjadi istrinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Jawab Femila.
__ADS_1
Dia pun melangkah keluar. Namun di ambang pintu sudah ada sahabat Femila yang berdiri dan melempar senyum pada ustadz Mirza.
Ustadz Mirza membalas senyum itu dan melanjutkan langkahnya.
"Wau wau wau... ada apa ini, pagi-pagi sudah di kantor dan keluarlah sesosok laki-laki tampan dari ruangan kamu." Ledek Silla.
"Apaan Sill, ini masih pagi tidak usah ghibah.
"Wau wau wau, benar-benar banyak perubahan. Sampai kosa kata yang kamu pakai sudah mulai terpengaruh dari bahasa Ustadz tampan itu. Ghibah, ghibah. Silla terkekeh menirukan kata ghibah yang keluar dari mulut Femila.
"Kalau tidak ada hal yang penting buruan keluar dari ruangan ini. Saya akan mempersiapkan berkas untuk rapat siang nanti."
"Aliyah tidak berangkat?"
"Dia izin, ada acara."
"O..." Silla menganggukkan kepalanya pelan.
"Sudah sana keluar." Pinta Femila.
"Bagaimana saya bisa kerja dengan tenang kalau pikiran saya masih penasaran dengan hubungan sahabatnya dan suaminya." Silla mendudukkan pantatnya di kursi depan meja kerja Femila.
Femila diam mulai memainkan jemarinya di laptop.
"Hei, bicaralah sedikit saja." Silla menutup layar laptop Femila dengan kertas.
"Silla...." Femila menatap tajam ke arah Silla.
Silla terkekeh melihat ekspresi Femila.
"Baik, baik, saya keluar. Assalamualaikum." Silla berdiri kemudian menarik tangan Femila dan mencium punggung tangan itu.
"Silla!!!!" Teriak Femila merasa Silla meledeknya dengan memperagakan apa yang dia lakukan ke ustadz Mirza.
Silla lari keluar dari ruangan itu dan tertawa puas.
Delapan, dua belas, satu, empat, dan pukul lima sore akhirnya tiba.
Femila sudah di luar gedung kantor, menunggu mobil yang menjemputnya.
"Sudah lama?" Tanya ustadz Mirza begitu sampai di depan Femila kemudian membukakan pintu mobil.
Tanpa menjawab pertanyaan ustadz Mirza Femila langsung masuk, duduk di samping kemudi lalu memasang seat-belt nya.
Ustadz Mirza tersenyum menatap Femila yang sudah memasang seat-belt nya. "Saya kira belum dipasang." Ucap ustadz Mirza.
"Itu kan yang ustadz Mirza harapkan biar memasangkan seat-belt ini." Ketus Femila.
"Semakin hari kamu semakin cerdas. Apa yang ada di otak saya saja kamu tahu." Ucap ustadz Mirza sambil tersenyum.
Femila memanyunkan bibirnya mendengar ucapan ustadz Mirza.
"Tadi jalanan ramai dan agak macet di pertigaan sebelum masuk area gedung ini." Ustadz berusaha menjelaskan sebab keterlambatannya.
"Nanti malam berangkat jam berapa Ustadz?" Tanya Femila tanpa menyahuti ucapan ustadz Mirza sebelumnya.
"Lepas salat Isya."
Setelah percakapan itu mereka diam, hening, tanpa suara hanya deru dan kebisingan pengguna jalan menemani perjalanan mereka.
Waktu terus berjalan, malam pun telah datang. Selepas salat Isya semua barang yang akan dibawa ustadz Mirza dan Habibi sudah siap dan satu persatu sudah dimasukkan di bagasi mobil.
Ustadz Mirza kaget ketika pintu kamar yang akan dibuka sudah terbuka lebih dahulu dan muncul Femila yang sudah menjinjing tas.
"Ma-mau kemana?" Tanya ustadz heran karena Femila berpakaian rapi dan bersolek tipis.
__ADS_1
"Barang saya sudah saya kemasi, Habibi biar bantu memasukkan ke bagasi."
Ustadz Mirza tersenyum, akhirnya Femila ikut ke Jepara menemui keluarga bude pakdenya di sana.