KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 59


__ADS_3

"Al tolong kamu cetak file-nya. Hari ini harus di laporkan ke pak Freddy." Femila mulai sibuk dengan aktifitas kantornya.


Dengan sigap Aliyah melakukan apa yang diminta nonanya.


"Al, dari Semarang kamu tidak bawa oleh-oleh untuk saya?" Tanya Femila.


Aliyah tersenyum kecil. "Maaf Non, waktu di Semarang kita hanya di pesantren."


Rencana Femila mulai berjalan, Aliyah mulai terpancing untuk berbicara apa yang dilakukan mereka selama di Semarang.


"Tidak pergi kemanapun?"


Aliyah mengangguk. "Apalagi Ustadz Mirza, dia sibuk dengan rangkaian kegiatan yang ada di pesantren. Saya sih seneng-seneng saja di sana, kan bareng dengan mbak Hana terus."


"Bareng dengan ustadz Mirza juga?"


"Ya tidaklah Non. Pertama datang sih kita disambut oleh mbak Hana termasuk Abah Yai juga. Tapi selama dua hari sama sekali tidak bertemu dengan ustadz. Kami mengikuti rangkaian acara di pesantren secara terpisah. Baru bertemu lagi ketika mbak Hana mengantar saya ke parkiran mobil."


Femila diam masih dengan mode mendengarkan.


Aliyah menatap curiga dengan rentetan pertanyaan yang keluar dari mulut nonanya. "Mengapa nona menanyakan itu semua?"


Femila gugup. Mulutnya akan membuka suara namun suara ketukan pintu menahannya.


tok


tok


tok


"Bu, ada kiriman." Office boy kantor menyerahkan satu buket bunga mawar dan satu plastik hitam.


Femila menerimanya dengan heran memandang Bunga dengan seksama, "Dari siapa Mas?" Tanyanya.


"Kurang tahu Bu. Saya hanya disuruh menyerahkan ke Bu Femila."


Femila mengangguk mengiyakan ucapan OB itu. "Terima kasih ya mas." Ucap Femila dan OB itu keluar dari ruangan.


Aliyah nampak melirik ke nonanya yang sudah duduk di kursi kerjanya dan masih membaca secarik kertas yang terselip di buket bunga itu. Tangan Aliyah tetap bergerak mengoperasikan laptop dan printer yang ada di depannya.


Terlihat Femila menarik sudut bibirnya. "Ustadz Mirza." Kemudian tangan satunya membuka plastik yang berisi makanan.


"Al, ada kiriman makanan jadi kita tidak perlu makan di luar." Ucap Femila masih membongkar plastik yang berisi makanan.


"Dari siapa Non?" Tanya Aliyah.


"Makan saja." Ucap Femila tanpa menjawab pertanyaan Aliyah sebelumnya.


Aliyah mendekat ke arah nonanya.


Femila tersenyum melihat makanan itu. Makanan favorit, udang pedas asam manis,


Mereka berdua menikmati makan siang itu dengan lahap.


tuling tuling tuling


Beberapa pesan masuk ke ponsel Aliyah. Dia mengusap ponsel itu.


Bunga dan makanannya sudah di terima Tante. Ini sedang kami makan.


Balas Aliyah setelah membaca pesan yang telah masuk.


"Kita salat dulu Al." Ajak Femila.


"Ha?" Aliyah bengong masih tidak bisa mencerna ucapan nonanya.


"Salat dulu." Ulang Femila.


Aliyah mengangguk, masih tidak percaya. "Kenapa Non ajak salat?"


Femila tersenyum. "Kata kamu salat itu menentramkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta."


Aliyah mengangguk kembali.


Mereka pun melangkah ke musolla yang ada di gedung perkantoran itu.


Waktu terus berjalan dan tidak terasa tiba sudah di penghujung waktu untuk pulang kantor.


Femila dan Aliyah nampak membereskan berkas yang berceceran di meja. Mematikan laptop dan merapikan meja kerja. Setelah semua beres, mereka melangkah ke parkiran mobil.


Mata Femila berhenti memutar ketika sesosok pria yang tampan dengan sedikit bulu halus menghiasi rahang dan dagunya tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.


"Sudah lama Ustadz?" Tanya Femila yang kemudian duduk di jok samping kemudi.


"Belum lama." Jawab Ustadz Mirza dengan membenarkan posisi duduknya.

__ADS_1


"Terima kasih bunga dan makanannya Ustadz." Ucap Femila di tengah perjalanan.


"Bunga? Makanan?" Terkejut ustadz Mirza.


"Ya." Femila mencium aroma mencurigakan.


"Oh, iya sa-saya lupa." Gugup ustadz Mirza.


"Lupa apa?" Femila mengarahkan pandangannya ke ustadz Mirza.


"Itu, dari mama, suruh kasih ke kamu." Ustadz nampak ragu mengucapkan kalimat yang barusan dia lontarkan.


Sebelum menjemput Femila ustadz Mirza ditelepon mama Anita untuk mengatakan kalau bunga dan makanan yang mama Anita kirim ke Femila itu dari dirinya. Tapi entah kenapa bibirnya keluh untuk membohongi wanita yang sekarang duduk di sampingnya.


"Maafkan saya ma, saya tidak bisa berbohong." Batin ustadz Mirza.


"Emmm, mama berulah." Gerutu Femila.


Aliyah si pendengar setia langsung membalas pesan yang sedari tadi belum dia balas.


Ustadz Mirza berkata jujur bunga dan makanan itu dari Tante.


Sementara di butik, mama Anita masih memijat pelipisnya membaca balasan dari Aliyah. "Nak Mirza memang tidak bisa berbohong atau mungkin memang tidak ada cinta untuk Femila?" Batin mama Anita penuh terka.


"Apa saya salah langkah? Haruskah saya pastikan dulu perasaan Nak Mirza ke Femila?" Lirihnya.


...****************...


"Beneran tidak mau ikut?" Ustadz Mirza memastikan.


"Tidak, saya kan sudah bilang sama Ustadz. Saya mau jalan-jalan dengan Aliyah."


"Ok. Tapi jangan menyesal ya."


"Ngapain juga menyesal, orang cuma kondangan kok."


Ustadz Mirza tersenyum melihat Femila mencibirkan bibirnya.


"Teman saya mengharapkan saya datang dengan istri, bukan dengan itu orang." Dagu Ustadz Mirza menunjuk pada Habibi yang datang mendekat ke arah ustadz Mirza dan Femila yang masih duduk di ruang tengah.


"Ada apa dengan saya Ustadz?"


"Tuh pacarnya sudah rapi. Buruan pergi." Celetuk Femila.


"Non Femila belum tahu saja, tangguhnya kami seperti apa. Apalagi orang yang di samping Non. Wihhhh...benar-benar pejantan tangguh." Balas Habibi.


Femila gugup, menelan salivanya dengan susah.


Giliran Habibi yang terkekeh melihat ekspresi nonanya. Sedangkan ustadz Mirza hanya tersenyum kecil.


"Issst...Berisik kamu Bi! Sudah pergi! Ngapain masih di sini!" Kesal Femila.


"Non, mana mungkin ustadz Mirza pergi kalau tuan putrinya yang juga akan pergi belum melenggang dari singgasananya."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Jawab serentak.


"Akhirnya datang juga. Buruan kita pergi." Femila melangkah ke luar begitu Aliyah datang Aliyah pun mengekor di belakangnya.


Ustadz Mirza membukakan pintu mobil untuk Femila. Setelah Femila duduk, dia mengulurkan tangannya.


Femila menatap tangan itu kemudian menatap wajah ustadz Mirza.


"Harus?" Tanya Femila yang protes dengan permintaan ustadz Mirza.


Ustadz Mirza mengangguk.


Femila meraih tangan itu dan mencium punggung tangannya karena tidak ingin berdebat lama dengan ustadz Mirza. "Saya janjinya kan ketika saya berangkat kerja." Gumam Femila namun masih bisa didengar ustadz Mirza.


Ustadz Mirza pun tersenyum menanggapi itu dan mengusap pucuk kepala Femila. "Jaga diri baik-baik." Ucapnya kemudian.


Sengatan itu tiba-tiba mengalir lagi di tubuh Femila. Sengatan listrik bertegangan rendah karena elusan ustadz Mirza di pucuk kepalanya.


Ustadz Mirza menutup pintu mobil.


"Nyetirnya hati-hati Al." Pesan ustadz Mirza.


"Ya Ustadz. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


bip.


Mobil meluncur memasuki jalanan kota.

__ADS_1


"Kita juga jalan Bi." Ajak ustadz Mirza yang sudah rapi dengan kemeja batik dan celana casualnya.


"Baik Ustadz."


...****************...


"Kita mau beli apa Non?" Tanya Aliyah setelah mereka sampai di sebuah mall M.


"Yang penting jalan-jalan Al. Biar otak kita refresh. Kamu boleh beli apapun. Nanti saya yang bayar."


"Benar Non?" Girang Aliyah.


Femila mengangguk.


Aliyah berhenti di gerai baju muslimah. Dia mengambil satu set baju muslimah. Kemudian gerai sepatu, sandal dan tas. Namanya juga perempuan kalau lihat begituan matanya jadi melek. Soal dompet mah urusan belakangan. Gimana tidak belakangan orang yang bayari nonanya.


"Sudah Non. Ini sudah sangat banyak."


"Beneran nih tidak ada lagi yang kamu beli?"


Aliyah menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Sudah lebih dari cukup."


Femila tersenyum.


"Tidak apa-apa, itung-itung buat hadiah karena selama ini kamu menjalankan tugasmu dengan baik."


"Terima kasih Non. Sudah memuji saya."


"Kita makan yuk."


"Yuk Non." Jawab Aliyah.


"Eh, nanti Non. Kita mampir ke gerai baju muslimah tadi."


"Mau beli lagi?"


Aliyah mengangguk.


"Ok."


Langkah Aliyah terhenti sewaktu memilih baju muslimah. Ada satu set baju warna peach yang begitu anggun, model yang simple bertambah manis dengan kerudung bergonya. Dia ambil, langsung di bawa ke kasir. Femila mengekor di belakangnya.


"Biar saya yang bayar Non." Aliyah langsung mengeluarkan uang sejumlah yang tertera di label baju.


"Kenapa kamu yang bayar?"


"Terima kasih Mbak." Ucap Aliyah pada kasir yang melayaninya.


Aliyah dan Femila melangkah keluar dari gerai itu.


"Karena baju ini hadiah untuk Non Femila." Ucap Aliyah sambil menyerahkan baju itu.


Langkah Femila terhenti. "Untuk saya?" Seakan tidak percaya. Kemudian menerima baju yang disodorkan Aliyah.


Aliyah mengangguk.


"Terima kasih."


"Semoga suatu saat Non bisa memakainya secara Istiqomah."


Femila hanya tersenyum mendengar ucapan Aliyah.


"Mengapa tidak diamini Non?"


"Iya, amin." Pasrah Femila tidak mau berdebat dengan Aliyah.


"Kita makannya di sebrang mall ini Non. Makanan di sana enak loh."


"Ok."


"Tidak pakai mobil?" Tanya Femila karena Aliyah sudah turun di jalan dan tidak melangkah ke parkir mobil.


"Tidak perlu Non. Itu kelihatan kedainya."


Femila ikut melangkah di samping Aliyah.


Citttttttt...


Motor dengan kecepatan tinggi mengerem mendadak. Namun karena jarak dan ketepatan yang kurang, motor itu menyenggol tubuh Femila hingga dia tersungkur.


Bagaimana kelanjutannya ?🤔 Komen ya barang kali komen kakak masuk rekomen untuk part selanjutnya.🙏


lope-lope buat kalian😍🥰❤️🌹

__ADS_1


__ADS_2