KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 61


__ADS_3

Ustadz Mirza tidak peduli kini titik lemahnya terlihat oleh orang yang katanya sudah sah menjadi istrinya. Karena yang dia rasa hanya bayang ketakutan jika ditinggal pergi oleh wanita yang masih dalam dekapannya.


Dia melepas pelukan itu, menatap lekat wanita di depannya dengan menangkupkan dua tangannya di pipi itu.


Femila membalas tatapan itu hingga mata mereka beradu. "Saya hanya lecet sedikit, kenapa Ustadz sepanik ini?" Tanya Femila kemudian mengusap sisa air mata yang masih berbekas.


Ustadz Mirza menarik sudut bibirnya. "Mama Anita mengatakan kalau kamu kecelakaan dan sedang kritis." Hanya batinnya yang mampu bicara karena mulutnya kaku untuk mengucap sepatah katapun.


Femila tersenyum kecil, merasa lucu, lelaki yang biasa terlihat tampan menawan, kharismatik nan berwibawa kini terlihat bak bocah yang manja sedang terlepas genggaman tangan ibunya.


"Kita pulang, Aliyah pasti sudah menunggu di luar." Ajak Femila.


Tanpa aba-aba ustadz Mirza langsung menggendong Femila ala bridal style.


Femila tersentak kaget. "Saya bisa jalan sendiri Ustadz," protesnya.


"Menurutlah." Permintaan sekaligus perintah yang harus diiyakan oleh Femila.


"Saya tidak tanggung jawab kalau kamu terjatuh kembali." Ucap ustadz Mirza karena tangan Femila menjuntai tanpa berpegangan dengannya.


Refleks Femila pun mengalungkan kedua tangannya di leher ustadz Mirza. Mata Femila menatap lekat wajah ustadz Mirza yang berjarak hanya berapa centi. Kemudian senyum tergambar dari sudut bibirnya.


"Kalau belum puas memandang, kita lanjutkan di rumah." Celetuk ustadz Mirza.


Femila langsung menarik senyumnya. "Ustadz sangat lucu." Ledek Femila.


Ustadz Mirza hanya tersenyum mendengar ucapan Femila, matanya tetap menatap ke depan. Dengan pelan ustadz Mirza menurunkan Femila sesampai di depan mobil.


Aliyah sudah membukakan pintu mobil depan, namun ustadz Mirza menutupnya dan membuka pintu mobil belakang.


"Masuklah."


Femila menurut perintah ustadz Mirza dan mendudukkan pantatnya di belakang jok kemudi.


"Tunggu sebentar Al, saya akan ikut kamu."


Aliyah mengangguk. "Ya Ustadz."


Tidak berapa lama Ustadz Mirza sudah masuk mobil dan duduk di samping Femila.


"Mobil Ustadz ditinggal?" Tanya Aliyah.


"Saya titipkan ke security. Saya sudah menghubungi Habibi untuk mengambilnya." Jawab ustadz Mirza.


Mobil melaju memasuki jalanan.


Ustadz Mirza menatap wajah Femila yang masih terlihat dalam temaram lampu dalam mobil. Pandangannya turun pada siku tangannya yang masih dipegang tangan kanannya dan lutut kakinya yang nampak lecet.


Dia pegang tangan itu sedikit dibalikkan dan nampak siku yang lecet. "Masih sakit?" Retoris ustadz Mirza.


"Hmmmm."


Mereka akhirnya sampai di rumah. Kembali ustadz Mirza menggendong Femila masih ala bridal style menuju kamar dan mendudukkannya di kursi roda. Tangannya langsung membantu Femila melepas kaki palsunya. "Bersihkan dulu wajah kamu." Pinta ustadz Mirza kemudian mendorong kursi roda itu masuk ke kamar mandi.


"Ustadz kenapa tidak pergi?" Tanya Femila karena ustadz Mirza masih mematung di sampingnya.


"Saya tunggu kamu sampai selesai."


"Apaan sih Ustadz. Sudah buruan keluar."


Ustadz Mirza mengalah walau dia khawatir kaki satu Femila masih sakit.


Lima belas menit kemudian Femila keluar dia langsung membersihkan lagi wajahnya dan memakai krim perawatan wajah.


Ustadz masuk ke kamar mandi, mencuci muka dan mengambil air wudhu. Ritual yang selalu dia jalankan, berwudhu sebelum tidur karena selain sunnah Rasulullah juga dapat mendekatkan diri pada Allah.


Setelah keluar dari kamar mandi dia sudah mendapati istrinya yang sudah merebahkan diri di kasur.


"Sudah berdoa?" Tanya ustadz Mirza setelah dirinya ikut merebahkan diri di samping Femila.


"Belum, menunggu Ustadz."

__ADS_1


Ustadz membaca doa dan diikuti Femila.


"Selamat malam Femila."


"Malam."


Satu tangan melingkar di tubuh Femila dan menarik dalam pelukan dada bidangnya. Tanpa penolakan Femila hanya mengikuti alunan tarikan itu karena dia tetap dalam mode tidurnya.


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 Femila masih berkutat pada layar laptopnya. Dia terpaksa izin tidak ke kantor karena ustadz Mirza dengan over protektifnya mengekang untuk berangkat ke tempat kerja.


"Saya sudah izinkan ke pak Freddy dan beliau mengizinkan kenapa kamu malah mempermasalahkan hal ini." Sanggah ustadz Mirza di pagi hari mendengar penolakan Femila untuk izin ke kantor.


"Ustadz juga tidak berangkat?" Tanya Femila melihat yang katanya sudah sah menjadi suaminya masih memakai kaos putih polos dan celana pendek di bawah lutut.


"Khusus mengawasi kamu." Jawab ustadz Mirza kemudian duduk di samping Femila. Matanya tetap memandang layar ponselnya sesekali jemarinya berselancar di atasnya.


"Siapa juga yang minta di awasi!" Ketus Femila.


Femila mendongakkan kepalanya, matanya menatap ke layar ponsel milik ustasz Mirza, dia penasaran muka ustadz Mirza begitu serius menatap layar canggih itu.


"Laporan perusahaan?"


"Hmmmm" Dengung ustadz Mirza.


Femila mengangguk. "Kapan ke Jepara lagi?" Tanya Femila sekedar basa-basi.


"Mungkin bulan depan."


Lagi-lagi Femila mengangguk.


"Sudah selesai kerjaan kamu?" Ustadz Mirza balik tanya.


"Belum." Femila tersenyum merasa pertanyaan itu ditujukan agar Femila fokus dulu ke pekerjaanya.


"Mau kemana?" Tanya ustadz Mirza begitu Femila mengangkat pantatnya.


"Ambil minum."


"Duduk." Ulang ustadz Mirza karena Femila belum juga mendudukkan pantatnya.


"Minumlah." Ustadz Mirza menyodorkan segelas air putih.


"Bismillah dulu." Sekat ustadz Mirza ketika Femila menempelkan bibirnya di gelas itu.


"Iya."


Dua jam kemudian.


"Mau apa lagi?" Tanya ustadz Mirza melihat Femila akan beranjak dari duduknya.


"Ambil cemilan."


"Biar saya yang ambil."


Ustadz Mirza datang membawa beberapa buah apel. Kemudian langsung mengupasnya dan disodorkan ke Femila.


Femila tersenyum melihat tingkah ustadz Mirza yang begitu over protektif. Ada ide jail yang terbesit di otaknya.


"Aduh, kenapa tiba-tiba kaki saya pegal? Apa ini efek kemarin jatuh?" Ucap Femila sambil memijit kaki kirinya.


Ustadz Mirza langsung memposisikan Femila duduk menyender di samping kursi dan kaki kiri itu dia angkat ke atas pangkuannya kemudian memijitnya pelan.


"Sudah mendingan?" Tanya ustadz Mirza setelah satu jam tangan itu tidak berhenti memijit kakinya.


"Aduhhh, masih sakit Ustadz." Dengan wajah dibuat nyeringis menahan sakit.


"Apa perlu saya pijit sampai atas?" Goda ustadz Mirza karena dia tahu ini akal-akalan Femila untuk mengerjainya.


"Sudah baikan Ustadz." Dengan cepat Femila menurunkan kakinya yang sedari tadi di atas pangkuan ustadz Mirza.

__ADS_1


Ustadz Mirza tersenyum. "Jangan mencoba membodohi saya." Ejek Ustadz Mirza.


Femila mencibirkan bibirnya. "Lalu kenapa tadi malam Ustadz sampai sekhawatir itu!" Umpat Femila.


"Mama bilang kamu kritis."


"Hah!" Terkejut Femila.


"Ya Allah, itu ibu kandung saya bukan ya? Bener-bener deh teganya menyumpahi anaknya kritis." Kesal Femila.


Ustadz Mirza hanya tersenyum melihat kekesalan yang terpancar dari wajah Femila.


"Dan Ustadz percaya begitu saja! Berarti Ustadz juga menyumpahi saya!" Sambung Femila masih kesal.


Ustadz Mirza menunduk, mencerna ucapan Femila. "Saya langsung lemas, berasa tulang saya lepas dari tubuh. Bahkan setengah memaksakan diri menyetir sampai rumah sakit untuk segera menemui kamu."


Femila tersenyum menampilkan barisan gigi putihnya. "Ustadz khawatir dengan saya ya?" Goda Femila sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Kalau iya?"


"Harusnya memang iya! Ustadz nanti tidak ada yang menemani ngobrol." Ucap Femila kemudian tertawa puas.


"Saya ngantuk, mau istirakhat." Femila berdiri.


Namun, lagi-lagi ustadz Mirza menggendong tubuhnya secara mendadak.


"Sa-saya bisa jalan sendiri Ustadz," protes Femila namun tak digubris sedikitpun oleh ustadz Mirza.


Al hasil untuk kesekian kali, adegan gendong ala bridal style itu mereka lakoni.


...****************...


Sore itu, pukul 16.30 tidak seperti biasanya mama Anita dan papa Riyan sudah mampir ke rumah ustadz Mirza.


Wajah mereka begitu tegang. Ustadz Mirza duduk di depan mereka dengan pandangan tertunduk ke bawah.


"Mama tegaskan kembali. Mama minta maaf sudah membuat kamu panik malam itu."


"Ya Ma. Jangan ambil serius masalah itu." Jawab ustadz Mirza.


"Justru Mama akan ambil keseriusan dari reaksi kamu di rumah sakit waktu itu."


deg


"Maksud Mama?" Tanya Ustadz Mirza belum mengerti arah pembicaraan mertuanya.


"Apa kamu takut kehilangan Femila?" Tanya Mama Anita sejurus.


Ustadz Mirza diam pertanyaannya itu benar-benar harus dijawab dari lubuk hatinya terdalam.


"Kamu mencintainya?"


deg


"Pertanyaan macam apalagi ini? Satu pertanyaan belum saya jawab ditambah pertanyaan yang begitu sulit untuk dijabarkan." Monolog batin ustadz Mirza.


Ustadz Mirza masih terdiam.


"Ok. Kalau tidak mampu menjawab pertanyaan dari Mama. Apakah diam kamu berarti mengiyakan pertanyaan Mama."


"Malam itu saya benar-benar takut kehilangan Femila Ma." Kalimat itu akhirnya lolos dari mulut ustadz Mirza.


"Apakah karena kamu mencinta Femila?" Mama Anita mengulang pertanyaannya.


Mama Anita lama menunggu jawaban dari ustadz Mirza.


"Apa saya pantas mengharap balasan cinta dari Femila Ma?"


Sebuah senyum tercetak di wajah mama Anita di kala mendengar pertanyaan dari menantunya. Walaupun itu bukan jawaban dari pertanyaan sebelumnya, tapi dapat disimpulkan ustadz Mirza mencintai Femila.


"Yakinlah ketulusan itu akan berbuah manis Nak." Nasehat papa Riyan.

__ADS_1


"Mama tunggu action kamu selanjutnya. Mama, papa akan selalu support kamu. Yakinkanlah Femila. Menangkan hatinya." Mama Anita tersenyum sambil menepuk bahu menantunya.


Kira-kira action apa yang akan dilakukan ustadz Mirza? Atau mungkin nantinya akan kalah action dengan pesaingnya? Beri komentar ya😍🥰


__ADS_2