KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 20


__ADS_3

"Rasanya perih, Andra pergi ke Kalimantan pun tidak pamit. Tapi, bukankah seharusnya seperti itu karena Andra sekarang orang lain. Ya, orang lain yang masih singgah di hati saya. Langkah kaki saya sampai ke kantor ini adalah bentuk pelanggaran, meminta Andra untuk melupakan saya nyatanya saya datang ke tempat ini," Batin Femila berkecamuk.


"Andra seminggu yang lalu pergi," ucap paman Fery menunggu Femila menyahuti bicaranya.


"Apa dia tidak memberitahu kamu?" sambungnya.


Femila menggelengkan kepala.


"Di hatinya masih ada kamu. Itu yang saya lihat," tutur paman Fery kemudian.


"Kami sudah tidak bersama, mungkin lebih baik berjauhan seperti ini," elak Femila.


"Saya tahu karena itu Andra ke Kalimantan. Namun di hati kalian masih ada cinta."


"Kami berusaha saling melupakan."


"Apakah itu gagal? Buktinya kamu sampai mencari Andra ke kantor."


Femila terdiam. Niatnya hanya ingin menatap Andra dari luar kantor. Femila tahu persis Andra orang yang sangat tepat waktu. Pukul delapan pagi pasti dia sudah sampai di kantor. Namun, setengah jam sebelum jam delapan dan setengah jam sesudah jam delapan, dia tak kunjung datang. Akhirnya, Femila memberanikan diri melangkah ke meja resepsionis.


"Diam mu berarti iya," sambung paman Fery.


"Tolong jangan katakan pada Andra kalau saya datang ke sini," pinta Femila.


"Saya permisi pulang," pamit Femila, mengambil kruk yang ada di samping kursi dan bangun dari duduknya.


"Ada syaratnya," cekat Paman Fery mendekat kearah Femila.


"Apa?" Femila terlihat ragu.


"Saya antar kamu pulang," ucap paman Fery, tangannya mempersilahkan Femila untuk jalan terlebih dahulu. Femila pun melangkah jalan mengiyakan syarat itu.


"Perlu saya bantu?" tawar paman Fery begitu membuka pintu mobilnya melihat Femila terlihat kesulitan duduk di jok dengan 2 kruk yang masih dipegangnya.


Femila menyerahkan dua kruknya ke paman Fery.


Paman Fery membuka pintu mobil belakang menaruh kruk kemudian melangkah masuk ke jok kemudi.


"Kenapa menatap saya seperti itu Om?" protes Femila merasa tidak nyaman di tatap intens oleh paman Fery.


Femila lebih familiar dengan panggilan om dari pada paman. Maka sejak diperkenalkan oleh Andra, Femila biasa memanggil paman Fery dengan sebutan om Fery.


Paman Fery tersenyum mendengar protes dari mulut Femila.


"Kita sama-sama jomblo tidak masalah kan kalau saya memandang kamu?"


"Saya yang merinding Om," ketus Femila.


Paman Fery tersenyum simpul melihat ekspresi Femila. Masih membenarkan seat belt-nya kemudian melajukan mobilnya.


...****************...


Ustad Mirza tersenyum dan menjawab salam dari dua wanita yang ada di hadapannya.


"Makan siang ramai-ramai," seru Hana dengan menaruh bungkusan plastik di meja.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot Han."


"Tidak ada yang direpotkan ustadz, setelah saya wisuda saya sudah tidak bisa memberi makan siang lagi," timpal Hana kemudian membuka plastik itu dan mulai menata untuk makan siang.


"Lagian saya tidak ada kesibukan apapun selain makan, tidur, main ponsel," tawa Hana.


"Ini makanan special loh ustadz," celetuk Aliyah.


"Special pakai telur," sambung Habibi yang sudah membuka bungkusan makanannya.


"Sambal telur mata sapi," ucap Aliyah dengan menekankan kata sapi melirik ke Habibi.


"Ibu sapinya kenapa nyolot gitu?" sindir Habibi balas melirik ke Aliyah.


Gelak tawa pun pecah, hanya Aliyah yang memanyunkan bibirnya merasa terpojok.


"Habibi di lawan!" ucap Habibi dengan menepuk dadanya.


"Ya deh percaya, percaya," sahut Hana.


"Hana," panggil ustadz Mirza.


"Iya ustadz."


"Kalau abah datang ke wisuda kamu, biar menginap di rumah saya saja."


"Nanti saya sampaikan ke abah."


"Gus Umar juga ikut kan?"


"O...," mengangguk pernyataan Hana.


...****************...


Selepas magrib, Silla mengajak Femila ke rumah makan sea food yang pernah dia datangi.


"Weekend ini saya tidak bisa ngajak kamu. Saya ganti hari ini."


"Tidak kamu ganti juga tidak apa-apa."


"Sementara harus. Saya tidak ingin sahabat saya hanya diam di rumah. Apaan itu, pikiran kamu harus fresh. Tetap ceria, sehat, dan tampil cantik, "


"Iya, iya bawel banget." Femila mengembangkan senyum.


Mereka tampak terdiam menyentuh ponsel masing-masing.


"Aku dengar sih ustadz Mirza mau melamar Hana." Tidak sengaja Femila mendengar percakapan beberapa gadis umuran 20-an yang sedang berjalan di samping tempat Femila duduk.


"Duh si Hana beruntung sekali dapat Ustadz Mirza yang tampannya melelehkan itu," puji salah satu dari mereka yang sudah duduk di samping saung yang Femila duduki.


Femila kembali memainkan ponselnya tadi sempat kaget mendengar nama ustadz Mirza.


"Ya Allah ustadz Mirza Zayn Ahmad....mengapa tidak melamar aku saja sih." Greget teman satunya.


Tangan Femila berhenti memainkan ponsel begitu mendengar nama lengkap seseorang yang menjadi bahan pembicaraan sekumpulan gadis di samping saungnya. Ekspresi kaget juga terlihat dari raut Silla yang langsung mendaratkan pertanyaan ke Femila. "Seperti pernah dengar nama itu, benarkan Fem?"

__ADS_1


Femila hanya membalas dengan senyum kecut. Namun Silla semakin penasaran dengan percakapan sekumpulan gadis yang mungkin mahasiswa di universitas yang ustad Mirza ajar. Sampai selesai makan berita tentang ustadz Mirza tetap sayup di dengar Femila dan Silla.


"Mengapa kamu melarang saya bungkam mulut mereka Fem," kesal Silla ketika Femila menarik kuat tangan Silla agar tidak melabrak ke saung sebelah.


Femila memasang seat belt-nya. "Itu hanya kata mereka, ngapain kita tanggapi."


Silla menancapkan gas. "Dia sudah seenaknya bicara mengatakan kamu minta ganti uang sebesar itu!" gerutu Silla dengan nada kesal.


Femila terdiam. Dia akui juga merasa marah mendengar gadis-gadis samping saungnya membicarakan kasus kecelakaan yang menimpa ustadz Mirza dengannya dan mengatakan kalau dirinya meminta ganti rugi dengan nominal yang tinggi. Namun amarah itu dia tahan karena tidak ingin menambah masalah yang tidak seharusnya dia permasalahkan dengan orang-orang yang tidak penting.


"Saya tidak akan meminta materi ustadz. Tunggu saya akan meminta hal yang tidak pernah kamu duga," batin Femila.


Keesokan harinya. Tepat pukul 10.30 Femila sudah duduk di ruang tamu. Pandangannya mengedar ke penjuru ruangan yang bernuansa islami. Ada beberapa kaligrafi besar dan kecil di tempel sedemikian rupa hingga padu padan di pajang di dinding. Lemari kecil yang diisi beberapa piala, medali, dan foto dengan bingkai kecil menambah kesan indah di pajang dekat kursi tamu.


"Dasar sombong!" umpat Femila melihat torehan piala dan medali yang tentunya milik tuan rumah.


"Mbak, ditunggu sebentar. Nanggung ustadz belum selesai salatnya," pinta Habibi yang mengagetkan Femila.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Dek Hana, silahkan duduk." jawab Habibi terkejut dengan kedatangan Hana kemudian mempersilahkannya duduk.


Hana menganggukkan kepala seraya memberi senyum kepada Femila sebagai tanda salam.


Femila terlihat acuh hanya melirik ke arah Hana tanpa membalas sapa Hana. "Ini yang namanya Hana? Cantik juga," batin Femila bermonolog.


"Siapa dia? Apakah?? Iya, mungkin dia orangnya," batin Hana menerka akan diri Femila.


"Assalamualaikum. Hana, Femila." Terucap kaget menyebut dua nama wanita di hadapannya, pasalnya Habibi hanya menyampaikan ada tamu tidak menyebutkan nama.


"Waalaikum salam."Jawab Hana dan Femila.


"Boleh saya bicara empat mata dengan ustadz Mirza?" Femila mengarahkan bicaranya ke Hana.


"Oh, ya, silahkan."


"Ajak Hana ke ruang kerja Bi." Pinta ustadz Mirza.


"Terima kasih ustadz, saya langsung pamit saja. Kebetulan ada perlu ke kampus, lain waktu mampir ke sini."


"Benar tidak apa-apa?" ustadz Mirza memastikan.


Hana mengangguk. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam... hati-hati di jalan," ucap ustadz Mirza.


Habibi mengantar Hana keluar.


Ustadz Mirza menatap ke arah Femila. "Bagaimana kabarnya?" tanya ustadz agak ragu.


"Kurang baik," singkat Femila.


"Mudah-mudahan, segera membaik." lontar ustadz Mirza. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Nikahi saya." Permintaan itu meluncur dari mulut Femila tanpa basa-basi.

__ADS_1


__ADS_2