KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
extra bab 2


__ADS_3

Masuk trending topik di YouTube, bukan kajian Islamnya melainkan sebuah konten dari Chanel Berita Hot. Chanel ini mengabarkan yang intinya tentang Ustadz Mirza menikahi wanita cacat tidak berjilbab.


Menjadi trending selama beberapa hari di YouTube membuat banyak orang semakin mudah mengakses berita itu. Tidak terkecuali dua orang yang dijadikan isi topik.


Setelah delapan menit dia menyaksikan video itu, Femila menyentuh kolom komentar. Jarinya lincah menye-croll beberapa komentar setelah komentar itu dia baca. Banyak yang berkomentar negatif walaupun ada juga yang berkomentar positif.


Menyayangkan sikap ustadz Mirza yang seakan-akan membiarkan sang istri membuka auratnya.


Percuma jadi istri ustadz!!! menutup aurat saja tidak bejus.


Ustadz sudah cakep, cerdas, kaya, kenapa harus sama dia?😣


Sayang sekali, si wanita tidak menghargai profesi sang suami.


Cacat saja belagunya minta ampun!


Teguran dari Tuhan agar kamu cepet taubat! Tutup tuh aurat sebelum kaki satunya juga sekarat!


Femila tersenyum kecut membaca komentar-komentar negatif yang lebih dominan menerpa hatinya.


Tubuhnya terasa lemas, ponsel yang sedari tadi dia pegang langsung dia letakkan di atas meja kerja.


"Non tidak apa-apa?" Tanya Aliyah khawatir.


Tanpa jawaban Femila menutup wajah dengan kedua tangannya.


Aliyah mendekat. Tangan kirinya mengelus halus punggung nonanya dan tangan kanannya dengan penasaran meraih ponsel yang ada di hadapan nonanya.


"Astaghfirullah haladhim..., non Femila akhirnya tahu tentang berita ini," gumam Aliyah kemudian menaruh ponsel itu ke tempat semula.


Kedua tangannya turun dari wajahnya dengan kasar menghempaskan napasnya. Matanya kini menatap Aliyah yang masih berdiri di sampingnya.


"Sudah berapa hari menjadi trending topik?" Tanya Femila mencoba tenang.


Aliyah berhenti mengusap punggung nonanya, kakinya melangkah kembali ke kursi depan meja kerja Femila.


"Baru kemarin Non," jawab Aliyah.


Femila membuka alamat Chanel itu karena di grup SMA ada yang mengirimkannya. Dengan rasa penasaran tangannya perlahan membuka alamat itu.


"Ustadz tahu ini?"


Aliyah mengangguk.


"Dia bahkan sudah tahu, kenapa tidak memberi tahuku," gumam Femila dengan rasa kecewa yang menyertainya.


"Pasti ada alasan kuat Ustadz tidak menyampaikan ini."


Femila mengambil tas yang ada di depannya. "Sudah dibenahi semuakan?" Tanya Femila karena seharusnya mereka sudah melangkah keluar gedung untuk pulang.


"Sudah Non," Aliyah berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Femila berjalan terlebih dahulu.


Selama perjalanan pulang Femila hanya terdiam. Aliyah pun tidak berani mengeluarkan sepatah kata hanya untuk berbasa-basi.


"Kenapa denganku? Sebelumnya aku tidak apa-apa mendengar mulut-mulut usil yang mencemooh keadaanku. Menggunjing di kala jalan dengan ustadz, atau bahkan tatapan aneh orang yang melihat kami jalan berdua. Tapi itu dulu sebelum aku menyadari kalau aku mencintai ustadz Mirza." Monolog batin Femila, matanya menatap ke luar kaca mobil.


Aliyah memarkir mobilnya di parkiran rumah.


"Non, sudah sampai," ucap Aliyah setelah membuka pintu mobil untuk Femila.


Femila yang sedari tadi mematung sebenarnya sangat terkejut tanpa disadari sudah sampai rumah.


"Astaghfirullah haladhim...," tangannya mengusap pelan wajah kemudian melepas seat-belt-nya.


"Langsung pulang saja, saya masuk sendiri," ucap Femila kemudian berjalan masuk.


Ketika sampai di ruang tengah yang tembus arah ke taman samping, langkah kaki Femila terhenti. Menatap wajah sang suami yang sedang menyiram tanaman yang ada di taman itu.


Senyum kecil mengembang menatap wajah itu kemudian kakinya melangkah kembali ke kamarnya.


Setelah keluar dari kamar mandi Femila mendapati suaminya yang sudah duduk di sofa kamar.

__ADS_1


Matanya terus menatap Femila sejak keluar dari kamar mandi.


Femila mendekat, meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu.


Ustadz Mirza tidak langsung melepas genggaman tangan itu malah menariknya hingga tubuh Femila terhuyung jatuh di pangkuannya. Dia mencium Aroma green tea yang menyeruak dari tubuh Femila.


"Wangi sekali," bisiknya.


Femila tersenyum kecil. Entah kenapa sejak melihat video itu dan membaca komentar-komentar yang ada di situ rasanya masih pahit.


"Kenapa istriku?" Tanya ustadz Mirza merasa ada yang tidak beres pada sang istri.


Femila diam.


Ustadz Mirza melepas tangan yang melingkar di pinggang istrinya. Tubuh yang ada di pangkuan dia geser agar duduk di sampingnya.


"Hai... istriku, ada apa?" Tanyanya kembali, tangannya menangkup pipi Femila wajahnya menatap lekat sang istri.


"Maafkan aku yang tidak sempurna Ustadz, aku hanya wanita cacat yang jauh dari sempurna soal agama. Memakai hijab saja baru-baru kemarin," terang Femila.


Ustadz Mirza mendekap tubuh yang ada di sampingnya. Beberapa kecupan mendarat di pucuk kepala sang istri.


Dia tahu arah pembicaraan sang istri, pasti Femila sudah melihat video itu dan membaca komentar-komentarnya.


"Apa semua itu menggoyahkan perasaan kamu?" Tanyanya.


Femila menggeleng pelan, tangannnya melepas pelukan sang suami. "Aku hanya minder dengan ketidaksempurnaan yang kumiliki, cacat dan baru menutup aurat. Sedangkan ustadz? Semua yang melekat pada Ustadz sangat sempurna."


deg.


"Apa itu berarti kamu belum mengikhlaskan kejadian yang membuat kakimu seperti ini Fem?" lirih ustadz Mirza.


Femila menggeleng keras, "Bukan seperti itu maksudku Ustadz. Aku hanya..."


Femila menggantung kalimatnya karena pintu. kamar ada yang mengetuk.


...****************...


"Al..."


"Ya Non...," jawab Aliyah cepat karena terlalu kaget.


Femila tersenyum melihatnya.


"Alhamdulillah...," batin Aliyah melihat senyum terukir di wajah nonanya.


"Boleh saya minta pendapatmu?"


Aliyah mengangguk. "Boleh Non," jawabnya kemudian.


"Apa perasaanku terlalu aneh Al, dulu sewaktu belum ada rasa cinta dengan ustadz Mirza, tidak sedikitpun rasa minder membersamainya. Tapi setelah cinta dengannya, rasa minder itu ada. Bahkan begitu gelisah melihat video yang sempat menjadi trending topik itu."


"Itu wajar Non, siapapun pasti ingin terlihat sempurna di mata pasangan. Tapi beda hal dengan kasus Non Femila. Kaki Non tidak sempurna karena ustadz Mirza. Mungkin mindernya Non Femila secara tidak langsung menyinggung perasaan ustadz Mirza."


"Menyinggung perasaannya?"


Aliyah mengangguk. "Non belum mengikhlaskan kaki Non yang difabel dapat diartikan Non belum memaafkan kesalahan ustadz Mirza."


Femila terdiam, "Apa seperti itu? Apa ini pula yang menyebabkan ustadz Mirza lebih diam." gumam Femila.


"Kita pulang Non," ajak Aliyah karena jam kerja sudah selesai.


Femila mengangguk. Setelah membereskan meja kerja dia melangkahkan kakinya ke tempat parkiran. Aliyah mengekor di belakang.


Senyumnya langsung mengembang begitu sampai di tempat parkiran ada orang yang dia rindukan canda tawanya.


Femila berjalan mendekat ke lelaki itu. Tangannya segera diraih dan mencium punggung tangannya.


"Assalamualaikum Ustadz..."


"Wassalamu'alaikum salam," jawab ustadz Mirza sambil membuka pintu mobil agar Femila naik ke mobil itu.

__ADS_1


Femila mendudukkan pantatnya di kursi samping pengemudi.


"Kita jalan," ajak ustadz Mirza.


"Seat-belt-nya belum dipasang," ucap Femila memanja.


Ustadz tersenyum menatap Femila, tangannnya menarik sabuk itu dan memasangkannya.


cup


Sebuah kecupan mendarat di atas pelipis sang suami ketika wajah ustadz Mirza berjarak begitu dekat.


Ustadz Mirza tersenyum karena itu.


"Jangan terlalu menggodaku," ledek ustadz Mirza.


Femila hanya tersenyum.


Mobil itu melaju melewati jalanan kota dan perjalanan berakhir di parkiran rumah mereka. Ustadz Mirza segera membuka pintu mobil.


Femila masih diam tidak juga beranjak dari tempat duduknya.


Ustadz Mirza menatap lekat wajah sang istri, meminta maksud dari tindakannya.


Femila tersenyum, "Gendong," pintanya dengan memanja.


Ustadz Mirza membalikkan tubuhnya menyodorkan punggungnya agar Femila menaiki punggung itu.


Femila melingkarkan tangannya di leher ustadz Mirza. Kepalanya dia sandarkan di bahu sang suami. Menikmati setiap langkah demi langkah hingga mereka masuk ke kamar.


Ustadz Mirza mendudukkan Femila di tepi ranjang. Tangannya meraih kaki palsu Femila dan membantu melepaskannya.


Femila menatap lekat wajah sang suami, tangannnya masih telaten membuka kaki palsunya.


"Mandilah," suruh Ustadz Mirza sambil menarik kursi roda di hadapkan Femila.


Femila malah melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dan menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.


"Maafkan aku Ustadz," lirih Femila masih memeluk erat.


Tangan ustadz Mirza mengelus kepala sang istri.


"Maaf... karena aku terlambat menyadari, di balik kakiku yang cacat Allah mengganti kakiku dengan sesosok suami yang luar biasa. Dia tidak hanya mengganti satu kakiku. Bahkan dia menopang kakiku satunya dengan ketulusan cinta yang dia berikan," ucap Femila.


"Ustadz jangan diamkan aku," sambung Femila kemudian melepas pelukannya.


"Apa aku mendiamkanmu?"


Femila mengangguk cepat.


Ustadz Mirza tersenyum, " Itu hanya perasaan kamu sayang."


"Sayang?"


"Bolehkan memanggil sayang," goda ustadz Mirza sambil menoel hidung istrinya.


Bukan jawaban yang ustadz Mirza dapat melainkan sebuah kecupan di atas bib*rnya dan tangan Femila langsung melingkar di leher suaminya.


"Mandi, nanti keburu Magrib."


"Mandikan," manja Femila yang kini tubuhnya sudah naik dalam gendongan suaminya. Kakinya melingkar di pinggang sang suami.


"Nanti saya khilaf, minta lebih loh," bisik ustadz Mirza.


Femila tersenyum dan menggigit kecil bahu suaminya.


"Auw... Tunggu balasanku," ucap ustadz Mirza.


Sedikit terobati? Semoga...


Terima kasih yang sudah ngevote karya ini. Luar biasa dukungan kalian. Lope lope deh...

__ADS_1


like, komen, vote juga mau bangeddddddd 🤗😍🥰❤️


__ADS_2