KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 6


__ADS_3

"Kita hanya bisa memaksimalkan UU nomor 22 tahun 2009, pasal 310 ayat (3) sanksi bagi pengendara yang lalai mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban luka berat dipidanakan penjara paling lama lima tahun dan/ atau denda paling banyak 10 juta." Terang lawyer Hadiwinata.


Lawyer Hadiwinata adalah lawyer baru pengganti lawyer Sinaga karena diaanggap kurang maksimal dalam menjalan tugasnya akhirnya diganti.


"Lima tahun, denda 10 juta! .Semuanya tidak setimpal!" Geram Andra.


"Maaf pak, sanksi itu sudah maksimal. Bahkan kami juga dengar ada saksi dan bukti yang bisa mengurangi sanksi tersangka." Lanjut lawyer Hadiwinata.


"Keluar! Saya tidak mau tahu, cepat selesaikan kasus ini! Dan yang paling penting, kasus ini harus kita menangkan!" Suara Andra masih meninggi menunjuk lawyer Hadiwinata.


"Mari pak...." Asisten Mario mengantar lawyer Hadiwinata untuk keluar dari ceo room dan dengan pasrah lawyer Hadiwinata pun melangkah pergi.


"Brengsek!" Andra mengepal tangannya dan meninjukan ke meja kerjanya.


"Untung mejanya dari jati tua tuan. Jadi tahan ambruk meski sudah ditinju tuan berkali-kali" Batin Mario, yang tentunya tak berani diutarakan ke tuannya.


"Kamu urus masalah ini Rio, hilangkan bukti yang bisa mengurangi sanksi. Bungkam saksi jangan sampai muncul di pengadilan. Ustadz brengsek itu harus menerima pembalasan yang setimpal! Satu hal lagi!Jangan sampai gagal!"


"Baik tuan." Sigap Rio yang kemudian keluar dari ceo room.


"Ustadz Mirza ternyata bukan orang sembarangan. Bahkan puluhan lawyer siap membantunya dengan suka rela. Apa perlu saya bertindak sendiri untuk membalas semuanya." Batin Andra.


Andra duduk di kursinya. Menarik nafas dalam. Mengatur ritme jantungnya supaya selaras. Nafsu sudah menguasai dirinya sampai otak pun sudah tak jernih untuk berpikir. Kepalanya dia gerak-gerakkan ke kanan ke kiri. Tengkuknya dia tekan sedikit lalu bergeser kedua pelipisnya dia pijat halus dengan jari jempol dan jari tengahnya.


"Ya ampun aku sampai lupa tidak menghubungi bunda." Ucap Andra melepas kedua jemari yang ditekan ke pelipis. Andra langsung merogoh ponsel yang ada di sakunya.


Tadi pagi bunda Rima memang sangat shock mengetahui keadaan Femila yang sebenarnya. Sampai-sampai bunda harus dipapah ketika keluar ruang rawat Femila.


"Dian, bagaimana keadaan Bunda?" Tanya Andra begitu nomor yang dia hubungi tersambung.


"Sudah mendingan tuan, Bunda Rima sudah minum obat dari dokter Irawan dan sekarang sedang tidur."


"Nanti langsung kabari kalau ada apa-apa dengan bunda."


"Baik tuan."


Tut Tut Tut .


"Setiap kali telepon pasti main matiin sepihak." Kesal Dian, asisten bunda Rima sambil memonyongkan bibirnya. "Untung ganteng jadi gag usah marah." Ucap Dian sambil tersenyum genit.

__ADS_1


Andra mengingat kembali kejadian pagi tadi. Reaksi bunda Rima ketika melihat kondisi Femila dengan kaki yang sudah diamputasi sungguh diluar dugaan. Bunda sampai setengah sadar hingga harus dipapah Andra untuk dibawa pulang.


"Mengapa firasatku buruk tentang ini?"


...****************...


tok tok tok


Femila menoleh ke arah pintu, mama yang sedari tadi menyuapinya makan pun ikut menoleh.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Masuk saja." Jawab mama Anita. "Mau bertemu dengan siapa?" Tanya mama Anita kemudian, karena merasa asing dengan sosok lelaki tampan yang baru masuk ke ruang rawat Femila.


"Menjenguk ibu dan Femila"


"O...mari duduk."


Femila hanya diam. Rasanya ingin memuntahkan makanan yang sedari tadi iya makan ke muka orang yang baru masuk dan dengan sopan nya mama Anita mempersilahkan dia duduk.


"Ngapain kamu kesini! Mau melihat kakiku yang sudah hilang satu!?"


"Maaf ya Nak, Femila kadang suka ceplas-ceplos kalau bicara." Ucap mama Anita kepada lelaki tampan itu.


"Ma, asal Mama tahu, dia yang menyebabkan kaki saya seperti ini." Suara Femila terdengar parau menahan tangisannya.


"Apa! Maksusnya, dia yang menabrak ka-kamu?!" Kaget mama Anita.


"Saya sengaja ingin bertemu dengan ibu untuk meminta maaf atas musibah yang terjadi."


Mama Anita hanya diam namun dengan menahan nafas yang mulai tak beraturan. Merasa shock dengan kenyataan kalau yang ada di hadapannya orang yang telah membuat anaknya menjadi cacat.


"Kejadian itu benar-benar di luar dugaan saya Bu. Waktu itu saya memang mendadak injak rem karena ada kucing yang lari di depan mobil dan saya juga tidak melihat di belakang saya ternyata ada mobil." Terangnya.


Ustadz Mirza memang sengaja datang ke rumah sakit untuk meminta maaf kepada orang tua Femila. Kedatangan sebelumnya dia hanya bertemu dengan Femila maka hari ini dia beranikan datang kembali ke rumah sakit agar bertemu orang tua Femila. Dia takut tidak ada lagi kesempatan bertemu dan meminta maaf secara langsung dengan Femila maupun keluarganya karena kasus pengadilan yang menimpanya dan tidak tahu akan berakhir seperti apa.


"Apakah nyawa kucing lebih berharga dari pada keselamatan anakku?" Ucap mama Anita dengan linangan air mata yang sedari tadi iya tahan.


"Maaf Bu, sekali lagi saya minta maaf. Saya benar-benar tidak tahu kalau di belakang saya ada mobil." Ustad Mirza mengulang kata itu lagi.

__ADS_1


"Brengsek! Mau apa lagi kamu datang ke sini!" Andra yang tiba-tiba datang langsung menarik ustadz Mirza dari hadapan mama Anita. Kemudian tanpa ampun langsung menghujani wajah ustad Mirza dengan tinjuan.


"Andra kendalikan dirimu." Pinta mama Anita dengan mencoba menarik tubuh Andra namun tidak dihiraukan.


"Tuan...tenang Tuan." Mario mencoba ikut menenangkan emosi tuannya yang tidak stabil. Tangannya menahan tangan tuannya yang akan melayangkan tinju lagi ke ustadz Mirza namun tenaganya kalah kuat dengan tenaga tuannya. Mario tersungkur mendapat dorongan dari tuannya.


Tangan Andra masih meninju ke ustadzbmalah semakin membabi buta mendorong ustadz Mirza sampai terjatuh dan pukulan bertubi-tubi mendarat lagi di wajah ustadz Mirza.


"Andra! Andra! Andra! Stop! Please Andra! Jangan buat keributan!" Teriak Femila melihat kekasihnya yang emosinya kian memuncak.


Andra pun menghentikannya karena mendengar teriakan Femila dengan suaranya yang sudah parau.


"Mario, tolong bawa Andra pulang." Pinta mama Anita.


"Mari Tuan." Ajak Mario agak menarik tangan tuannya.


"Lepas." Mata Andra melotot ke arah Mario dengan menghempaskan tangan Mario.


"Maaf Tuan." Ucap Mario.


"Sayang, maafkan saya." Ucap Andra mendekat Femila dan memeluk tubuh Femila.


"Lebih baik kamu pulang. Tenangkan diri." Pinta Femila.


"Tapi sayang, sa-."


"Saya mohon." Potong Femila.


Andra melepas pelukannya. Mencium kening Femila kemudian keluar dari ruangan.


"Sekali lagi maaf sayang, saya membuat kamu tidak nyaman."


Femila mengangguk


Mario yang tadi pergi memanggil perawat untuk menolong Ustadz Mirza kini pun mengekor tuannya beranjak dari kamar rawat.


Sementara, ustadz Mirza yang sudah terkapar bersimpah darah segera di tolong perawat dan di bawah ke IGD.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2