
"Non, apa pertanyaan non Femila pada Aliyah tentang dek Hana adalah bentuk kecemburuan nona pada dek Hana?" Pertanyaan itu meluncur tanpa filter dari mulut Habibi setelah semuanya selesai menyantap makanan.
Femila meminum habis jeruk hangat yang ada di tangannya kemudian mengusap mulutnya dengan tisu. "Apa pertanyaan kamu perlu saya jawab?" Femila melempar pertanyaan ke Habibi.
"Bagaimana bisa, pertanyaan saya di kembalikan tanpa adanya sebuah jawaban." Ucap Habibi.
"Sudah malam, kita pulang." Ajak ustadz Mirza melerai tanya jawab Femila dan Habibi yang dipastikan takkan berujung sebuah jawaban karena mereka sama-sama keras kepala.
Habibi berdiri dari duduknya, turun dari saung. Berjalan terlebih dahulu membawa bill ke kasir dan membayarnya.
Femila beranjak dari duduk namun dua tangannya masing-masing di pegang Aliyah dan tangan kirinya oleh ustadz Mirza.
Femila mencoba melepas pegangan dari ustadz Mirza namun justru Aliyah yang melepas tangannya terlebih dahulu, sekian perdetik kalau ustadz Mirza tidak sigap Femila terjatuh kembali.
"Apa kamu sengaja jatuh biar saya gendong kamu lagi?" Celetuk ustadz Mirza masih memegang kedua lengan Femila dari belakang.
Femila mencibirkan bibirnya.
"Jangan menolak, biar saya bantu memapah sampai kamu turun dari saung." Titah ustadz Mirza tanpa mendengar jawaban Femila.
Tangan Femila ditarik melingkar ke tengkuk ustadz Mirza dan tubuh ustadz Mirza sedikit dibungkukan agar posisinya sejajar dengan Femila.
"Apa perlu saya gendong sampai mobil?" Bisik ustadz Mirza di telinga Femila.
Femila tersenyum semanis mungkin, "Kalau gendongnya sampai rumah, baru saya akan mengiyakan tawaran Ustadz." Senyum terpaksa itu langsung dia tarik dari sudut bibirnya.
Setelah turun dari saung, Aliyah menyerahkan kruk ke nonanya. Femila meraih kruk itu dan berjalan diiringi Aliyah dan ustadz Mirza berjalan di belakang kedua wanita itu.
...****************...
Ustadz Mirza tersenyum kecil. Sejarah baru dalam dunia perponselannya. Ada satu pesan masuk tertulis dari ISTRIKU
Jangan lupa siang ini jemput Safera.
Serasa tidak percaya dengan pesan yang masuk, ustadz Mirza mengulang membaca kembali pesan itu. Senyum manis semakin terukir di wajah tampan ustadz Mirza.
Nomor kontak dengan nama ISTRIKU hasil keisengan Habibi. Waktu itu ustadz Mirza mengisi formulir pendataan dosen di kampus. Kebetulan dari data tersebut diminta memasukkan nomor ponsel istri. Ustadz Mirza yang tidak memiliki nomor ponsel Femila meminta Habibi untuk mengirimkannya. Habibi mengirim nomor yang katanya sudah sah menjadi istri ustadz Mirza. Satu pesan masuk di ponsel ustadz Mirza namun ponsel itu langsung diminta Habibi, dan kontak atas nama Nona Femila Habibi ganti dengan nama ISTRIKU.
"Jangan dihapus, itu nama teromantis dikontak Ustadz." Ucap Habibi saat itu sambil tersenyum manis.
"Habibi, kita ke sekolah Safera."
"Baik Ustadz." Habibi yang sedari tadi fokus menatap ponselnya, langsung beranjak mengekor ustadz Mirza melangkah ke parkiran kampus.
Dua puluh lima menit waktu tempuh, akhirnya sampai di TK Cahaya Bangsa. Taman kanak-kanak ini jaraknya lumayan dekat dengan kantor PT Perkasa Bintang karena om Fery ingin lebih bisa memantau anaknya, namun sesuai permintaan Safera hari ini yang jemput Safera pulang harus ustadz Mirza.
Konsep TK ini, untuk kelas formal di mulai dari pukul 07.30 sampai 10.00. Setelah itu anak boleh langsung pulang, ataupun dititipkan ke pihak yayasan, penjemputan maksimal pukul 15.00.
Ustadz Mirza dan Habibi berjalan masuk ke ruang kantor disambut pengurus yayasan. Selang tujuh menit muncullah Safera dari ruang belajar mandiri.
"Om Mirza." Teriak Safera langsung menghambur memeluk ustadz Mirza.
Ustadz Mirza jongkok dan mengendong gadis kecil itu. "Safera di sekolah nurut sama Bu guru kan?"
Safera mengangguk.
"Terima kasih Bu, saya permisi dulu. Assalamualaikum." Pamit ustadz Mirza pada pengurus yayasan.
__ADS_1
"Safera senang sudah sekolah?" Tanya ustadz Mirza setelah mendudukkan anak itu di jok belakang kemudi.
"Senang." Jawab Safera. Namun tiba-tiba bibirnya mengerucut, "Tapi ada satu anak yang nakal Safera."
"Siapa yang nakalin Safera yang baik ini?"
"Ibra." Jawab Safera masih mengerucutkan bibirnya.
"Dia ambil mainan Safera." Sambung Safera.
"Mungkin temannya Safera ingin bermain bersama Safera."
"Saya kan tidak mau bermain sama dia Om, dia malah ambil mainannya Safera."
"Sebenarnya Ibra ingin main bersama Safera. Lain kali ajak dia bermain bersama. Ok!"
Safera mengangguk pelan.
Ustadz Mirza mengangguk sambil tersenyum, merasa lucu saja dengan laporan Safera.
"Sudah pantas Ustadz." Ucap Habibi yang memandang dua penumpang kursi belakang lewat spion dalam mobil.
"Maksudnya pantas sudah punya anak?" Jawab ustadz Mirza karena tahu maksud arah pembicaraan Habibi.
Habibi terkekeh mendengar jawaban ustadz Mirza. "Cuma masalahnya gimana ada adek Safera kalau hubungan sama istri tidak ada kemajuan." Sambung Habibi masih dengan tawanya.
Wajah ustadz Mirza langsung masam. "Kenapa si jomblo sepertinya sombong sekali menertawakan saya."
"Lebih baik jomblo."
Habibi makin terkekeh. "Ustadz seperti punya mata batin tahu apa yang akan saya katakan."
"Karena belum lama ini kamu meledek saya seperti itu."
Habibi fokus memakirkan mobil. "Kita lanjut nanti Ustadz, saya tidak mungkin kalah berdebat dengan Ustadz." Sambung Habibi.
Ustadz tersenyum mengangguk pelan.
"Safera ikut Om ngaji di kampus ya."
Safera mengangguk antusias.
Mereka langsung melangkah ke masjid kampus. Mempersiapkan diri salat Ashar berjamaah.
Setelah salat asar berjamaah selesai, kajian Islam yang dibawakan oleh ustadz Mirza dimulai. Antara jamaah wanita dan pria diberi sekat sebagai pemisah. Kajian rutin ini selalu ramai diisi jamaahnya.
Setelah semua ditata rapi, kamera, lighting, mimbar, mic, dan perlengkapan lainnya barulah kajian ini dimulai. Kajian ini dikelola dan nantinya masuk ke Chanel YouTube. Maka tidak heran selain pandai dalam penyampaian kajian, ketampanan ustadz Mirza juga ikut andil banyaknya subscribe dan viewers di channel YouTube tersebut.
Ustadz Mirza tersenyum memandang Safera yang duduk di samping Habibi dengan mengenakan kerudung anak yang sudah dipersiapkan ustadz Mirza.
Satu setengah jam berlalu, kajian ini berakhir. Ustadz Mirza turun dari mimbar dan langsung menuju parkiran mobil. Kalau lama-lama di situ bisa sampai magrib harus meladeni mahasiswa ataupun mahasiswinya sekedar minta tanda tangan atau swafoto.
"Jadi, ustadz Mirza sudah punya anak? Itu yang digendongnya." Ucap salah satu mahasiswa.
Habibi tersenyum curi dengar mahasiswa yang berkata demikian.
"Bukan, itu mah anaknya Abang Habibi." Jawab mahasiswi satunya.
__ADS_1
Senyum Habibi langsung dia tarik. "Saya masih jomblo mengapa dikatakan sudah punya anak." Gerutu batin Habibi masih mengekor ustadz Mirza jalan.
"Kita kemana lagi Om?" Tanya Safera begitu duduk di kursi mobil.
"Jemput Tante Femila." Ucap ustadz Mirza.
"Ye...hore, mau jemput tante Femila." Safera bersorak dengan menggerakkan tubuhnya.
Ustadz Mirza lagi-lagi tersenyum karena tingkah bocah itu.
"Om Mirza."
"Ya." Ustadz Mirza menoleh ke Safera.
"Katanya, Om Mirza mau kasih lima adek buat Safera, mana adeknya? Kenapa belum Om kasih?"
Habibi spontan tertawa terkekeh mendengar ucapan bocah yang masih lugu itu. Sedangkan ustadz Mirza terlihat pasi wajahnya dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Habibi! Kalau mulut kamu terbuka terlalu lebar nanti setan dan jin masuk ke mulut kamu." Balas ustadz Mirza membuat Habibi mengatupkan mulutnya namun masih terdengar tawa lirih darinya.
"E... nanti Safera..." Ustadz mengucapkan dengan terbata, gugup.
Belum selesai ustadz Mirza bicara sudah dipotong Habibi. "Nanti Safera minta ke Tante Femila. Barangkali adeknya sudah dititipkan ke Tante Femila." Ucap Habibi kemudian tertawa lepas.
"Yes! Sebentar lagi melihat pertunjukkan wajah-wajah pasi, masam, bingung." Batin Habibi merasa menang.
"Habibi!" Geram ustadz Mirza dengan lelucon asistennya itu.
"Sudah sampai Ustadz. Silahkan turun menyambut sang putri." Ledek Habibi.
Ustadz Mirza turun dan menunggu di kursi yang ada di dekat parkir mobil.
"Om, Safera kebelet pipis." Ucap Safera.
"Biar saya yang antar. Ustadz tetap di sini menunggu tuan putri." Habibi tersenyum puas.
Ustadz Mirza terlihat pasrah dengan ledekan-ledekan yang terlontar dari mulut Habibi.
Beberapa karyawan sudah mulai keluar dari gedung, karena memang waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja.
deg
Sebesit Ustadz Mirza mendengar percakapan tiga orang karyawan yang sangat mengganggunya.
"Iyalah, bagaimana tidak berhasil. Walaupun kakinya cacat, diakan masih bisa goyang dengan ceo PT Perkasa Bintang."
Tertawa mengiringi ghibah mereka.
"Apalagi coba kalau tidak main goyang, mana mungkin si ceo sampai memintanya datang selama satu minggu. Itu pasti karena goyangan Femila yang terlalu hot." Sambung satunya.
"Saya dengar nama istri saya disebut-sebut." Ustadz Mirza mendatangi mereka, menahan amarah yang sebenarnya sudah memuncak di pucuk kepalanya.
"Selama satu minggu saya yang mengantar istri saya ke kantor PT Perkasa Bintang. Perlu kalian tahu kami berenam di ruang itu." Ucap ustadz Mirza.
"Sekali lagi saya dengar kalian memfitnah istri saya! Saya pastikan kalian tidak akan menginjakkan kaki di kantor ini lagi!" Sambung ustadz Mirza melihat geram mereka.
Habibi yang sebenarnya sudah di tempat kejadian, merasa heran karena ini pertama kalinya dia melihat ustadz Mirza semarah itu.
__ADS_1