KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 29


__ADS_3

"Om Fery?" Sapa Silla yang kaget dengan kedatangannya.


"Hai" Sapa balik om Fery sambil mengulurkan tangan kemudian dibalas oleh Silla.


"Oh my God. Ada apa dengan saya ini. Om Fery, kenapa saya kira Andra. Dia benar-benar mirip dengan Andra. Apa karena rasa rindu yang teramat." Batin Femila bermonolog.


Om Fery melangkah ke panggung mendekat ke kursi pelaminan. Femila masih menatap tajam pada tamu yang ada di depannya, tamu yang tak diundang.


"Mengapa memandang saya seperti itu?"


Femila tersenyum kecut.


"Berharap saya datang dengan Andra? Atau kamu kira saya itu Andra. Karena ketampanan kita yang memang sama persis." Ucap om Fery.


Femila menatap lekat pamannya Andra itu. "Apa yang ada dalam otak saya! Apa saya memang berharap Andra yang datang. Lalu untuk apa dia datang? Menambah luka? Atau berharap dia menjemput saya dan pergi bersama, entah kemana pun dia membawa saya pergi. Asal meninggalkan semua kepahitan hidup yang menimpa saya." Batin Femila tak henti bermonolog."


"Hei, kenapa malah melamun?"


Femila tersenyum bangun dari lamunannya.


"Apa Silla yang memberitahu om kabar pernikahan ini."


"Apa yang om tidak tahu. Atau kamu tidak suka om datang tanpa undangan?"


"Maaf Om, saya terlalu sibuk sampai lupa kalau Om ada di Jakarta." Alasan Femila. Padahal memang dia sendiri tidak berniat mengundang om Fery.


"Ading (adik)! awas kalau kamu tidak bisa membahagiakan Femila. Akan saya ambil paksa dia darimu." Ancam om Fery.


"Akan selalu saya ingat pesan amang (paman). Ucap ustadz Mirza.


"Bungas (bagus)!"


"Apa ini pertanda restu dari Amang?" Retoris ustadz Mirza.


"Terserah kamu mengartikan seperti apa."


"Femila, tetap semangat."


Femila mengangguk. "Terima kasih Om sudah datang."


Om Fery mengedipkan sebelah matanya kemudian melangkah pergi.


"Silla, mau saya antar sekalian." Tawar om Fery ketika melewati Silla.


"Saya pulang sendiri Om."


Suasana resepsi sudah lengang hanya ada pekerja yang membongkar tenda maupun panggung pengantin dan beberapa pekerja yang membereskan stand makanan tamu undangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Papa dan Mama Femila sudah masuk ke kamarnya untuk istirakhat begitu juga dengan pengantin baru, mereka sudah berada di kamar.


(Ehemmmm jujur author bingung mau nulis apa di malam pengantin baru mereka🤭🤣🤣🤣🤣).


Sepasang mata masih saling menatap lekat, deru nafas Femila masih tak beraturan. Dia semakin kuat menarik benda yang dia dekap dan ustadz Mirza perlahan mulai melepaskannya. Se perlahan mungkin agar Femila tidak jatuh dari ranjang tidur karena sebelumnya ternyata ustadz Mirza mendekapnya terlalu kuat. Setelah benar-benar lepas Femila mendengus kesal. Dia merasa tidak rela kenapa bantal guling yang dia dekap tiba-tiba berpindah didekap oleh ustadz Mirza.


"Besok ustadz Mirza tidur di sofa saja." Titah Femila masih merasa kesal. "Malam ini masih beruntung hanya bantalnya saja yang dia dekap. Coba kalau sampai saya yang didekap! Tidak ada kata ampun untuk kamu!" Gerutu Femila dalam hati kemudian menenggelamkan mukanya ke bantal dan memposisikan tidur dengan memunggungi ustadz Mirza melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


"Galak sekali yang katanya sudah jadi istri saya." Gumam ustadz Mirza namun masih bisa didengar telinga Femila.


...****************...


Mama Anita menata sarapan pagi dengan semangat bahkan dia sendiri yang meracik bumbu masakannya.


"Nyonya sepertinya bahagia sekali?" Tanya mbok Mina.


"Si mbok tahu aja."


"Apa karena Non Femila jadi menikah?" Tebak mbok Mina.


Mama Anita mengangguk cepat.


"Tapi kan menikahnya tidak dengan mas Andra?"


"Dengan siapa pun Femila menikah asal dia bahagia."


"Sepertinya Non Femila tidak mencintai Mas ustadz?"


"Salah siapa tidak menyukai malah minta dinikahi." Mama Anita tersenyum dengan arti berbeda.


"Jadi Non Femila yang minta dinikahkan dengan ustadz Mirza."


"Sepertinya saya mendengar nama saya disebut-sebut."


Suara khas dari orang yang jadi bahan pembicaraan terdengar nyaring di telinga para pengghibah.


"Selamat pagi sayang, sudah bangun?"


"Pagi juga Ma, memang Femila biasa bangun pagi kan." Menyangkal pernyataan mama Anita.


"Tapi minggu-minggu ini selalu bangun siang bahkan sampai tidak mandi seharian." Ledek mama Anita.


"Apaan sih Ma."


Sebenarnya subuh tadi Femila sudah bangun, tepatnya terbangun karena ada tangan yang menepuk bahunya. Membangunkannya untuk ikut salat subuh. Namun Femila hanya mengiyakan tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Tidak lama setelah itu lantunan ayat suci terdengar begitu merdu, dan ini pertama kalinya Femila mendengar ayat suci dilantunkan subuh hari di kamarnya. Suaranya begitu indah sampai mata Femila terbuka penuh kemudian menatap diam-diam pembacanya.


"Ya kamu selalu bangun pagi. Apalagi pagi ini, mau nyiapin sarapan buat suami?" Goda mama Anita sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Siapa juga yang mau nyiapin sarapan Ma, saya mau sarapan sendiri." Kesal Femila pagi-pagi sudah diledek mamanya.


"Duh duh duh pengantin baru pagi-pagi kok cemberut. Apa jangan-jangan..... ." Mama Anita sengaja menggantung kalimatnya.


"Apaan sih Ma." Femila memanyunkan bibir semakin kesal dengan ucapan mamanya.


Mama Anita malah tertawa dengan tingkah Femila. Mbok Mina pun tersenyum mendengarkannya.


"Sebentar biar mbok Mina memanggil nak Mirza, dia ada di taman." Mama Anita mengisyaratkan matanya agar mbok Mina segera memanggil ustadz Mirza.


"Ngapain dia di taman rumah!" Ketus Femila.


"Cie penasaran apa yang dilakukan suami?"

__ADS_1


"Mama!" Sedikit menjerit dan memanyunkan bibirnya.


Mama Anita tertawa kekeh. "Itu pangerannya datang." Menunjuk ustadz Mirza yang menghampiri ke ruang makan.


"Sarapan dulu Nak." Tawar mama Anita.


"Ya, terima kasih Ma." Menarik kursi.


"Sudah cuci tangan?"


"Sudah Ma, di taman tadi."


"Bunga mawar yang ada di taman cantik sekali Ma."


"Oh, itu Femila yang nanam."


Ustadz Mirza menatap Femila berharap meneruskan bicara.


"Kalau kamu mau, ambil saja." Jawab sekena Femila.


Ustadz Mirza hanya mengangguk. Melanjutkan mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.


"Ada menantu baru kenapa Mama sampai lupa tidak memanggil Papa buat sarapan? Canda papa Riyan yang kemudian duduk di kursi.


Mama Anita tertawa kecil mendengar ucapan suaminya. Kemudian mengambilkan nasi untuk suaminya.


Percakapan ringan pun terjadi di sela sarapan pagi mereka. Terkadang tawa ringan dan candaan yang malah membuat bibir Femila mengerucut karena merasa terpojokkan oleh candaan itu.


"Alhamdulillah, inikah yang disebut keluarga? Ya, saya mempunyai keluarga. Ada seorang Bapak, Ibu dan istri." Batin ustadz Mirza merasa begitu bahagia karena ini pertama kali ustadz Mirza sarapan bersama dengan keluarga.


"Bapak dan Ibu semoga kalian dalam surgaNya Allah, amin." Seuntai doa terucap di batin ustadz Mirza.


Setelah menyelesaikan sarapan. Papa Riyan berangkat ke kantor dan Mama Anita langsung ke butik sengaja membiarkan Femila dan ustadz Mirza berdua di rumah.


Mereka masih terdiam dengan ponsel di tangan masing-masing.


"Kenapa dia tidak ke kampus sih!" Gerutu Femila dalam hati.


"Ada yang ingin kamu katakan?" Tanya ustadz Mirza melihat Femila yang sedari tadi mencuri pandang.


"Siapa juga yang mau bicara sama kamu." Ketus Femila.


" Namun saya berhasil membuatmu bicara."


"Terserah!" Jengah Femila.


"Oya Fem, Minggu besok kita pindah ke rumah saya." Ajak ustadz Mirza.


"Kenapa harus pindah sih."


"Rumah saya lebih dekat dengan kampus."


"Izin Papa dan Mama dulu." Ucap Femila dengan senyum yang memiliki arti berbeda.

__ADS_1


__ADS_2