
Ustadz Mirza menarik nafas dalam dan membuangnya.
Femila mencuri tatap ke arah ustadz Mirza.
Tok
tok
tok
"Ya." Ustadz melangkah ke pintu."
"Maaf Ustadz mengganggu. Ada yang mau saya bicarakan."
"Kita ke ruang kerja."
"Istirahatlah, saya ada perlu dengan Habibi." Ucap ustadz Mirza sebelum keluar kamar.
"Ya." Singkat Femila.
"Sepertinya ada hal yang sangat penting?" Penasaran ustadz Mirza sampai-sampai pertanyaan itu dia lontarkan sebelum kursi kerjanya dia duduki.
"Lumayan penting."
"Apa?" Mencoba rileks melihat wajah Habibi yang begitu tegang.
"Apa perlu saya cari kontrakan karena di sini sudah ada istri Ustadz?"
"Ya Allah, jadi ini yang akan kamu bicarakan?" Ustadz Mirza tersenyum kecil.
Habibi mengangguk.
"Tetaplah tinggal di sini. Pindahnya kalau kamu sudah beristri. Jadi, syarat keluar rumah ini ya menikah dulu. Makanya cepat menikah."
"Apa saya salah tanggap, kenapa nada bicara Ustadz sepertinya mengejek saya?"
Ustadz Mirza tertawa menang melihat ekspresi Habibi.
"Baguslah kalau kamu merasa terejek." Ucap ustadz Mirza tanpa melihat lagi ekspresi Habibi yang bertambah kesal.
"Kayaknya sih masih mending saya. Status saya belum menikah masih perjaka lagi. Dibanding yang itu, status menikah tapi status masih perjaka."
Ustadz Mirza langsung menghentikan tawanya, menatap geram kepada Habibi.
"Kenapa tidak dilanjut tertawanya? Wau wau, apakah ada yang tersindir?" Goda Habibi dilanjut dengan tawa.
Ustadz Mirza menelan salivanya dengan susah. Ucapan Habibi benar-benar menyekat tenggorokannya.
"Kamu tahu apa bocah! Lama-lama sama kamu bisa gila." Ustadz Mirza mengangkat pantatnya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
"Ingat, malam ini harus hilang status perjaka nya." Teriak Habibi karena ustadz Mirza sudah melangkah di ambang pintu.
"Dan ingat juga! Status KTP kamu juga harus berubah dalam satu tahun ini!" Berhenti, menoleh ke Habibi.
"Ok. Saya terima tantangan Ustadz." Mantap Habibi.
"Sebentar Ustadz. Ada hal lain yang akan saya sampaikan."
"Apalagi?"
"Kajian Islam channel mengirim video untuk di acc ustadz."
"Kenapa tidak bilang dari tadi." Ustadz Mirza memutar badannya, kembali ke kursi kerjanya.
Membuka laptop kemudian menekan tombol power dan masuk ke e-mail yang dikirim dari Kajian Islam Channel.
"Minggu kemarin Ustadz tidak mengisi kajian, jadi tema kajian diambil dari beberapa cuplikan kajian sebelumnya." Terang Habibi.
Ustadz Mirza masih fokus melihat video tersebut. "Cuplikannya dikurangi sedikit, durasinya masih panjang. Viewers lebih senang melihat video yang lebih pendek.
"Ya, nanti saya sampaikan ke redaktur. Ada lagi Ustadz?"
"Saya rasa untuk yang lainnya sudah baik."
"Besok Ustadz sudah aktif ke kampus kan?"
"Ya. Tolong sekalian siapkan untuk besok. Saya masuk siang di kelas A."
"Kamu cek perkembangan PT Karya Kayu Indah, besok laporkan ke saya."
"Malam ini bisa kok langsung laporan Ustadz."
"Saya mau istirakhat."
"Oh, maaf. Saya lupa, andakan pengantin baru. Sudah tidak sabar masuk ke kamar." Ledek Habibi.
"Masih lanjut ledekan nya?"
Habibi tersenyum menunduk.
"Bagus cukup diam dan kerjakan. Kalau tidak ingin pekerjaanya menumpuk." Ucap ustadz Mirza.
"Bagi yang menjomblo harap bersabar." Ustadz Mirza menepuk bahu Habibi.
"Anda juga harus sabar untuk mengubah status perjaka nya." Datar Habibi namun penuh penekanan untuk ustadz Mirza.
"Kita lihat saja nanti." Ucap Ustadz Mirza penuh dengan misteri, kemudian melangkah pergi dari ruang kerja.
Langkah kaki ustadz Mirza mulai dipelankan ketika mendekat di ranjang tidur. Netranya menatap sesosok wanita yang sudah tertidur lelap di ranjang tidur. Dia pandang dengan seksama wajah cantik yang sekarang sudah berstatus halal. Baju tidur kimono lengan pendek dan celana panjangnya nampak tersibak di bagian perutnya, sedikit perut putih mulusnya juga terlihat. Ustadz Mirza menarik selimut untuk menutupnya. Namun, tangannya berhenti ketika akan menyelimuti kakinya. "Maaf kan saya Femila." Terlintas rasa bersalah melihat kaki Femila yang cacat lalu menutup selimut itu sampai dada Femila. Ponsel yang ada ditangan Femila diambil kemudian taruh di atas nakas.
__ADS_1
"Cuma sedang tidur saja kamu terlihat tidak garang." Ucap ustad Mirza masih menatap wajah istrinya kemudian tersenyum.
Dia meraba saku bajunya, sepertinya ada yang hilang dari saku saya. Memutar pandangannya ke arah sofa yang sebelumnya dia duduki.
"Ternyata di situ." Ucapnya ketika melihat benda pipih itu masih di sofa. Dia melangkah mengambil ponsel itu. Mengusap layarnya. Ada satu panggilan tak terjawab tertera nama Hana. Ustadz Mirza nampak terdiam. Namun tidak selang lama dia berjalan ke kamar mandi sebelumnya menaruh ponsel di atas nakas.
Setelah mengambil wudhu ustadz Mirza naik ranjang, karena salat isya nya sudah dia tunaikan di rumah Femila. Mulutnya bergerak membaca surah Al muawwidzat yaitu surah yang terdiri dari surah Al ikhlas, Al Falaq, dan An Nas. Surah Al Mu'awwidzat memiliki kedudukan yang sangat tinggi di antara surah-surah yang lainnya. Di sunnahkan untuk membacanya sebelum tidur. Selesai membacanya ustadz Mirza menyambung dengan membaca doa mau tidur.
Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut (Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati).
...****************...
"Ustadz mau kemana?" Tanya Femila yang duduk di ruang samping yang menghadap ke taman.
"Saya mau ke kampus." Ucap ustadz Mirza yang sedari tadi sudah berdiri di hadapan Femila.
"Sok sibuk sekali sih ini orang. Baru berapa hari nikah. Apa tidak ada cuti untuk nikah?" Batin Femila.
"Kalau saya butuh apa-apa bagaimana?"
"Nanti mbak Anik yang mengurusnya."
"Tidak! Ustadz harus tetap di sini!"
Femila menunggu jawaban dari ustadz Mirza yang terlihat diam.
"Ya sudah kalau mau berangkat, saya pulang saja ke rumah mama." Alasan Femila padahal dalam hatinya hanya ingin menguji sejauh mana ustadz Mirza mau mengikuti kemauannya.
Ustadz Mirza masih terdiam. Kemudian melangkah pergi dari hadapan Femila.
"Sudah pasti kamu pergi! Seberapa tahan kamu dengan sifat saya ustadz?" Monolog batin Femila.
Tidak lama setelah itu ustadz Mirza kembali lagi dengan membawa buah apel dan baju yang dikenakan sudah berganti kaos rumahan dan celana.
Femila menatap tidak percaya. "Kenapa masih di rumah?" Ketus Femila.
"Mau nemenin istri." Singkat ustadz Mirza langsung duduk di kursi.
Femila menelan susah salivanya. Kata "istri" seakan menyindir untuk sikapnya ini.
"Baguslah kalau begitu." Melanjutkan tatapannya ke buku yang Femila baca.
Ustadz Mirza menatap buku yang dipegang Femila. "Edisi satu sampai empat ada semua di rak buku." Tawar ustadz Mirza.
Femila diam tidak menyahuti ucapan ustadz Mirza.
"Dengan duduk manis di kursi, mungkin bisa kamu selesaikan dalam satu hari ini." Lanjut ustadz Mirza masih mengupas apel yang dia bawa.
"Makanlah." Menyodorkan buah apel yang sudah ustadz Mirza potong.
__ADS_1
"Hmmm." Femila mengiyakan tawaran ustadz Mirza.
"Masih lanjut chatting dengan kekasihnya?" Batin Femila bermonolog ketika Netranya melirik ustadz Mirza yang sibuk memegang ponsel.