KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 76 (TAMAT)


__ADS_3

Saya sudah di lokasi.


Bibirnya tersenyum, "Ya Allah...saya yakin ini jalan yang terbaik yang Engkau tunjukkan pada hamba." Monolog batin Femila.


Femila masih duduk di masjid yang ada di dalam universitas Islam K. Setelah menunaikan salat Ashar dia baru mengirim pesan ke Habibi untuk menemuinya.


Saya di masjid kampus.


Femila mengirim pesan kedua.


Habibi mengedarkan pandangannya setelah memasuki komplek masjid. Matanya berhenti mengedar ketika dua manusia yang dia cari sudah dia temukan. Tangannya dia lambaikan sambil melempar senyum dari raut wajahnya.


Habibi mendekat ke nonanya dan Aliyah. "Assalamualaikum...," sapanya.


"Waalaikum salam...."Jawab Femila dan Aliyah.


"Saya tidak menyangka. Secepat ini Non Femila datang. Kita langsung masuk ke mobil saja. Setelah ini ustadz Mirza ada acara salat berjamaah. Sambil menunggu penutupan acara, mungkin Non Femila harus menunggu satu jam lagi."


Habibi berjalan di susul Femila dan Aliyah. Setelah sampai di parkiran mobil. Habibi membuka pintu mobil dan mempersilahkan keduanya masuk ke dalam mobil.


"Saya tinggal dulu Non, assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


Setelah kepergian Habibi, Femila dan Aliyah kompak sibuk dengan ponsel masing-masing. Femila menampakkan senyum di wajahnya ketika membuka galeri dan ada foto kemarin sore.


"Takdir itu memang rahasia Illahi, berpacaran dengan kamu menikah dengan dia." Batin Femila masih menatap fotonya dengan Andra, Aliyah, dan bunda Rima.


"Kamu orang baik Andra, saya yakin kamu akan dipertemukan dengan jodoh orang baik pula." Batin Femila masih bermonolog.


"Bunda Rima bilang, sudah menemukan wanita untuk kamu, dia sekarang di luar negeri. Siapa dia?" Sambung monolog di batinnya.


Napasnya dia keluarkan dengan kasar. Matanya memandang ke luar jendela. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ritmenya terlalu cepat. Debaran itu semakin kencang manakala banyak orang yang kebanyakan mahasiswi mendekat ke arah mobilnya dan ada dua orang yang dikenal Femila berjalan lebih mendekat. Satu sosoknya adalah orang yang benar-benar membuat debaran jantungnya semakin tidak menentu.


Orang yang sukses membuatnya merasa kehilangan dan mengukir sebuah rindu. Rindu yang teramat berat hingga jiwa seakan sekarat.


Habibi segera membuka pintu mobil penumpang. Ustadz Mirza masuk, wajahnya langsung tercengang menatap wanita yang duduk di jok penumpang. Mulutnya sampai ternganga. Pantatnya dia dudukkan di sebelah wanita itu.


"Assalamualaikum Ustadz...," sapa Femila tangannya langsung meraih tangan ustadz Mirza dan mencium punggung tangan itu.


"Waalaikum salam," jawab ustadz Mirza masih dengan rasa ketidakpercayaan kalau wanita di sebelahnya benar-benar nyata.


"Ustadz...jangan melongo terus, nanti mulutnya ngeces loh," sela Habibi yang sudah melajukan mobilnya menuju hotel.


Ustadz langsung tersenyum dan mengalihkan pandangannya. Dia lebih memilih diam karena rasa terkejutnya lebih mendominasi kini. Mulutnya seakan kaku untuk sekedar basa-basi menanyakan kabar atau pun hal kecil lainnya. Tapi raganya sebenarnya ingin menarik wanita yang di sampingnya dalam pelukannya melepas rindu yang berat.


Begitu juga dengan Femila. Terdiam berusaha menguasai debaran jantungnya yang belum terkontrol.

__ADS_1


Cukup 15 menit mereka sampai di hotel.


"Saya sudah pesan dua kamar, silahkan Aliyah." Habibi memberikan cardlock ke Aliyah.


"107," sambungnya. "108 Non Femila." Habibi menyerahkan cardlock satunya ke Femila.


Femila menerima itu dengan wajah heran,


"Ustadz yang pindah ke kamar Non. Barangnya sudah saya pindahkan," ucap Habibi melihat raut wajah nonanya berubah.


"Selamat istirakhat Ustadz...tidur yang nyenyak ya...yang dirindukan kan sudah datang," ledek Habibi.


"Habibi." Mata ustadz Mirza menatap tajam ke arah Habibi.


Habibi berlari kecil langsung masuk ke kamarnya.


"Cardlock-nya," pinta ustadz Mirza dan Femila menyerahkan itu.


Femila mengedar pandangannya ke kamar itu. Senyumnya mengembang tatkala matanya menatap ada seikat mawar merah terpajang di atas nakas samping ranjang tidur.


Satu mawar langsung dia ambil dan hirup pelan, matanya terpejam kala menghirup mawar yang kini di tangannya.


Ustadz Mirza melihat itu, senyum tergambar di wajahnya. Sungguh pemandangan yang langka. Baru kali ini melihat binar kecantik yang luar biasa dari wajah wanita yang ada di hadapannya. Penampilannya kali ini sungguh mengundang decak kagum. Kecantikan yang makin terpancar dengan jilbab yang membungkus kepalanya.


"Subhanallah," lirih ustadz Mirza.


"Oh, tidak. Hanya itu...e...ada apa datang ke sini?" Gugup ustadz Mirza hingga satu pertanyaan keluar begitu saja tanpa disaring otaknya.


Femila langsung merah padam mendengar pertanyaan dari ustadz Mirza. Matanya menatap tajam ke ustadz Mirza napasnya tersengal menahan amarah.


"Saya dipaksa Mama untuk ke sini!" Jawab Femila seucapnya, mulutnya bergetar ketika melontarkan kalimat itu.


"Saya kira akan disambut dengan pelukan hangat oleh kamu! Seperti di film-film itu. Tapi nyatanya? Apa jangan-jangan saya salah sangka! Ustadz sama sekali tidak merasakan rindu ke saya!" Batin Femila berkecamuk.


"Saya pergi!" Kakinya melangkah melewati ustadz Mirza yang masih berdiri di depannya.


Namun tiba-tiba ada dua tangan yang melingkar di pinggang Femila. Memeluk erat dari belakang. Femila tidak mencoba melepas pelukan dari lelaki yang diharapkan memeluknya semenjak kedatangannya. Dia tetap berdiri mematung. Sedangkan lelaki yang dibelakangnya semakin memeluk erat.


"Terima kasih sudah datang," bisik ustadz Mirza ditelinga Femila sebuah kecupan mendarat di tengkuk Femila, dan kecupan lama mendarat di bahu tempat dagunya kemudian menyandar.


Cairan bening yang sedari tadi Femila tahan kini meluncur bebas di kedua pipinya. Isakan pun terdengar. Tangannya bergerak meraba tangan ustadz Mirza yang melingkar di pinggangnya.


"Hei, kalau kamu menangis nanti cantiknya hilang," tangan ustadz Mirza memutar bahu Femila hingga tubuh Femila menghadapnya. Kemudian tangan itu menyapu pipi yang basah karena air mata.


"Ustadz jahat... Ustadz jahat... jahat..." tangan Femila memukul dada ustadz Mirza.


Ustadz Mirza membiarkan itu, membiarkan wanita di depannya melampiaskan semua amarahnya ke dirinya.

__ADS_1


"Ustadz, kenapa tega melakukan itu. Pergi tanpa kabar! Sengaja membuat hati saya gelisah! Saya sudah bilang ke Ustadz kalau saya akan menyelesaikan masalah dengan Andra! Bukan berarti kembali ke dia! Tapi kenapa Ustadz marah sampai tidak memberi kabar ke saya! Sekarang, Ustadz malah menanyakan ada perlu apa datang ke sini!" Kesal Femila tangannnya masih memukul dada bidang ustadz Mirza namun pukulan itu mulai melemah.


Ustadz Mirza menggenggam tangan Femila yang sudah berhenti memukul. Tubuhnya dia tarik masuk dalam dekapannya.


"Maafkan saya istriku," lirih ustadz Mirza sambil mengelus kepala Femila.


Lama mereka dalam mode saling memeluk. Mengobati rindu yang kini terobati dengan sebuah pertemuan.


"Aku sangat merindukanmu," bisik ustadz Mirza bib*rnya lagi, mengecup pundak dan tengkuk Femila berkali-kali.


Femila melepas pelukan ustadz Mirza, matanya menatap tajam ke arah ustadz Mirza dan...


Sebuah kecupan lembut mendarat di bib*r ustadz Mirza. Mata ustadz Mirza langsung terbelalak mendapat serangan mendadak dari wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya. Namun lamat-lamat mulai menikmati benda halal yang menempel di bib*rnya. Mata mereka saling terpejam menikmati setiap gerakan yang mereka ciptakan.


Femila melepas pelan pungutan itu.


"Ingat Ustadz. Benda ini sudah saya beri QR code dan yang bisa membukanya hanya saya." Femila menempelkan jari telunjuknya di bib*r ustadz Mirza.


Ustadz Mirza tersenyum karena itu, mulutnya malah jail menggigit kecil telunjuk itu.


"Sakit Ustadz," teriak Femila sambil memonyongkan bibirnya.


"Sudah saya bilang, jangan memancing saya dengan memonyongkannya," canda ustadz Mirza tubuhnya mendekat ke arah Femila dan menatapnya dengan tajam


Femila merasa jantungnya kali ini bergetar hebat melihat tatapan tajam dari ustadz Mirza.


"Jangan mundur, kamu sudah berani mengunci dengan QR Code di sini. Kali ini kamu harus bertanggung jawab untuk membukanya." Tangan ustadz Mirza sudah meraih kedua bahu Femila.


Tanpa ba bi bu...ustadz Mirza melancarkan serangan balik di bib*r Femila, bahkan tidak hanya di tempat itu. Spot lain juga tak luput dari jangkauannya. Femila merasa serangan balik itu begitu mendominasi. Raganya kini juga ikut menyerang selaras dengan otak dan jiwanya. Mereka terhanyut dalam suasana yang tak dapat terlukiskan dengan kalimat.


"Kamu ikuti apa yang saya ucapkan," ucap ustadz Mirza setelah melepas pungutannya.


Femila mengangguk.


"Bismillahi Allahumma jannibnaas syaithoona wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa,' ucap ustadz Mirza yang diikuti Femila.


"Doa apa Ustadz?" Tanya Femila.


"Doa memakan kamu," jawab ustadz Mirza lanjut melakukan serangan dan sengatan.


Bla bla bla...hingga mereka meraih kenikmatan surgawi.


TAMAT


Nb: QR code singkatan dari quick response code. Kode ini adalah barcode dua dimensi yang bisa memberikan beragam jenis informasi secara langsung.untuk membukanya dibutuhkan scan atau pemindai dengan smartphone.


Terima kasih segala bentuk dukungan yang diberikan readers. Lope lope buat kalian semua❤️❤️❤️. Nantikan karyaku berikutnya ya. Maaf kalau banyak salah dalam penulisan atau pun komen2 yg tidak sempat terbalas.

__ADS_1


Vote, like, komen, rating di ending cerita dong🙏🥰


__ADS_2