
"Saya akan menyerah dengan kamu kalau kamu sudah bahagia dengan orang yang selama ini kamu cintai." Ucap ustadz Mirza.
Femila menarik sudut bibirnya. "Bahagia dengan orang yang saya cintai." Femila mengulang kalimat itu seakan menjadi pertanyaan untuk dirinya pula.
"Baca doa, kita tidur." Ajak ustadz Mirza
Femila menolehkan wajahnya ke ustadz Mirza karena tangannya yang sudah menengadah tapi ustadz Mirza belum juga memulai doa malah dia juga menengadahkan kedua tangannya.
"Mengapa belum dimulai?"Tanya Femila.
"Kamu yang pimpin baca."
"Ustadz menguji saya?"
Ustadz Mirza tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Kalau ada yang salah dibenarkan." Femila menyerah untuk memulai membaca doa.
Memulainya dengan membaca ta'awudz, basmallah, surat Al muawwidzat (An Nash, Al Falaq, dan Al Ikhlas) terakhir baca doa mau tidur.
Amin.
"Tidak ada yang salah Ustadz?" Tanya Femila dengan senyum yang mengembang karena berhasil menyelesaikan bacaannya.
"Banyak."
Senyum itu langsung dia tarik dari sudut bibirnya, "Kenapa tidak Ustadz benarkan?" Suara Femila melemah.
"Butuh belajar untuk membenarkan bacaan yang fasih. Dari segi tajwid dan mahrijul huruf."
"Kapan-kapan ajari saya Ustadz."
Ustadz Mirza langsung tersenyum sumringah. "Insya Allah."
"Besok malam tidak ada saya di ranjang ini, kamu sudah hafal bacaan doanya. Jangan lupa selalu kamu baca sebelum tidur."
"Hmmmm." Dengung Femila.
Femila membuka selimutnya, tangannnya bergerak akan melepas kaki palsunya.
"Biar saya." Ucap ustadz Mirza langsung membantu Femila melepas kaki palsunya.
"Terima kasih Ustadz."
"Masih nyeri?" Tanya ustadz Mirza karena Femila mengoleskan salep pereda nyeri di bekas kaki yang diamputasi.
Femila mengangguk.
"Konsultasikan ke dokter Wisnu lagi."
"Besok saya ke sana."
Ustadz Mirza terdiam. Setiap check up dia selalu menemani Femila namun kali ini dia harus pergi ke pesantren. "Mama bisa nemenin?" Tanya ustadz Mirza merasa khawatir kalau Femila pergi sendiri.
"Ya, saya sudah minta tolong mama buat nemenin."
"Kamu jangan terlalu banyak gerak atau angkat berat-berat."
"Maaf, kemarin terpaksa mindahin beberapa buku dari rak."
Ustadz Mirza mengelus pucuk kepala Femila, tidurlah.
Sontak Femila kaget, tangan ustadz Mirza yang menempel di pucuk kepalanya seperti sengatan listrik bermuatan kecil, tidak mematikan tapi menimbulkan rasa.
Femila langsung menarik selimutnya, "Saya mau tidur." Ucap Femila dengan cepat.
...****************...
"Loh kenapa bawa barang sebanyak ini? Pakai bawa koper segala kaya mau pindahan. Kita mau check up ke dokter Wisnu kan?" Heran mama Anita.
"Memang mau pindah ke rumah mama."
"Ini bocah, gendeng apa?"
"Mama bawel banget. Cepetan keburu antriannya semakin banyak."
"Terima kasih Pak Rohim." Ucap Femila setelah pak Rohim memasukan dua koper milik Femila ke mobil mamanya.
"Ya Non." Jawab pak Rohim.
Mobil pun melesat ke klinik dokter Wisnu.
__ADS_1
Setelah beberapa jam melakukan chek up. Mereka langsung tancap gas ke rumah, sampailah mereka berdua di rumah mama Anita.
"Oh kamarku." Femila langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
Mama Anita masih besengut karena tidak tahu maksud anaknya bawa dua koper pulang ke rumah di saat suaminya tidak di rumah.
"Sekarang mama minta penjelasan dari kamu!"
"Mama kalau cemberut begitu jelek. Saya capek. Mau istirakhat dulu."
"Fem, mama serius. Kamu nginap di sini izin sama suamimu tidak."
Wajah Femila berubah masam. Namun mulutnya terdiam.
"Ok, mama telepon Nak Mirza, mama izinkan sama dia." Sambung mama Anita.
"Issst... Mama rempong sekali sih. Terserah Mama deh." Gerutu Femila.
Mama Anita langsung menghubungi kontak menantunya. Namun beberapa kali panggilan tidak tersambung.
"Dia sedang sibuk Ma. Sibuk sama kekasihnya."
Mama Anita langsung tersenyum lebar. "Ya Tuhan...jadi kamu lagi cemburu gara-gara ustadz Mirza ke pesantren mantan kekasihnya?"
"Issst, Mama apaan sih malah ngaco seperti itu."
"Emmm...so sweet sekali sayang." Dua pipi Femila dicubit manja oleh mama Anita.
"Aw aw aw, sakit Ma, sakit." Kesal Femila.
drt
drt
drt
"Nak Mirza." Ucap mama Anita memberitahukan Femila kalau menantunya menghubungi kembali panggilan yang sempat tak terjawab.
"Waalaikum salam. Ya Nak, maaf mama mengganggu."
"Ada apa Ma?" Tanya ustad Mirza dari sebrang sana.
Mata Femila langsung membulat begitu mendengar ucapan mamanya.
"Ini Femila mau bicara." Sambung mama Anita tapi sebelum ponsel diserahkan ke Femila mama Anita sudah mengalihkan panggilan ke video call dan ustadz Mirza menerima pengalihan panggilan itu.
Ponsel itu sudah disodorkan mama Anita dekat muka Femila, jadi mau tidak mau Femila menerima ponsel itu.
Ustadz Mirza langsung tersenyum menatap wajah yang katanya sudah sah menjadi istrinya.
"Jangan dengarkan omongan mama." Ucap Femila dengan nada kesal dan wajah cemberut.
"Iya." Jawab ustadz Mirza masih tersenyum pada wanita di sebrang sana.
"Assalamualaikum." Femila langsung mematikan video call itu.
"Eh eh, kenapa langsung di matikan." Heran mama Anita.
"Ya Tuhan...gaya pacaran anak mama ternyata lucu sekali, so sweet bangeddddddd." Ledek mama Anita sambil menerima ponsel yang disodorkan Femila.
"Sudah selesai Ma." Jawab Femila.
Mama Anita masih tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Selamat Istirahat sayang."
"Hmmmm."
Mama Anita melangkah keluar. "Jangan lupa memimpikan suamimu." Ledek mama Anita sebelum menutup pintu kamar.
"Mama berisik!" Teriak Femila.
Mama Anita terkekeh mendengar teriakkan anaknya.
Femila kemudian masuk ke kamar mandi, membersihkan diri bersiap-siap untuk istirakhat malam.
Kedua kakinya sudah naik ranjang. Tangannya mulai melepas kaki palsu yang seharian ini melekat di tubuhnya.
Bibir Femila tersenyum tipis, mengingat ustadz Mirza yang selalu membantunya melepas kaki palsu itu sebelum tidur. Namun dengan cepat pula tubuhnya bergidik sendiri mengingatnya. Tubuhnya mulai direbahkan, matanya mulai dipejamkan.
"Kita berdoa dulu."
"Ya." Jawab Femila masih dengan memejamkan matanya. Namun suara ajakan itu lenyap bak tertelan angin.
__ADS_1
Femila menoleh ke samping tempat tidurnya.
"Tidak mungkin kan saya berhalusinasi?" Gumam Femila.
"Itu ustadz apakah menghantui saya? Dia kan belum meninggal?" Femila membuang napasnya dengan kasar. Kemudian dia mulai berdoa dan lamat-lamat masuk ke alam mimpi.
Malam mulai menampakkan kesunyian. Bumi terus berputar tanpa henti hingga sang subuh datang menembus malam yang panjang.
"Subuh...bangun, salat." Pundak Femila merasa ditepuk.
"Hmmmm." Femila hanya berdengung dan menggeliatkan tubuhnya.
"Bangun." Lagi-lagi pundak itu ditepuk.
Terpaksa Femila membuka matanya bulat-bulat, matanya mengedar ke suara dan tepukan di pundaknya. Femila langsung bangun terperanjat. "Apa saya berhalusinasi lagi? Ya Allah!" Femila langsung bangkit mengambil kruk yang ada di samping ranjang. Ke kamar mandi untuk mandi dan setelah itu entah kenapa tangannnya bergerak untuk mengambil air wudu.
"Sejuk sekali air wudu itu." Batin Femila matanya memandang lemari yang ada di kamarnya dan kakinya melangkah membuka lemari itu. Tangannya terus menyibak mencari mukena dan sajadah sasarahan pernikahannya. Femila tersenyum ketika mendapati itu.
"Salat itu menentramkan non." Tiba-tiba suara Aliyah berdengung di telinganya. Femila tersenyum.
Bismillahirrahmanirrahim...dua salam telah mengakhiri dua rakaat yang dia tunaikan.
Waktu terus berjalan, pagi siang, dan sore telah tiba.
Femila sudah duduk di sofa ceo room PT Perkasa Bintang. Andra dan Mario menemaninya duduk. Sedikitpun Mario tidak boleh beranjak dari tempat itu.
"Jangan alasan Mario! Kamu tetap di sini." Pinta Femila ketika pantat Mario beranjak dari duduk dan melontarkan kata izin untuk ke toilet.
Andra tersenyum menanggapi itu. "Apa begitu takutnya kamu ditinggal berdua dengan saya?"
"Yang jelas saya sudah bersuami. Saya tidak ingin rumor di luar bertebaran dan mengusik rumah tangga saya." Ucap Femila yang jelas berbeda dengan hatinya.
Lagi-lagi Andra tersenyum menimpali ucapan Femila.
"Apa begitu besar cintamu pada suamimu?"
Mata Femila menatap lekat mata Andra. Sekejap beradu pandang namun Andra lebih memilih mengedarkan pandangannya ke sembarang pandang.
Rasanya sangat perih ketika beradu tatap dengan wanita yang masih singgah di hatinya dan tatapan wanita itu seperti menabuh perang dengannya.
"Berkasnya sudah anda tanda tangani kan." Femila menarik berkas yang dipegang Andra.
"Terima kasih." Sambung Femila kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
Andra menatap Mario dagunya mengisyaratkan agar dia mengikuti Femila sampai ke bawah.
"Saya antar pulang Non." Tawar Mario, walaupun dia tahu penolakan pasti yang dia terima.
"Saya sudah pesan taksi on line." Jawab Femila sesuai prediksi dari Mario.
Femila menatap pandangannya ke arah pintu masuk gedung. "Oya, Mario. Waktu itu kamu mau bicara tentang apa?"
Mario gugup, "Waktu kapan Non?" Retoris Mario.
"Masa kamu lupa. Terakhir saya ke sini."
Mario tersenyum gugup. "Apa ya Non? Saya kok lupa?"
Femila mencibirkan bibirnya, menatap curiga pada sosok Mario yang otaknya cerdas dan tidak mudah lupa akan suatu hal.
bip
Sebuah mobil berhenti di depan Femila.
"Dengan mbak Femila?" Tanya pengemudi itu.
"Ya." Jawab Femila.
"Lupakanlah. Lama di Kalimantan, kamu jadi tulalit." Ledek Femila lalu masuk ke dalam mobil.
Mario tersenyum menanggapi ucapan dari Femila.
Setelah mobil itu pergi, Mario membalikkan tubuhnya melangkah ke lantai dua puluh tempat ceo room bertahta.
"Maaf kan saya Non, terpaksa saya harus diam karena pesan dari nyonya Rima, saya tidak boleh ikut campur urusan kalian." Batin Mario.
🌹Terkadang cinta datang cukup sekali pandang, terkadang cinta datang tanpa diundang, dan terkadang pula cinta datang perlu beberapa kali undangan. 😍🥰🏃
Jangan lupa like, komen biar authornya kenal dengan kalian.😍❤️🙏
Suarakan kalian yang suka dengan Ustadz Mirza atau Andra.
__ADS_1