KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 35


__ADS_3

Ustadz Mirza masih terdiam membaca dengan seksama lembar kertas untuk materi kajian Islam. Namun telinganya mendengar dengan jelas apa yang disampaikan Habibi.


"Saya membaca status itu, tidak lama setelah itu Hana mengirim pesan, mengucapkan selamat untuk pernikahan saya dan memberi doa." Ustadz Mirza bersuara.


"Balasan Ustadz?"


"Saya tidak membalas."


"Kenapa tidak dibalas?"


"Takut saya salah ketik malah menimbulkan fitnah."


"Ustadz harus tegas! Tulis yang seharusnya Ustadz tulis, sesuai dengan hati Ustadz dan yang terpenting sesuai dengan syariat Islam."


Ustadz Mirza tersenyum mengangguk.


"Non Femila dan Aliyah sudah bangun belum ya?" Habibi mengalihkan pembicaraan kemudian melangkah akan pergi membiarkan ustadz Mirza merenungi setiap kata yang dia lontarkan.


"Saya di sini." Ucap Aliyah yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


Habibi sontak kaget. "Sejak kapan kamu di situ bocer."


"Baru saja, dan baru saja pula saya mendengar nama saya disebut. Tentang apa, sampai nama saya ikut disebut?"


"Satu lagi, tadi kamu sebut aku bocer?" Cecar Aliyah.


"Bocah Cerewet."


Aliyah langsung memanyunkan bibirnya dengan menatap tajam ke arah Habibi dan tangan mengepal seolah akan meninju Habibi.


Habibi hanya terkekeh melihat ekspresi Aliyah.


"Kita salat berjamaah. Cepat." Habibi keluar ruangan dan Aliyah mengekor Habibi masih dengan perasaan yang kesal.


"Jangan lama-lama Ustadz, kita tunggu di ruang salat." Agak teriak Habibi.


Terima kasih Hana untuk ucapan dan doanya. Maafkan atas segala Khilaf yang saya lakukan padamu. Semoga kamu bahagia dengan jalan hidup yang Allah takdirkan untukmu.


Pesan itu berhasil dikirim ke nomor Hana.


Ustadz Mirza bangkit dari duduknya dan melangkah ke ruang samping. Mengecek apakah istrinya masih tidur di sana.


Senyum mengembang dari wajah ustadz Mirza ketika melihat wajah yang cantik dengan sedikit polesan make-up itu masih memejamkan matanya.


"Fem, Femila," ustadz Mirza menepuk halus pundaknya.


Femila mulai membuka matanya, perlahan, perlahan, kini matanya membulat penuh bahkan nyaris melotot ketika yang terlihat di hadapannya adalah ustadz Mirza dan...


Brug


Tubuh itu terjatuh dilantai karena Femila kaget dan dengan reflek memposisikan diri untuk bangkit namun sekali lagi, dia lupa kakinya sekarang hanya satu.


Ustadz Mirza langsung membantu Femila bangkit dan mendudukkannya kembali di kursi.


"Ceroboh! Dua kali saya mendapati kamu jatuh seperti ini! Kita salat berjamaah sudah ditunggu sama yang lainnya." Ucap ustadz Mirza kemudian langsung berlalu dari hadapan Femila.

__ADS_1


Femila masih mematung, mengutuk kecerobohannya satu hal lagi mengutuk diri sendiri karena membiarkan ustad Mirza menyentuh lengannya dan mendudukkannya seperti maneken (boneka manusia seluruh tubuh atau setengah badan yang dipakai sebagai model untuk memperagakan busana di toko) yang kaku.


"Dua kali? Maksud ustadz, pertama kalinya?" Gumam Femila dan otaknya memutar memori.


"Ups!" Femila membungkam mulutnya sendiri. "Di rumah makan itu." Jawab Femila sendiri.


"Lama sekali Non." Tanya Aliyah mendekat ke Femila karena hampir sepuluh menit dia sudah menunggu.


"Silahkan ditinggal saja."


"Kami tunggu Non, kursinya sudah saya taruh di tempat salat. Saya bantu untuk wudu."


"Belum satu hari sama dia kenapa hidup saya seolah diatur olehnya?" Batin Femila.


"Non, kok malah bengong?"


Femila pasrah, berjalan mendekat ke arah tempat wudu yang sudah didesain ramah untuk penyandang difabel.


Selesai wudu dia memposisikan diri di kursi yang sudah disediakan di tempat salat itu.


Jujur Femila merasa bingung. Ini adalah yang pertama kali semenjak puluhan tahun yang lalu. Ya, salat, dan salatnya sekarang dengan posisi duduk bertambah bingung lah dia.


"Non Femila tinggal ikuti saja gerakan imam dalam posisi duduk." Bisik Aliyah seakan mengerti kebingungan nonanya.


Femila mengiyakan bisikan Aliyah dalam mode diam.


Allahuakbar


Terdengar imam sudah mulai takbir. Semua bersiap menghadap sang Illahi menjalankan kewajiban yang harus dilakukan setiap orang yang beriman.


Assalamualaikum warahmatullah. Assalamualaikum warahmatullah.


Setelah dzikir singkat salat jamaah itu diakhiri. Tanpa sepengetahuan Femila ada sepasang mata yang menatapnya tajam kemudian mengembangkan senyum.


Femila membuka mukenanya, Aliyah membantu melipat mukena itu.


"Kita makan siang Non." Ucap Aliyah.


"Ya."


...****************...


Femila duduk bersandar di ranjang tidur. Jarinya lincah di atas layar ponsel. Sesekali tersenyum dan tertawa sendiri membaca layar ponselnya.


Ustadz Mirza yang duduk di sofa kamar tidur juga terlihat fokus menatap layar ponselnya. Bedanya dia selalu mengerutkan dahinya dan sesekali memijat pelipisnya.


"Waalaikum salam. Saya usahakan dalam Minggu ini bahan bakunya ada. Memang bahan baku masih langka di pasaran. Ya, saya mengerti. Terima kasih. Wassalamu'alaikum. Ustadz Mirza menutup ponselnya.


Mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menatap Femila yang masih asik dengan dunianya. Diam, kemudian mulai membuka mulutnya.


"Boleh bertanya?"


Femila yang tadinya senyum-senyum sendiri menarik senyumannya. "Ustadz bertanya pada saya?"


"Kenapa setiap saya bertanya kamu melempar balik pertanyaan."

__ADS_1


"Mau tanya apa?"


"Tadi siang ngapain saja dengan Aliyah, selain duduk membaca?" Tanya ustadz Mirza agak ragu.


Femila menatap roman keraguan dibalik pertanyaan ustadz Mirza. "Apa ustadz lupa, tadi siang saya ngapain? Bahkan pinggang saya masih terasa sakit gara-gara tadi siang ustadz mengganggu tidur nyenyak saya."


Ustadz Mirza tersenyum.


"Ada yang lucu sampai ustadz tersenyum seperti itu?"


Ustadz langsung menarik senyumnya, hanya terlihat tipis karena peristiwa tadi siang terlintas dalam memori ustadz Mirza bagaimana Femila tersentak kaget hingga akhirnya jatuh.


"Tadi sore mama Anita telepon."


"Mama telepon? Bicara apa?"


"Katanya besok mau main ke sini."


"Hanya itu?"


Ustadz Mirza mengangguk. Namun dalam hatinya bersuara. "Dia ingin segera punya cucu. Tapi bagaimana menyampaikan ini pada kamu. Sangat tidak mungkin."


"Mengapa tidak menelepon saya." Gumam Femila namun masih bisa didengar ustadz Mirza


"Tentang asisten baru, apa tidak ada pilihan yang lain selain dia?" Tanya Femila.


"Apa kamu tidak suka dengan Aliyah?"


"Kenapa langsung menyimpulkan saya tidak suka dengan dia."


"Dia kandidat terbaik." Jawab ustadz Mirza. "Karena Aliyah menjadi kandidat satu-satunya maka tidak salah kalau Aliyah disebut kandidat terbaik." Sambungnya dalam hati.


"Kamu sebut kandidat terbaik, bilang saja dia kandidat satu-satunya." Ucap Femila yang sontak membuat ustad Mirza susah menelan salivanya.


"Bagaimana bisa dia tahu isi otak saya." Gumamnya dalam hati.


"Dia mahasiswa Kamu?"


"Ya, sekarang sedang pengajuan skripsi."


"Mengapa malah kerja. Itu kan bisa menyulitkan dia."


"Butuh kerja."


"Kamu sangat kenal baik dengan dia."


"Dia temannya.." Jawab spontan ustadz Mirza namun kalimatnya kini menggantung.


"Temannya Hana, kekasihmu?" Femila menyambung ucapan ustadz Mirza.


Ustadz Mirza tersenyum menggeleng mendengar ucapan Femila.


"Sepertinya kamu tahu banyak tentang kehidupan saya."


Skakmat. Kalimat itu membuat Femila mati kutu, tapi bukan Femila kalau dia tidak berusaha untuk memenangkan perdebatan.

__ADS_1


"Mengapa tidak sekalian kekasih kamu yang dijadikan asisten saya."


"Kalau dia yang jadi asisten, apa nantinya kamu tidak takut kalau ada poligami?" Ustadz Mirza menekan kata poligami sengaja menggoda Femila.


__ADS_2