KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 70


__ADS_3

Ustadz Mirza tersenyum menanggapi diamnya Femila. Tangan satunya malah terulur di bawah kepala Femila menjadi bantalan tidur. "Kalau seperti ini, apa kamu keberatan?"


Femila ambil langkah diam, masih dalam mode pura-pura tidur.


"Diamnya kamu berarti tidak keberatan." Bisik usatdz Mirza di telinga Femila.


Ustadz Mirza mulai memejamkan matanya, lamat-lamat mulai terdengar desiran napas yang teratur. Berbanding terbalik dengan wanita yang ada dalam dekapannya. Jantungnya masih berdebar dengan ritme yang tidak teratur.


"Ustadz, dengan mudahnya kamu tidur. Sementara aku?" Batin Femila melontar tanya untuk sendiri.


Sedikit demi sedikit tubuhnya berputar menghadap ke arah Ustadz Mirza. Matanya kini menatap lekat lelaki yang katanya sudah sah menjadi suaminya.


"Maaf Ustadz, aku belum bisa katakan apapun pada kamu mengenai kejadian siang tadi." Gumam Femila.


Jari telunjuknya kini menelusuri hidung mancung lelaki yang di hadapannya. Desir napas ustadz Mirza terasa menghangat di muka Femila.


"Hidung kamu panjang Ustadz," telunjuk itu turun ke bibirnya. "Bibir kamu juga seksi. Walaupun tanpa pewarna bibir tapi tidak terlihat hitam," lirih Femila. Rahang yang telah ditumbuhi bulu halus juga tak tertinggal dari jamahan telunjuknya.


Tiba-tiba telunjuk itu digenggam erat lelaki yang merasa dijamahnya. Femila tersentak kaget. Apalagi wajah itu kian mendekat ke arah Femila dan...


Satu kecupan mendarat di bib*r Femila. Mata Femila terbelalak mendapat serangan dadakan itu. Namun tangannnya terlihat pasrah dalam genggaman lelaki yang katanya sudah sah menjadi suaminya.


Tidak lama pungutan itu dilepas ustadz Mirza, matanya tetap terpejam tanpa terbuka sedikitpun.


Femila langsung ambil posisi memunggungi ustadz Mirza, menggeser tubuhnya walaupun kepalanya masih bersandar di tangan ustadz Mirza. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ritmenya semakin tidak terkontrol. Tangan Femila memegang dadanya, berharap jantung itu kembali normal.


Ustadz Mirza menarik tubuh yang menjauh darinya, mendekapnya dan berbisik di telinga wanita yang kini terdekap sempurna, "Tetaplah seperti ini."


Femila hanya diam. Mulutnya kaku untuk menjawab bisikan itu. Tangannya masih memegang jantungnya yang kian tidak karuan.


"Ya Tuhan, perasaan macam apa ini?" Tanya batinnya kembali tanpa sebuah jawaban.


...****************...


"Hari ini biar saya yang antar."


"Tidak usah Ustadz," jawab Femila spontan.


Sikap Femila terlihat kaku mengingat kejadian tadi malam yang menimpanya. Matanya juga terlihat seperti mata panda karena tadi malam benar-benar tidak dapat tidur dengan nyenyak. Bagaimana bisa nyenyak sementara jantungnya terus saja terpompa melebihi kapasitas normalnya.


"Issst benar-benar menjengkelkan! Bagaimana bisa dia bersikap tak acuh seperti itu!" Gerutu Femila dalam batinnya menatap wajah lelaki yang melangkah ke parkiran.


"Masuklah." Ustadz membuka pintu mobil.


"Kenapa memaksa sih." Femila terlihat memonyongkan bibirnya.


"Jangan dimonyongkan seperti itu. Apa sengaja kamu memancingku?"


Femila menelan salivanya dengan susah.


Ustadz Mirza tersenyum melihat tingkah Femila kemudian menutup pintu mobil itu.


"Aliyah langsung ke kantor," ujar ustadz Mirza setelah melajukan mobilnya.


"Kalau ada orang yang mencurigakan, kamu cepat hubungi saya." Sambung ustadz Mirza.


"Hmmmm," dengung Femila.

__ADS_1


Mobil itu terus melaju dan sampailah di kantor PT Garuda Semen Nasional.


Ustadz Mirza langsung keluar membukakan pintu mobil. Femila keluar, pamit mencium punggung tangan lelaki yang katanya sudah sah menjadi suaminya.


Tangan ustadz Mirza tidak langsung melepas genggaman tangan itu. Mendekat ke Femila.


cup.


Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Femila.


"Masuklah," pinta ustadz Mirza setelah melayangkan sebuah senyuman dari wajahnya.


"As-asalamualaikum..." ucap Femila masih terkejut dengan perlakuan ustadz Mirza barusan. Kakinya kemudian melangkah masuk ke gedung perkantoran.


"Waalaikum salam," jawab ustadz Mirza masih dengan senyum yang tergambar di wajahnya.


Femila mendudukan pantatnya di kursi kerjanya.


"Issst...ustadz Mirza! Beraninya kamu!" Gerutu Femila sambil meraup kasar wajahnya. Membuang kasar napasnya.


Tangan Femila meraih laptop yang ada di depannya kemudian membukanya.


"Assalamualaikum Non...Maaf saya telat, di pertigaan depan macet, ada kecelakaan.


"Kecelakaan?"


Aliyah mengangguk, "Sepertinya mobil dan truk."


"Baru kejadian?"


"Sepertinya ya."


"Kenapa tidak diangkat?" Cemas Femila sambil memencet kembali nomor tersebut. Namun tidak pula tersambung. Baru ketiga kalinya tersambung.


"Ustadz."


"Waalaikum salam..."


"Ya, assalamualaikum... Ustadz masih di jalan?"


"Kenapa? Apa ada yang ketinggalan?"


Femila membuang napasnya lega.


"Tidak, waalaikum salam." Femila langsung menutup teleponnya.


Sedangkan yang di sebrang sana menjawab salam dan bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Kenapa dengan dia?" Ujarnya.


"Jadi Non khawatir kalau yang kecelakaan itu ustadz Mirza?" Tanya Aliyah.


"Iyalah, kamu bilang kecelakaan itu baru saja terjadi dan ustadz Mirza juga baru saja melajukan mobilnya," jawab Femila namun mulutnya langsung dia bungkam sendiri.


Aliyah tersenyum, "Ayo nih...yang mengkhawatirkan suaminya." Goda Aliyah.


Muka Femila merah padam. "Issst...apaan sih Al." Femila kembali fokus laptopnya.


"Maaf Non, saya izin mau mengerjakan skripsi ya. Nanti jam dua ada temu dengan dosen pembimbing."

__ADS_1


"Ya, kamu lanjutkan saja."


Femila mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan kantornya karena jam 09.00 nanti akan rapat dengan departemen produksi. Ada komplain dari klien karena mutu semen yang tidak seperti produksi sebelum.


Satu, tiga, empat. Waktu terus berjalan dan sekarang menunjukkan pukul 11.30. Femila masuk ke ruang kerjanya. Dilihat Aliyah masih sibuk di depan laptop.


"Sudah selesai Non?" Tanya Aliyah tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Ya, Hufft." Femila mendudukkan pantatnya di kursi kerja dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Ada apa Non?" Aliyah menghentikan pandangan dari laptop dan beralih ke wajah nonanya setelah mendengar eluhan nonanya.


"Selalu seperti ini. Sopir pengiriman tidak laporan kalau semen yang mereka angkut kehujanan dan itu tidak hanya satu truk, sampai tiga truk." Tangan Femila menempel di dahinya.


"Yang sabar Non, yang penting beri penjelasan ke klien."


Femila mengangguk, "Saya rasa hanya diberi penjelasan saja klien tidak akan terima. Mungkin mereka minta pemotongan harga." Femila memijit keningnya.


tok


tok


tok


"Masuk," ucap Aliyah.


"Ada kiriman Bu." Ujar OB sambil menaruh bungkusan plastik hitam dan satu tangkai bunga mawar merah.


"Terima kasih ya Mas." Ucap Femila


"Ya, Bu." jawab si OB kemudian keluar dari ruang kerja Femila.


"Dari siapa Non?" Tanya Aliyah.


Femila hanya menggeleng dan menatap intens mawar merah yang dia pegang, biasanya nama pengirim terselip di plastik pembungkusnya tapi kali ini tidak ada apa-apa di situ.


tuling


Satu pesan masuk. Assalamu'alaikum...selamat makan siang istriku tercinta. Bibirnya jangan dimonyongkan begitu, nanti ada yang gemes.


Femila langsung membungkam mulutnya. "Bagaimana ustadz bisa tahu, kalau bibir saya sedang dimonyongkan." Gerutu batin Femila.


"Dia bilang apa! Ada yang gemes! Isstt dasar si mesum!" Batin lagi Femila, kali ini jarinya meraba bibir.


"Kenapa Non" Penasaran Aliyah dengan ekspresi nonanya yang berubah-ubah.


"Dari penggemar Non?" Cecar Aliyah.


"Apa perlu saya buang saja bungkusannya?"


"Kita makan," ucap Femila sambil meraih bungkusan makanan yang akan di buang Aliyah.


Aliyah tersenyum. "Padahal saya tahu Non, itu makanan dan bunga dari ustadz Mirza. Dia kan kirim pesan kalau saya dan non Femila jangan keluar kantor karena ustadz Mirza akan kirim makan siang buat kita." Batin Aliyah.


#pengen baper-baperan dulu dengan ustadz Mirza dan Femila.


like, komen, komen, komen yang mau nitip salam buat ustadz Mirza atau Femila saya tunggu muncul di kolom komentar.

__ADS_1


kasih vote ya.🥰😍jangan lupa rate 5bintangnya dipencet.🤗


__ADS_2