
"Saya izin mau kembali kerja." Kalimat itu lolos dari mulut Femila.
Ustadz Mirza terdiam sejenak. "Tetaplah di rumah saja." Jawab ustadz Mirza kemudian.
"Saya bosan setiap hari seperti ini." Ucap Femila dengan tenang walaupun hatinya sebenarnya ingin meronta atas permohonan izin yang ditolak oleh ustadz Mirza.
Ustadz Mirza masih belum memberi respon.
"Kembali kerja di kantor kamu?" Tanyanya kemudian.
"Ya."
Femila masih menunggu jawaban dari ustadz Mirza. Namun yang ditunggu masih diam menyibukkan diri dengan ponselnya.
Mode diam. Diam. Diam. Sampai suara Habibi menelusur di antara kebekuan bukit es yang sama-sama dingin.
"Assalamualaikum." Suara itu hanya tercekat sampai di situ melihat dua orang yang duduk di kursi saling diam. Canggung.
"Wassalamu'alaikum salam." Jawab lirih keduanya.
"Habibi, ke ruang kerja, ada yang akan saya sampaikan." Ucap ustadz Mirza bangkit dari duduknya. Habibi pun mengekor langkah ustadz Mirza.
"Coba cek lagi bahan baku rotan yang ada di pasar tradisional. Permintaan kerajinan meningkat tapi bahan bakunya sulit di cari." Ucap ustadz Mirza begitu duduk di ruang kerjanya.
"Saya akan menghubungi bos tengkulak nya Ustadz."
"Saya tunggu konfirmasinya."
"Bahan baku kayu yang kemarin Ustadz minta sudah terpenuhi?"
"Sudah, masih proses pengiriman lagi."
"Ustadz, sepertinya... tadi ada perang dingin. Kenapa wajah kalian terlihat beku semua?" Alihkan pembicaraan.
"Saya panggil kamu untuk bekerja bukan untuk ghibah."
"Penasaran saja Ustadz, tadi pagi kayaknya hubungannya ada kemajuan. Sekarang kok terlihat ada pertengkaran.
"Sudah kamu hubungi orangnya?"
"Belum nyambung Ustadz."
Hampir satu bulan ini Sidiq, orang yang mengelola perusahaan kecil milik ustadz Mirza tidak dapat bekerja karena kecelakaan yang menimpanya. Sehingga ustadz Mirza harus turun tangan untuk mengurus pemasokan bahan baku atau memilih produk kerajinan yang akan diambil barang produksinya. Untung beberapa pengrajin dan pemasok bahan bakunya kenal dekat dengan ustadz Mirza sehingga mempermudahnya hanya lewat sambungan telepon maupun sosial media sudah bisa di handle.
"Saya sudah tinggalkan pesan, kalau terbaca nanti langsung menghubungi saya."
"Femila minta izin untuk bekerja kembali." Ucap ustadz Mirza menjawab pertanyaan Habibi yang tertunda.
"Saya tidak heran. Pasti dia bosan di rumah, dia terbiasa bekerja."
"Saya juga sudah menduga itu."
"Apakah tadi pagi acara cium tangan adalah bentuk rayuan agar Ustadz mengizinkannya bekerja?"
Ustadz Mirza tersenyum, kemudian mengangguk pelan. "Mungkin," jawabnya kemudian.
"Saya kira ingin membuka pintu hatinya untuk Ustadz."
"Ustadz tidak mengizinkan?" Sambung Habibi.
"Takutnya Femila mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari atasan maupun rekan kerjanya karena kondisi fisiknya yang sekarang." Jelas ustadz Mirza.
"Apakah bentuk perhatian yang ini berarti hati Ustadz sudah terbuka untuk Femila?"
"Saya sudah berjanji pada orang tuanya untuk menjaga Femila."
"Apakah hanya itu?"
"Maunya kamu apa?"
"Seperti janji Ustadz juga, akan mencoba mencintai Femila kalau sudah menjadi istri Ustadz."
"Menurut kamu apakah saya tidak berusaha?"
Habibi merekahkan senyum. "Kurang greget Ustadz." Goda Habibi.
Ustadz Mirza menatap tajam ke arah Habibi.
__ADS_1
"Saya juga greget pingin nimpuk kamu pakai sandal. Buruan salat jamaah Magrib."
Habibi terkekeh. Kemudian melangkah mengekor ustadz Mirza.
Sudah tiga jam lebih Femila mogok bicara.
Ustadz Mirza terasa canggu membuka pembicaraan dengan Femila. Namun dia tidak ingin melihat Femila hanya terdiam seperti itu. Dia naik ke atas ranjang memposisikan bersandar senyaman mungkin.
"Saya minta maaf." Kata itu akhirnya lolos setelah melalui tahap menimbang, memilah dan memutuskan.
Femila masih diam belum menyahuti.
"Bagaimana kalau saya tetap tidak mengizinkan kamu kerja?"
Masih diam. Tidak ada sahutan dari lawan bicara.
Ustadz Mirza menelan salivanya dengan susah. "Apa begini susahnya merayu istri yang merajuk?" Batin ustadz Mirza.
"Mengapa menakutkannya lebih dari harimau yang mau mencengkram mangsa." Masih di batin tidak mungkin diutarakan pada Femila bisa-bisa beneran dicengkeram ustadz Mirza.
"Kalau saya mengizinkan..."
"Itu yang saya minta." Jawab singkat Femila.
Ustadz Mirza masih menggantung kalimatnya namun langsung disambar jawaban dari Femila.
"Ada syarat."
"Cepat katakan tidak perlu basa-basi."
"Mengenai kondisi kamu."
"Kenapa dengan saya yang cacat." Tanya Femila dengan menahan sesak mengatakan kata cacat.
"Jangan pernah ambil hati kalau ada yang menyinggung keadaan kamu."
"Jadi ini yang membuat Ustadz tidak mengizinkan saya?"
"Salah satunya."
"Yang lainnya?"
"Apalagi?"
"Kalau kamu diam cemberut wajah kamu jadi jelek dan menakutkan."
Femila terdiam sejenak. "Itu artinya Ustadz memuji kalau saya cantik."
"Kalau kamu mau mengartikan seperti itu silahkan."
Femila menarik sudut bibirnya terlihat senyum tipis dari raut wajahnya.
"Akan saya ingat syarat-syarat yang Ustadz ajukan." Ucap Femila dengan pancaran senyum yang terlewat manis karena sudah mendapat restu dari suaminya.
"Harusnya seperti itu."
"Selamat malam." Ucap Femila menarik selimut dan memejamkan mata.
"Kita berdoa bersama sebelum tidur." Ajak ustadz Mirza.
Femila membuka matanya, ustadz menatap Femila. "Kamu ikuti yang saya baca." Tuntun ustadz Mirza.
Femila mengangguk dan mulai ikut membaca surat Al muawwidzat dan doa akan tidur.
...****************...
"Saya berangkat dulu. Assalamualaikum." Femila meraih tangan ustadz Mirza dan mencium punggung tangannya.
Ustadz Mirza merasa heran untuk kedua kalinya Femila mencium tangannya tanpa dipaksa, kemudian membalas salam Femila yang jarang dia dengar dari mulut Femila.
"Anggap saja ritual cium tangan ini sebagai ucapan terima kasih karena Ustadz sudah mengizinkan saya kerja kembali."
"Ok. Saya terima balasan terima kasih dari kamu."
Ustadz Mirza membuka pintu mobil yang akan dinaiki Femila. Aliyah yang sudah menunggu di dalam mobil membantu mengambil kruk yang dipakai Femila. Setelah pintu mobil ditutup, Habibi melajukan mobilnya masuk ke jalan raya.
Femila sampai di parkir kantor PT Garuda Semen Nasional. Dua bulan sudah dia tidak menginjakkan kakinya di kantor ini sekarang hanya satu kakinya yang bisa berpijak membawanya ke ruang yang dulu dia tempati.
__ADS_1
"Femila." Teriak Silla langsung menghambur memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Jadi Marketing executive baru itu kamu?" Kaget Silla.
Femila tersenyum mengangguk.
"Silahkan masuk ke ruang kerja kamu yang baru. Beneran kaya mimpi bisa kerja bareng sama kamu lagi Fem."
"Thank's sahabatku yang baiknya paripurna."
"Terima kasih atas pujianmu." Silla kembali memeluk sahabatnya.
"Saya juga tidak menyangka bisa kembali kerja."
"Ustadz tampan itu mengizinkan kamu?"
Femila mengangguk.
"Baik juga dia." Silla tersenyum.
"Taruh di mana Non?"
Silla memandang ke arah sumber suara. Dari tadi dia acuh dengan sesosok yang menguntil langkah Femila. Saking girangnya bertemu dengan sahabatnya jadi Silla tidak terlalu memedulikan selain Femila.
"Dia siapa Fem?" Tunjuk Silla.
"Asistenku."
"Assalamualaikum Kak." Sapa Aliyah pada Silla.
"Waalaikum salam. Silla." Silla mengulurkan tangan setelah menjawab salam dan memperkenalkan diri.
"Aliyah." Jawab Aliyah dan membalas uluran tangan itu.
"Idih keren, baru kerja langsung dapat asisten."
"Asisten pribadi dari ustadz Mirza."
"Wau...makin keren. Dia perhatian juga sama kamu."
"Tidak begitu juga."
"Eh, sampai lupa. Tadi Sekretaris pak bos bilang kalau Marketing Executive datang suruh ke ruangnya.
"Ok. Saya langsung ke ruangan beliau."
"Kamu di sini saja Al, sembari bebenah ruangan dan barang bawaan saya."
"Ya Non." Jawab Aliyah yang masih irit bicara karena masih canggung di habitat yang baru.
Ketika jalan melewati ruang bagian marketing, Femila menyapa sahabat-sahabat lamanya walaupun ada sebagian yang baru di bagian marketing tetap Femila sapa dengan senyum.
"Apa kabar kalian semua."
"Hai, Femila, Kabar baik, Hallo say, Kangen kamu Fem, makin cantik, Nona cantik, pagi Femila, selamat datang, selamat bergabung kembali." Berbagai sapaan menyapa kedatangan Femila.
"Pagi Pak." Sapa Femila begitu masuk ruangan.
"Pagi Femila. Lama tidak bertemu." Balas ceo PT Garuda Semen Nasional.
Ceo berpawakan bantet dengan perut membuncit itu mempersilahkan duduk pada Femila.
"Pak Freddy memanggil saya?"
"Ya, tadi saya menyuruh sekretaris saya untuk memanggil kamu. Bagaimana perasaan kamu kembali bekerja di sini?"
Femila tersenyum, "Tentunya senang Pak."
"Dua bulan ini saya pusing, Marketing Executive nya kurang berpengalaman, tidak selincah dan sepandai kamu. Tidak ada peningkatan penjualan sama sekali bahkan Minggu terakhir ini mengalami penurunan karena salah satu partner bisnis kita tidak memperpanjang kontrak. Nah! Tugas kamu sekarang harus memulihkan keadaan semula setidaknya seperti itu." Jelas pak Freddy panjang lebar.
Femila mengangguk. "Saya minta file dua bulan ini pak, untuk bahan pertimbangan."
"Ya, nanti segara sekretaris Aufar untuk mengirimnya. Selamat bergabung kembali dengan PT Garuda Semen Nasional." Pak Freddy mengulurkan tangannya.
Femila membalas uluran tangan itu. "Kalau begitu saya permisi Pak." Pamit Femila.
"Tunggu Femila, yang terpenting perpanjangan kontrak dengan PT Perkasa Bintang harus kita dapatkan."
__ADS_1
Femila terdiam.