KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 36


__ADS_3

"Kalau dia yang jadi asisten, apa nantinya kamu tidak takut kalau ada poligami?" Ustadz Mirza menekan kata poligami sengaja menggoda Femila.


"Tunggu akta kematian atau surat perceraian saya." Tegas Femila.


Ustadz Mirza tersenyum mendengar jawaban Femila. Dia masuk ke kamar mandi tidak lama dia keluar dari kamar mandi, naik ke ranjang tidur.


."Simpanlah." Ustadz Mirza menyodorkan sebuah kartu yang dia ambil dari laci nakas jati yang ada di samping ranjang.


Femila menerima kartu debit yang disodorkan ustadz Mirza.


"Passwordnya tanggal pernikahan kita."


"Selamat malam Femila." Sambung ustadz Mirza yang mulai memejamkan matanya setelah sekelumit doa dia panjatkan.


"Hmmm."


...****************...


Selepas magrib orang tua Femila sampai di rumah ustadz Mirza. Mama Anita langsung sibuk menata hidangan untuk makan malam dibantu mbak Anik. Menu andalan udang manis asam pedas sudah tertata di ovale plate dan menu lainnya juga tertata rapi di atas meja yang memanjang itu.


"Femila melahap makanannya dengan lahap."


"Sayang, apa suami kamu tidak memberi makan? Kamu makannya kaya orang kelaparan." Ucap mama Anita.


Femila tidak mempedulikan omongan mamanya, mulutnya tetap saja mengunyah makanan itu tanpa menyahuti omongan mamanya.


Kepala ustadz Mirza sedikit menoleh ke Femila. Senyum kecil mengembang di sudut bibirnya.


"Jangan-jangan ini tanda kehamilan trimester pertama."


"Uhuk! Uhuk!"


Femila langsung tersedak mendengar ucapan mamanya. Dia lari ketempat wastafle dan berusaha mengeluarkan makanannya.


Ustadz Mirza menyusul memberi pertolongan pertama berdiri dibelakang Femila, mencondongkan tubuh Femila ke depan, setelah itu memberikan lima pukulan dengan tumit tangan di antara kedua tulang belikatnya sampai makanan yang menyumbat itu keluar dari mulut Femila.


Femila membuang napas secara perlahan menyeimbangkan pernapasannya. Setelah dirasa baik dia berjalan kembali ke meja makan. Ustadz Mirza mengekor di belakangnya.


"Minumlah." Ustadz Mirza menyodorkan satu gelas air mineral.


"Pelan-pelan minumnya nanti tersedak lagi." Ucap ustadz Mirza melihat Femila meminum air mineral itu tanpa jeda dan langsung tandas seketika itu.


Mama Anita tersenyum melihat perhatian menantunya kepada Femila.


"Makanya kalau makan jangan tergesa-gesa." Ucap papa Riyan."


"Itu bukan soal makan yang tergesa-gesa Pa, itu karena Femila kaget disinggung soal kehamilannya." Goda mama Anita.


"Ya tidak Nak Mirza?" Mama Anita mencoba membuat mulut ustadz Mirza ikut menyuarakan kata.


Ustadz Mirza hanya tersenyum. Femila terlihat kesal tangannya mengaduk makanan dengan keras agar pembicaraan itu berhenti.

__ADS_1


"Sudah terlambat belum menstruasinya?"


"Jangan ngaco Ma, kita baru menikah satu minggu ini." Jawab Femila masih dengan rona yang kesal.


"Kemarin mama sudah bicarakan sama Nak Mirza biar cepet kasih cucu buat mama dan nak Mirza mengiyakan." Mama menoleh ke arah ustadz Mirza.


Ustadz Mirza langsung pelan mengunyah makanannya. "Siapa yang mengiyakan ucapan mama, kemarin saya hanya diam tidak menyahuti omongan. Apakah berarti diam itu iya." Monolog batin ustadz Mirza.


Femila melirik tajam ke arah ustadz Mirza dan menyenggol siku tangannya. Memberi isyarat agar ustadz Mirza menyangkal omongan mama Anita.


Ustad Mirza menelan makanan yang masih ada di mulutnya. "Benar kata Femila Ma, kita baru satu minggu menikah. Jadi Mama yang sabar ya menunggu cucu-cucu yang lucu dari kami."


Femila membulatkan matanya mendengar apa yang diucapkan ustad Mirza bukannya menyangkal ucapan mamanya malah terkesan mendukung.


"Ahhh...kami sudah sangat tidak sabar, ya kan Pa."


Papa Riyan mengangguk keras. "Cucu pertamanya laki-laki. Biar main bola bersama papa."


"Perempuan saja Pa. Biar bisa nemenin mama ke butik atau ke salon."


Mereka berdua meributkan cucu khayalan dengan imajinasi mereka. Berbeda dengan dua orang yang duduk di hadapan mereka. Femila menatap kesal memandang tingkah kedua orang tuanya dan bertambah kesal ketika menatap ustadz Mirza.


Sedangkan ustadz Mirza tersenyum puas mengerjai Femila.


"Papa dan Mama kan sudah selesai makan. Cepetan pulang." Ketus Femila.


"Femila mengusir mama papa?"


"Padahal mama dan papa rencananya mau menginap di sini." Ucap mama Anita dengan memelas.


"Nggak bisa! Semua kamar sudah penuh." Jawab Femila dengan singkat.


"Ma, katanya Mama pengen cepet punya cucu. Jadi biarkan mereka menikmati masa berdua."


"Oh ya ya Pa."


"Mama, Papa!" Suara Femila dinaikkan.


Namun kedua orang tuanya malah tersenyum, tertawa tepatnya sambil menutup mulutnya.


"Ya, kita pulang. Tapi sebelum pulang, mama papa mau kasih kado pernikahan kalian."


"Tidak usah repot-repot Ma, yang penting kalian langsung pulang itu sudah jadi kado terindah buat saya." Ucap Femila karena sudah jengah mendengar celoteh kedua orangtuanya.


"Anak mama, kalau jutek seperti ini kenapa aura cantiknya semakin terpancar." Ucap mama Anita yang menurut Femila ada dua arti, entah mama Anita memuji atau sekedar basa-basi.


"Papa dan mama sudah menyiapkan hadiah paket bulan madu ke Flores untuk kalian." Ucap papa Riyan.


"Terima kasih Pa, Ma." Ucap ustadz Mirza tidak ingin mengecewakan kedua mertuanya dengan jawaban yang aneh-aneh.


"Hadiahnya untuk Mama Papa saja, silahkan kalian berbulan madu lagi."

__ADS_1


"Uih uih uih...so sweet banget sayang kita double date saja." Usul mama Anita.


"Mama ngaco. Yuk kita pulang." Ajak papa Riyan menaruh tangannya di pundak istrinya agar berjalan keluar. Tangan itu baru lepas sesampai di parkiran.


Ustadz Mirza dan Femila mencium punggung tangan kedua orang tuanya, memberi salam dan melambaikan tangan.


Tepat itu pula mobil kijang Innova tipe 2.4 VA/T Disel menepi memarkirkan roda empat itu dan muncul sesosok Habibi yang tadi sore mengantar Aliyah pulang.


"Assalamualaikum ustadz, Non Femila." Sapa Habibi begitu turun dari mobil.


"Waalaikum salam." Jawab Habibi dan Femila.


"Urusan kita belum selesai Ustadz."


Ustadz Mirza menghentikan langkahnya. membalikkan tubuhnya." Urusan apa?"


Habibi menciut, melihat raut muka kedua orang yang ada di hadapannya. "Bakal ada perang dunia keempat ini." Batinnya.


Femila melangkah dengan satu kakinya pelan dan sampai di ruang tengah dia duduk. Ustadz Mirza yang sedari tadi mengekor ikut duduk. Sedangkan Habibi memilih untuk masuk dan menunaikan salat Isya.


"Sudah tahu arah pembicaraan kita."


Ustadz Mirza hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan pura-pura tidak tahu. Saya tahu kamu tidak sebodoh itu."


"Terima kasih atas pujiannya." Ucap ustadz Mirza.


"Pertama, jangan hiraukan ocehan mama tentang kehamilan. Kedua, jangan terima paket bulan madu yang papa mama hadiahkan untuk pernikahan kita. Ketiga, saya tidak suka kamu memojokkan saya di depan mama papa. Dan keempat, jangan cari muka di depan mereka." Ucap Femila panjang lebar dan tanpa mendengar jawaban dari ustadz Mirza dia melangkah pergi.


Ustadz Mirza hanya tersenyum menarik sudut bibirnya.


Femila membuang kasar napasnya ketika naik ke atas ranjang tidur. Tangannya meraih ponsel yang sedari tadi tidak dia jamah.


Matanya membaca sepuluh panggilan tak terjawab dari sahabatnya dan lima pesan masuk. Jarinya mengusap membuka pesan masuk itu.


Ampun dech yang namanya pengantin baru sibuk sekali sampai telepon sahabatnya tidak di angkat-angkat. Pesan pertama.


Fem. Femila. Pesan kedua.


Kalau sudah selesai nyahok-nyahoknya balas pesan saya dong. Pesan ketiga.


Belum? Pesan keempat.


Besok hubungi saya, selamat malam pengantin baru. Pesan kelima.


Mata Femila membulat membaca pesan-pesan itu. "Tidak mama papa, ustadz Mirza. Kamu juga bikin nyesek Sill." Sewot Femila membanting ponselnya di kasur.


Klontang.


Satu pesan masuk.

__ADS_1


Akhirnya pesanku kamu baca juga. Ada hal penting yang akan saya sampaikan. Ini mengenai kantor. Kalau kamu sudah nyahok-nyahok segera telepon.


__ADS_2