
"Apakah kamu Andra?" Batin Femila penuh tanya.
Polisi terus mencecar berbagai pertanyaan. Femila hanya terdiam mematung, pikirannya masih singgah tentang pelaku penusukan.
"Apa kamu Andra?" Pertanyaan itu masih terngiang di otak Femila tanpa ada jawab dan hanya kebuntuan belaka yang didapat.
Sampai akhirnya Sebuah pertanyaan mendarat ke Femila namun Femila tetap terdiam, raganya berada di situ tapi otaknya melayang jauh di sana.
"Bagaimana Bu Femila?" Tanya penyidik.
"Fem, Femila." Tangan ustadz Mirza menepuk paha Femila.
"Ya Ustadz?" Terkejut Femila netranya langsung memandang ke arah ustadz Mirza.
"Apa ada hal yang akan kamu sampaikan ke pihak penyidik?" Ustadz Mirza mengulang pertanyaannya dari penyidik
Femila menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu sampai di sini penyidikan kami. Terima kasih atas kerja samanya. Kami juga minta kesiapan dari pelapor apabila kami membutuhkan kalian sewaktu-waktu." Ucap penyidik kemudian mengulurkan tangan ke ustadz Mirza
"Ya Pak, Insya Allah kami selalu siap." membalas uluran tangan itu.
"Kami permisi dulu. Assalamualaikum."
"Hati-hati Pak, waalaikum salam."
...****************...
"Ada apa Fem?" Tangan ustadz Mirza menyelipkan anak rambut yang menutup wajah Femila.
Femila menunduk karena merasa risih dengan perlakuan ustadz Mirza.
Ustadz Mirza tersenyum karena itu. Matanya kini menatap lekat wanita yang ada di depannya.
"Sejak penyidik interview peristiwa penusukan itu, kamu terlihat lebih diam. Sekarang, tidak biasanya malam-malam seperti ini kamu duduk menyendiri di sini?"
Femila menghembuskan napas pelan. "Ustadz, punya gambaran pelaku penusukan itu? Menurut Ustadz, siapa?"
Ustadz Mirza menarik sudut bibirnya, tidak menyangka diamnya Femila karena kepikiran dengan masalah pelaku penusukan. "Jadi, diam kamu sampai tidak fokus pada pertanyaan yang dilontarkan oleh penyidik karena ini?"
Femila mengangguk.
"Menurut kamu siapa pelakunya?" Ustadz Mirza melempar balik pertanyaan itu dengan mengembangkan senyum.
"Andra."
Jawaban itu sontak menarik senyum ustadz Mirza berganti membentuk ekspresi yang terkejut.
"Kenapa bisa?"
"Entahlah." Jawab Femila.
"Kenapa bisa beranggapan bahwa Andra pelakunya. Padahal selama ini dia orang yang masih singgah di hati kamu." Tanya ustadz Mirza dengan nada yang semakin lirih.
"Aku terlalu percaya diri, kalau Andra masih menyimpan rasa yang sama denganku."
Air bening itu menggenang di pelupuk mata indah Femila. Sesekali kepalanya didongakkan agar cairan itu tidak tumpah.
__ADS_1
"Hanya dia terlalu pengecut untuk memperjuangkan cinta itu." Sambung Femila.
deg
Rasanya tubuh ustadz Mirza di hempas ke jurang yang dalam sedalam-dalamnya hingga tubuhnya remuk-seremuknya mendengar kalimat yang terlontar dari wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya.
"Mungkin dia tidak rela melihat Ustadz menikahi saya tepat di tanggal pernikahan yang kami rencanakan." Gumam Femila.
Walaupun suara itu lirih namun terdengar jelas di telinga ustadz Mirza.
"Saya rasa, Andra tidak sekejam itu." Ucap ustadz Mirza.
Mata Femila langsung menatap lekat ustadz Mirza. "Bagiamana bisa kamu selalu berprasangka baik pada siapapun?" Batin Femila.
"Ustadz..."
"Saya akan menyerahkan kamu. Kalau dia benar-benar memperjuangkan kamu dengan jalan yang baik. Benar-benar tulus mencintai kamu dan berhasil mendapat restu dari orang tuanya." Kalimat penjelas itu berhasil lolos dari mulut ustadz Mirza tanpa jeda dan penuh keyakinan walaupun hatinya sesak harus merelakan wanita yang lebih dari setengah tahun hadir dalam hidupnya, bahkan berhasil mengisi kekosongan hatinya.
"Sebenarnya, itu yang saya maksud. Ustadz jangan terlalu baik pada saya. Jangan terlalu berharap cinta saya. Saya takut, pada akhirnya membuat Ustadz terlalu kecewa." Ucap Femila dengan menundukkan pandangannya dan cairan bening yang sedari tadi dia bendung lolos mengalir ke pipinya.
Ustadz Mirza menghapus air mata itu kemudian meraih tubuh wanita dihadapannya dan mendekap dalam pelukannya.
"Yang saya takutkan akhirnya terjadi. Kamu bahkan melarangku untuk mencintaimu." Batin Ustadz Mirza.
"Baru kemarin saya merasa kamu mulai membuka hati, namun kenyataannya. Sekarang kamu benar-benar menutupnya untukku." Masih monolog batin ustadz Mirza.
"Apapun itu, saya bertekad mengembalikan kebahagiaan kamu. Kebahagiaan yang terampas karena kecelakaan itu." Ucap ustadz Mirza setelah melepas pelukannya.
"Saya mau istirakhat." Femila bangkit dari duduknya melangkah ke kamar dan diikuti ustadz Mirza.
Tangan ustadz Mirza segera meraihnya.
"Ustadz, saya sudah bilang jangan terlalu baik pada saya." Ucap Femila tangannya menyekal tangan ustadz Mirza.
"Anggap saja ini bentuk terima kasih karena kemarin sore kamu menolong saya."
"Ustadz." Femila masih menyekal tangan ustadz Mirza.
"Please, lepaskan." Pinta Femila.
Namun tangan satu ustadz Mirza justru melepas cekalan tangan Femila. Ustadz Mirza lanjut melepas kaki palsu Femila.
"Saya tidak tanggung jawab kalau nantinya Ustadz luka terlalu dalam." Ucap Femila.
"Apa kamu menghawatirkan itu?" Tanya Ustadz Mirza sambil menarik dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Ustadz orang baik, jadi saya yakin Ustadz akan mendapat yang terbaik."
"Femila juga orang baik jadi saya juga yakin Femila akan mendapat orang baik pula." Ucap ustadz Mirza mencoba mencairkan suasana dengan meniru kalimat Femila.
Femila tersenyum mendengar ucapan ustadz Mirza. "Mengapa mengopi kalimat saya."
"Masya Allah...kamu sangat cantik kalau tersenyum seperti itu Femila." Ucap ustadz Mirza sambil memandang lekat wajah Femila.
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa filter dari otak ustadz Mirza karena kalimat itu memang terpampang nyata di hadapannya. Wanita cantik bernama Femila Amore Ibrahim yang bila tersenyum wajahnya kian cantik mempesona.
"Awas air liurnya menetes." Canda Femila memutar kursi rodanya kemudian menjalankannya masuk ke toilet kamar.
__ADS_1
Ustadz Mirza membiarkan itu. Tangannnya mengusap bawah bibirnya takut kalau air liur beneran menetes. Dia langsung mengembangkan senyumnya mengingat hal konyol yang baru dia lakukan.
"Semoga Allah selalu melindungi kamu Fem. Saya pasrahkan sama Allah, kalau kamu memang jodohku maka Allah akan menyatukan kita. Sebesar apapun rintangan itu. Tapi kalau kamu bukan jodohku, semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk kamu." Monolog batin ustadz Mirza.
...****************...
Meeting yang sempat tertunda satu hari, harus diganti hari ini. Femila dibantu Aliyah sedang mempersiapkan berkas yang diperlukan. Sejak pagi Femila juga membereskan pekerjaan yang sempat tertunda karena kemarin tidak masuk kerja.
"Al, sudah jam 10.50. Sepuluh menit lagi kita sudah siap di ruang rapat."
"Ya Non, semuanya sudah selesai. Ini tinggal kirim file ke e-mail Pak Freddy."
"Alhamdulillah...sudah Non. Mari kita jalan." Aliyah menenteng berkas, tangannya mempersilahkan nonanya untuk jalan terlebih dahulu.
Satu jam akhirnya rapat selesai dan bertepatan dengan istirakhat siang.
Femila melangkah keluar dari gedung perkantoran setelah menunaikan salat dhuhur dengan Aliyah. Tekadnya sudah bulat siang ini akan datang menemui Andra.
Aliyah kita ke kantor PT Perkasa Bintang.
Aliyah terkejut mendengar ucapan nonanya. Pasalnya hari ini tidak ada agenda pertemuan dengan PT Perkasa Bintang. "Untuk apa Non?"
"Ada hal yang harus saya selesaikan." Jawab Femila tanpa ada yang harus ditutupi dari asistennya. Toh percuma saja, Femila juga sengaja mengajak Aliyah agar tidak ada perkataan miring di luar sana mengenai dia, ustadz Mirza, maupun Andra. Baginya walaupun hatinya masih ada nama mantan kekasihnya, tapi pertemuannya dengan sang mantan tidak ingin menjadi bahan gunjingan yang akhirnya merugikan nama baik orang lain.
"Saya sudah janjian dengan Pak Mario." Femila menunjukkan sebuah pesan di WA.
"Ya, Pak Mario sudah memberitahukan saya. Silahkan Ibu sudah ditunggu di ruang beliau."
"Silahkan masuk Non." Mario mempersilahkan Femila masuk dan Aliyah mengekor di belakangnya. Kemudian mereka duduk di sofa.
"Apa kabar Fem?" Sapa Andra kemudian mendudukkan pantatnya di kursi sofa yang ada di room ceo.
"Baik."
Mata Andra menatap lekat pada tangan Femila yang dibalut perban.
Femila merasa tangan itu dipandang lekat oleh lawan bicaranya.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Andra dengan wajah yang dibuat biasa padahal dirinya mengkhawatirkan wanita yang kini di hadapannya.
"Insiden kecil. Ini juga yang nantinya akan saya tanyakan ke kamu."
"Silahkan mau tanya apa?"
"Dua hari yang lalu, saya dan suami saya ditimpa musibah."
"Kenapa?"
"Ada orang yang berusaha menusuk ustadz Mirza. Saya menghalaunya, akhirnya tangan saya yang terkena."
Andra terdiam masih seksama mendengar cerita Femila.
"Ada hal yang ingin saya pastikan ke kamu dan saya minta kamu jujur." Femila menelan salivanya.
"Apa kamu dalang di balik kejadian itu?" Tanya Femila.
Andra tersenyum kecut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Femila.
__ADS_1