KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 22


__ADS_3

"Ustadz seperti mau temu calon mertua." Bisik Habibi di telinga ustadz Mirza.


"Habibi!" Melirik tajam ke arah Habibi.


Habibi tersenyum puas melihat reaksi ustadz Mirza.


Kereta Api Argo Bromo Anggrek memasuki Stasiun Rawa Buaya. Dimohon penumpang dengan rute Stasiun Tawangmangu-Rawa Buaya segera mempersiapkan diri.


Soundspace stasiun mengudara.


Berselang lima menit ustadz Mirza melihat sosok yang dia tunggu. Romo KH. Syaefullah dengan Ibu Nyai disampingnya.


"Assalamualaikum Abah Yai." ustadz Mirza meraih tangan KH.Syaefullah, mencium punggung tangan beliau dan diikuti oleh Habibi.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatu. Subhanallah akhirnya bertemu lagi dengan nak Mirza."


Ustadz Mirza mengangguk takdhim. "Kita langsung masuk ke mobil saja Abah kyai, silahkan." Ajak ustadz Mirza.


KH. Syaefullah menurut melangkah mengikuti Habibi penuntun arah ke mobil yang ada di parkiran.


"Kapan-kapan mampir ke pesantren. Kamu kan belum pernah lihat gedung baru yang kamu sumbang."


Ustadz Mirza adalah salah satu donatur pesantren Mubtadi'in dan aktif dalam perhimpunan alumni pesantren Mubtadi'in.


"Insya Allah Bu Nyai. Rencananya memang mau main ke sana menunggu waktu yang tepat." Ucap ustadz Mirza.


Sudah menjadi tradisi bagi santri pesantren Mubtadi'in memanggil pengasuh pesantren dengan sebutan Abah Yai dan Bu Nyai untuk panggilan istri pengasuh pesantren.


Mobil memasuki parkiran rumah. Terlihat Hana sudah menunggu kedatangan orang tuanya ditemani Silla.


"Assalamualaikum Abah, Ummi," Hana mencium punggung tangan Abah dan Umminya diikuti Silla.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatu. Jawab Abah dan Ummi Hana.


"Silahkan masuk Abah Yai, Bu Nyai." Ustadz Mirza mengarahkan untuk langsung masuk kamar.


"Barangkali Abah Yai dan Bu Nyai mau mandi dan istirakhat silahkan, saya tinggal dulu." Ucap ustad Mirza begitu sampai di depan kamar tamu.


"Ya, terima kasih nak Mirza. Kami masuk dulu."


"Ya silahkan."


Kamar yang cukup luas dan nyaman. Ada ranjang tidur minimalis dari kayu jati, satu lemari kayu, meja kecil, dan di atas ranjang terpajang frame foto besar bergambar bunga latulip nan menambah kesan indah kamar tamu ini. Bukan pertama kalinya abah Yai dan bu Nyai menginap di rumah ustadz Mirza. Dulu pertama kali datang ke Jakarta menemani Hana masuk universitas juga pernah menginap di ustad Mirza dan semua tatanan kamar ini tidak ada yang berubah. Hanya cat kamar saja yang semakin terang dengan warna yang berbeda.


...****************...

__ADS_1


Femila menatap diri di cermin. Masih diam menatap wajahnya kemudian turun ke kakinya. Memorinya kembali mengulang kejadian sore tadi ketika dirinya masuk ke mini market.


"Cantik sih cantik, tapi kenapa kakinya cacat." Ucap seorang gadis yang tanpa henti mengamatinya dari atas ke bawah.


Suara itu memang lirih namun sangat jelas oleh pendengaran Femila. Belum selesai sampai di situ. Pandangan menelisik dari teller mini market juga sangat mengganggu Femila. Menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki, tentunya kaki kirinya karena kaki kanannya yang telah cacat. Saat itu ingin rasanya menyongkel mata teller itu. Beraninya dia menatap saya seperti itu.


"Kembaliannya mbak." Panggil teller mini market karena begitu membayar Femila langsung pergi.


"Buat periksa mata kamu. Sepertinya mata kamu tidak beres." Ucap Femila langsung melanjutkan jalannya.


"Sumpah!! Takkan masuk ke mini market itu lagi! Gerutu Femila menyumpahi kejadian yang menimpanya.


"Fem, Femila."


"Iya Ma."


Panggilan mama Anita terpaksa membuyarkan memo sore harinya.


"Makan malam dulu sayang." Suara mama Anita yang sudah di depan pintu kamar Femila.


"Iya Ma, sebentar lagi Femila keluar."


"Jangan lama-lama, mama dan papa tunggu."


"Makanan favorit kamu." Ucap mama Anita begitu Femila hendak duduk di meja makan.


"Besok jadwal chek up kamu sayang."


"Sudah sehat Ma, tidak usah chek up." Jawab Femila.


"Ikuti kata dokter sayang, kalau memang dokter Wisnu masih menyuruh chek up ya harus chek up," sela papa Riyan.


Femila diam antara mengiyakan omongan orang tua dan tidak ingin berdebat karena hal ini.


"Jangan bilang obatnya tidak kamu minum ya."


"Femila sudahan makannya Ma, Pa."


"Issst itu anak, orang tua belum selesai bicara main sudahan." Gerutu mama Anita melihat Femila melangkah pergi.


...Femila duduk di tepi ranjang. "Sehat atau tidak, tetap saja saya Femila yang cacat." Sudut mata Femila nampak menahan bendungan air mata....


...****************...


Setengah hari disibukkan dengan acara wisuda Hana. Kini Abah Yai dan bu Nyai nampak membereskan barang bawaan mereka. Besok pagi mereka sudah pulang ke Semarang. Hana juga membantu membereskan barang bawaan itu, tentunya semua barang bawaan Hana sudah dikemas rapi. Hana dan orang tuanya akan ke Semarang menggunakan mobil ustadz Mirza yang di kemudikan oleh sopir sewaan. Ustadz Mirza maupun Habibi tidak bisa mengantar ke sana karena masih ada urusan yang belum diselesaikan. Setelah semua selesai Abah Yai memanggil ustadz Mirza di ruang tengah.

__ADS_1


"Kami sangat berterima kasih sekali pada nak Mirza dan maaf sudah merepotkan nak Mirza."


"Malah saya sangat tersanjung bisa didatangi Abah Yai dan Bu Nyai.


"Nak Mirza bisa saja merendah."


"Kami juga berterima kasih. Selama empat tahun ini sudah sering membantu Hana. Mau direpotkan Hana." Sambung Bu Nyai.


"Saya merasa tidak direpotkan Bu."


"Pulangnya memakai mobil nak Mirza segala."


"Tidak apa-apa Abah Yai, Alhamdulillah masih ada satu mobil yang bisa dipakai."


"Pak Rohim sakit tidak melihat situasi." Canda Bu Nyai.


Pak Rohim adalah sopir pribadi pesantren Mubtadi'in. Dia tidak bisa mengantar ke wisuda Hana karena sedang sakit.


"Hana kenapa lama Ummi?"


"Dia bilang langsung mau tidur. Katanya ngantuk."


"Itu anak, hobi sekali yang namanya tidur. Tapi nak Mirza sudah tidak hobi tidur lagi kan?"


Lontaran pertanyaan yang langsung membuat ustadz Mirza tersenyum penuh. Dia ingat betul ketika di pesantren rata-rata anak pesantren punya hobi baru yaitu tidur. Apalagi tidur di jam pelajaran maupun saat ngaji. Katanya ibadah plus-plus. Ngajinya ibadah, tidurnya juga ibadah.


"Tidak Abah, hobi ngantuk sudah hilang dengan sendirinya. Saya juga tidak tahu, tiba-tiba saja hilang." Ustad Mirza menahan tawa.


"Setan itu memang benar-benar nyata. Mereka bahkan menggelayut sampai ke kelopak mata. Agar mereka yang sedang khusuk belajar, khusuk ngaji akhirnya terkantuk." Dawuh abah Yai.


" Benar Abah. Oya, Hana tidak melanjutkan studinya Abah?"


"Sementara sih tidak."


"Sayang Abah, Hana termasuk anak yang cerdas."


"Saya ingin dia menikah dahulu."


deg


Jawaban itu seakan menyekat tenggorokan ustadz Mirza. Ternyata perkataan Hana yang lalu mengenai abahnya yang menginginkan dirinya menikah itu benar dan sekarang didengar langsung oleh ustadz Mirza.


"Dan, hari ini saya berharap, dalam waktu dekat nak Mirza bisa khitbah dengan anak saya Hana."


deg

__ADS_1


"Apa saya mimpi? Abah Yai mengharapkan saya bisa melamar Hana?" Batin ustadz Mirza masih dengan rasa bertambah tidak percaya apa yang baru didengarnya.


__ADS_2