KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 63


__ADS_3

Femila terdiam. Hadirnya dia ke sana tentu akan mengingatkan memori dengan sesosok orang yang masih singgah di hatinya.


"Bagaimana? Bisa menemani saya?" Ustadz Mirza memastikan karena yang diajak bicara sedari tadi hanya diam tanpa memberikan respon.


Femila menggelengkan kepalanya pelan. "Andra pasti ke sana." Gumam Femila tapi masih terdengar oleh ustadz Mirza.


Ustadz Mirza terdiam.


"Panti asuhan itu, tempat pertama kali saya bertemu dengan Andra." Ucap Femila dengan pelan dan lirih. Matanya sesekali mengerdip menahan cairan bening yang mulai menumpuk di pelupuk matanya.


"Maafkan saya Ustadz." Sambungnya kemudian merebahkan tubuhnya kembali dan menarik selimut untuk menutup tubuhnya.


Ustadz Mirza masih terdiam, menatap wanita yang kini tidur membelakanginya.


"Sebesar itukah cinta kamu dengan Andra Fem? Apa kehadiranku semakin membuatmu terluka?" Batin ustadz Mirza.


Ustadz Mirza ikut merebahkan tubuhnya. Namun matanya masih memandang punggung wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya.


Cairan bening itu akhirnya meloloskan diri dari jerat pelupuk mata yang sedari tadi menahannya. Si empunya membiarkan itu terus mengalir tanpa menghapusnya.


"Andra, bisakah bayanganmu hilang dariku? Aku lelah Andra." Batin Femila, lelehan bening masih terus meluncur.


Isak yang tertahan sedikit menyuara dalam kamar, dan bahu itu terlihat terguncang karena itu.


Tangan ustadz Mirza terangkat hampir menyentuh bahu Femila. Namun, tiba-tiba dia urungkan.


Hanya batinnya yang mampu berucap. "Jika kamu menangis, menangislah dalam pelukanku. Sekiranya itu membuat kamu lebih tenang."


...****************...


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Ustadz Mirza sudah terlihat rapi dengan bajunya. Tangan kanannya sedang memasang jam di pergelangan tangan kiri.


"Biar saya bantu." Ucap Femila sambil meraih jam tangan itu.


Ustadz Mirza mengembangkan senyumnya, "Terima kasih." Ucapnya kemudian sambil menyerahkan jam tangannya.


"Kamu beneran tidak apa-apa ikut?" Ustadz Mirza memastikan.


Pasalnya setelah sarapan pagi, tiba-tiba Femila mengatakan akan ikut ke panti asuhan.


"Saya hanya takut nanti adu jotos kalian masuk ronde kedua." Jawab Femila.


Ustadz Mirza terkekeh.


"Mengapa Ustadz malah tertawa. Bukankah begitu, ronde satu sudah dimenangkan Andra. Saat itu Ustadz malah harus dirawat di rumah sakit. Takutnya ronde kedua malah berbalik keadaan." Femila melepas tangan ustadz Mirza yang sudah dipakaikan jam tangan.


Ustadz Mirza tersenyum mendengar ucapan Femila. "Jadi kamu takut dia kenapa-napa karena saya?" Tanya ustadz Mirza terlihat kecewa mendengar jawaban Femila namun tetap tersenyum.


"Mungkin." Singkat Femila.

__ADS_1


"Yang jelas, saya ingin memastikan tidak terjadi apa-apa antara kalian berdua." Batin Femila.


"Mari jalan." Ajak ustadz Mirza, tangannya mempersilahkan Femila untuk jalan terlebih dahulu.


Femila dan ustadz Mirza melangkah keluar dari kamar.


"Teman-teman dari tim kajian Islam sudah banyak yang hadir Ustadz." Ucap Habibi begitu sudah setengah perjalanan.


"Bagus itu. Ikbal juga datang?"


"Sudah."


Mereka akhirnya sampai di panti asuhan.


Femila berjalan diiringi ustadz Mirza di sampingnya. Kemudian dipersilahkan among tamu untuk memposisikan di kursi tamu yang ada di deretan depan.


Acara ulang tahun panti asuhan Anak Bangsa tidaklah terlalu mewah sekedar mengundang para donatur dan tamu yang berkepentingan dalam panti asuhan. Panti asuhan ini sudah lama berdiri sekitar 20 tahun. Sekarang sudah ada sekitar 50 anak asuh yang menempati panti itu.


Acara demi acara masih berjalan. Namun dalam acara pentas bakat anak asuh, tiba-tiba muncul sesosok orang yang membuat mata tamu undangan dan yang hadir di acara itu memandangnya.


Andra Aksara Barata....


Suara dari pembawa acara menyambut kedatangan tamu special.


Gemuruh tepuk tangan ikut memeriahkan kedatangan Andra. Namun berbeda dengan gemuruh jantung Femila yang menatap lekat lelaki yang berjalan ke arahnya. Dia mendudukkan pantatnya tepat di samping ustadz Mirza artinya hanya berjeda satu orang dari Femila.


"Senang bertemu anda kembali." Sapaan hangat itu terlontar dari mulut Andra sambil merekahkan senyum.


"Saya juga senang berjumpa anda kembali." Sahut ustadz Mirza sambil mengulurkan tangannya.


Andra membalas uluran tangan itu.


Bagaimana dengan Femila?


Jelas perasaannya sangat tidak karuan duduk di antara mereka, dua sosok laki-laki yang ada dalam hidupnya. Walaupun jelas memiliki arti yang berbeda dalam hati Femila.


Femila tetap diam pura-pura tidak terlibat dalam basa-basi sapaan itu.


"Apa Nona Femila tidak ingin menyapa rekan kerja perusahaannya?" Singgung Andra.


Femila menoleh merasa namanya disinggung. "Assalamualaikum Pak Andra? Bagaimana kabarnya?" Sapa Femila sambil menangkupkan tangan diangkat sejajar dadanya.


Andra tersenyum mendengar sapaan dari Femila yang terkesan bias di hatinya. "Waalaikum salam. Kabar baik. Saya juga melihat anda terlihat sangat baik."


"Tentu. Seperti yang sekarang anda lihat." Balas Femila.


Percakapan itu terhenti ketika suara tepuk tangan menggema di acara tersebut karena penampilan dari anak asuh yang telah berakhir. Diganti pentas anak asuh yang lain. Namun penampilan anak asuh kali ini membuat dua pasang mata membulat penuh.


"Fia." Gumam hati Andra dan Femila.

__ADS_1


Fia adalah gadis panti asuhan yang dulu dekat dengan Andra dan Femila. Bahkan sangat dekat. Usianya sudah menginjak 7 tahun. Dulu sewaktu Femila dan Andra masih menjadi sepasang kekasih. Setiap bulan mereka pasti mengunjungi panti asuhan dan si gadis kecil itu dengan polosnya selalu nggelayut ke Femila dan Andra. Bahkan gadis kecil itu memanggil Andra dengan panggilan Daddy dan Femila dengan panggilan Mommy.


"Lagu ini saya persembahkan untuk Dad Andra dan Mom Femila."


Tepuk tangan kembali bergemuruh.


"Bisakah Dad dan Mom menemani Fia di atas panggung?"


deg


"Ya Tuhan..., Fia bisa tidak permintaan kamu diganti yang lainnya?" Gumam batin Femila.


Andra nampak berdiri dari duduknya kemudian melangkah ke panggung.


Femila masih duduk di kursi, ustadz Mirza memandang Femila yang terlihat gusar.


"Anak itu menunggu kamu." Ucap ustadz Mirza sambil menyentuh bahu Femila.


Femila berdiri dari duduknya, melangkah walau ragu namun harus sampai di panggung itu.


Fia tersenyum langsung menghambur memeluk Femila yang sudah berjalan di atas panggung. Femila jongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan gadis kecil itu. Mengelus punggungnya dengan tetap memeluk gadis itu.


Setelah melepas pelukannya, gadis itu menggandeng Femila berdiri di antara stand micro phone.


Satu lagu sudah anak itu nyanyikan, aplous kembali ditujukan untuk gadis itu.


Pembawa acara mendekat ke arah mereka.


"Fia, sepertinya Fia dekat dengan dua orang yang ada di samping Fia? Kalau boleh, ceritakan pada semua tamu undangan yang hadir, kedekatan Fia dengan mereka itu seperti apa?" Pinta pembawa acara.


"Mom Femila dan Dad Andra janji dengan Fia. Kalau Fia tetap semangat belajar dan mau minum obat dengan teratur, mereka akan bawa pulang Fia ke rumah Mom dan Dad." Ucap Fia dengan air mata yang sudah berurai di pipinya.


Femila berjongkok dan menghapus air mata itu. Dia tahu apa yang dialami gadis itu sampai dia meneteskan air mata. Anak penderita kanker darah ini sudah divonis usia hidupnya takkan bertahan lama. Femila juga sangat terkejut menatap gadis yang kepalanya sudah plontos itu masih ingat dengan janjinya bersama Andra kala itu.


"Maaf kan Mommy sudah lama tidak menemui kamu." Ucap Femila.


"Daddy juga minta maaf sayang." Timpal Andra ikut berjongkok menghadap gadis kecil itu.


"Jujur saya memang tahu kedekatan Fia dengan mereka. Namun saya semakin terharu melihat semua ini. Mari kita doakan bersama, semoga Pak Andra dan Ibu Femila segera mendapat persetujuan untuk mengadopsi Fia. Karena persetujuan itu terkendala surat nikah, mari kita doakan mereka segera menikah."


"Amin..." Serentak suara dari tamu dan yang menghadiri acara.


Femila menatap ke tamu undangan yang duduk di barisan depan. Wajah itu terlihat canggung dan diam tidak ikut bersuara mengamini.


"Maaf, saya sudah menikah." Ucap Femila masih menatap lekat wajah yang tertunduk di kursi barisan tamu.


Apa kabar readers? masih setiakah dengan cerita ini???


Komen, like, bunga juga mau untuk novel ini.🤭❤️🌹

__ADS_1


__ADS_2