
Femila menatap interaksi mereka, tidak ada cemburu malah terbesit satu keinginan yang sudah dia rancang satu bulan yang lalu.
"Aku pulang ya," pamit Femila sambil cipika-cipiki dengan Aliyah dan Hana, "assalamualaikum... ."
"Waalaikum salam," jawab mereka.
Femila mengekor ustadz Mirza masuk ke mobil, setelah menempuh 30 menit perjalanan mereka sampai di rumah.
"Kelihatannya akrab," celetuk Habibi setelah turun dari mobil.
"Maksudnya dengan Hana? retoris Femila.
"Dengan tembok kos-kosan," jawab seucap Habibi merasa kesal dengan retoris yang dilontarkan nonanya.
Femila terkekeh, "Siapa tahu nanti ada yang berjodoh dengan dia," ucap Femila dengan memulai aksi rencana yang sudah terekam dari satu bulan yang lalu, mencarikan jodoh untuk sang asisten.
"Maksudnya jodoh dengan Ustadz? Ustadz mau nikah lagi?!" ledek Habibi dengan menghentikan langkah.
"Habibi!" serentak Femila dan ustadz Mirza meninggikan suara dengan tatapan tajam terarah ke Habibi.
Habibi yang mendapat tatapan sengit dari dua pasang suami istri langsung lari kecil ke kamarnya.
Femila jalan cepat mendahului ustadz Mirza yang ada di depannya untuk masuk menuju kamar.
Tas yang dia jinjing langsung dilempar ke kasur. Bibirnya terlihat mengerucut pantatnya dia dudukkan di tepi ranjang.
Ustadz Mirza melirik ke arah Femila, sudut bibirnya dia tarik membentuk sebuah senyum kecil melihat sekilas sang istri yang terlihat kesal.
"Apa kamu cemburu?"
"Cemburu dengan Hana maksudnya?" tanya Femila.
Ustadz Mirza mengangguk.
"Kenapa harus cemburu dengan dia," jawab Femila bangkit dari duduk menuju toilet kamar.
Lima menit kemudian dia keluar dengan wajah yang terlihat basah. Walaupun make up minimalis itu terhapus karena basuhan air. Namun, wajah indo ala Itali itu masih terlihat memancarkan aura kecantikannya.
Ustadz Mirza tercengang menatap wajah sang istri yang polos tanpa make up dan lepas hijabnya. Rambut yang setengah ikal itu entah kenapa menambah manis dan memancarkan kecantikan yang hakiki dari seorang Femila Amore Ibrahim.
"Awas Ustadz, nanti lalat masuk loh," ledek Femila melihat suaminya belum juga mengatupkan mulutnya.
Ustadz Mirza langsung tersenyum mendengar ucapan Femila.
"Aku cantik kan?" tanya Femila.
Ustadz Mirza mengangguk.
"Aku tidak butuh anggukkan tapi butuh jawaban," protes Femila kakinya melangkah ke arah ustadz Mirza, kedua tangannya memegang kedua sudut kerah baju sang suami.
"Sangat cantik sayang," ucap ustadz Mirza tak kalah berani dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita yang memang sudah sah menjadi istrinya.
Femila menatap intens wajah sang suami bahkan lebih mendekatkan wajahnya, jemari telunjuk membentuk garis lurus dari ujung hidung dan berhenti di bib*r. "Saya juga tetap menarik kan Ustadz?"
Ustadz Mirza tersenyum kecil merasa geli dengan sikap sang istri.
"Sangat menarik," jawab ustadz Mirza walaupun sebenarnya tangannya sudah gatal ingin menoel hidung sang istri karena begitu gemas.
"Isstt...kenapa Ustadz sepertinya tidak ikhlas menjawab semua itu," kesal Femila langsung melepas tangan ustadz Mirza yang yang melingkar di pinggang. Kakinya memutar dan hendak melangkah keluar namun tangan sang suami tiba-tiba melingkar kembali di pinggang.
"Dari sudut manapun kamu terlihat cantik, menawan, menarik, eksotis, istriku yang soleh," rayu ustadz Mirza.
__ADS_1
"Istri satu-satunya juga ya," celetuk Femila.
Ustadz Mirza tersenyum, "O...rupanya ada yang khawatir dimadu?" ledek ustadz Mirza, kakinya memutar dan sekarang dua wajah itu bersitatap kembali.
"Ustadz!" Femila meninggikan suara, bibirnya langsung mengerucut.
"Kalau mau nikah lagi nunggu akta ce...," ancam Femila namun kalimatnya terhenti sampai di situ.
Ustadz Mirza menatap intens, memicingkan alisnya menunggu kelanjutannya kalimat yang terlontar dari mulut Femila.
"Akta...e...," keluh Femila.
Dulu, sebelum datangnya rasa cinta mudah sekali mengucapkan akta cerai atau akta kematian tapi sekarang lain hal. Perpisahan dengan lelaki yang ada di hadapannya sungguh hal yang tidak diinginkan.
Tiba-tiba serangan mendadak jatuh di bib*r Femila. Mata Femila membulat penuh mendapatkan serangan itu.
"Apa kamu ragu dengan cintaku?" tanya ustadz Mirza setelah melepas pungutannya.
Femila menggeleng pelan.
Ustadz Mirza tersenyum kecil. Kedua tangan menggenggam dua tangan sang istri menuntun untuk duduk di tepi ranjang.
"Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan, cintaku terpatri hanya untukmu seorang Femila Amore Ibrahim."
Femila tersenyum mendengar ucap janji sang suami. Namun, dengan cepat senyum itu dia tarik, "Walaupun Islam membolehkan menikahi wanita lebih dari satu?" Femila memastikan.
"Islam memang membolehkan menikahi, satu, dua, tiga, atau empat wanita tapi ayat itu ada kelanjutannya,"
"Kemudian jika kamu tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja," ucap Femila memotong ucapan ustadz Mirza.
Sejenak mulut ustadz Mirza melongo mendengar penuturan Femila. Namun kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum mendapati istri hafal dengan salah satu ayat yang ada di Al Qur'an.
"Jangan heran kenapa aku tahu surah An-nisa ayat 4, itu surah yang harus dikuasai kalau punya suami seorang ustadz," terang Femila.
"Issst...kenapa malah tertawa tidak ada yang lucu," gerutu Femila, kedua tangan dia lepas dari genggaman sang suami.
"Alasan kamu yang lucu sayang," ucap ustadz Mirza tangannya menyelipkan anak rambut yang terurai di wajah Femila.
"Sudah kamu salat dulu, sudah setengah 2."
Femila mengangguk, bangun dari tempat duduk namun bibirnya masih mengerucut belum puas berdebat dengan sang suami.
"Sebentar," pinta ustadz Mirza hingga Femila menghentikan langkahnya.
Ustadz Mirza yang sudah bangkit dari duduk menghampiri Femila.
cup
Satu kecupan mendarat sekilas di bib*r Femila.
"Salat yang khusuk, satu hati hanya untukmu," terang ustadz Mirza kemudian kakinya melangkah keluar kamar.
Senyum kecil tercetak di wajah Femila mendapat perlakuan dari ustadz Mirza.
...****************...
"Assalamualaikum...," sapa ustadz Mirza, kakinya melangkah mendekat ke arah Femila.
"Waalaikum salam," jawab Femila mencium punggung tangan sang suami dan kecupan singkat mendarat di dahinya.
"Jangan terlalu sibuk sayang, kamu kerja dengan aku, tidak ada yang namanya deadline."
__ADS_1
"Ya, ini juga mau sudahan," jawab Femila dengan menggeliatkan tubuhnya karena selepas salat Zuhur jam 12.30 hingga sekarang pukul 15.30, dia sibuk memencet keyboard laptop.
"Makan siangnya apa tadi?"
Femila malah nyengir mendapat pertanyaan dari ustadz Mirza.
Ustadz Mirza menatap curiga, "Kamu belum makan siang?"
"Lupa Ustadz," jawab Femila polos.
"Astaghfirullah haladhim... akhir-akhir ini kamu sepertinya sering melewatkan makan siang Fem. Tadi siang aku telepon tidak kamu angkat?"
"Ponselnya di kamar,"
Ustadz Mirza melangkah keluar.
Femila menatap punggung suaminya, "Ustadz marah apa ya?" gumam Femila kemudian matanya kembali melirik ke laptop karena ada notif masuk melalui telegramnya.
Sedang fokus membalas pesan masuk, Femila dikejutkan dengan keberadaan ustadz Mirza yang sudah duduk di dekat kursi duduknya membawa sepiring nasi dan lauk pauk.
"Makanlah," titah ustadz Mirza.
Femila mengangguk saja karena menatap wajah suami yang terlihat tanpa senyum.
"Berdoa dulu," ucap ustadz Mirza melihat Femila langsung membuka mulutnya.
Femila tersenyum kecil kemudian melantunkan doa. Baru 2 suapan masuk ke mulut, dia merasa perutnya seperti penuh, ulu hatinya sakit dan dada terasa terbakar.
"Kenapa sayang?" tanya ustadz Mirza melihat wajah sang istri seperti menahan rasa sakit."
"Sudah makannya ustadz, nggak tahu perut seperti nyeri sampai ke ulu hati."
"Apa perlu panggil dokter Maya?"
Femila menggeleng, "Kemarin aku sudah beli obat mag, mungkin asam lambungku naik."
"Obatnya ada dimana?"
"Laci nakas kamar."
"Kamu di sini saja biar aku yang ambil."
Femila mengangguk dengan kedua tangan yang masih meremas perutnya.
"Minumlah," pinta ustadz Mirza dengan menyodorkan obat yang dia ambil.
"Terima kasih Ustadz," ucap Femila kemudian menelan obat tersebut.
"Kenapa dari kemarin tidak bilang kalau perut kamu sakit?" tanya ustadz Mirza sambil mengelus punggung Femila.
"Hanya nyeri biasa Ustadz. Lagian mungkin ini asam lambung yang sudah lama sembuh. Entah kenapa sekarang kambuh? Atau mungkin juga mau datang bulan ya?"
"Asam lambung naik itu karena pola makan yang tidak teratur, stres juga bisa menjadi faktor pemicunya. Apa kamu stres dengan pekerjaan yang kuberikan?"
"Nggak lah Ustadz, santai begini bagaimana stres," jawab Femila.
Ustadz Mirza mengangguk pelan. "Setelah minum obat, kalau belum juga sembuh kamu panggil dokter Maya."
"Ya," jawab Femila dengan wajah nyeringis masih menahan elu yang sakit.
Siang hari menyapa kalian, terima kasih masih setia baca novel ini. Mudah-mudahan tidak bosan🥰🥰. Terima kasih yang sudah kirim like, komen, hadiah, vote yang tidak bisa kusebut satu persatu👍👍👍🙏. Sabtu ini masih ada sisa vote kah? Mau dong kasih ke sini😍.
__ADS_1
Lope lope untuk kalian ❤️❤️❤️❤️❤️