KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 58


__ADS_3

...****************...


Aliyah masih memeluk Hana dengan erat rasanya tidak ingin berpisah dari sahabat sekaligus kakak seniornya itu.


"Kapan bisa temu dengan mbak Hana lagi?" Ucap Aliyah bergelayut manja.


"Insya Allah kalau Allah mengizinkan, kita pasti bertemu lagi." Hana melepas pelukan itu.


Sekilas mata ustadz Mirza dan Hana beradu pandang sebelum Hana langsung menundukkan pandangannya.


"Jangan sering pulang, biaya perjalanan mahal." Ucap ustadz Mirza.


Hana tersenyum mendengar ucapan ustadz Mirza, "Abah yang memaksa pulang." Jawab Hana.


"Dek Hana tidak merindukan Kak Habibi?" Sela Habibi.


"Issst...jangan dengar omongan dari dia Mbak. Sukanya nglantur." Ucap Aliyah.


"Bocer Napa nggak diam saja." Ucap Habibi.


Aliyah mencibirkan bibirnya ketika mendengar ledekan dari Habibi.


Hana dan ustadz Mirza tersenyum melihat kekonyolan Habibi dan Aliyah.


"Buruan masuk, nanti malah sampai rumah larut malam." Ajak Habibi.


"Iya." Ketus Aliyah.


Ustadz Mirza juga membuka pintu mobil dan mendudukkan diri di samping pengemudi.


Aliyah dan Ustadz Mirza membuka lebar kaca mobil.


"Salam buat Femila Ustadz." Ucap Hana.


"Insya Allah nanti saya sampaikan."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Tangan Hana melambai Aliyah dan ustadz Mirza membalas lambaian itu.


bip


Mobil kemudian melesat dengan cepat. Melaju kencang memasuki tol Semarang- Jakarta.


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, langkah kaki terhenti di ambang pintu ketika pintu itu dibuka dan sesosok wanita sedang melipat mukena dan sajadahnya yang baru dipakai untuk salat. Seperkian menit pemandangan itu membuat takjub orang yang memandangnya, bahkan tidak ingin menghentikan pemandangan indah itu ustadz Mirza masih berdiri mematung di ambang pintu.


"Subhanallah, benarkah apa yang saya lihat?" Batin ustadz Mirza. Biasanya Femila hanya salat kalau disuruh. Kali ini dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Femila salat tanpa disuruh atau terpaksa.


Senyum manis tercetak di wajahnya langsung dia tarik ketika suara dari belakangnya mengagetkan aksi curi pandang itu.


"Mengapa di sini Nak, langsung masuk." Suruh mama Anita.


"Iya Ma." Ucap ustadz Mirza yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke kamar Femila.


Dengan wajah yang memerah ustadz Mirza masuk menyapa Femila.


"Kalau mau masuk bukannya salam dulu malah main intip, nanti bintilan loh Ustadz." Ledek Femila yang sebenarnya dia merasa terkejut dengan kedatangan ustadz Mirza.


"Assalamualaikum." Sapa ustadz Mirza.


"Waalaikum salam." Ketus Femila tubuhnya sudah bangkit menaruh mukena di atas nakas kemudian naik ranjang.


Ustadz Mirza menaruh kopernya. Mengambil baju ganti dan peralatan mandi. kemudian masuk ke kamar mandi.


"Issst siapa juga yang mengizinkan dia menginap di sini." Gerutu Femila.


tuling


Satu pesan berhasil masuk, Femila meraih ponsel yang dia taruh di atas nakas.

__ADS_1


Mama yang mengizinkan dia menginap di sini. Jangan marahan ya sayang.


"Ya Allah ini mama punya mata batin apa! Kenapa bisa tahu apa yang ada di batin saya!" Kesal Femila menautkan gigi atas dan bawahnya membaca pesan dari mamanya.


"Aghhhhh." Jerit Femila.


"Ada apa Fem?" Gugup ustadz Mirza langsung keluar dari kamar mandi.


"Gara-gara Ustadz." Femila menatap sinis kemudian menarik selimutnya sampai menutup seluruh tubuhnya.


Ustadz Mirza naik ke atas ranjang. "Sudah berdoa?"


"Titip Ustadz." Ketus Femila.


Ustadz Mirza malah tersenyum mendengar jawaban dari yang katanya sudah sah menjadi istrinya. Tangan ustadz Mirza menarik selimut itu hingga tersibak wajah cantik istrinya yang tertutup helaian rambut acaknya.


Sekilas ustadz langsung tertegun dengan kecantikan yang makin terlihat dikala Femila memanyunkan bibirnya hingga kedua alisnya tertaut.


"Main tarik selimut." Ketus Femila.


"Sudah enak-enakan di sana sekarang malah pulangnya ke sini!" Sambung Femila masih dengan nada kesalnya.


Ustadz Mirza lagi-lagi tersenyum dengan tingkah Femila.


"Saya harus menemui istri saya dulu yang sepertinya cemburu mendengar dari nada bicaranya."


"Ustadz mimpi." Femila langsung memejamkan matanya.


"Sebelum pulang, Hana menitip salam buat kamu." Ucap ustadz Mirza sengaja membuat Femila bertambah uring-uringan.


Femila langsung mendudukkan diri dari tidur. "Maaf saya tidak cemburu, saya cuma tidak suka..."


"Dikhianati dengan cara seperti ini." Potong ustadz Mirza.


"Itu kata-kata saya mengapa diucapkan ustadz Mirza." Femila menatap sinis ke arah ustadz Mirza.


Ustadz Mirza terkekeh. "Padahal kemarin ada yang sudah mengikhlaskan." Singgung ustadz Mirza.


Wajah Femila langsung memerah, tubuhnya langsung dia rebahkan dengan posisi memunggungi ustadz Mirza dan selimut yang sedari tadi dia pegang langsung dia tutup ke seluruh tubuh.


...****************...


"Ma, Pa, sekalian kita pamitan pulang." Izin ustadz Mirza.


"Femila kopernya tidak di bawa."


"Yang pamit pulang kan ustadz."


"Femila." Kesal mama Anita sambil menatap tajam ke arah Femila.


"Ya Ma, nanti saya ikut pulang." Pasrah Femila percuma beradu mulut dengan mamanya yang sudah bela mati-matian pada ustadz Mirza.


"Apa perlu Papa yang antar."


"Tidak usah Pa." Jawab ustadz Mirza dan Femila bersamaan.


"Ih....memang kalian so sweet bangeddddddd. Pa, jadi teringat masa muda kita." Manja mama Anita bergelayut di lengan suaminya.


Femila mencibirkan bibirnya kemudian menjulurkan lidahnya bergaya mau muntah dengan tingkah sok manja mamanya.


Ustadz Mirza hanya tersenyum melihat adu perang dua wanita yang ada di hadapannya. Dia tahu dari lubuk hati dua wanita itu saling menyayangi.


"Nak Mirza jangan kamu lepaskan Femila, pepet terus, kawal terus." Ucap mama Anita.


Ustadz tersenyum "Ya Ma."


"Bagus." Dua jempol jari mama Anita acungkan.


"Pa, tambahin jempolnya biar makin banyak pendukungnya." Mama Anita menyiku tangan suaminya.


Papa Riyan mengikuti permintaan sang istri mengacungkan dua jempol jarinya. "Memang perlu voting jempol begini."

__ADS_1


Mama Anita mengangguk cepat.


"Cepat Ustadz, lama-lama di sini bisa stres." Femila melangkah ke kamarnya mengambil koper.


Mama Anita tersenyum menatap punggung anak dan menantunya yang masuk ke kamar untuk mengambil koper.


Ingatannya kembali teringat pada kemarin malam dengan Femila.


Flashback on


Femila masih terdiam di atas ranjang tidur. Makan malam kali ini dilewatinya.


"Sayang, sebenarnya ada apa?" Tanya lembut mama Anita sambil membelai rambut anaknya.


"Bertengkar dengan nak Mirza?"


Femila menggelengkan kepalanya.


"Saya bertemu Andra lagi."


deg.


Mama Anita memeluk tubuh anaknya menyusupkan ke dadanya. Dibelainya rambut anak semata wayangnya.


"Kenapa dengan dia?" Tanya mama Anita sambil melepas pelukannya setelah dirasa Femila lebih tenang.


Mata mama Anita memandang Femila dengan lekat, anaknya tetap menundukkan kepalanya.


"Kamu selalu seperti ini, menjadi diam, marah, lupa makan, setiap bertemu dengan Andra. Lupakanlah dia sayang, dia hanya masa lalu."


"Rasa benci dan cinta saya tetap ada Ma."


"Kamu harus bisa menguasai diri. Ikhlaskan semuanya. Kikislah rasa benci dan cinta itu. Masa depan kamu itu suami kamu. Dia orang yang baik yang pasti bisa membahagiakan kamu. Jangan pernah kamu sia-siakan."


Femila terdiam.


"Mengerti sayang?"


Femila masih terdiam. Mama Anita mengelus rambut sebawah bahu milik Femila.


Flashback of.


"Assalamualaikum, Tante." Sapa Aliyah mendekat ke mama Anita dan Papa Riyan kemudian mencium punggung tangan mereka.


"Waalaikum salam, Femila masih ambil barang. Kamu duduk dulu." Tangan mama Anita menggandeng Aliyah untuk duduk di sofa tamu dan mendudukkannya di sampingnya.


Aliyah agak risih dan menatap heran karena diperlakukan seperti itu. "Tante minta nomor ponsel kamu." Pinta mama Anita.


"I-iya." Aliyah merogoh tasnya untuk mengambil ponsel.


"Nomor Tante berapa?" Sambung Aliyah kemudian mencatat nomor yang disebutkan mama Anita, setelah itu mengirimkan nomor ponselnya ke nomor tersebut.


"Sudah lama Al?" Sapa Femila begitu melihat asistennya duduk di ruang tamu.


"Baru saja Non." Jawab Aliyah.


"Yuk langsung berangkat." Ajak Femila.


"Ustadz juga ikut?" Bingung Aliyah karena ustadz Mirza sudah rapi dan di luar tidak ada mobil yang biasa dikendarai ustadz Mirza.


"Habibi sedang ada urusan jadi tidak bisa jemput." Ucap Femila.


"Sesampai kantor nanti mobilnya saya bawa. Pulangnya kalian saya jemput." Terang ustadz Mirza.


"Ma, Pa. Kita berangkat."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Jawab Mama Anita dan papa Riyan.


Mama Anita berhenti melambaikan tangan.

__ADS_1


"Kalau lihat seperti ini. Saya harus ikut campur urusan kalian. Nak Mirza kurang percaya diri untuk lebih dekat dengan Femila. Tapi apa memang nak Mirza tidak cinta dengan Femila? Tidak! Pasti ada, hanya saja nak Mirza belum menyadari perasaannya. Perhatian nya pada Femila terlihat tulus jadi saya yakin dibalik ketulusan itu terselip cinta yang tulus pula." Monolog batin mama Anita.


"Dan kamu Femila, si keras kepala sekeras batu karang. Pasti akan berlubang kalau diterpa air cinta dari nak Mirza. Kamu masih bingung Fem dengan perasaan kamu yang sebenarnya, mengarah ke Andra atau nak Mirza. Mama akan pastikan nak Mirza akan mendominasi di hati kamu. Jadi tunggu rencana mama untuk kalian." Batin mama Anita berkecamuk penuh tanya jawab sendiri dan semangat yang menjalar ke tubuhnya, menggapai kebahagiaan untuk anaknya.


__ADS_2