
"Waalaikum salam." Jawab Femila gugup tidak menyangka bisa bertemu dengan Aa' Umar di situ.
"Tebakan saya tepat, Femila yang Ustadz Mirza nikahi itu adalah kamu." Ucap Umar.
Femila tersenyum mengangguk pelan. Sedangkan mereka yang menyaksikan interaksi tanpa canggung antara Femila dan Umar sangat heran.
"Kamu kenal istri Nak Mirza Umar?" Tanya Abah Yai.
"Kami pernah bersama dalam tim relawan bencana gempa Bantul." Singkat Umar.
"O..." Mengiyakan ucapan Umar.
"Subhanallah Nak Mirza memang pintar memilih pasangan, lihat dia cantik sekali." Ucap Bu nyai setelah Femila bersalaman dengannya.
Femila hanya tersenyum mendengar pujian itu.
"Maaf ya Nak, kita tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Saat itu istri Umar mau melahirkan."
"Tidak apa-apa Abah, yang terpenting doa dari Abah Yai dan Bu Nyai."
"Selalu kami doakan, semoga keluarga kalian Mirza Zeyn Ahmad Bin Rifa'i Ahmad dan Femila Amore Ibrahim bin..." Dagunya menunjuk Femila untuk meneruskan kalimatnya.
"Riyan Ibrahim." Ucap Femila.
"Riyan Ibrahim menjadi keluarga yang sakinah ma waddah wa rohmah, alfatihah..."
Amin.
"Insya Allah dalam waktu satu bulan ini, untuk sekolah menengah kejuruan pesantren Mubtadi'in akan diresmikan. Sekalian acara haul. Kamu harus datang Nak." Pinta Abah Yai.
"Insya Allah Abah... mudah-mudahan tidak ada halangan apapun dan kami bisa menghadiri acara itu."
"Amin."
"Maaf Abah, kita harus pamit mau melanjutkan perjalanan ke Jepara."
"Loh nanti saja, biar kami siapkan sarapan pagi dulu."
"Tidak perlu repot-repot Abah, bude sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Nanti malah mubazir."
Abah Yai menganggukan kepalanya pelan. "Ya sudah, hati-hati di perjalanan."
"Selamat A' Umar sudah menjadi seorang ayah."
Terima kasih Fem. Kamu juga cepat punya momongan."
Femila tersenyum.
Ustadz Mirza, Habibi, dan Femila bangun dari tempat duduk. Mereka pamit pergi dari pesantren.
Butuh dua jam setengah untuk tiba di rumah pakde dan bude. Begitu sampai di sana mereka langsung di sambut oleh pakde dan bude.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Masya Allah cantik sekali anaknya bude." Bude Aisyah langsung memeluk Femila.
Femila menyambut pelukan itu. Kemudian meraih tangan pakde Mulyo dan mencium punggung tangan itu.
"Hai Tante Femila yang cantik."
"Hai Retha, ponakan Tante yang cuantik." Balas Femila sambil memeluk Retha anak dari Bude Aisyah dan pakde Mulyo.
"Kalian sehat semua."
"Alhamdulillah Pakde. Pakde sekeluarga juga sehat kan."
"Alhamdulillah."
__ADS_1
"Masuk Nak, itu bude sudah menyiapkan sarapan." Ajak Pakde Mulyo sambil merangkul pundak ustadz Mirza.
Femila melangkah mengekor dua orang yang ada di depannya.
Selesai mereka menyantap sarapan. Femila bercengkrama dengan bude Aisyah, bercerita tentang ustadz Mirza kecil. Femila juga sama, sesekali mengulik masa kecilnya.
"Memang cerita masa kecil Nak Mirza sangat menyedihkan. Pantas kalau kamu sampai menangis seperti ini."
"Ini karena bawang Bude." Ucap Femila masih mengupas bawang dan air matanya masih mengalir deras sampai ingusnya juga keluar saking pedasnya.
Bude Aisyah terkekeh mendengar penjelasan Femila, "Ya Allah maaf Ndok, maaf bude tidak tahu. Sini biar bude yang kupas."
"Tidak apa-apa bude biar Femila lanjutkan."
"Masakan apa yang pernah kamu hidangkan untuk suamimu?"
teng tong,,
Femila menggelengkan kepalanya pelan. Pertanyaan bude Aisyah terasa hanya sindiran untuknya.
Bude terkekeh kembali melihat ekspresi Femila. "Santai saja Ndok, kenapa wajah kamu berubah seperti itu."
"Saya tidak pernah memasak apa pun untuk ustad Mirza Bude," jujur Femila.
"Ya, bude paham. Bentuk perhatian ke pasangan tidak hanya menyediakan hidangan makanan bisa juga dengan perhatian yang lainnya. Mendengar keluh kesahnya, mau berbagi masalah, mau menerima kekurangan kelebihan pasangan. Kamu mau datang ke sini silaturahmi ke keluarga pasangan itu juga salah satu bentuk perhatian." Terang bude Aisyah.
Femila diam menganggukkan kepalanya mendengar wejangan dari bude Aisyah, merasa apa yang dikatakan Budenya sangat jauh dari dirinya.
"Bude yakin kamu wanita yang baik, pasti bisa hidup bahagia dengan Nak Mirza dunia dan akhirat." Tangan bude Aisyah menggenggam jemari Femila meyakinkan ucapannya pasti bisa digapai.
Femila hanya tersenyum membalasnya.
"Bagaimana bisa saya seperti ini, terjebak dalam pernikahan sang ustadz. Ya ampun, saya yang terjebak atau bahkan saya yang menjebak ustadz Mirza? Ahhh!!!!" Batin Femila bermonolog.
Malam hari menyapa.
Femila masih duduk di tepi ranjang. Tangannya sibuk melepas kaki palsunya karena akan merebahkan tubuhnya untuk istirahat malam.
"Terima kasih." Ucap Femila.
Ustadz Mirza tersenyum kemudian naik ranjang tidur.
"Tadi bincang apa saja sama bude?"
"Banyaklah. Paling sering tentang Ustadz kecil."
"Tapi semuanya tentang yang baik-baik kan?" Canda ustadz Mirza.
Femila tersenyum.
"Waktu di pesantren...kami sangat kaget saat tahu kamu kenal dengan Gus Umar."
"Apa kurang jelas, dia sudah katakan kenal saya waktu menjadi relawan gempa Bantul."
"Hanya itu?" Selidik ustadz Mirza.
Femila menatap ustadz Mirza. "Mau Ustadz lebih?"
Ustadz Mirza menarik sudut bibirnya, entah kenapa mulutnya bisa menanyakan sejauh itu.
"Saya juga sempat kaget. Mengapa dunia begitu sempit. Hana kekasih ustadz itu ternyata punya saudara yang dulu pernah suka dengan saya."
deg
Ucapan Femila sangat mengejutkan ustadz Mirza. Bukan ucapan Hana sebagai kekasihnya. Melainkan Gus Umar yang menyukai Femila, walaupun sudah dalam prediksinya tidak mungkin sekedar hubungan biasa karena saat melihat ekspresi Gus Umar bertemu dengan Femila jelas berbeda.
"Apa kurangnya Gus Umar sampai kamu menolaknya, dia bisa dibilang sempurna."
"Ada apa Ustadz menanyakan itu, apa jangan-jangan Ustadz cemburu?" Femila terkekeh dengan ucapannya sendiri.
__ADS_1
Ustadz Mirza gugup mendengar ucapan Femila.
"Seperti kata Ustadz, dia terlalu sempurna makanya saya tidak ingin menjalin hubungan lebih dari sahabat." Terang Femila tanpa harus berkata bla bla bla yang nantinya akan berujung lama.
tuling
secara bersama ponsel Femila dan ustadz Mirza berbunyi, satu pesan masuk.
"Habibi!" Teriak mereka berdua, geram dengan pesan yang dikirim dari Habibi.
Pesan yang dikirim Habibi berupa foto ketika ustadz Mirza dan Femila tertidur di mobil. Mereka terlihat romantis. Ada yang bersandar di bahu salah satu pasangan. Tapi siapa yang bersandar? Ustadz Mirza bukan Femila.
"Kenapa tidak membangunkan saya?"
"Bagaimana mau bangunkan, Ustadz tidurnya sangat pulas."
"Bahunya masih sakit."
"Memang kenapa? Mau pijitin."
"Mau saya pijit." Tangan ustadz Mirza bergerak mendekat ke Femila.
Namun Femila berteriak-teriak sambil menjauh dari jangkauan tangan ustadz Mirza.
Ustadz Mirza terkekeh.
Bude Aisyah yang jalan melewati kamar itu hanya tersenyum sambil mengucap doa, "Semoga kalian bahagia dunia akhirat."
"Nanti pulangnya siap buat sandaran kamu." Ustadz Mirza menepuk-nepuk bahunya.
"Terima kasih Ustadz, pasti akan saya balas." Femila menjulurkan lidahnya kemudian langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ustadz Mirza tersenyum melihat tingkah Femila yang kekanakan. "Berdoa dulu."
"Hmmm."
...****************...
Femila turun dari mobil. Aliyah mengekor di belakangnya. Sudah dua minggu ini Aliyah yang mengemudi mobil untuk ke kantor atau kemana pun Femila pergi.
"Kita salat dulu Non." Ajak Aliyah.
"Kamu duluan. Saya cuma sebentar di ceo room."
"Lagian kenapa Non tidak telepon Om Fery saja, kan praktis tidak harus ke kantornya."
"Saya mau bertemu langsung sama om Fery jadi lebih enak bicaranya."
Dua Minggu yang lalu PT Perkasa Bintang mengurangi permintaan jumlah semen karena proyeknya ada sedikit permasalahan. PT Perkasa Bintang berjanji setelah dua minggu, pengiriman semen mulai normal. Tapi baru tiga hari pengiriman dari PT Perkasa Bintang malah meminta untuk menghentikan pengirimannya terlebih dahulu.
"Setelah salat kamu langsung ke mobil saja."
"Ya Non."
Femila melangkah naik ke lantai dua puluh. Sekretaris Tika membukakan pintu ceo room begitu Femila sampai di depan ruangan itu.
"Silahkan Mbak."
"Terima kasih." Ucap Femila kemudian mendudukkan pantatnya di sofa ruangan.
Pintu toilet terbuka.
Dua pasang mata saling menatap tajam terkejut.
"Andra." Bibir Femila bergetar menyebut nama mantan kekasihnya.
"Apa kabar Femila?"
Siapa yang sudah kangen Andra???
__ADS_1
Authornya juga sudah kangen pada si tampan Andra Aksara Barata 🥰😍🤗
Nantikan kelanjutannya ya...dijamin seru. Andra minta bunga nich🌹🌹🌹...kasih dong🤭