
"Maaf, saya sudah menikah." Ucap Femila masih menatap lekat wajah yang tertunduk di kursi barisan tamu.
"Subhanallah, kalian sudah menikah? Selamat Ibu, Bapak." Pembawa acara mengulurkan tangan pada Femila dan Andra yang sudah bangkit dari jongkoknya.
"Bukan dengan dia tapi dengan orang lain." Ucap Femila kemudian menatap kembali wajah tamu yang ada di barisan depan.
"Oh...maaf." Ucap pembawa acara terlihat canggung dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Kita beri tepuk tangan lagi untuk Fia, dan terima kasih untuk Ibu Femila dan Bapak Andra. Kami persilahkan untuk duduk kembali." Pembawa acara langsung mengalihkan pembicaraan.
Satu persatu acara telah selesai. Ustadz Mirza berjalan beriringan dengan Femila melangkah ke parkiran mobil.
Sahabat dari tim kajian Islam juga keluar mengekor di belakang ustadz Mirza.
"Ustadz, kita mampir ke markas kajian." Tawar Ikbal.
Ustadz Mirza memandang ke arah Femila mengisyaratkan untuk mengiyakan permintaan temannya.
Femila mengangguk.
"Ok." Jawab Ustadz Mirza.
Tiga puluh menit mereka sampai di markas kajian Islam.
Femila memutar netranya melihat tempat yang mereka sebut markas kajian Islam.
"Kita salat jamaah dulu." Ajak ustadz Mirza.
"Ya Ustadz."
Ada empat anggota tim kajian Islam yang saat itu hadir. Ikbal, Yusuf, Panji, dan Amin. Mereka adalah alumni mahasiswa, rekan kerja, sekaligus sahabat untuk ustadz Mirza.
Setelah selesai salat mereka makan nasi dus dari panti asuhan. Makan sederhana dengan kerahatan yang tercipta.
"Ustadz, konten minggu ini masih kosong. Kalau diisi profil Ustadz bagaimana?" Usul Amin.
"Kalau ringkasan kajian sebelumnya?" Jawab ustadz Mirza.
"Sudah dua kali konten yang seperti itu Ustadz." Ucap Amin.
"Profilnya tentang apa saja?" Tanya Ikbal.
"Insya Allah yang lebih bermanfaat untuk viewers." Jawab Amin.
"Perjalanan hidup Ustadz dari kecil sampai sekarang, bisa?" Usul Yusuf.
"Maksudnya sampai sekarang?" tanya ustadz Mirza.
"Ya sampai sekarang dengan istri Ustadz."
__ADS_1
Femila sampai tersedak mendengar jawaban Ikbal. Ustadz Mirza langsung mengambil minuman untuk Femila.
"Hati-hati." Ucap ustadz Mirza sambil mengelus tengkuk Femila.
"Maaf Mbak, biar kejadian yang seperti tadi tidak terulang lagi, mbak Femila dikira belum menikah. Lebih bahaya lagi dengan jamaah wanita ustadz Mirza. Eh... sudah tahu ustadz Mirza menikah saja mau kalau di poligami, apalagi tahunya masih single, wah...tambah bahaya." Canda Ikbal sambil terkekeh.
Lain hal tanggapan dari Femila yang langsung menyemburkan minumannya karena terlalu shock dengan ucapan Ikbal.
"Ikbal...kamu kelewatan bercandanya." Timpal Panji.
"Memang tidak salah juga ucapan Ikbal, saya sering membaca DM dari fans ustadz Mirza yang meminta untuk dijadikan istri. Bahkan mereka rela bila dijadikan istri kedua, ketiga, atau keempatnya." Tambah Habibi.
"Habibi." Ustadz Mirza menatap tajam ke arah Habibi.
"Saya serius, Ustadz saja yang tidak mau membalas ribuan DM itu. Kalian baca juga kan berbagai komentar di konten kajian Islam yang sebagian besar jamaah wanita, mereka semua pengagum ustadz Mirza." Sambung Habibi bukan menghentikan ucapannya malah semakin menjadi.
Femila menelan salivanya dengan susah mendengar rentetan ucapan yang terlontar dari mulut Habibi.
"Bi, lain kali salah satu fans itu kamu ajak kencan. Biar tidak jomblo terus statusmu." Celetuk Femila.
"Saya suka. Gaya dan nada bicara Non Femila semakin mirip saja dengan ustadz Mirza." Ucap Habibi.
"Habibi." Ustadz Mirza mengingatkan agar Habibi diam karena akan panjang kalau dua orang itu beradu argumen, tidak ada satu pun yang mau mengalah.
"Ya Ustadz, maaf." Ucap Habibi.
Femila tersenyum merasa menang mendapat pembelaan dari yang katanya sudah sah menjadi suaminya.
"Ustadz, setelah panti asuhan Anak Bangsa, apa ada sasaran berikutnya yang akan mendapat sumbangan dari channel kajian Islam?" Tanya Yusuf.
"Kita pertimbangkan dulu. Selain dari channel ini, sebenarnya dana yang kemarin kita kumpulkanbjuga dari dana pribadi teman-teman kita. Maka kemungkin, bulan depan masih terfokus di kaum duafa dan panti asuhan Anak Bangsa terlebih dahulu.
Mereka mengangguk.
Femila masih mendengarkan arah pembicaraan mereka. Menikah dengan ustadz Mirza sedikit banyak mengubah lingkup pergaulan Femila. Dua sudut bibirnya mengembang menggambar sebuah senyuman kecil. "Beruntung sekali saya bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian yang peduli dengan sesama."
Kegiatan peduli seperti ini sebenarnya sudah diterapkan Femila jauh sebelum mengenal Ustadz Mirza. Tidak heran Femila antusias ketika diajak ke markas Kajian Islam.
Dua hari kemarin. Aliyah bercerita tentang channel kajian Islam yang ustadz Mirza pimpin. Intinya dari cerita Aliyah, dana yang terkumpul dari channel setengah untuk menggaji tim dan setengah lagi disumbangkan ke kaum duafa dan berbagai dinas sosial yang membutuhkan. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Femila ingin lebih dalam mengenal kajian Islam. Beruntung tanpa Femila harus melontarkan keinginannya, hari ini malah diajak ke markas kajian Islam.
"Saya dulu pernah membuat kumpulan semacam ini, tapi karena kesibukan dari masing-masing anggota akhirnya klub kami bubar." Ucap Femila.
"Wah itu bagus mbak, coba dihubungi kembali teman-teman mbak. Kapan-kapan kita kolaborasi penggalangan dana." Saran Amin.
"Kajian Islam juga mbak?" Tanya Yusuf dengan polos.
"Maksudnya, kegiatan sosialnya yang sama." Terang Femila.
"Oh...."
__ADS_1
"Lain waktu saya usahakan untuk menghubungi mereka kembali."
Ustadz Mirza nampak tersenyum. Hatinya merasa senang wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya bergaul baik dengan teman-temannya, bahkan terlihat nyambung dengan arah pembicaraan mereka.
"Sudah sore kita jamaah Asar dulu, setelah itu pulang." Ajak Ustadz Mirza.
"Ya Ustadz." Jawab Habibi.
Mereka segera bangkit dan salat berjamaah. Setelah selesai ustadz Mirza, Femila, dan Habibi melangkah keluar.
"Kalian tidak pulang?" Tanya Habibi.
"Kami pulang juga ngapain, toh di rumah tidak ada yang menunggu." Jawab Ikbal.
Ustadz Mirza, Femila, dan Habibi melangkah ke parkir mobil. Keempat tim kajian Islam mengantar sampai depan.
Namun tiba-tiba ada kejadian diluar dugaan. Ada seseorang yang masuk dan dengan gerak secepat kilat mengarahkan pisau ke perut ustadz Mirza. Untung dengan sigap Femila yang saat itu berada di depan Ustadz Mirza menarik orang tersebut. Karena kaki Femila tidak kuat untuk menahan beban akhirnya orang tersebut membalik arah dan crus....
Satu sayatan dalam menoreh di tangan kanan Femila.
Bug... tinjuan dari Habibi mengarah orang misterius itu hingga tumbang. Dibantu Ikbal, Yusuf, Amin, dan Panji, orang misterius yang berusaha melawan itu tanpa ampun semakin terkapar.
Ustadz Mirza segera meraih tubuh Femila. Kemeja yang dikenakannya dia lepas, untuk mengikat bawah siku agar darah yang keluar tidak semakin banyak.
Darah segar yang mengucur deras memenuhi kemeja yang sudah tersemat di tangan Femila. Tangan Ustadz Mirza segera mengangkat tubuh Femila masuk ke dalam mobil.
"Habibi, kunci mobilnya." Pinta Ustadz Mirza.
Habibi segera membuka pintu mobil.
Femila langsung di dudukan di jok penumpang. Namun tubuh itu tetap dalam pangkuannya.
"Cepat Bi, ke rumah sakit terdekat."
"Ya Ustadz."
"Kalian urus penjahat itu, segera hubungi yang berwajib. Saya akan mengantar Non Femila ke rumah sakit."
"Ya, kamu jangan khawatir, kita akan selesaikan ini." Jawab Ikbal.
Habibi melajukan mobilnya.
Femila masih di pangkuan ustadz Mirza, tubuh itu dia rengkuh, peluk dalam-dalam. Wajah Ustadz Mirza jelas menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Napasnya masih tersengal-sengal tidak beraturan, ritme jantungnya berdetak kencang.
"Kita segera sampai." Ucap ustadz Mirza menatap wajah yang kini bertumpu pada dadanya. Beberapa kecupan mendarat di pucuk kepala Femila.
Femila mendongakkan wajahnya, memperlihatkan senyum berharap laki-laki yang kini memeluknya lebih tenang. Tangannya mengusap rahang Ustadz Mirza. "Saya baik-baik saja." Ucap Femila dengan lirih, kenyataannya wajah Femila mulai pucat karena banyaknya darah yang keluar.
Selamat siang readers...🥰😍
__ADS_1
semoga selalu sehat 🤲❤️