KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 25


__ADS_3

Femila menarik paksa tangannya. Rona wajahnya terlihat kecut menatap sesosok orang yang telah membantunya bangkit dari jatuh. "Saya bisa sendiri." Ucapnya dengan kesal. Namun naas Femila lupa kalau dirinya sekarang sulit untuk berdiri sendiri dengan satu kaki tanpa bantuan kruk.


Brugg


Femila terjatuh kembali dan ustadz Mirza bingung harus bertindak bagaimana.


"Mengapa hanya menatap saja! Dasar laki-laki tidak peka." Gerutu Femila mengambil kruk yang disodorkan ustadz Mirza. Kemudian bangkit dengan hati-hati.


"Saya yang salah mbak, jangan salah kan ustadz, saya minta maaf." Sela Habibi.


"Kalian berdua yang salah. Mengapa sekian juta umat manusia harus bertemu kalian di rumah makan ini!" Femila melangkah pergi dengan langkah kaki yang makin terseok, sesekali nyengir merasakan punggungnya lumayan sakit.


Ustadz Mirza hanya tersenyum namun dalam hatinya berkata, "Bagaimana bisa dia meminta untuk saya nikahi tapi sikapnya seperti ini?"


...****************...


Femila merebahkan tubuhnya ke kasur, matanya memandang cincin yang ada di jari manisnya. Memutarnya kemudian dia lepas, cincin emas putih bermata berlian. Menatap intens lingkar dalam cincin yang tertulis nama Andra.


"Bagaimana kabarmu Andra? Apakah kamu merasakan rindu yang sama seperti saya rasakan? Semua foto kamu sudah saya hapus dari memori ponsel, tapi wajah kamu mengapa masih jelas dalam memori otak saya, belum sedikit pun terlihat pudar bahkan semakin tampak jelas kian hari. Oh Tuhan, betapa berat menghapus jejaknya. Bisakah saya bertemu kembali dengannya?" Ratap Femila yang kini air matanya mulai membasahi pipi.


"Saya seperti hidup tetapi tidak hidup Andra, setiap hari saya harus berjuang melawan ego sendiri, harus menyemangati diri sendiri. Belum lama kamu pergi, tapi kenapa saya begitu lelah. Seharusnya saya ikhlas jalani ini semua. Bukankah memang saya tidak pantas bersanding dengan kamu yang begitu sempurna?" Hati Femila berkecamuk masih dengan linangan air mata yang mulai membasahi bantal yang ada didekapnya.


Lama dia bermonolog lamat-lamat matanya mulai terpejam, bantal yang dia dekap semakin basa karena terlalu lama dia menangis. Kini matanya terpejam sempurna, cincin yang sedari tadi dia pegang jatuh menggulir entah kemana.


Suara mama Anita sudah menggema dari balik pintu kamar. Rupanya pagi hari sudah menyapa. Femila tidak tahu berapa lama semalam dia menangis, jam berapa dia mulai tertidur. Femila hanya menggeliatkan tubuhnya saja lalu memejamkan matanya kembali karena rasa kantuk yang masih dia rasa.


"Femila sayang, ayo bangun." Mama Anita menerobos masuk ke kamar Femila karena panggilan pertamanya tidak dihiraukan Femila.


"Sudah siang loh sayang. Tidak biasanya kamu tidur sampai siang. Papa malah sudah berangkat ke kantor dan mama juga mau ke butik."


"Masih ngantuk Ma." Jawab Femila.


"Tadi malam kamu tidak tidur ya?


"Tidur."


"Mengapa matanya hitam seperti panda?" Telisik mama Anita.


"Apaan sih Ma, Femila mau lanjutin tidur."


"Ya ampun sayang, kalau kamu tidak bangun bagaimana mama ke butik?"


"Mama tinggal ke butik saja kenapa nunggu Femila bangun." Sewot Femila.

__ADS_1


"Kamu kan janji mau bantu mama di butik."


"Femila tidak janji! Mama sendiri yang maksa."


"Ayolah sayang, bangun."


"Nanti Femila nyusul. Sudah Mama pergi saja." Femila mendorong mamanya dari tepi ranjang agar beranjak dari kamar tidurnya.


"Nanti beneran nyusul ya." Teriak mama Anita dari pintu luar.


"Ya." Singkat Femila.


"Issst itu anak susah diajak move on." Gerutu mama Anita kemudian pergi.


Nyatanya sudah setengah hari penuh Femila hanya mengurung diri di kamar. Ponselnya sudah beberapa kali berdering namun tidak dia hiraukan. Menikmati kesendirian begitu yang ingin Femila rasakan.


"Ya ampun sayang, kamu dari pagi tidak kunjung keluar ya? Berapa kali mama telepon tidak kamu angkat. Berapa kali mbok Mina panggil kamu buat makan tidak kamu hiraukan." Omel mama Anita begitu pulang ke rumah.


"Mama baru pulang tidak capek apa. Ngomel begitu."


"Cepat mandi mama tunggu buat makan malam."


"Ya Ma." Malas Femila karena memang nyatanya dari pagi sampai mamanya pulang dia masih betah di atas ranjang tanpa makan apalagi mandi.


"Mama tunggu di meja makan ya sayang." Teriak mama Anita.


"Ya Ma." Jawab Femila dari dalam kamar mandi.


"Mama tahu sayang, ini masa tersulit buat kamu. Tapi mama yakin akan indah pada waktunya kalau kamu menjalani dengan ikhlas." Batin mama Anita bermonolog dan air mata yang mengalir ke pipi langsung dia hapus.


Femila yang sudah bersih melangkah ke meja makan di sana sudah ada mama Anita dan papa Riyan.


"Femila tidak ikut mama ke butik?" Tanya papa Riyan.


"Lagi malas Pa."


"Sesekali ajak Silla buat jalan-jalan biar fresh pikiran kamu. Kalau mau ke Bali juga boleh, nanti papa yang urus tiket dan segala keperluannya." Usul papa Riyan.


"Siap Pa!" Ucap Femila dengan sumringah.


" Ada tamu Pak." Ucap Mbok Mina di sela makan mereka.


"Suruh tunggu mbok. Sebentar lagi kita selesai makan."

__ADS_1


"Ya Pak."


Selang beberapa menit papa Riyan yang sudah menemui tamu itu masuk menemui mama Anita dan Femila yang masih duduk di meja makan.


"Kita temui tamu bersama."


"Tamu siapa Pa?" Penasaran mama Anita sambil mengekor suaminya dan Femila.


"Lihat saja." Jawab singkat papa Riyan.


Femila menatap sesosok orang yang satu minggu lalu dia temui.


"Assalamualaikum Bu, Femila." Ustadz Mirza meraih tangan mama Anita dan mencium punggung tangan itu.


"Duduk Nak." Ucap mama Anita. Walaupun dirinya tidak terlalu suka dengan kedatangan tamu yang kini ada di hadapannya namun mama Anita masih punya tata krama menerima tamu.


"Maaf sebelumnya Bapak dan Ibu saya mengganggu istirakhat nya. Saya ke sini bermaksud silahturahmi dan akan menyambung tali silaturahmi lebih erat dengan meminang anak Bapak dan Ibu."


Femila langsung menyunggingkan bibirnya. "Ternyata dia menepati janjinya dan berani juga ini orang langsung melamar di depan mama dan papa." Batin Femila


"Apa kami tidak salah dengar Nak? Maksud kamu apa? Jangan hanya karena iba dengan kondisi Femila yang sekarang akhirnya kamu melamarnya. Memang Femila batal menikah kamu juga andil besar dalam hal itu. Tapi menikahinya itu bukan solusinya." Ucap mama Anita panjang lebar.


"Maksud Mama, dia orang yang telah menabrak Femila!" Kaget papa Riyan karena memang belum pernah melihat ustadz Mirza.


Mama Anita mengangguk dan masih dengan wajah yang merah padam menahan amarahnya.


Sedangkan Femila masih diam dengan pikiran nya.


"Pergi!" Usir papa Riyan.


"Pa tenang, jangan ke bawa emosi." Ucap mama Anita sambil mendudukkan suaminya.


"Saya yang menyuruh dia menikahi saya Ma, Pa." Ucap Femila tanpa ada beban.


Mama Anita dan papa Riyan terkejut langsung menoleh ke arah Femila.


"Maksud kamu apa Femila?" Tanya mama Anita.


"Apa salahnya Ma, ini sudah keputusan Femila."


"Tidak, mama tidak setuju Fem, menikah itu bukan main-main."


"Papa juga tidak setuju." Sambung papa Riyan.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau main-main Ma. Buktinya ustadz Mirza beneran datang ke sini melamar saya. Bukankah begitu ustadz?"


__ADS_2