
"Fem, apa sebaiknya tidak usah," pinta ustadz Mirza.
"Harus," tegas Femila.
"Baru tiga bulan sayang."
"Tiga bulan itu bukan baru, tapi lama. Lagian Ustadz tahu sendiri bagaimana merengeknya mama dan papa minta cucu. Kaya minta boneka saja tinggal beli di toko. Ini anak, buatnya iya enak tapi...jadi adonan apa tidak, itu yang tidak bisa kita tebak," gerutu Femila panjang lebar sambil ngaca membenarkan jilbabnya.
Ustadz Mirza terlihat mengusap kasar wajahnya.
Femila melirik ke arah lelaki yang memang sudah sah menjadi suaminya.
"Ustadz kenapa terlihat tegang?" Bingung Femila.
"Jangan bilang Ustadz takut kontrol ke dokter," selidik Femila matanya kini menatap intens ke arah suaminya yang sedang mengemudi.
Ustadz Mirza menghempaskan napasnya kasar. "Hanya sedikit gugup," jujur ustadz Mirza.
Femila tersenyum karena itu. "Aku kira kenapa sayang," ucap Femila tangannya langsung mengelus rahang lelakinya.
Sampailah mereka di klinik Sehat Keluarga. Mereka langsung masuk ke poli kandungan. setelah dijelaskan panjang lebar. Mereka pulang.
"Bulan depan periksa lagi."
"Hmmm," dengung ustadz Mirza.
"Sepertinya Ustadz tidak semangat untuk program anak," keluh Femila, bibirnya manyun merasa kesal.
Ustadz Mirza tersenyum melirik ke arah wanita yang memang sudah sah menjadi istrinya. Tangannya segera meraih pucuk kepala sang istri namun Femila memundurkan kepalanya. Ustadz Mirza semakin tersenyum mendapati reaksi sang istri.
Matanya menatap spion. Mobilnya dia tepikan setelah melihat tidak ada pengendara dari belakang.
Femila masing diam memangku tangannnya. Ustadz Mirza menatap lekat netra sang istri.
"Ingat pasal 1 ayat 1, memanyunkan bibir akan dikenakan hukuman kecupan di bib*r," ujar ustadz Mirza dengan menyentuh bib*r itu.
"Pasal 1 ayat 2, apabila terdakwa masih melakukan tindakan yang disebutkan di pasal 1 ayat 1 maka akan mendapat hukuman yang sama merujuk pada pasal sebelumnya," terang ustadz Mirza namun yang diajak bicara tetap diam memangku tangan.
Ustadz Mirza meraih tengkuk Femila mendekatkan wajahnya lebih dekat dan lebih dekat tapi Femila semakin memundurkan wajahnya dan memundurkan sampai kepalanya mentok bersandar di tepi kaca mobil dan posisi tubuh menghadap ke lelaki yang kini di hadapannya.
Ustadz Mirza yang berada di posisi menguntungkan langsung melakukan aksi
cup
Satu serangan mendarat sempurna di spot sesuai pasal ala mereka tepatnya pasal ala ustadz Mirza. Pasal yang kedua juga dilancarkan ustadz Mirza karena pasal yang pertama tetap dilanggar oleh terdakwa.
"Ustadz...," tangan Femila memukul paha sang suami.
Ustadz Mirza terkekeh karena itu.
Femila tampak merekahkan senyum, "Awas kalau curi-curi seperti ini lagi," canda Femila.
Ustadz Mirza segera melajukan mobilnya setelah mendapati senyum dari wajah sang istri.
...****************...
Tidak seperti biasanya, makan malam kali ini Femila ikut membantu Mbak Atik menyiapkan makan.
Ustadz Mirza sempat terkejut melihat sang istri. Dia duduk di kursi makan sembari menatap istrinya yang masih menata makanan di atas meja makan.
"Jangan capek-capek biar mbak Atik yang mengerjakan," ucap ustadz Mirza.
"Tidak Ustadz, aku hanya membantu menyiapkan makanan," sanggah Femila.
"Kaki kamu nanti sakit Fem."
__ADS_1
"Sayang, jangan terlalu khawatir. Insya Allah aku bisa mengukur kemampuanku. Kalau memang itu membuat kakiku sakit aku akan menyetopnya," terang Femila tangannya masih menata meja makan.
"Sudah saya peringatkan Ustadz, tapi Non Femila tetap kekeh," sela mbak Atik.
"Kalau ada perlu silahkan panggil saya Non," sambung mbak Atik setelah selesai menata makan malam.
"Ya terima kasih Mbak," jawab Femila kemudian duduk di samping ustadz Mirza setelah mencuci tangan.
"Segini Ustadz?" tanya Femila menyendok nasi ke piring.
"Cukup sayang," jawab ustadz Mirza.
Femila menaruh piring berisi nasi.
"Habibi tidak ikut makan? Tanya Femila karena tidak biasanya Habibi belum menampakkan batang hidungnya di meja makan.
"Paling bentar lagi, tadi sudah saya suruh makan cuma katanya nanggung mau menyelesaikan laporan." Ucap ustadz Mirza dengan mengambil beberapa lauk ke piring.
"Sepertinya ada yang menyebut nama saya?" Sapa Habibi kemudian pantatnya dia dudukkan di kursi menghadap ustadz Mirza.
"Panjang umur Bi," ujar Femila.
"Amin Non," jawab Habibi tangannya masih gerak mengambil nasi dan lauk pauknya.
Mata Habibi menatap menu yang jarang di hidangkan di meja makan. Tangannya bergerak antusias mengambil menu itu.
plak
"Auw...sakit Non," Habibi mengelus tangan yang di tampik nonanya.
"Ini lalapan khusus ustadz," Femila mengambil tauge dan kacang panjang itu dan disodorkan di depan ustadz Mirza.
"Tauge mentah dan kacang panjang mentah?" Ustadz Mirza memastikan makanan itu untuk dirinya.
Femila mengangguk dan menggeleng pelan, "Tidak mentah sudah disiram dengan air panas. Ingatkan kata dokter, tauge itu bagus untuk meningkatkan kualitas sper*a juga dapat melindungi sel telur dan sper*a dari serangan radikal bebas," terang Femila.
"Anak bawah umur tapi tidak pantang makan tauge, dia kan anak cerdas jadi makan pun tidak pilah-pilih," jawab Habibi menyinggung ustadz Mirza yang tidak suka memakan tauge setengah mentah ataupun kacang panjang mentah.
Femila terkekeh, "Silahkan di makan Ustadz..." ledek Femila menatap sang suami yang mulai mengambil tauge itu dengan terpaksa.
"Kasih sambal Ustadz, biar enak," saran Femila tangannnya menaruh sambal di piring ustadz Mirza.
Satu, dua suap dan berakhir disuapan terakhir. Makan malam ditutup dengan cemilan buah yang ada di meja makan.
"Non, pastikan menu tauge selalu ada di setiap makan," ucap Habibi matanya melirik ke ustadz Mirza.
Femila mengangguk sambil mengacungkan ibu jari.
"Tidak bisa menu selain itu?" Usul ustadz Mirza.
"Bisa, tapi si kecil putih itu tetap harus ada," jawab Femila bibirnya merekahkan senyum dan kakinya melangkah ke ruang tengah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.
Setelah puas membaca buku, Femila melangkahkan kaki ke kamar. Lima menit sebelumnya ustadz Mirza terlebih dahulu ke kamar.
Femila mendapati suaminya masih sibuk berselancar di ponsel yang dia pegang.
"Belum tidur Ustadz?" Tanya Femila setelah cuci muka dan ambil wudu dari toilet kamar.
"Menunggu kamu."
Femila tersenyum mendengar jawaban suaminya. Tangan suaminya bergerak membantunya melepas kaki palsunya.
"Terima kasih sayang," ucap Femila begitu kaki palsu itu lepas.
__ADS_1
Ustadz Mirza tersenyum.
Femila menata bantal agar tidurnya dalam posisi nyaman. Namun, tetaplah yang paling nyaman tidur bersandar di lengan sang suami.
Femila mengembangkan senyum menatap suaminya lebih intens. Tangannya bergerak mengelus rahang yang ditumbuhi rambut-rambut halus.
"Jangan memancingku sayang," ucap ustadz Mirza masih menatap layar ponselnya.
"Siapa juga yang memancing Ustadz, aku hanya seperti ini, apa terlalu memancing Ustadz?" Tanya Femila beralih memainkan kedua pipi suaminya, tangannnya kemudian turun ke dada sang suami bermain manja di sana.
"Femila, kamu sangat meresahkan."
"Aku tahu obatnya agar Ustadz tidak resah."
"Apa kamu lupa, setelah makan malam kamu bilang jangan setiap hari memberi salam di pintu sana. Nanti kualitas produksiku berkurang."
"Tapi kalau sudah darurat seperti ini, kenapa harus menunggu lama," goda Femila mengedip-ngedipkan mata di depan lelaki halalnya.
Ustadz Mirza tersenyum dan langsung melancarkan aksinya. Sebuah doa makan malam hari ala mereka terucap dari bibir keduanya. Perdebatan tangan, kaki dan anggota halal lainnya mendominasi masing-masing aksi keduanya hingga mereka mengucap doa.
Allahumma la taj'al lisy syaithoni fima razaqtana nashiban. (Ya Allah, jangan beri bagian dari apa yang Engkau berikan kepada kami).
Ustadz Mirza mengecup dahi wanita yang kini berada dalam pelukannya setelah keduanya meraih puncak kenikmatan surgawi.
...****************...
Lima belas hari setelah mereka ke dokter kandungan.
Femila masih membuka layar ponselnya, membaca notepad.
"Seharusnya dua hari kemarin aku sudah menstruasi tapi kenapa terlambat? Tidak biasanya?" Monolog batin Femila.
"Apa jangan-jangan?" Femila meloncat kegirangan.
"Eh...jangan loncat seperti ini, kakinya nanti sakit dan kalau ada dedek bayi di sini nanti juga sakit," lirih Femila bibirnya tersenyum kecil dan tangannnya mengelus perutnya yang rata.
"Ada apa sayang sepertinya bahagia sekali?" Tanya ustadz Mirza begitu masuk kamar mendapati istrinya sedang tersenyum sumringah.
Femila menggeleng namun bibirnya masih memperlihatkan senyum bahagia yang tidak dapat dia sembunyikan.
Ustadz Mirza mendekap wanitanya dari belakang, "Kalau boleh tahu kenapa sebahagia ini?" Bisik ustadz Mirza.
"Ada dech..." jawab Femila.
"Mengapa istriku ini pandai menyimpan rahasia?" canda ustadz Mirza masih mendekap tubuh sang istri.
"Surprise untuk Ustadz."
Ustadz Mirza membalikkan tubuh istrinya . "Aku tunggu surprise-nya," kemudian menoel hidung sang istri
"Auw... kebiasaan Ustadz," jerit Femila sambil memegang hidungnya.
Ustadz Mirza tersenyum, senang melihat ekspresi istrinya seperti itu. Kakinya kemudian melangkah ke toilet kamar.
Waktu terus berjalan...
Sepertiga malam telah menyapa mahluk bumi yang terlelap tidur dan sebagian terbangung bermunajat dengan sang Illahi. Tidak terkecuali ustadz Mirza yang sudah duduk berdzikir di samping ranjang tidurnya.
Sang istri yang sedikit terlambat bangun, mencoba meraba sudut ranjang. Setelah doa dia panjatkan. Kakinya dia turunkan dari ranjang dan tangannnya meraih kruk yang ada di samping ranjang kemudian melangkah ke toilet kamar.
"Auw...!" Jerit Femila di toilet kamar.
Ustadz Mirza langsung masuk ke toilet dan wanita yang dia khawatirkan menghambur mendekapnya. Pipinya sudah basah dengan air mata.
Ya Allah...sudah panjang x lebar 1390 kata🤭. Maaf nih...nongol kembali untuk menyapa kalian. Kalau bosen komen saja. kalau mau extra bab 4 komen juga. Insya Allah sambil nunggu wangsit untuk lanjut buat novel baru author sempetin dech buat extra bab 4 dengan catatan banyak yang komen minta lanjut🤭🙏.
__ADS_1
Terima kasih atas segala dukungan🙏, like komen, kalau ada sisa vote bolehlah kirim🤭.
Semoga yang masih program hamil seperti mereka cepet dikasih momongan, amin.