
"Apa saya mimpi? Abah Yai mengharapkan saya bisa melamar Hana?" Batin ustadz Mirza masih dengan rasa tidak percaya apa yang baru didengarnya.
"Saya tidak harus mendengar jawaban langsung dari Nak Mirza. Silahkan pikirkan terlebih dahulu. Istikharah lebih baik." Sambung Abah Yai walaupun belum mendengar jawaban dari ustadz Mirza.
Ustadz Mirza tersenyum dan mengangguk pelan. Tiba-tiba senyum itu dia tarik, kaku mulutnya. Dengan jelas gambaran Femila Amore Ibrahim menghampirinya. "Astaghfirullah haladhim. Femila, bukankah dia masuk dalam istikharah saya." Batin ustadz Mirza berkecamuk.
"Nak Mirza, Nak."
"Ya Abah. Astaghfirullah haladhim." Ustadz Mirza mengusap wajahnya dengan kasar karena sedari tadi pikirannya melambung tinggi.
Abah Yai tersenyum. "Hal ini juga belum saya bicarakan dengan Hana. Namun saya kira sebagai orang tua paham akan gelagat anaknya yang sedang menaruh hati." Ucapnya.
"Abah ini bikin ustadz Mirza shock. Kalau bicara dipikir dulu." Sela Bu Nyai.
"Kebanyakan mikir nanti keburu nak Mirza dipinang orang. Benar tidak Nak?" Mengarah ke ustadz Mirza dengan seutas senyum.
"Tidak juga Bah." Singkat ustadz Mirza dengan merekahkan senyum.
"Hana itu seharusnya sudah lulus tiga tahun yang lalu. Padahal kala itu saya berharap dia langsung melanjutkan ke perguruan tinggi, dia tetap ngotot minta di pesantren saja. Katanya sayang, ngaji kitabnya belum khatam. Setelah khatam baru mau melanjutkan ke perguruan tinggi."
"Sekarang abah yang menentukannya, abah minta dia nikah dulu sebelum study S2." Sambung Bu Nyai.
"Kami istirakhat dulu ya Nak." Ucap Abah Yai berdiri dari duduknya dan menggandeng tangan istrinya.
"Silahkan Bah," berdiri mempersilahkan jalan pada Abah Yai dan Bu Nyai.
Abah Yai dan Bu Nyai melangkah ke kamar tamu. Dua sosok panutan, sifat ramahnya, penyayang, peduli, toleransi, dan banyak sifat yang selalu jadi teladan untuk ustadz Mirza.
"Seandainya Femila tidak menuntut untuk dinikahi. Pasti sudah saya jawab iya permintaan Abah Yai. Mengapa harus sesulit ini? Di saat hati mulai berlabuh pada wanita yang saya inginkan dan hari ini orang tuanya meminta saya untuk mengkhitbahnya, namun di sisi lain ada seorang wanita yang menuntut untuk dinikahi." Batin ustadz Mirza berkecamuk.
"Ya Allah sesulit inikah?" Lirih ustadz Mirza, kemudian duduk menyenderkan punggungnya ke kursi, kepalanya masih mengedar ke atap langit-langit. Beberapa saat dia biarkan seperti itu karena darah seakan ikut mengalir ke kepalanya yang menengadah ke atas.
"Ustadz."
"Hmmm," masih dengan posisi awal tanpa menoleh ke arah suara karena dia tahu persis pemilik suara itu.
"Manager Dakwah Channel mengirim video untuk di acc ustadz."
"Harus malam ini?"
"Sudah sejak pagi dikirim tapi ustadz belum membalasnya."
"Ya Allah sampai lupa."
Tadi pagi ustad Mirza memang membaca pesan masuk dari Ukasyah (manager Dakwah Channel) tapi lupa membalas pesan itu, bahkan lupa untuk melihat video yang dikirimkan.
__ADS_1
"Apa perlu saya balas pesannya, tulis kalau ustadz lagi galau jadi tidak sempat melihat video itu."
"Habibi!"
Habibi tersenyum penuh melihat ekspresi ustadz Mirza.
"Kita ke ruang kerja saja."
"Tidak di sini Ustadz?" Habibi melontarkan pertanyaan namun langsung beranjak dari duduknya mengekor ustadz Mirza ke ruang kerja.
Kini ustad Mirza yang tersenyum karena berhasil ngerjain Habibi pantatnya yang baru nempel kursi ruang tengah harus angkat pindah ke ruang kerja.
"Senang Ustadz ngerjain saya?" Gerutu Habibi. "Tapi tidak apa-apa membuat ustadz tersenyum itu ibadah. Bukankah dari tadi dahinya berkerut karena galau? Bagaimana tidak, dalam dua hari ada dua wanita sekaligus yang melamar ustadz?" Habibi terkekeh.
"Apa itu lucu?"
"Maaf Ustadz." Habibi langsung menghentikan tawanya melihat ustadz Mirza menatap dengan tajam.
"Apa yang kurang dari video itu?" Tanya ustadz Mirza dengan mimik serius.
"Saya kira sudah pas semua Ustadz."
"Balas pesan Ukasyah, videonya di acc. Saya mau salat."
"Ustadz, jangan lupa istikharahnya." Sambung Habibi dengan senyum arti lain.
"Kamu juga jangan lupa salat hajatnya. Meminta biar ada yang mau ta'aruf sama kamu." Balas ustadz Mirza.
"Mengapa jomblo teriak jomblo." Gumam Habibi menautkan alisnya.
Ustadz Mirza tersenyum puas mendengar gumaman Habibi.
Malam semakin larut menenggelamkan keramaian yang mulai terganti dengan kesunyian. Anyir angin malam seakan membekukan kulit hingga masa pertiga malam, mengetuk penghuni bumi yang bermunajat menengadah di hadapan Sang Khalik, mengaduh penuh gaduh kegundahan yang membelit setiap berpadu. Rakaat demi rakaat tertata dengan taat dalam runtutan salat. Demi bercumbu mesra dengan Tuhan mengharap dalam keridhaan.
Ustadz Mirza meraup muka dengan kedua tangannya. Dua jam bertemu kasih dengan Illahi Robbi. Kini suara adzan subuh membangkitkan nya dari tempat. Melangkah ke luar menuju masjid yang ada di komplek. Sudah menjadi kebiasaan ustadz Mirza selalu berjamaah subuh di masjid.
Saat dirinya mengaji pernah mendengar Keutamaan salat subuh secara berjamaah di masjid salah satunya yaitu akan mendapatkan keutamaan salat sepanjang malam.
Dan barang siapa yang salat subuh berjamaah maka seolah-olah dia telah salat seluruh malamnya (H.R. Muslim no.656.)
Keutamaan lainnya yaitu akan dilapangkan rezekinya. "Hai Fatimah, bangun dan saksikanlah rezeki Rabb-mu karena Allah membagi-bagikan rezeki para hamba antara salaat subuh dan terbitnya matahari."(H.R. Baihaqi).
Ketika menutup pintu kamar, sudah berdiri sesosok yang selama ini setia kepadanya. Habibi. Pemuda yang tidak kalah tampan dan cerdas, Soleh pula.
"Mari ustadz."
__ADS_1
Ustadz Mirza mengangguk, berjalan di samping Habibi.
"Abah Yai, Bu Nyai, dan Hana sudah menunggu di luar." Ucap Habibi.
...****************...
Semua tertata dengan rapi. Abah Yai dan Bu Nyai sudah berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Hana masih mematung menundukkan kepala tidak berani menatap ke arah ustadz Mirza.
"Apa masih betah kuliah? Nambah satu tahun lagi, ijazahnya ditarik?"
"Mengapa Ustadz malah bercanda. Saya sedih beneran." Jujur Hana.
Ustad Mirza tersenyum mendengar jawaban Hana.
"Kalau kangen dengan Jakarta tinggal main saja ke sini."
"Kenapa bertele-tele. Tinggal bilang saja kalau kangen dengan ustadz main saja ke sini. Atau ustadz Mirza yang nanti menjemput Hana ke Semarang."
"Habibi!" Serentak ustadz Mirza dan Hana menatap tajam ke arah Habibi.
"Saya lagi yang salah. Selalu salahkan saya." Pasrah Habibi.
Hana dan ustadz Mirza tersenyum melihat ekspresi Habibi.
"Kak Hana, sering main ke sini ya. Kasih support saya biar cepat wisuda." Ucap Aliyah yang mengantar kepergian Hana.
"Insyaallah." Memeluk Aliyah tanpa terasa air matanya mengalir.
"Kenapa Kak Hana menangis."
"Baper saja mau pisah sama kamu si cerewet."
Aliyah melepas pelukannya, mengusap air mata Hana. "Raga kita memang berpisah tapi hati kita tetap mengenang satu sama lain. yang penting Kakak jaga diri, jaga kesehatan."
Hana mengangguk.
"Maaf atas segala khilaf saya Al."
"Sama-sama kak."
"Habibi, saya juga minta maaf segala khilaf saya."
"Sama-sama Han."
"Us-tadz, terima kasih untuk semua kebaikan ustadz dan minta maaf atas segala khilaf saya selama ini." Hana menarik nafas panjang, rasanya mulutnya kaku untuk melanjutkan bicara.
__ADS_1