
"Barang saya sudah saya kemasi, Habibi biar bantu memasukkan ke bagasi."
Ustadz Mirza tersenyum, akhirnya Femila ikut ke Jepara menemui keluarga bude pakdenya di sana.
"Ustadz tidak usah berpikiran yang tidak-tidak. Saya hanya tidak enak menolak permintaan bude dan pakde." Ucap Femila menunjukkan pesan WA dari budenya.
Ustadz Mirza menganggukan kepalanya. "Sudah ketiga kalinya saya ke Jepara setelah menikah. Bude selalu menanyakan kamu."
"Hanya koper ini Non?" Tanya Habibi menyela pembicaraan.
Femila dan ustadz Mirza masuk ke mobil. "Iya." Jawab Femila.
Mobil itu jalan, menelusuri jalanan kota.
"Nanti kita singgah dulu di pesantren Mubtadi'in." Ustadz Mirza menatap kepala Femila.
"Saya tidak memakai jilbab?" Femila memastikan maksud ustadz Mirza.
Ustadz Mirza menganggukkan kepalanya pelan.
"Di perempatan depan ada toko busana muslim dan jilbab. Mampir di situ." Pinta Femila.
"Habibi nanti mampir ke tempat yang Femila maksud."
"Ya Ustadz."
Selang tujuh menit Habibi memarkirkan mobilnya di tempat tersebut.
"Habibi yang turun, biar dia yang memilihkan bajunya." Titah Femila.
"Saya?" Ustadz Mirza menunjuk diri.
"Selera Ustadz payah." Celetuk Femila.
Habibi tersenyum puas mendengar ejekan nonanya pada ustadz Mirza. "Tepat sekali ucapan non Femila." Sambung Habibi.
"Jangan bangga diri, ini hanya terpaksa."
"Dengar Habibi." Senyum balasan ustadz Mirza tergambar dari wajahnya.
"Buruan kenapa kalian malah berdebat." Sela Femila.
Habibi segera turun dari mobil masuk ke toko Ummi Fashion Hijab dan busana muslim.
Femila dan ustadz Mirza memainkan ponselnya menunggu Habibi memilih baju.
"Buka pesan saya." Ucap Habibi kemudian mematikan panggilannya.
Femila menatap jam di layar ponselnya. "Lama sekali Habibi." Keluh Femila menatap keluar jendela.
"Sudah dua puluh menit belum juga keluar." Sambungnya.
"Sabar, paling bentar lagi."
Femila melirik ke ustadz Mirza yang sedang memijit keningnya sambil memejamkan mata. "Ustadz Mirza mabuk perjalanan ya?" Femila memastikan keadaan ustadz Mirza.
"Hanya sedikit pusing dan ngantuk. Tadi siang lembur laporan karena Habibi belum pulang antar Aliyah buat SIM."
"Saya bawa pil pereda sakit kepala."
"Saya tidak terbiasa minum obat. Dibawa tidur juga nanti hilang."
"O...ya sudah Ustadz tidur saja." Ucap Femila kembali memandang keluar jendela. Wajah Femila kini berubah ekspresi menatap Habibi yang menenteng beberapa paper bag di tangan kanan dan kirinya.
"Terima kasih Mas." Ucap Habibi pada pelayan toko yang membantu membawa barang belanjanya.
__ADS_1
"Belanjanya banyak sekali Bi?" Tanya Femila ketika Habibi telah duduk di jok kemudi.
"Itu semua untuk Non Femila, dua puluh setelan baju muslimah dan beberapa puluh hijab." Habibi menjalankan mobilnya.
"Satu saja cukup kenapa sebanyak itu." lirih Femila.
"Tanya saja orang yang di samping Non." Sahut Habibi.
Femila langsung melirik ke ustadz Mirza ingin mendengar jawabannya.
"Kurang lebih kita di Semarang dan Jepara 36 jam, kamu boleh tiap dua jam ganti baju." Terang ustadz Mirza sambil menahan senyum.
Femila langsung mencibirkan bibirnya. "Dua puluh kali dua hasilnya empat puluh. Artinya, masih ada sisa dua setel baju silahkan dipakai Ustadz Mirza." Ketus Femila.
Habibi langsung terkekeh mendengar ucapan nonanya.
"Enak sekali tertawanya Bi, nanti kamu saja yang pakai."
Habibi langsung terdiam membungkam mulutnya namun tawa kecil masih nampak di sudut bibirnya.
Mereka mulai terdiam dari candaan yang terlontar dari mulut masing-masing. Habibi mulai konsentrasi menyetir, sedangkan dua penumpang di belakang sudah tidak ada suara.
Lima jam perjalanan telah ditempuh. Habibi memilih untuk istirakhat di rest area yang tersedia di ruas tol karena merasa sudah ngantuk.
Habibi menoleh ke belakang niatnya akan mengajak ustadz Mirza untuk turun dan meminum kopi. Tapi terkejutnya Habibi melihat pemandangan yang nampak di depan matanya.
"Ini yang disebut mesranya atau apesnya ya?" Habibi tersenyum kemudian mengambil ponsel dan mengabadikan moment yang menurutnya sesuatu yang langka.
Susut bibir Habibi nampak ditarik, tersenyum menatap hasil jepretannya.
Habibi kemudian menurunkan sandaran kursinya, mencari posisi nyaman kemudian memejamkan matanya.
Alarm ponsel yang Habibi aktifkan berbunyi. Ustadz Mirza dan Femila juga ikut terbangun.
"Sudah sampai mana Bi?" Tanya ustadz Mirza sambil mengucek matanya yang masih berat untuk dia buka.
"Masih di rest area . Saya ngantuk jadi saya istirakhat dulu. Kita bisa mandi di sini. Insya Allah sampai di pesantren Mubtadi'in pas waktu subuh."
Habibi turun dari mobil. Begitu juga ustadz Mirza dan Femila mengambil baju ganti dan peralatan mandi.
"Duduklah. Nanti ketika akan mandi kamu kesulitan lepas kaki palsunya." Titah ustadz Mirza.
Femila mengangguk, mendudukkan pantatnya di kursi roda itu, pasalnya dia tahu fasilitas di tempat umum banyak yang belum memenuhi standar untuk kaum difabel seperti dia, kalaupun ada biasanya fasilitas itu tidak terawat.
"Ustadz, sampai di sini."
Ustadz Mirza berhenti mendorong kursi roda itu tepat di toilet wanita.
"Saya mandi dulu, setelah itu langsung ke sini." Ucap ustadz Mirza.
"Iya."
Tujuh menit setelah itu, ustadz Mirza keluar dari kamar mandi bergegas menuju toilet wanita.
Ustadz Mirza langsung mengembangkan senyumnya begitu wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya keluar dari toilet itu. Balutan gamis yang dia kenakan menambah ayu wajahnya. Namun matanya berhenti menatap ketika kepala Femila masih terbuka dengan rambut panjang yang tergulung asal.
"Jilbabnya masih di mobil." Ucap Femila merasa mata ustadz Mirza mengintimidasi penampilannya tanpa jilbab.
Tangan ustadz Mirza meraih pegangan kursi roda kemudian mendorongnya sampai di parkiran mobil dan membantunya duduk di jok mobil.
Udara dingin menjelang Subuh hari terasa menembus kulit. Namun begitu segar terhirup masuk ke paru-paru. Femila nampak memejamkan matanya membuka sedikit jendela kaca mobil.
"Jangan terlalu ke bawah nanti masuk angin."
"Udara Subuh sangat sejuk." Sahut Femila.
__ADS_1
"Bahkan di perkotaan yang kita tinggali, udara Subuh memang sangat sejuk. Kalau kamu mau, setiap Subuh saya bangunkan untuk keluar jamaah di masjid komplek rumah kamu akan merasakan sejuknya udara Subuh hari di luar rumah kita."
Femila hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan ustadz Mirza.
"Semoga senyum kamu mengartikan suatu saat kamu menjalankan itu." Batin ustadz Mirza mengucap doa untuk wanita di sampingnya.
Setengah jam kemudian mereka sampai di pesantren Mubtadi'in.
Femila mengambil jilbab pasmina yang ada di paper bag kemudian memakainya tanpa ada jarum atau tali yang tersemat di kerudung itu. Dua ujung kerudung itu dia Selempang kan di bahu.
"Mengapa memandang saya seperti itu?" Tanya Femila begitu ustadz Mirza menatap Femila penuh selidik.
Tangan ustadz Mirza meraih paper bag yang di pegang Femila mengambil satu jilbab bergo kemudian memakaikannya di kepala Femila menggantikan kerudung pasmina.
"Lebih praktis, nanti kalau sudah bisa nyematin kerudung pasmina baru pakai."
Femila meraih ponselnya dan menatap wajahnya di cermin.
"Cantik juga." Puji Femila pada wajahnya yang terpantul di layar ponsel.
"Mudah-mudahan Istiqomah." Bisik ustadz Mirza di telinga Femila.
Femila hanya menaikkan alisnya mendengar bisikan itu.
"Ya Allah...nasib benar jadi jomblo, melihat kalian romantis-romantisan seperti itu. Kalau Ustadz dan Non Femila tidak turun saya masuk dulu ke pesantren." Pasrah Habibi.
Habibi langsung turun mendekat ke arah gubuk kecil di samping gerbang pesantren.
Sebelum masuk ke area pesantren para tamu akan melewati ruang pribadi pengasuh pesantren terlebih. Di depan rumah ada rumah kecil untuk penjaga keamanan pesantren
Suara menjelang Subuh sudah terdengar ramai dari balik jeruji pagar yang terpatri di depan rumah pengasuh pesantren.
"Assalamualaikum Pak." Sapa Habibi.
"Waalaikum salam. Subhanallah Mas Habibi." Pak Mustofa langsung membuka pintu gerbang pondok dan mempersilahkan masuk.
Penjaga pondok yang usianya sudah lebih setengah abad ini memang sudah hafal dengan wajah Habibi dan ustadz Mirza karena seringnya mereka berkunjung ke pesantren Mubtadi'in apalagi setiap berkunjung selalu membawa oleh-oleh untuknya.
"Silahkan masuk mas." Dengan sopan pak Mustofa mempersilahkan mereka masuk.
"Kita langsung masuk ke masjid saja Pak, mau jamaah Subuh."
"Ya silahkan Mas."
Pak Mustofa sebenarnya masih menatap heran dengan wanita yang ada di antara ustadz Mirza dan Habibi. Tapi kalimat itu tak terlontar karena mereka buru-buru masuk ke area pesantren untuk menunaikan salat Subuh.
Azan Subuh berkumandang. Semua santri nampak bergegas mempersiapkan diri. untuk menjalankan salat Subuh berjamaah. Femila ikut barisan salat bersama mereka. Dua salam mengakhiri salat Subuh itu.
Setelah menata mukenanya dia duduk menunggu ustadz Mirza dan Habibi keluar dari barisan jamaah.
"Silahkan duduk dulu di rumah Abah." Ajak abah Yai.
"Sebentar Abah, saya panggil istri saya dulu."
"Istri ikut?"
"Ya." Jawab ustadz Mirza kemudian jalan membungkuk untuk melewati gurunya untuk menjemput istrinya yang duduk di depan pelataran masjid.
Ustadz Mirza, Habibi, dan Femila sudah duduk di kursi tamu. Femila nampak asing dengan suasana yang belum pernah dia lalui.
Namun wajahnya kini menatap tajam ke orang yang pernah ada di masa lalunya.
"Assalamualaikum Femila Amore Ibrahim." Senyum sapa tergambar dari wajah tampan milik kakak kandung Hana.
Vote, favorit, komen, rate, dan like dari bab 1 sampai bab ini ya🙏🥰😍❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih.