KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 50


__ADS_3

"Maaf Ustadz, itu kejujuran hati saya." Air mata itu kembali lolos dari pelupuk matanya.


Ustadz Mirza terdiam menelan salivanya dengan susah, tenggorokannya tersekat sempurna mendengar kejujuran Femila. Tubuhnya mulai dia rebahkan di atas kasur.


"Kita berdoa lalu tidurlah. Sudah sangat malam" Ajak ustadz Mirza karena dia sampai rumah hampir jam 11 malam.


Setelah mengucap doa, mata Femila terpejam sempurna. Ustadz Mirza pun sama, matanya terpejam namun pikirannya masih terjaga.


"Cintamu tidak salah Fem, keadaanlah yang membuat cinta itu salah. Saya tidak bisa memaksakan kamu untuk mencintai saya, karena saya sendiri pun tidak bisa memaksakan diri untuk mencintai kamu. Saya hanya yakin cinta itu akan hadir karena Allah. Saya pasti dicap orang yang tidak tahu diri kalau memintamu untuk mencintai saya, padahal sayalah yang menyebabkan penderitamu. Saya yang menyebabkan kamu cacat, sampai Andra meninggalkanmu. Apa pantas saya mengharap kamu mencintai saya? Tidak dibenci kamu dan keluargamu saja itu sudah hadiah terbesar yang harus saya terima." Gejolak batin Ustadz Mirza. Namun rasa kantuk, kini membawanya ke alam mimpi.


Penghujung malam terlewati, penanggalan Masehi telah dimulai. Satu, dua, tiga jam Bangunlah manusia yang akan menunaikan sunah sepertiga malam. Tidak terkecuali ustadz Mirza yang terbiasa dengan aktifitas itu.


Ponsel yang ada di atas nakas samping ranjang dia ambil. Nampak lampu tidur menyinari layar ponsel itu. Pukul 03.00 pagi. Namun tubuh itu kaku saat akan dia gerakkan.


"Bagaiman bisa dia tidur memeluk dada saya seperti ini?" Heran ustadz Mirza ketika terbangun dan posisi Femila memeluknya dengan erat.


Tangan kiri ustadz Mirza yang menjadi bantalan tidur Femila mencoba ditarik ustadz Mirza perlahan. Bukan malah lepas, sekali gerakan dari ustadz Mirza Femila langsung mengeratkan pelukannya.


"Heee." Suara Femila melantur sambil mengeratkan pelukannya ketika ustadz Mirza mencoba gerak.


Ustadz Mirza semakin gusar. "Ini orang, tidurnya ngebo sekali." Lirih ustadz Mirza.


Lama-lama ustadz Mirza mengalah, mengucap kalimat dzikir dan tertidur kembali.


Ketika subuh menyapa. Habibi berjalan bolak balik di depan kamar ustadz Mirza.


"Bangunin tidak ya? Tidak seperti biasanya ustadz Mirza sampai melewatkan subuh berjamaah di komplek rumah." Tangan Habibi yang hampir mengetuk pintu kamar itu dia urungkan.


"Sudahlah saya berangkat sendiri."


Sementara di kamar.


Femila yang terbangun begitu kaget mendapati dirinya dalam posisi memeluk tubuh ustadz Mirza. Tubuhnya mulai bergeser pelan dari tubuh ustadz Mirza, dengan wajah yang memerah sambil mengumpat kelakuan sendiri. Femila berjalan masuk ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi Femila sudah tidak mendapati ustadz Mirza di kasur.


"Dimana itu orang?" Mata Femila mengedar ke penjuru kamar. "Mungkin salat Subuh di masjid." Lirih Femila kemudian merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur sambil membuka ponselnya.


Pukul tujuh lebih tiga puluh menit Femila dan ustadz Mirza sudah siap berangkat ke tempat kerja masing-masing.


"Saya kira Ustadz dan Habibi pulangnya pagi hari ternyata malam hari sudah sampai rumah." Ucap Aliyah membuka obrolan dalam perjalanan.


"Ada yang ngotot minta langsung pulang, mungkin sudah rindu dengan yang di rumah." Sindir Habibi karena malam itu memang ustadz Mirza minta langsung pulang.

__ADS_1


Ustadz Mirza pura-pura tidak mendengar ucapan Habibi begitu juga Femila pura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Saking capeknya karena perjalanan jauh ustadz Mirza sampai telat bangun. Biasanya azan Subuh berkumandang sudah siap di pintu depan. Eh tadi Subuh kamarnya masih terkunci." Lanjut Habibi menyindir merasa kepo saja ustadz Mirza bisa telat bangun.


"Kamu tahu Bi kalau saya kecapean. Saking capeknya saya, mimpi kejatuhan kerbau dan kerbau itu tidak memberi ruang saya untuk gerak." Sambung ustadz Mirza sambil melirik ke Femila.


Femila langsung menghentikan jemarinya berselancar di layar ponsel.


"Apa! Kamu bilang saya kerbau! Oh no no no jadi ustadz Mirza, apa tahu kalau semalam saya memeluknya? Ah....kenapa juga kepala nyender di lengannya. Tapi saya kan tidur. Itu saja saya tidak tahu bangun-bangun posisi saya sudah seperti itu." Batin Femila bermonolog, matanya melirik ke arah ustadz Mirza yang sepertinya tersenyum puas membuat dirinya malu.


"Tidak apa-apa Ustadz, kalau kerbaunya membuat tidur Ustadz jadi nyaman. Setiap hari mimpi kejatuhan kerbau saja."


"Habibi!" Serentak Ustadz Mirza dan Femila mengucapkan kata yang sama. Menatap tajam ke arah Habibi karena kesal.


Habibi hanya terkekeh melihat reaksi mereka di spion dalam mobil.


...****************...


Tiga setengah bulan kemudian.


"Bagus Al, pegang kemudinya juga sudah enak. Jangan nyalip Al, jangan nyalip, jangan..." Tegang Habibi.


Namun Aliyah tetap nyalip mobil yang ada di depannya.


Jantung keduanya terpompa kencang.


Hampir sepersekian senti dari arah berlawanan ada mobil pick up yang akan tertabrak dan mobil pick up itu langsung membunyikan klaksonnya bertubi-tubi dan dengan umpatan yang keras si sopir mendongakkan kepala ke jendela memberi sumpah serapan. Namun tidak begitu jelas ucapannya hanya saja bisa disimpulkan sopir itu marah karena di tikungan beraninya mobil yang Aliyah kemudikan menyalip.


kita berhenti di rumah makan padang depan itu." Habibi menunjuk rumah makan yang ada di samping kiri jalan.


Aliyah ambil posisi dengan memakirkan mobil di depan rumah makan Padang.


Habibi dan Aliyah turun langsung memesan makanan. Setelah cuci tangan mereka duduk dan menyantap makan malam mereka.


"Hampir saja mati sia-sia."


Aliyah memasang senyum termanis, "Saya minta maaf Kak." Barisan gigi putihnya masih Aliyah perlihatkan.


"Bagaimana bisa kamu lolos membuat SIM C? Pantesan naik motor pun sering ketilang karena melanggar lalu lintas. Ini ilmu dasar, jika ada tanda garis putus-putus di tengah jalan, itu artinya pengendara boleh menyalip dan garisnya nyambung tidak terputus berarti tidak boleh nyalip!" Heran Habibi.


Aliyah masih nyengir, senyum semanis-manisnya merasa jurus ampuh agar orang yang ngomel di depannya tidak lagi marah. Namun tidak juga mempan untuk seorang Habibi.


"Kamu jangan senyam-senyum terus. Kering itu gigi."

__ADS_1


Aliyah langsung menarik senyumnya, yang tergambar kini bibir yang dimanyunkan.


"Niatnya kan biar cepat sampai kos." Bela Aliyah.


Habibi menggelengkan kepalanya heran.


"Kak Habibi jangan marah ya. Hari ini biar Aliyah yang tlaktir." Rayu Aliyah sambil mengerlingkan matanya.


"Seharusnya memang kamu yang tlaktir." Kesal Habibi langsung menyesap es jeruk yang ada di depannya.


"Ya, mulai besok biar Aliyah yang tlaktir terus. Aliyah sekarangkan banyak uang." Ucap Aliyah tanpa dosa diiringi tawa.


"Kenapa sombong sekali."


"Sesekali sombong tidak apa-apa dong Kak."


"Syukur lah kerja menjadi asisten selama lima bulan membuat kamu langsung jadi orang kaya."


Aliyah tersenyum senang mendengar entah pujian atau ledekan yang terlontar dari mulut Habibi. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui pernyataan Habibi.


"Ternyata kerja itu enak, tidak mikir kejar nilai biar mendapat A, belum lagi tugas yang menumpuk dari dosen, apalagi pas akhir semester was-was kalau orang tua tidak bisa bayar semesteran. Kalau tahu begini mending kerja saja."


"Aliyah." Habibi menatap tajam ke arah Aliyah, tidak suka dengan pernyataan Aliyah barusan.


Aliyah nampak nyengir. "Mengapa Kak Habibi menatapku seperti itu. Bukankah yang Aliyah katakan itu benar." Wajahnya menunduk.


"Kalau kamu tidak kuliah mana bisa kenal dengan kita semua jadi tidak mungkin sekarang kamu jadi asisten. Percayalah, setiap kita cari ilmu pasti ada jalan yang Allah permudahkan untuk kita lewatinya."


Aliyah mengangguk pelan.


"Memang beruntung sekali aku kenal dengan orang-orang baik seperti Kak Habibi, mbak Hana, Ustadz Mirza, non Femila. Mudah-mudahan kalian semua selalu dalam lindungan Allah."


"Amin. Tumben otak kamu bener."


Aliyah mencibirkan bibirnya.


"Yang terpenting. Mudah-mudahan ustadz Mirza dan non Femila selalu bahagia seperti sekarang, dan cepat diberi momongan."


Habibi langsung tersedak mendengar kata terakhir yang terucap dari mulut Aliyah.


"Kurang lebih lima bulan pernikahan mereka, benarkah akan segera hadir momongan?" Batin Habibi.


"Dasar bocah polos. Selalu menilai dari luarnya." Ucap Habibi.

__ADS_1


Berikan like dan komentar kalian. Setiap like kalian sangat berarti bagi author dan setiap komen kalian akan menjadi catatan penting yang menambah daya imajinasi unt author❤️🥰😍🙏


__ADS_2