
"Alhamdulillah...saya lihat wajah Non Femila berbanding terbalik dengan kemarin siang," ucap Aliyah, satu suapan masuk ke dalam mulutnya.
"Maksud kamu?" penasaran Femila tangannya membuka bungkusan makanan.
"Kemarin Non sampai menangis sekarang malah terlihat merona."
Femila diam mulutnya tetap mengunyah makanan.
"Tapi tunggu, mengapa mata Non terlihat hitam?"
Femila langsung memegang dua matanya.
"Tadi malam Non kurang tidur karena memikirkan kejadian kemarin siang?" Selidik Aliyah.
Femila nampak gugup, "Kalau kamu terus bicara makananmu tidak cepat habis," kilah Femila.
"Memikirkan Andra? Hanya terbesit saja, karena kurang tidurnya aku gara-gara ada gozila yang tiba-tiba main peluk." Batin Femila.
Suap demi suap masuk ke dalam mulut mereka dan akhir suapan telah tertelan.
"Alhamdulillahilladzi ath 'amanaa wa saqaanaa waja'alanaa minal muslimin," sepenggal doa Aliyah ucapkan.
Femila hanya menatap Aliyah, kemudian tersenyum takjub.
'Mengapa ketika dekat dengan kalian begitu banyak hal kecil penuh makna tapi banyak pula yang tidakku tahu,' batin Femila, mendengar doa yang terlontar dari mulut Aliyah.
"Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami memeluk agama Islam. Arti doa tadi Non," terang Aliyah melihat nonanya tetap memandangnya, mengisyaratkan sebuah tanya tentang doa yang baru dia ucapkan.
Femila tersenyum mendengar penjelasan Aliyah.
"Kita salat Dhuhur dulu Non," ajak Aliyah sambil membersihkan bungkus makanan.
Femila segera bangkit dari duduknya melangkah ke tempat ibadah yang ada di gedung perkantoran itu.
Setelah selesai mereka menunaikan kewajiban, mereka jalan ke ruang kerja.
Namun begitu terkejutnya Femila mendapati sosok ustadz Mirza yang ada di ruang kerjanya.
"Ke-kenapa ke sini?" tanya Femila dengan terbata.
Ustadz Mirza tersenyum menanggapi istrinya begitu terkejut akan kehadirannya.
"Apa tidak boleh mengunjungi istriku di kantor?"
"Issst...Ustadz," elak Femila merasa risih karena lagi-lagi dipanggil dengan sebutan istri.
"Ustadz sudah datang, kalau begitu aku langsung ke kampus ya Non," ujar Aliyah.
"Tapi_"
"Issst...Non, kenapa Non protes? Saya kan sudah izin Non. Jam satu akan ke kampus karena jam dua akan temu dengan dosen. Non jangan pura-pura lupa!" cekat Aliyah.
"Atau...karena ada ustadz Mirza jadi Non gugup seperti ini?" bisik Aliyah di telinga Femila.
Femila membulatkan matanya, "Aliyah! Beraninya kamu!" teriak Femila.
Aliyah tertawa menang kakinya langsung berlari keluar dari ruangan.
"Assalamualaikum...," Aliyah kembali mendongakkan kepalanya di ambang pintu setelah sempat menutup pintu ruangan.
"Waalaikum salam," lirih mereka.
Diam.
Diam
Masih diam.
Femila kembali menyibukkan diri di depan laptop. Sedangkan ustadz Mirza menyibukkan diri dengan benda pipih yang dia pegang.
Sesekali Femila melirik ke arah ustadz Mirza karena hampir satu jam mereka berdiam tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka.
"Kalau kamu hanya melirik aku, pekerjaan kamu tidak akan selesai," ucap ustadz Mirza pandangan matanya tetap tidak beralih dari benda pipih yang dia pegang.
Femila mencibirkan bibirnya, "siapa juga yang melirik kamu!" gerutu Femila namun masih terdengar oleh ustadz Mirza.
Ustadz Mirza tersenyum menanggapinya, "Anggap saja aku tidak ada. Kamu kerja seperti biasanya."
"Bagaimana bisa, toh nyatanya kamu ada di depanku."
Ustadz berjalan mengangkat kursi yang ada di depan meja Femila kemudian menaruhnya membelakangi duduk Femila.
"Ustadz...kenapa malah di belakangku?" protes Femila.
__ADS_1
"Tadi kata kamu, kamu tidak bisa kerja karena aku di depan kamu. Jadi tidak salahkan aku duduk membelakangimu."
"Ustadz!" Kesal Femila bibirnya sedikit memonyong.
"Sudah aku ingatkan, jangan memancingku dengan memonyongkan_," Ustadz Mirza menyentuh bibirnya sendiri, mengisyaratkan Femila jangan memonyongkan bibirnya.
"Issst. Jangan terlalu mesum!"
Ustadz Mirza tersenyum.
"Ustadz sudah makan?"
"Kalau belum, apa kamu mau menyuapi?"
"Mulai Ustadz."
"Iya, maaf. Aku barusan makan dengan Habibi, istriku."
"Ustadz..."
"Kenapa?" Tanya ustadz Mirza pura-pura tidak mengerti maksud protes dari Femila karena dia dipanggil dengan sebutan istriku.
Femila terlihat cemburut.
Ustadz Mirza tersenyum melihat ekspresi wajah wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya.
"Kerja, kerja," suruh ustadz Mirza sambil mengelus pucuk kepala Femila, tangannnya turun hampir menoel hidung wanita itu. Namun Femila cepat mundurkan wajahnya agar tidak tersentuh tangan laki-laki yang kini tersenyum puas atas kejailan yang sudah dibuatnya.
"Aku ke ruangan pak Freddy dulu."
"Iya," singkat Femila.
Ustadz Mirza melangkah ke luar, disusul dengan napas kasar yang keluar dari mulut Femila. Tangannya memegang dadanya. "Bagaimana bisa? Bagaimana bisa jantungku seperti ini?" tanya Femila sendiri tanpa sebuah jawaban, tangannya tetap memegang dadanya yang masih bergemuruh kencang.
Hampir satu jam dia duduk di ruang pak Freddy.
Ustadz Mirza pamit keluar dari ruangan itu dan akan kembali ke ruang Femila. Tangannya membuka gagang pintu ruang dengan pelan. Matanya langsung berhenti mengedar ruangan begitu wanitanya terlihat sedang sibuk di depan laptop.
Pantatnya dia dudukkan di kursi yang ada di depan ruang kerja Femila. Mulutnya mengembangkan sebuah senyuman, mengingat muka yang cemberut menggemaskan dari wajah wanita yang punya ruangan itu.
Ustadz Mirza lebih memilih duduk di luar agar konsentrasi Femila tidak terganggu.
'Aku belum tenang Fem, selagi komplotan pelaku penusukan belum tertangkap," batin ustadz Mirza, matanya mengedar ke penjuru luar ruangan.
Tanpa disadari ternyata karyawan satu departemen dengan Femila menatap aneh ke arahnya.
Bahkan bisikan dari beberapa karyawan yang menatap ustadz Mirza tidak luput dengar dari telinga ustadz Mirza.
"Ganteng juga suami Femila."
"Issst...so sweet sekali sampai mau nunggu istrinya kerja."
Itu yang keluar dari mulut l mereka.
Mata ustadz kembali fokus ke benda pipih canggih yang dia pegang.
klentung.
Satu pesan masuk: Jangan lupa Nak, jalankan misi secepatnya.
Ustadz Mirza tersenyum membaca pesan dari mama mertuanya.
Otaknya kini memutar memori kejadian kemarin malam di sela-sela bincang dengan sahabat lawyer's.
Flashback on.
Ustadz Mirza mengangkat panggilan video call dari mama mertuanya.
"Assalamualaikum Ma..."
"Waalaikum salam Nak, bagaimana kabar kamu dan Femila?"
"Alhamdulillah baik Ma, Femila juga membaik keadaannya."
"Mama mau minta maaf soal kejadian tempo hari."
"Ya Ma."
"Mama waktu itu hanya acting menyalahkan kamu. Niatnya mama mau melihat reaksi Femila, apa dia akan membela kamu atau tidak. Ternyata rencana mama berhasil. Dia membela kamu malah marah sama mama."
"Tapi Mama berlebihan. Femila masih ngambekan dengan Mama?"
"Kamu kaya tidak tahu saja Mama dengan Femila. Bentar marahan, bentar juga baikan. Sudah yang penting pikirkan langkah kamu selanjutnya. Ambil hatinya Femila. Kali ini kamu jangan pasif terus, sesekali agresif," saran mama.
__ADS_1
"Maksud Mama?"
"Issst... agresif saja tidak tahu Nak. Apa perlu Mama jelasin!" Cicit Mama.
Ustadz Mirza tersenyum, "Ya Ma, saya paham."
"Bagus. Mama tunggu kabar baik dari kamu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Flashback of.
"Ustadz?" Sapa Silla.
"Hai Sill, mau masuk?"
Silla mengangguk, "Ustadz tidak masuk?"
"Sebentar lagi."
Terlihat Silla pamit masuk dan langsung mendekat ke Femila.
"Ini hasil revisinya," ujar Silla tangannnya meletakkan berkas dimeja kerja Femila.
"Suami kenapa di depan pintu? Tidak dibolehin masuk?"
Mulut Femila menganga, "Jadi, dari tadi aku tunggu, itu orang malah di depan pintu."
Silla mengangguk cepat, "Eh bentar. Kamu menunggu dia?"
Femila gugup, "Maksudnya aku takut saja kalau dia nyasar," jawab asal Femila.
Silla hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya yang jelas mengada-ada.
"Sepertinya banyak kemajuan nich...Ada yang bener-bener cinta dengan sang suami."
"Mulai!" Kesal Femila.
"Mulai jatuh cinta...," ledek Silla sambil lari keluar ruangan.
"Awas kamu Sill!" teriak Femila.
"Heh! Bagian kreator video suruh membuka pesan aku."
"Ya," jawab Silla kemudian menutup pintunya.
"Ustadz disuruh masuk Femila," ucap Silla.
"Aku?" Ustadz Mirza menunjuk diri.
Silla mengangguk.
Ustadz Mirza segera masuk. Netra Femila menatap laki-laki yang baru masuk ruangnya dan kini mendekat ke arahnya.
"Ada apa istriku?" tanya ustadz.
Femila diam raut wajahnya terlihat cemberut.
"Ada apa sayang?"
Femila mengulang kata sayang dengan ekspresi menjulurkan lidahnya seperti akan muntah.
Namun tiba-tiba terlintas ide untuk menjaili laki-laki yang kini berani memanggil dirinya dengan sebutan sayang.
'Aku ikuti permainan kamu ustadz,' monolog batin Femila, bibirnya langsung membentuk sebuah senyuman.
Femila berdiri dari duduknya. Mendekat ke arah ustadz Mirza, dekat, dan sangat dekat. Tangan Femila meraba rambut depan ustadz Mirza. Turun ke rahangnya, dan berakhir di dada bidang ustadz Mirza. Femila terus meraba dada itu.
Deg.
'Mengapa ustadz Mirza malah tersenyum, dan tangan itu oh No...!' batin Femila meraung.
Femila malah menepis tangan ustadz Mirza yang sudah meraba kedua pipinya.
"Kita ke mushola." Ajak Femila gugup langsung melangkah keluar ruangan.
Jantungnya masih berdebar tidak karuan.
Ustadz Mirza hanya tersenyum, kakinya melangkah ke nakas yang ada di ruangan. Mengambil mukena milik wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya.
"Mukenanya sampai tidak dibawa."
#masih episode baper-baperan...
__ADS_1
jangan lupa like, komen, komen, komen biar authornya kenal kalian 😘🥰😍
kasih vote...yuk ah...capcup.