KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 34


__ADS_3

"Ya, dia mbak Hana."


"Hana kekasihnya ustadz Mirza."


"Ya betul. Non Femila kok tahu?"


"Ups!" Aliyah langsung membungkam mulutnya sendiri merasa bicaranya keceplosan.


Femila hanya menaikkan sudut bibirnya mendengar jawaban Aliyah.


"Rupanya wanita itu mengibarkan bendera perang! Tadi malam sudah berani telepon ustadz Mirza dan sekarang, berani-beraninya dia mengirim mata-mata ke rumah ini! Ok, saya akan ikuti permainan kamu!" Batin Femila.


Tadi malam Femila meraih ponsel ustadz Mirza yang berdering, dan tertulis nama pemanggilnya, Hana.


"Kita tetap di sini Non?" Tanya Aliyah.


"Non," ulang Aliyah karena Femila tidak menyahuti ucapannya.


"Ke ruang samping yang dekat taman.


"Ya Non. Mari saya bantu jalan."


"Saya bisa sendiri!" Sinis Femila merasa sangat tidak senang dengan perlakuan orang yang terlalu merendahkan keadaannya yang cacat. Walaupun itu bentuk iba dan perhatian pun tetap di mata Femila itu adalah penghinaan untuk dirinya.


Femila sudah memposisikan diri dengan nyaman dan sekarang waktunya membaca. Namun ketika baca judul dari buku yang dia pegang mukanya menjadi merah padam.


"Aliyah, buku apa yang kamu berikan." Femila menyodorkan buku itu dekat wajah Aliyah.


"Tafsir Jalalain." Ucap Aliyah sambil tersenyum. Dia tahu dengan mengambil buku itu pasti Nonanya akan marah, dan benar tebakan Aliyah, sekarang Nonanya benar-benar marah.


"Yes! Satu,satu. Kamu tidak mau membalas uluran tangan saya ini balasannya." Girang batin Aliyah.


Tafsir Jalalain adalah buku tafsir Al Qur'an. Penamaan kitab tafsir ini tidak terlepas dari nama kedua penulisnya. Kitab tafsir Al -Jalalain atau dua Jalal, dikarang dua orang ulama besar dari guru-murid yaitu Jalaluddin al-Mahalli (wafat 864 H/1460M) dan Jalaliddin as-Suyuthi (wafat 911 H/ 1505 M).


Aliyah mengambil buku tafsir Jalalain dan melangkahkan kakinya untuk mengganti buku baru yang akan dibaca nonanya.


"Tunggu, bukunya bawa sini."


Aliyah membalikkan tubuhnya dan menyodorkan buku tafsir Jalalain dengan mulut yang masih menganga tidak percaya.


"Benar mau baca Non?"


Femila mengangguk.


"Emm...tapi mau kasih saran. Kalau kita mau baca tasfir Al Quran khusus tafsir Jalalain disarankan berwudu dulu karena perbandingan bacaan Alquran dengan terjemahannya hanya ada dua huruf lebih banyak tafsirnya cuma mengantisipasi barangkali ada salah huruf atau ketik pada pencetakannya."


"Lalu kenapa kamu berikan buku ini ke saya?"


"Disarankan Non, jadi kalau kita tidak wudu juga tidak apa-apa tapi alangkah baiknya kita wudu."


"Silahkan dibaca Non." Ucap Aliyah melihat Nonanya ragu untuk membuka buku itu.

__ADS_1


"Ta'awudz dan basmallah dulu Non." Sekat Aliyah.


"Maksudnya?"


"Baca Audzubillah himinas syaiton nirojim, Bismillahirrahmanirrahim."


"Ribet banget sih." Kesal Femila.


"Tidak ada yang ribet Non. Itu sepenggal doa yang artinya aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.


Femila menatap Aliyah dengan tatapan sedikit kekaguman.


"Kenapa Non menatap saya? Kagum dengan kepintaran saya? Tidak usah kagum Non, ilmu saya belum apa-apa dibandingkan Ustadz Mirza. Saya saja murid beliau." Cerocos Aliyah tanpa koma.


"Siapa juga yang kagum dengan kamu, apalagi harus mengagumi ustadz itu." Sangkal Femila.


"Sudah baca ta'wudznya kan Non?"


"Hmmm." Dengung Femila karena dia mulai membaca buku dengan serius.


Satu, tiga, empat jam kemudian.


Mode tidur semua. Buku yang dipegang Aliyah sudah terjatuh ke lantai dan posisinya sekarang tidur nyaman. Sedangkan Femila yang biasanya anti ngantuk pun terlihat pulas mendekap buku yang dia baca. Bahkan mereka berdua sudah masuk dalam alam baka, ups! maksudnya alam mimpi satu jam yang lalu.


Tatapan dan sebuah senyum terlihat dari raut wajah ustadz Mirza yang sekarang sudah di depan Femila dan Aliyah. Dia memposisikan diri duduk berjongkok di depan Femila. Mengambil buku yang di pegang Femila dengan hati-hati. Sekilas memandang judul bukunya. Senyum mengembang kembali dari sudut bibir ustadz Mirza dan menaruh buku itu di atas meja. Buku yang dijatuhkan Aliyah juga ustadz Mirza ambil dan di taruh di samping buku tafsir Jalalain.


"Ustadz, kita.."


"Mereka berdua tidur?" Lirih Habibi takut akan membangunkan mereka yang seperti bayi-bayi sedang tidur.


"Dasar bocer di suruh jaga Nonanya malah ikut tiduran."


"Bocer?"


"Bocah Cerewet. Itu julukan baru untuk ini anak." Menunjuk Aliyah.


Ustadz Mirza hanya tersenyum mendengar ucapan Habibi, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja dan Habibi mengekor di belakangnya.


"Ustadz, Non Femila tidak dipindah ke kamar?"


"Nanti dia terbangun."


"Saya kira akan menyaksikan adegan romantis antara Ustadz dengan Femila."


Ustadz Mirza mendudukkan diri di kursi kerja.


"Atau adegan seperti yang ada di film, ketika sang istri tertidur lelap dikecup kening sang istri."


"Sudah menghayalnya? Atau kamu minta diberhentikan saja dari kerjaan ini?"


Habibi tersenyum manis. "Tidak Ustadz, saya hanya berkata asal."

__ADS_1


"Ayo kita lanjutkan kerja." Sambung Habibi.


"Siapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Perkuliahan) untuk materi ajar besok. Sekalian dicetak, yang minggu kemarin juga tolong cetakan." Titah ustadz Mirza.


"Untuk semester berapa Ustadz?"


"Semua semester ganjil tahun ini."


"Oya, Ustadz. Kira-kira Non Femila suka dengan Aliyah tidak ya?" Tanya Habibi di sela-sela mengerjakan tugasnya.


Ustadz Mirza yang sedang membaca materi untuk kajian Islam langsung berhenti. Matanya menerawang menatap sembarang arah. "Dilihat dari cara mereka tertidur, kayanya mereka sudah mulai akrab. Tapi saya yakin ada perhelatan besar antara Femila dengan Aliyah." Ustadz Mirza tersenyum meraba hal itu.


"Betul Ustadz."


"Dan ustadz lihat, di meja banyak kupasan apel. Duhduhduh...saya rasa Non Femila benar-benar jadi manusia apple." Habibi terkekeh.


"Ustadz."


"Hmmm."


Habibi nampak ragu meneruskan kalimatnya.


"Ada apa?" Tanya Ustadz kemudian.


"Apa dek Hana tahu kalau Aliyah kerja di sini?"


Raut muka ustadz Mirza berubah. Dia langsung teringat dengan pesan ucapan selamat yang dikirim Hana tadi malam, hanya dia buka tanpa membalasnya.


"Ustadz?"


"Itu bukan urusan saya." Tepis ustadz Mirza.


"Yakin Ustadz?" Habibi memastikan.


"Tentang status Hana dengan foto sepasang sepatu pantofel, apa Ustadz sudah melihatnya?"


"Hmmm."


"Bagaimana perasaan Ustadz?"


"Perasaan apa yang kamu maksud?"


"Saya baca kembali status Hana, Merelakan yang memang bukan milikku. Status dengan gambar sepasang sepatu pantofel yang waktu itu dibelikan Ustadz Mirza. Apakah status di WA itu tidak memilki arti tersendiri."


Ustadz Mirza terdiam. Hanya menundukkan pandangannya membaca kembali ke lembar kertas yang dia pegang.


"Benar begitu Ustadz?" Habibi melanjutkan lontaran pertanyaan dengan hati-hati.


"Apa boleh saya mengambil kesimpulan, sekarang dek Hana kecewa dengan pernikahan Ustadz Mirza. Dan dengan kata lain, di hati dek Hana benar-benar ada cinta untuk Ustadz Mirza." Sambung Habibi.


Ustadz Mirza masih terdiam membaca dengan seksama lembar kertas untuk materi kajian Islam. Namun telinganya mendengar dengan jelas apa yang disampaikan Habibi.

__ADS_1


__ADS_2