
Ponsel Aliyah yang di taruh di atas meja makan berdering, satu panggilan video call. Femila dan Aliyah menatap bersama ke ponsel, panggilan itu tertera nama Mbak Hana.
deg.
Aliyah mengangkat panggilan itu walau sedikit ragu karena dia tahu situasinya kurang pas untuk menerima panggilan dari mbak Hana.
"Assalamualaikum mbak Hana," sapa Aliyah dengan suara khasnya dan wajah yang ceria.
"Waalaikum salam. Lama sekali angkat teleponnya," protes Hana di sebrang sana.
"Bagaimana kabar kamu?" sambung Hana.
"Alhamdulillah baik mbak. Mbak Hana bagaimana kabarnya?" tanya Aliyah.
"Alhamdulillah baik juga. Kamu lagi dimana?" Sepertinya sedang di luar?" selidik Hana.
"I-iya," jawab Aliyah gugup.
"Ayo, dengan siapa?" ledek Hana.
Aliyah mendekatkan ponselnya ke arah Habibi. "Dia," jawab singkat Aliyah tidak mungkinkan menunjukkan wajah Femila, apa reaksinya Hana? Mungkin dia dianggap pengkhianat karena pergi dengan rival yang telah memenangkan hati ustadz Mirza, walaupun tepatnya bukan hatinya tapi masih dalam taraf memenangkan untuk dinikahi oleh ustadz Mirza.
"Assalamualaikum Dek Hana?" sapa Habibi begitu wajahnya nampak di layar ponsel itu.
"Waalaikum salam Kak. Bagaimana kabar Kak Habibi?"
"Alhamdulillah baik Han," jawab Habibi lalu memegang ponsel itu.
"Cie kencan ya dengan Aliyah, kenapa kalian bisa keluar bersama?" ledek Hana tapi dari lubuk hatinya dia mengharap ada orang lain di situ. Ya, orang lain yang biasa di dekat Habibi.
"Tidak hanya dengan aku, ada juga ustadz Mirza."
Deg.
Benar tebakan Hana. Dimana ada Habibi di situ pasti ada ustadz Mirza.
"Ada acara apa kalian makan bersama di luar?" tanya Hana dengan datar, yang sebenarnya pertanyaan itu ingin dia lontarkan ke ustadz Mirza.
"Hanya makan biasa."
Hana mengangguk pelan.
"Permisi silahkan minumannya," Seorang pramusaji datang membawa empat gelas minuman.
"Terima kasih mbak."
"Sama-sama."
"Kamu dimana? suara itu dari soundscape bandara? Kamu di bandara?" Cerca Habibi pada Hana.
"Malam ini saya terbang ke Kairo."
__ADS_1
"Mesir?" Habibi memastikan.
Hana tersenyum.
Yang lain masih mendengar percakapan Habibi dan Hana, tidak terkecuali Femila. Telinganya tidak bisa pura-pura tuli. Tanpa Filter daun telinganya menangkap gelombang suara Habibi dan Hana. Masuk ke liang telinga dan mengenai gendang telinga, gendang telinga bergetar. Getaran diteruskan ke tulang martil, tulang landasan, dan tulang sanggurdi. Getaran suara itu bergerak melalui osikula ke rumah siput, getaran suara itu menyebabkan cairan di dalam rumah siput. Getaran cairan yang menyebabkan sel rambut melengkung. Sel rambut adalah sinyal saraf yang akan ditangkap oleh sinyal saraf auditori, saraf auditori mengirim sinyal ke otak. Di otak Femilalah sinyal diartikan.
"Mengapa tiba-tiba ke Kairo? Tidak melanjutkan study di dalam negeri saja?" telisik Habibi.
"Tidak tiba-tiba kok, sudah direncanakan lama. Kebetulan ada santrinya Abah yang kuliah di sana. Jadi segala urusan yang ada di sana diuruskan oleh dia. Aku tinggal urus untuk perlengkapan dokumen. Mas Umar juga bantu, jadi prosesnya cepat." terang Hana.
Femila mengaduk minumannya, masih tanpa filter suara itu menerobos ke otaknya. Ustadz Mirza juga sama mengaduk minumannya pelan. Sedangkan Aliyah mulutnya masih menempel saja pada sedotan minuman. Matanya melirik ke orang yang ada di sebelah dan sampingnya.
"Mengapa hening, tidak ada yang bersuara?" gumam Hana.
"Mereka semua mendengarkan kamu," jawab Habibi dengan mengedarkan pandangannya ke semua yang ada di di depannya.
Hana tersenyum kecil. "Ya sudah, lanjutkan makannya. Doakan aku ya, semoga selamat sampai tujuan."
"Kamu tidak ingin bicara dengan ustadz Mirza?"
Deg.
Pertanyaan itu membuat wajah Hana berubah pasi, bahkan nyaris menyekat tenggorokannya.
"Bo-boleh." Jawab Hana, lontaran katanya sesuai perintah otak namun hatinya yang menjerit tidak.
Habibi menyerahkan ponsel itu ke ustad Mirza. Tangan ustadz Mirza meraihnya. Walaupun terlihat agak ragu.
"Assalamualaikum Han?" Ustadz Mirza berusaha sebiasa mungkin.
Ini pertama kalinya Hana menatap langsung wajah ustadz Mirza setelah kepulangannya ke Semarang walaupun via online. Setelah itu, tidak ada kontak sejak ucapan selamat pernikahan yang dia kirim lewat pesan WA.
"Bagaimana kabar Ustadz?" Tanya Hana dengan mengontrol diri agar tidak terlalu excited.
"Alhamdulillah baik. Kamu bagaimana?"
"Seperti yang Ustadz lihat. Alhamdulillah saya baik dan jauh lebih baik."
"Alhamdulillah. Di Kairo harus betah."
Hana mengangguk.
"Silahkan dinikmati hidangannya Pak." Ucap pramusaji sambil menurunkan beberapa makanan yang sudah dipesan Habibi.
"Terima kasih mbak," jawab Habibi.
"Sudah Ustadz. Silahkan makan, makanannya sudah disajikan. Assalamualaikum," ucap Hana terkesan buru-buru.
"Waalaikum salam." Layar panggilan terputus, ustadz Mirza menyodorkan ponsel itu ke Aliyah.
Ada tetesan air mata yang mengalir di pipi Hana namun dengan cepat dia menghapus air mata itu.
__ADS_1
'Selamat tinggal ustadz Mirza. Sekilas tadi aku melihat ada wanita berambut ikal di samping ustadz ketika Habibi menyerahkan ponsel itu ke ustadz. Aku yakin itu wanita yang sudah ustadz nikahi. Aku ikhlaskan ustadz untuknya. Tapi kenapa hati aku sakit melihat itu. Astaghfirullah haladhim, benarkah aku ikhlas? Tuntun hamba ya Allah untuk selalu di jalanmu,' batin Hana berkecamuk, air matanya tanpa tahu diri mengalir kembali, satu tisu yang dia ambil dari tas dengan cepat menyapu air mata.
Di rumah makan itu, semuanya sudah mendapat menu sesuai makanan favorit. Ikan bakar gurame sudah di hadapan ustadz Mirza dan Habibi, sop kakap merah menjadi hidangan makan malam Aliyah, dan udang asam pedas manis menjadi pilihan Femila.
Setelah cuci tangan, ustadz Mirza memimpin doa sebelum makan.
"Kak Habibi tahu makanan kesukaanku," ucap Aliyah dengan senyum termanisnya dan menyesap kuah sop kakap merah.
"Tidak hanya kamu, makanan ustadz Mirza dan non Femila aku juga hafal," elak Habibi.
Aliyah mencibirkan bibirnya merasa besar hatinya tiba-tiba langsung ciut dengan ucapan Habibi.
Habibi tersenyum melihat ekspresi Aliyah.
Sedangkan dua ingsan yang ada di samping Aliyah dan Habibi terlihat datar tanpa ekspresi.
"Aliyah, besok kamu pakai jaket tebal."
"Kenapa? Cuaca panas begini disuruh pakai jaket!" protes Aliyah.
"Aku saja sudah merasakan hawa dingin," sindir Habibi sambil melirik ke arah dua manusia yang ada di depan dan sampingnya.
Namun yang disindir tetap saja mengunyah makanannya tanpa memberi reaksi sedikitpun.
"Besok pertama kali Safera berangkat sekolah. Jangan lupa, Ustadz sudah janji akan menjemputnya," ucap Habibi mengalihkan pembicaraan.
"Iya," jawab singkat ustadz Mirza.
"Al, kamu tidak memberi tahu sahabatmu, kalau kamu menjadi asistenku?" tanya Femila tiba-tiba.
Aliyah langsung tersedak. Kuah sop kakap merahnya langsung menyembur ke meja.
Femila meraih tisu dan menyerahkan tisu itu ke Aliyah.
Femila menarik sudut bibirnya. Hatinya sudah bisa menebak jawaban Aliyah nantinya, melihat ekspresi Aliyah dengan pertanyaan Femila.
"Aku kira kamu menerima pekerjaan ini karena akan menjadi mata-mata buat sahabatmu. Ternyata kamu malah menyembunyikan pekerjaan ini darinya," jujur Femila.
"Apa kamu takut disebut sebagai pengkhianat oleh sahabatmu?" cecar Femila tanpa basa-basi.
Wajah Aliyah terlihat gugup.
"Makanlah keburu dingin makanannya," sela Habibi mengurangi ketegangan di wajah Aliyah.
Femila dan Aliyah meneruskan kembali makannya.
Habibi menatap wajah mereka, ustadz Mirza, Aliyah, dan Femila penuh dengan tanda tanya yang jawabannya di otak mereka masing-masing.
'Wajar saja kamu takut disebut pengkhianat Al, karena kamu bekerja dengan non Femila dan dek Hana, maafkan kesengajaan aku memperlihatkan non Femila yang duduk di samping ustadz Mirza. Mungkin ini kenyataan pahit buat kamu dek Hana. Tapi, aku rasa ini yang terbaik agar kamu cepat move on,' Batin Habibi menyimpulkan yang terjadi di depannya.
"Non Femila, apa pertanyaan kamu pada Aliyah tentang dek Hana adalah bentuk kecemburuan nona pada dek Hana?" pertanyaan itu meluncur tanpa filter dari mulut Habibi setelah semuanya selesai menyantap makanan.
__ADS_1
****@#
Biar author makin semangat up yuk Ayuk like dari bab awal.🙏🥰🥰