
"Oh, saya ingat kata mbak Silla. Apa mungkin dia yang dikatakan mbak Silla. Om nya A- Andra ya, tapi siapa Andra? Dan mengapa mbak Silla mengingatkan non Femila untuk izin ke ustadz Mirza dulu untuk menemuinya?" Masih bermonolog batin Aliyah.
Safera mendekat ke arah Femila, "Tante, mengapa kaki Tante tidak ada satu?" Tanya Safera dengan memandang kaki Femila.
deg
Pertanyaan dari gadis kecil itu seakan menghunus jantung Femila. Dia terlihat keluh untuk menjawab pertanyaan itu.
"Itu karena tante Femila istimewa." Jawab Aliyah menyela.
"Mengapa istimewa Kak?" Tanya Safera.
"Tidak semuanya kuat kalau Allah mengambil kaki yang Allah titipkan ke kita."
"Siapa Allah? Kenapa dia kejam sekali ambil kakinya tante Femila?"
"Safera pernah melihat bulan?"
Safera mengangguk.
"Matahari?"
Safera juga mengangguk.
"Bulan, matahari, laut, bintang, Safera, papa Safera, mama Safera, tante Femila, kak Aliyah, dan manusia yang ada di bumi. Itu yang menciptakan Allah."
Safera mengangguk, "Allah hebat sekali. Tapi Allah bisa mengembalikan kaki tante?"
"Tidak. Karena seperti yang tadi kakak bilang. Tante Femila sekarang menjadi orang istimewa yang punya hak istimewa di hadapan Allah."
Safera mengangguk pelan antara mengerti dan tidak.
Om Fery tersenyum mendengar penjelasan dari Aliyah kepada anaknya. Femila hanya terdiam namun hatinya bermonolog. "Benarkah saya orang istimewa? Apa istimewa saya? Bahkan saya sekarang merasa semakin jauh dari kata sempurna. Bagaimana bisa saya dikatakan istimewa."
Aliyah sebenarnya sudah gusar. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.25, dia belum menunaikan salat Ashar. Mau meninggalkan nonanya sendirian di ruangan itu rasanya tidak mungkin. Takutnya terjadi fitnah dan menjadi masalah untuk nonanya itu.
"Non, saya belum salat. Apa kita langsung pulang saja?" Bisik Aliyah memberanikan diri meminta pulang.
Femila mengangguk.
"Kami harus pulang cepat Om. Ada urusan wanita yang harus dilakukan di rumah." Ucap Femila.
"Ya silahkan kalau memang seperti itu."
"Terima kasih Om. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Kalian naik apa?"
"Taksi on-line."
"Sudah dipesan?" Tanya om Fery.
"Segera pesan."
"Kalau begitu biar saya yang antar, dan saya tidak menerima penolakan untuk kedua kali." Titah om Fery.
Femila tersenyum, merasa kemarin menolak penawaran dari om Fery. "Ok." Jawab Femila kemudian.
"Ayo Safera, Tante mau pulang."
"Hore... ke rumah Tante Femila."
__ADS_1
Mereka pun melangkah ke luar dari ceo room. Masuk ke mobil yang sangat tidak asing bagi Femila.
"Kenapa Fem? Semenjak masuk mobil kamu terdiam?" Tanya om Fery di tengah perjalanan. "Apa karena mobil ini?" Sambung om Fery.
Femila tersenyum kecut mendengar pertanyaan kedua dari om Fery karena nyatanya memang memori yang menyibak dalam kediamannya.
"Andra yang menyerahkan mobil dan rumahnya. Sayangkan kalau tidak dipakai nanti malah rusak." Jelas om Fery.
Femila masih diam. Sedangkan Aliyah curi dengar bahkan telinganya semakin dipertajam kan mendengar om Fery menyebut nama Andra.
"Kamu tidak ingin tahu kabarnya dia?"
Om Fery menunggu sepatah kata keluar dari mulut Femila. Namun dia masih diam.
"Ok, saya tidak akan membahas tentang Andra."
"Rumah yang cat putih Om, gerbang hitam." Ucap Femila begitu memasuki komplek perumahan sang suami dan mengabaikan pembicaraan sebelumnya.
Bip
Pak Rohim segera membukakan gerbang rumah dan masuklah mobil mewah Lamborghini Aventador warna hitam.
"Safera sayang, sampai jumpa besok ya." Ucap Femila sambil melepas seat- belt-nya.
"Kamu tidak tawari kita untuk mampir?" Tanya om Fery.
Femila agak ragu menjawab pertanyaan om Fery.
"Safera ingin main ke rumah Tante Femila?" Tawar om Fery pada anaknya.
"Ya, Pa...kita main ke rumah tante Femila."
"Kamu pulangnya nanti Al, diantar Habibi."
"Baik Non."
"Silahkan duduk." Ucap Femila begitu Sampai di ruang tamu. "Saya masuk dulu." Ucap Femila kemudian.
Aliyah mengekor nonanya masuk ke dalam. "Kita salat bersama Non." Tawar Aliyah.
"Kamu salat duluan."
Aliyah mengangguk dan menuju tempat salat yang ada rumah itu.
"Mbak Anik tolong buatkan minuman untuk tamu." Pinta Femila ketika akan masuk kamar berpapasan dengan mbak Anik.
"Nggih (ya) Non."
Femila memutar knop pintu dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar tidur, matanya mencari sesosok suaminya.
"Dimana dia? Apa di ruang kerja?" Batin Femila. Langkah kaki Femila sampai di ranjang tidur. Meletakkan tasnya di atas nakas yang dekat ranjang tidur. Kakinya kemudian mengayun ke kamar mandi sekedar cuci tangan dan mencuci mukanya. Setelah bersih, Femila keluar menemui om Fery dan Safera yang ada di ruang tamu.
Femila melangkah pelan ketika Sampai di ruang tamu. Tepatnya kaget karena di situ sudah ada ustadz Mirza yang duduk menemani om Fery dan Safera. Femila mendudukkan pantatnya di samping Safera yang sedang bermain boneka pokemon.
Om Fery tersenyum melihat kecanggungan suami istri yang ada di depannya. Yang satu tidak menyapa suaminya satunya lagi tidak menyambut hangat kepulangan istri.
"Apakah setiap hari kalian seperti ini? Tidak banyak komunikasi? Bertemu saja sampai canggung begini?" Lugas om Fery.
"Hanya kaget saja. Tiba-tiba ada tamu membawa gadis kecil." Jawab ustadz Mirza.
Om Fery tersenyum menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
"Apalagi gadis kecil ini sangat menyukai istri anda." Ucap om Fery seakan menabuh perang dingin.
"Istri saya memang suka dengan anak kecil. Saking sukanya dia ingin segera punya momongan." Ucap ustadz Mirza tidak kalah sinis.
Mendengar ucapan ustadz Mirza, Femila langsung membulatkan matanya, menoleh ke ustadz Mirza dan membuang napasnya dengan kasar.
Om Fery tertawa kecil, mendengar penuturan ustadz Mirza. "Syukurlah, kalian sepertinya terlihat bahagia. Jadi saya tidak usah bersusah payah mengambil Femila dari tangan kamu." Ucap om Fery yang terdengar menyindir secara halus.
Ustadz Mirza pun balas dengan tertawa kecil. "Terima kasih atas pengertiannya Om." Ucap ustadz Mirza kemudian.
"Ada apa dengan dua orang ini? Dua-duanya sama. Sama-sama berakting memperebutkan saya." Batin Femila bermonolog.
"Safera main sama kakak yuk." Tawar Aliyah begitu muncul di ruang tamu. Dia mendengar semua perang mulut antara dua laki-laki yang ada di situ. Bagi Aliyah itu sangat tidak baik untuk Safera.
"Yuk Kak." Bangkit dari duduk dan mendekat ke arah Aliyah. Aliyah menuntutnya masuk ke ruang tengah.
"Asisten kantor kamu tidak pulang Fem?"
"Dia bukan asisten kantor. Tepatnya asisten pribadi istri saya." Ucap ustadz Mirza.
Om Fery menganggukkan kepalanya. "Saya kira asisten dari kantor, ternyata asisten special dari Ustadz?"
"Ustadz tidak bisa mendampingi saya setiap saat, makanya dia mencari asisten pribadi untuk saya." Sela Femila yang sebenarnya tidak ingin om Fery lebih dalam mengorek rumah tangganya.
"Wow. Dia sangat perhatian sekali dengan kamu Fem."
"Tentunya." Ucap Femila kemudian menoleh pandangan ke ustadz Mirza ingin melihat ekspresi dari ustadz Mirza. Namun yang dilihat hanya ekspresi datar.
"Hampir petang, saya dan Safera pamit pulang." Ucap om Fery setelah melihat jam dipergelangan tangannya.
"Safera... Safera..."
"Iya Pa." Jawab Safera, lari mendekat ke arah papanya.
"Sudah mau petang. Kita pulang yuk." Ajak om Fery jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Safera.
"Tidak mau! Mau main sama tante Femila dan kak Aliyah."
"Sayang, besok lagi kan tante Femila dan kak Aliyah main ke kantor papa." Bujuk om Fery.
"Papa bohong." Safera memanyunkan bibirnya. "Bener Tante dan Kak Aliyah besok ke kantor papa?" Safera memastikan, membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah Femila.
"I- iya." Jawab ragu Femila sambil melirik ke arah ustadz Mirza yang nampak kaget dengan ucapan om Fery.
"Asik...janji ya Tante." Safera mengulurkan jari kelingkingnya.
Femila menautkan jari kelingkingnya ke jari Safera. Namun sebelum mulutnya mengucapkan kata, Aliyah lebih dulu menyela ucapan, "Insya Allah Safera cantik."
Femila mengangguk dan bibirnya mengucapkan, "Insya Allah sayang." Mengelus rambut panjang bocah itu dengan mengikuti kata Insya Allah seperti yang pernah dikatakan ustadz Mirza tentang kata Insya Allah dan ucapan Aliyah seperti mengingatkan hal itu
Kalau berjanji atau akan memenuhi undangan hendaknya mengucapkan kata Insya Allah, artinya jika Allah berkehendak dan Allah meridhoi. Ucap ustadz Mirza kala itu.
Safera terlihat girang dan memeluk tubuh Femila. "Nanti Tante Femila cepat kasih adek kecil ya buat Safera."
Femila tersenyum pada bocah itu dan menganggukkan kepalanya. Malas saja seandainya jawabannya tidak mau, bisa berjam-jam penjelasan setelah itu.
"Tante Femila dan om Andra dulu pernah janji mau beri adek kecil buat nemenin Safera main."
deg.
Kalimat yang terlontar dari bocah polos itu seketika membius orang yang ada di ruang tamu.
__ADS_1