
Ustadz Mirza menatap ponselnya, beberapa pesan masuk ke aplikasi hijaunya.
Jangan kirim pesan apapun ke Femila. Biar dia merasakan kehilangan nak Mirza. Mama sudah tanyakan Aliyah kejadian yang menimpa Andra dengan Femila. Katanya Femila sudah memaafkan Andra dan mengikhlaskannya.
Ustadz Mirza berhenti membaca pesan itu. Masuk ke pesan berikutnya.
Mama yakin. Kalau memang Femila jodoh kamu, sekeras kepalanya dia, pasti akan luluh dengan kamu Nak. Mama berharap kalian membina rumah tangga yang harmonis.
Ustadz Mirza membalas pesan dari mama mertuanya.
Ya Ma...saya ikuti saran Mama. Doakan nantinya ada jalan terbaik antara kita. Amin.
Ustadz Mirza mengusap wajahnya. Pesan itu dikirim Mama Anita seusai ustadz Mirza sampai di bandara internasional Syamsuddin Noor.
Kini sudah tiga hari lamanya dia di sana. Ustadz Mirza menutup ponselnya. Baru saja akan dia taruh ponsel itu di atas nakas, tiba-tiba ponselnya berdering ada satu panggilan video masuk.
"Assalamualaikum Ma."
"Waalaikum salam Nak... Bagaimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah Ma baik, Mama Papa juga baikan?"
"Alhamdulillah."
deg.
Ada debaran yang sangat kuat saat menatap layar ponsel yang sekarang terpampang wajah Femila sedang makan cemilan di ruang tengah. Kamera yang mama Anita pegang dialihkan ke kamera belakang sehingga nampak wajah orang yang ada di depannya.
Femila mengunyah makannya dengan pelan. Dalam hatinya begitu sakit. "Dia sama sekali tidak memberi kabar tapi kenapa malah telepon mama!" Gerutu Femila.
Pantatnya dia angkat dari kursi, kakinya melangkah pergi dari hadapan Mamanya.
Mama Anita masih mengarahkan kameranya ke Femila hingga sosoknya tidak nampak dari pandangan matanya karena sudah masuk ke kamar.
Ustadz Mirza masih terdiam.
"Dia lebih memilih pergi, mungkin kesal dengan kamu Nak." Ucap mama Anita yang sudah mengalihkan ke kemera depan.
Ustadz Mirza hanya tersenyum.
"Saya titip Femila Ma."
"Ya Nak, tanpa kamu minta Mama akan selalu jaga dia."
"Terima kasih Ma. Sudah dulu Ma, Salam buat Papa."
Mama Anita mengangguk.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Panggilan itu terputus.
Sementara, Femila yang masih duduk di tepi ranjang memandang kesal ponsel yang dipegangnya.
"Bisa-bisanya hanya mengintip statusku. Setiap saya posting status pasti dia lihat. Tapi apa coba, dia sedang mengujiku dengan tidak memberi kabar! Kekanak-kanakan!" Omel Femila dan membanting ponselnya di atas kasur.
"Nak...Mama mau pulang," seru mama Anita setelah mengetuk pintu kamar Femila.
"Tinggal pulang saja kenapa pakai laporan segala," gerutu Femila setelah mendongakkan kepalanya.
"Issst...ini anak, Mamanya pamit kenapa sewot. Ada apa? Marahan sama nak Mirza?" Goda mama Anita.
Femila diam.
"Menurut Mama?" Ketus Femila.
__ADS_1
Mama Anita tersenyum.
"Barangkali, karena kamu uring-uringan seperti ini. Mungkin juga mau datang bulan?" Ucap mama Anita berlagak pura-pura tidak tahu.
"Mama sok tahu, sudah sana cepat pulang," pinta Femila tangannnya kemudian menutup pintu kamar.
"Issst... bocah! Huft..." Mama Anita menghempas napasnya. Tidak lama itu bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil.
"Sepertinya berhasil," gumam mama Anita.
"Ada apa dengan kamu Fem?" Tanya Femila pada diri sendiri. Napasnya dihempaskan dengan kasar.
"Ya Allah...Kemarin baru saja saya tenang, merasa damai karena masalah saya dengan Andra akhirnya ada titik terangnya. Kita sudah saling merelakan masa lalu. Tapi kenapa denganku? Seperti ada yang hilang. Seperti..." Femila menghentikan ucapannya menatap bantal milik ustadz Mirza.
Pandangannya menunduk, "Ustadz... Ustadz marah dengan saya? Saya hanya memastikan hati saya. Saya takut kalau memberi harapan ke ustadz, sementara hati saya belum meyakini perasaan ini," lirih Femila sementara tubuhnya bergerak pelan mendekap bantal yang biasa dipakai ustadz Mirza.
Femila mulai menguap matanya berat untuk dia buka dan sekarang tertutup sempurna. Desiran napas terdengar darinya.
Malam semakin sunyi. Menapaki puncak malam, bergeser berganti dini hari hingga subuh memanggil penghuni bumi untuk menunaikan kewajibannya.
Femila menggeliatkan tubuhnya, rambutnya terasa diusap pelan, dan samar ada suara yang sangat tidak asing baginya. Matanya terbelalak, pantatnya langsung terduduk. Dia menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Menatap heran ketika kaki palsunya sudah terlepas. Padahal dia ingat betul tadi malam dia ketiduran dan tidak melepas kaki palsu itu.
"Ustadz?" Femila menggeser tubuhnya meraih kruk yang ada di samping ranjang. Mengayunkan langkah ke toilet kamar.
"Ustadz...Ustadz....Ustadz..." Panggil Femila sambil mengetok pintu toilet tapi tidak ada sahutan.
Tangan Femila memberanikan diri membuka toilet itu. Pandangannya mengedar ke penjuru toilet namun tidak ada sesosok yang dicarinya.
"Apa ustadz jamaah di masjid komplek?" Pikir Femila yang langsung melangkah keluar kamar.
Dia melangkah ke dapur mencari mbak Anik atau pun pak Rohim. Tapi keduanya tidak ditemui. Kakinya kembali melangkah, tepat di depan kamar yang Aliyah tempati, pintu itu terbuka.
"Astagfirullah haladhim...Ya Allah...kaget Non, saya kira ada hantu gentayangan." ucap Aliyah sambil mengelus dadanya.
"Issst...enak saja disamakan hantu!" Kesal Femila.
"Belum."
"Mari salat bersama," ajak Aliyah. Namun yang diajak bicara malah matanya celingukan kanan-kiri.
"Non nyari apa?" Tanya Aliyah penasaran.
"Apa Ustadz pulang," Tanya Femila dengan penuh harap.
Aliyah tersenyum, tepatnya tertawa kecil mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut nonanya.
"Non ngaco. Baru 4 hari ustadz pergi, Non Femila sudah sepanik ini malah mengira ustadz sudah pulang."
"Issst...kamu! Sudah kita salat dulu," kesal Femila bukan mendapat jawaban malah ledekan yang terlontar dari mulut Aliyah.
Aliyah tersenyum kecil, melangkah mengekor nonanya yang terlebih dulu jalan.
...****************...
Malam ini Femila diundang makan malam oleh bunda Rima. Femila sebenarnya sedang sungkan untuk melakukan apapun tapi karena harus menuntaskan masalah dengan bunda Rima, sungkan tidak sungkan dia harus menyelesaikannya agar hati saling lega dan ikhlas untuk saling memaafkan.
"Bunda banyak salah ke kamu Fem." ucap bunda Rima dengan memeluk Femila.
"Lupakanlah Bun...saya sudah ikhlaskan semua. Apa yang menimpa saya itulah garisan takdir dari yang Maha Kuasa.
"Terima kasih sayang," bunda Rima melepas pelukannya menghapus cairan bening yang mengalir di pipinya.
"Kita ke ruang makan, bunda sudah masak makanan kesukaan kamu," ajak bunda Rima sambil merangkul bahu Femila.
Femila dan Aliyah sudah duduk di ruang makan. Mata Femila masih mencuri pandang menatap bunda Rima yang kini duduk di hadapannya.
Wanita paruh baya itu kini tampil berbeda, kepalanya tertutup hijab.
__ADS_1
"Kenapa Fem?" Tanya bunda Rima melihat Femila mencuri pandang ke arahnya.
"Bunda terlihat semakin cantik memakai hijab."
Bunda Rima tersenyum, "Terima kasih pujiannya. Doakan biar bunda istiqomah. Ayo silahkan dimakan makanannya."
Femila mengangguk.
"Ayo Nak, jangan malu-malu," ajakan bunda Rima tertuju ke Aliyah yang nampak malu untuk mengambil makanan.
"Ya Tan," jawab Aliyah.
"Kamu juga Andra, mengapa malah tersenyum melihat wanita-wanita cantik di depan kamu," canda bunda Rima.
"Ya Bun," jawab Andra yang kemudian mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.
"Doakan juga Bun, semoga saya seperti Bunda," lirih Femila.
"Amin ya Allah...semoga Nak Femila memakai hijab dan kami wanita Islam diistiqomahkan untuk memakainya."
Femila tersenyum.
"Perjalanan Bunda memakai hijab tidak lepas dari peran ustadz yang bunda idolakan."
"Ustadz Mirza," sebut Femila.
"Kamu tahu Nak."
Femila tersenyum. "Ya Allah...bunda cukup tiga bulan untuk menjemput hidayahnya hingga sekarang memakai hijab seperti ini. Sedangkan saya? Hampir delapan bulan saya bersama ustadz Mirza, tapi..." Batin Femila tidak mampu melanjutkan monolognya.
Bunda Rima mengangguk menerka jawab yang memberitahu nama ustadz idolanya adalah Andra.
"Nak, katanya kamu sudah menikah? Saya kira kamu akan datang dengan suami."
Femila tersenyum menampakkan barisan giginya.
"Lain kali bawa suamimu. Biar bunda kenal dengannya."
"Bunda sudah kenal dengan dia."
Bunda berhenti meneguk minumannya, meletakkan kembali di meja.
"Bunda kenal?"
Femila mengangguk, "Bunda bertemu dengannya di Kalimantan."
"Maksud kamu?" Bingung bunda Rima.
"Suami saya...ustadz Mirza."
"Masya Allah...beruntung sekali kamu Fem."
Mengetahui ustadz Mirza adalah suami Femila akhirnya mereka terlibat percakapan yang begitu seru tanpa peduli ada dua sosok yang hanya sebagai pemanis mereka.
...****************...
Selama 1 jam lebih 45 menit menempuh perjalanan rute bandara internasional Soekarno Hatta Jakarta menuju bandara internasional Syamsuddin Noor Banjarmasin. Setelah mendarat masuk terminal kedatangan Femila dan Aliyah segera masuk ke mobil yang sudah di pesannya. Menempuh jarak 30 menit sampailah di lokasi salah satu universitas Islam di Banjarmasin.
Satu pesan berhasil Femila kirim.
Saya sudah di lokasi.
Bibirnya tersenyum, "Ya Allah...saya yakin ini jalan yang terbaik yang Engkau tunjukkan pada hamba." Monolog batin Femila.
#malam menyapa kalian....
like, komen, vote, rate...😘🥰
__ADS_1