KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 60


__ADS_3

"Non...Non." Panik Aliyah melihat siku tangan dan kaki nonanya berdarah.


Dia segera memapah nonanya ke tepi jalan. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu langsung mendekat ke arah Femila dan Aliyah.


"Ya Allah kasihan sekali Mbaknya."


"Cepat bawa ke rumah sakit terdekat."


"Dasar pengendara motor tidak punya mata!"


"Naik motor ngebut! Gue sumpahin mati ketabrak lu!"


"Kurang ajar itu orang! Sudah nabrak main kabur!"


Terdengar orang saling bersahutan membicarakan kejadian yang menimpa Femila.


"Mbak, tolong jaga nona saya, saya mau ambil mobil di parkiran," pinta Aliyah.


"Ya, Mbak," jawab wanita yang juga ikut membantu Femila menepi.


Femila masih nyringis perih. Jantungnya juga masih tidak teratur ritmenya.


Setelah mengambil mobil, Aliyah dibantu orang-orang langsung memapah Femila untuk duduk di samping jok pengemudi.


"Non minum dulu." Aliyah membuka botol air mineral yang ada di dashboard.


Femila meraih botol air mineral itu.


"Sedikit sekali minumnya Non, diminum lagi." Aliyah menyodorkan kembali botol itu.


"Hmmm." Femila meminum kembali sampai setengah botol.


"Kita langsung pulang saja Al," pinta Femila.


"Non Femila itu terluka. Kita harus obati dulu lukanya," sanggah Aliyah.


"Al, ini hanya lecet sedikit. Tadi, aku hanya kaget makanya sampai tersungkur seperti itu."


"Aku tidak mau nanggung resiko Non. Mau tidak mau harus ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa dengan Non Femila aku juga yang disalahkan," ucap Aliyah masih dengan wajah tegangnya.


Femila pasrah. Toh benar apa yang diucapkan Aliyah. Meskipun dia merasa tidak terlalu sakit, tapi kalau tidak periksa di rumah sakit, pasti Aliyah nanti disalahkan.


Mereka sudah di ruang UGD. Walaupun kata dokter keadaan nonanya tidak parah hanya lecet di tangan dan kakinya namun Aliyah harus lapor dengan ustadz Mirza.


Aliyah berjalan mondar-mandir di luar ruangan. Panggilan telepon ke ustadz Mirza tidak juga diangkat. Sementara dokter dan perawat masih membersihkan luka itu.


Aliyah mencari kontak atas nama Tante Anita. Terpaksa dia harus memberitahukan keadaan nona Femila ke orang tuanya.


"Assalamualaikum Tante."


"Wassalamu'alaikum salam. Ada apa Al? Mau beri info apa? Oya, sepertinya rencana dua hari yang lalu, kirim bunga dan makanan tidak berhasil deh. Itu hanya angin lalu untuk mereka. Apalagi nak Mirza tidak bisa diajak kerja sama. Apa kamu sudah menemukan ide untuk menyatukan mereka? Tenang Al bonus besar menantimu, kalau rencana kamu bisa berhasil," erocos Anita.


"Tante..., Tante...," ucap Aliyah mencoba menyela bicara Anita yang tanpa jeda.


"Kalau kamu_" Mama Anita langsung menghentikan ucapannya begitu mendengar Aliyah berteriak.


"Tante!!!!" Teriakan Aliyah baru bisa menghentikan ucapan mama Anita.


"Ya Ampun Al, telinga Tante nanti pecah."


"Non Femila kecelakaan," ucap Aliyah dengan cepat.


"Apa!" Kaget Anita.


"Tenang dulu Tan, dengarkan aku bicara dulu."

__ADS_1


"Aku segera ke sana."


"Tante dengarkan!" Suara Aliyah meninggi lagi.


"Ya, Tante denger," sahut Anita.


"Nyesel aku telepon Tante," gerutu Aliyah


"Non Femila hanya lecet siku tangan dan kakinya. Dokter juga bilang tidak apa-apa dia bisa langsung pulang."


"Alhamdulillah. Aku kira kenapa-napa. Nak Mirza juga di situ kan?"


"Karena ustadz Mirza tidak di sini makanya aku telepon Tante."


"Dia kemana?"


"Kondangan ke teman dosennya," jawab Aliyah.


"Kamu sudah menghubungi dia?"


"Sudah tapi tidak tersambung," sahut Aliyah.


"Biar aku yang menghubungi. Kamu jaga saja Femila. Ingat jangan pulang dulu sebelum nak Mirza menjemput ke situ." Pesan mama Anita.


"Ya Tante, sudah dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Sementara di tempat resepsi pernikahan yang di datangi ustadz Mirza, tempatnya begitu riuh. Apalagi sekarang ustadz Mirza sedang tampil membawakan lagu Mughrom yang dipopulerkan oleh penyanyi religi Ai Khodijah, permintaan dari empunya hajat. (Silahkan search di YouTube bagus lagunya😍🥰)


Mughrom...qolbi bihubbika Mughrom


(Tergila-gila...hatiku tergila-gila mencintaimu)


(Duhai kekasih kami termulia,)


ya Rasulullah


(Wahai Rasulullah)


jamalak ma fitsnain


(Keindahanmu tiada duanya)


masyafit mitsluh 'ain


(Insan sepertimu tak pernah dipandang mata)


asar Fuadi


(kau telah menawan hatiku)


wizard Widadi


(menambah volume cintaku)


Badrid-duja ya zain


(duhai insan terbaik rembulan segala gulita)


Setelah tampil di panggung Ustadz Mirza kembali memposisikan diri di kursi tamu. Tepukan riuh terdengar dari mata yang menyaksikan penampilan ustadz Mirza.


Maka tidak heran. Walau status sudah menikah. Sekali menatap ustadz Mirza langsung terpanah dengan ketampanannya yang nyaris sempurna. Apalagi melihat kecerdasan dan banyak bakat yang dimilikinya. Decak kagum yang mampu menjawabnya.


Namun lain hal bagi wanita yang katanya sudah sah menjadi istrinya. Tembok hatinya belum juga luluh melihat orang yang selama ini membersamainya.

__ADS_1


"Ustadz Mirza memang hebat," puji Habibi setelah ustadz Mirza mendudukkan pantat di sampingnya.


"Kamu biasa melihat kehebatan aku kan." Canda ustadz Mirza.


Habibi tersenyum mendengar candaan itu.


"Kita pulang, sudah malam." Ajak ustadz Mirza.


"Kita kesini memang malam kan Ustadz, ya jelas ini sudah malam."


Ustadz Mirza tersenyum lagi mendengar celoteh Habibi. "Maksud aku sudah lama di sini."


"Bilang saja Ustadz kangen dengan istri." Ledek Habibi.


"Assalamualaikum Ustadz, Habibi." Sapa tiga lawyer's teman Habibi dan ustadz Mirza.


Mereka saling bersalaman.


"Baru datang? Kita hampir pulang."


"Kenapa buru-buru Ustadz?" Tanya Iqbal.


"Kamu kaya tidak tahu saja. Ustadz sudah rindu dengan istrinya." Jawab Habibi.


"Masya Allah yang selalu romantis dengan sang istri." Celetuk Farhan.


"Ustadz pulang saja duluan. Biar si jomblo ini di sini. Siapa tahu ada yang nyantel sama dia." Iqbal menepuk bahu Habibi.


Mereka langsung tertawa mendengar ledekan Iqbal.


"Ya Ustadz, nanti biar mereka yang mengantar aku." Habibi menyerahkan kunci mobilnya.


"Ok. Aku jalan duluan. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Ustadz Mirza melangkah ke parkir mobilnya. Setelah duduk di kursi pengemudi, dia memasang seat-belt-nya. Ponsel yang terasa mengganjal di kantong celananya dia ambil. Sebelum taruh di laci dashboard dia sempatkan membuka ponselnya.


"Aliyah dan mama Anita telepon? Ada apa ya?" Gumam ustadz Mirza yang langsung akan memencet nomor Aliyah namun satu panggilan masuk dan kini tersambung dengannya.


"Wassalamu'alaikum salam. Ada apa Ma?"


Begitu mendengar ucapan mama Anita ustadz Mirza langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi.


Tangannnya begetar hebat untuk mengemudikan mobil. Namun mulutnya tetap membaca istighfar dan salawat agar selamat sampai rumah sakit dan pikirannya bisa tenang. Sesekali menghembuskan napasnya dengan pelan agar lebih rileks lagi.


Setelah sampai di parkiran rumah sakit. Ustadz Mirza langsung lari menuju ruang UGD


Dengan napas yang masih tersengal-sengal. Dia menatap wanita yang sudah sangat dia khawatirkan selama perjalanan ke rumah sakit. Kakinya melangkah pelan dan matanya masih lekat menatap wanita itu.


Femila terkejut melihat kedatangan ustadz Mirza dengan tatapan dan wajah yang begitu cemas. Bahkan Femila langsung berdiri dari duduknya karena rasa terkejut itu. "Ustadz?" Panggilnya dengan penuh tanya.


Setelah dekat, tubuh istrinya dia raih ke dalam pelukan. Pelukan itu semakin erat manakala Femila bergerak.


Femila merasa ada getaran dari tubuh ustadz Mirza dan bahunya terasa basa seketika. Dia mulai lemah membiarkan suaminya memeluknya. Tangan Femila membalas pelukan itu dan sedikit menepuk punggung suaminya agar tenang. Dia tahu suaminya kini menitihkan air mata.


Tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir keduanya hanya Femila masih mendengar Isak yang tertahan dari orang yang masih memeluknya.


Dan kini Femila merasa ada kecupan yang mendarat di bahu dan tengkuknya. Bukan sekali, tapi kecupan itu beberapa kali mendarat dengan sempurna.


Deg.


Baper gag? Pasti baperlah🥺🤗🥰.


Senin beramal, boleh ya authornya celamitan minta vote🙏

__ADS_1


__ADS_2