KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 26


__ADS_3

"Siapa juga yang mau main-main Ma. Buktinya ustadz Mirza beneran datang ke sini melamar saya. Bukankah begitu ustadz?"


Ustadz Mirza nampak ragu untuk menjawab. Namun Femila mengerdipkan matanya agar ustadz Mirza mengiyakan ucapan Femila.


"Iya, saya."


"Saya tidak mau tahu. Intinya saya tidak akan menyetujuinya." Ucap papa Riyan memotong bicara ustadz Mirza.


"Saya juga sama! Tidak akan menyetujuinya!" Sambung mama Anita masih memendam amarahnya.


Femila terdiam masih menunggu reaksi ustadz Mirza. Namun, yang ditunggu bereaksi juga terdiam.


Hening dengan pikiran masing-masing.


"Kalau begitu, saya minta maaf sudah mengganggu istirakhat Bapak dan Ibu. Saya permisi dulu. Assalamualaikum."


"Wassalamu'alaikum salam." Jawab mama Anita lirih hampir dirinya saja yang mendengar. Sedangkan Papa Riyan hanya menjawab dalam hati dan Femila, dia hanya mematung menyaksikan kepergian ustadz Mirza dengan perasaan yang kecewa.


Kecewa bukan karena pernikahan yang tidak disetujui orang tuannya melainkan kecewa karena sikap ustadz Mirza yang menyerah begitu saja.


"Sama kah Andra dengan ustadz Mirza? Dia menyerah begitu saja ketika bundanya meminta untuk membatalkan pernikahan? Memang saya tidak pantas untuk diperjuangkan oleh siapapun. Siapa saya? Hanya orang cacat yang semakin tidak berguna!" Batin Femila berkecamuk.


"Papa perlu bicara Fem." Ucap papa Riyan.


"Saya capek Pa." Femila mengambil kruk mengapitkan di kedua ketiaknya kemudian melangkahkan kakinya.


"Femila!" Panggil papa Riyan agar Femila berhenti namun Femila tetap melangkahkan kakinya.


"Sudah Pa, kita bicarakan nanti." Bujuk mama Anita dengan meraih lengan suaminya.


"Itu anak, bisa-bisanya mengambil keputusan seperti ini."


"Pa, tenangkan diri Papa. Kita harus menyelesaikan masalah ini secara jernih jangan dengan emosi. Sebaiknya kita istirakhat Pa. Ajak mama Anita.


Di lain tempat. Ustadz Mirza yang sedang duduk di jok depan ditemani Habibi, masih terdiam mematung tanpa suara. Habibi pun tidak berani menanyakan sepatah kata pun. Rona wajahnya tidak mendukung untuk diajak bicara.


Kedatangan ustadz Mirza ke rumah Femila sebenarnya sudah membuat shock Habibi, apalagi ketika ustadz Mirza baru menjawab sederet pertanyaan Habibi ketika sampai di parkiran rumah Femila kalau ustadz Mirza mau melamar Femila. Bertambah shock lah Habibi.


"Sudah sampai ustadz." Ucap Habibi membuyarkan lamunan ustadz Mirza.


"Ya, terima kasih." Ustadz Mirza turun dan Habibi mengekor di belakangnya.


"Assalamualaikum." Ustadz Mirza dan Habibi serentak mengucap salam ketika masuk rumah.


"Waalaikum salam." Jawab Mbak Atik.


"Mbak, tolong buatkan dua kopi, bawa ke ruang kerja." Ucap Habibi kepada Mbak Atik, asisten rumah tangga di rumah ustadz Mirza.

__ADS_1


"Nggih (Ya) mas."


Ustadz Mirza duduk di kursi kerjanya. Masih diam belum membuka sepatah kata pun. Habibi juga belum berani melontarkan tanya.


"Ini mas kopinya." Mbak Atik menaruh dua kopi itu di atas meja kerja.


"Terima kasih ya Mbak."


"Nggih mas." Jawab mbak Ati kemudian keluar dari ruangan.


Satu dua seruput ustadz Mirza menyesap kopi itu kemudian meletakkan kembali dia atas meja karena kopinya masih panas.


"Habibi." Ustadz Mirza memicingkan alisnya melihat Habibi meniup kopi yang akan dia minum.


"Oh ya, maaf ustadz saya lupa."


Sering Habibi ditegur untuk tidak meniup makanan atau pun minuman namun sering pula dia berdalih lupa.


"Tahukah kamu, bahwa meniup makanan atau minuman panas sebelum dimakan atau diminum, itu tidak dianjurkan oleh Rasulullah. Dari segi medis juga tidak baik karena bisa memindahkan mikroorganisme dari mulut ke makanan atau minuman, kedua menyebarkan virus ke makanan atau minuman dan ketiga menaikkan keasaman pada makanan atau minuman." Habibi memperagakan ketika ustadz Mirza berkhutbah di mimbar.


"Lain kali kamu saja yang berkhutbah. Sangat bagus khutbah kali ini." Ketus ustadz Mirza.


Habibi nyengir. "Tidak Ustadz, maaf saya hanya bercanda, ustadz sih dari tadi wajahnya ditekuk terus. Atau tadi karena haus jadi ustadz tidak mampu bicara?"


"Habibi." Ustadz Mirza membulatkan matanya.


"Orang tua Femila tidak menerima lamarannya." Ustadz Mirza membuka pembicaraan yang serius.


"Loh, Ustadz melamar Femila atau melamar orang tuanya?"


"Astaghfirullah, Habibi!" Geram ustad Mirza.


"Ya, ya, maaf Ustadz. Sekedar menguji iman Ustadz." Senyum Habibi.


"Memang iblis itu suka menguji iman manusia." Menekan kata iblis dengan memandang lekat Habibi.


"Astaghfirullah haladhim. Naudhubillahi min dzalik." Habibi mengelus dadanya.


Ustadz Mirza tersenyum. "Kena batunya kan."


"Ya, ya Ustadz."


"Kita salat isya dulu."


"Baik Ustadz."


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.30 ustadz Mirza mendudukkan diri di kursi kerjanya seusai menunaikan salat isya. Habibi nampak membantu membereskan berkas ustadz Mirza untuk mengajar besok.

__ADS_1


Tangan ustadz Mirza memainkan pulpen yang iya pegang. Sesekali ditatap lekat pulpen itu.


"Pulpen baru Ustadz?"


Ustadz Mirza hanya tersenyum.


"Oya Ustadz, mengenai lamaran yang ditolak orang tua Femila, bukan kah itu jalan terbaik juga untuk Ustadz? Ustadz bisa langsung menerima lamaran dari orang tua dek Hana."


Ustadz Mirza menghentikan memutar pulpen kemudian menaruh di wadahnya. Ucapan Habibi memang ada benarnya. Namun, tidak untuk sekarang tapi lima hari yang lalu, sebelum mimpi itu datang dua hari berturut-turut.


"Saya tidak tahu Bi, empat hari yang lalu saya bermimpi dihadapkan pada sesosok orang yang duduk di atas kursi roda. Dia mengulurkan tangannya dan meminta saya untuk meraih tangan itu, wajahnya samar karena tertunduk. Di malam berikutnya saya juga bermimpi sama persis. Tadinya saya sempat ragu, mimpi hanya bunga tidur pikir saya saat itu. Namun saya ingat saya juga menjalankan salat istikharah, apa mungkin Allah menunjukkan jalan lewat mimpi saya? Ataukah itu hanya bisikan setan? Saat itu saya sangat frustasi, tapi satu hari sebelum saya memutuskan jawaban, saya diyakinkan oleh pertemuan tidak sengaja di rumah makan dengan Femila." Curhat Ustadz Mirza.


"Apa hanya karena mimpi dan pertemuan di rumah makan itu Ustadz langsung memutuskan untuk menikah dengan Femila?"


"Mungkin ya. Hanya saja saya sudah pasrahkan sama Allah, saya akan jalankan semua karena Allah ta'ala."


"Seandainya itu hanya bisikan setan."


"Lillahita'ala."


"Apakah itu berarti di hati Ustadz sama sekali tidak ada dek Hana? Atau Ustadz pura-pura mengabaikannya?"


"Kalau saya bilang tidak ada, itu pasti bohong. Tapi entahlah, sejak mimpi itu dan pertemuan di rumah makan dengan Femila saya mencoba memantapkan hati."


"Hanya mencoba?"


"Setidaknya untuk sekarang mulai memantapkan."


"Apakah semudah itu dalam memutuskan pernikahan Ustadz?"


Ustadz Mirza tersenyum. Dia juga tidak menduga dengan gampang dia mengatakan ya untuk melamar sesosok Femila Amore Ibrahim.


"Ustadz." Habibi memastikan.


"Saya hanya mengikuti kata hati yang sekarang."


"Apa Ustadz tidak khawatir bagaimana nasib pernikahan Ustadz seandainya jadi menikah dengan Femila?"


"Saya pasrahkan sama Allah yang punya kuasa."


"Walaupun Ustadz tahu Femila tidak mencintai Ustadz dan entah apa tujuannya meminta untuk dinikahi?"


Ustadz Mirza terdiam mencerna kata yang keluar dari mulut Habibi.


"Apa Ustadz tidak memilih yang pasti saja. Pasti menerima Ustadz, pasti direstui orang tuanya, dan pasti ilmu agamanya?" Habibi masih mengajukan seribu pertanyaan untuk Ustadz Mirza.


Ustadz Mirza makin terdiam.

__ADS_1


"Apakah diamnya Ustadz berarti Ustadz mempertimbangkan kata-kata saya? Dan mulai meragukan dengan pilihan Ustadz?"


__ADS_2