KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 28


__ADS_3

"Sanggupkah saya melanjutkan acara ini?" Batin Femila goyah.


"Huff bukankah saya sendiri yang memintanya untuk menikahi saya? Namun, saya sendiri tidak menyangka sejauh ini saya melangkah." Batinnya masih bergejolak.


"Sayang, kamu cantik sekali." Ucap mama Anita begitu masuk ke kamar Femila.


Femila tersenyum mendengar pujian dari mamanya.


Hari ini adalah pernikahan Femila dan ustadz Mirza. Tepat di hari rencana pernikahan Femila Amore Ibrahim dengan mantan kekasihnya Andra Aksara Barata, yang telah dibatalkan. Semua konsep diubah secara islami, susunan acaranya dengan pembacaan ayat suci Al Qur'an, khutbah nikah, sakral ijab kabul sampai gaun yang dikenakan mempelai pengantin pun secara islami. Masih dengan WO yang sama hanya beda lokasinya, rencana dulu di hotel bintang lima dengan konsep mewah elegan sekarang di rumah mempelai putri dengan konsep islami yang sederhana. Satu hal lagi yang paling beda, mempelai prianya!


Mama Anita menyibakkan kebaya modern menuntun Femila duduk di ruang tengah mendengarkan khutbah nikah yang dilanjutkan ijab kabul.


Silla sahabat karib Femila juga tampak khusuk mendengar khutbah. Dia baru bisa datang karena baru mendapat izin dari kantor. Itu saja melalui perhelatan tawar menawar yang begitu alot dan berujung pada keterpaksaan atasannya untuk memberi dia izin tidak masuk kerja.


Silla tersenyum menggenggam tangan Femila. "Tangan kamu dingin sekali." Ucapnya kemudian.


Femila hanya tersenyum. Jelas dingin lah walaupun menikah dengan orang yang tidak dia cintai tapi ini pertama kali dalam hidupnya dan entahlah apa seumur hidup sekali atau kah?


SAH


SAH


Alhamdulillah.


Lantunan doa terucap dari penghulu nikah dan diamini oleh semua yang menyaksikan prosesi pernikahan. Tak terkecuali ustadz Mirza, mulutnya juga ikut mengamini walaupun terdengar lirih bahkan nyaris tak terdengar orang yang ada di sampingnya.


Ustadz Mirza melangkah menghampiri Femila yang masih duduk di ruang tengah. Menyerahkan maharnya kepada Femila kemudian menyodorkan tangannya. Femila meraih dengan ragu namun tetap dia raih dan mencium punggung tangan itu. Ustadz Mirza menyentuh ubun-ubun Femila sekelumit doa dia ucapkan:


"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa 'audzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih. (Ya Allah , sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya)."


Selesai membaca doa, Ustadz Mirza mengecup ubun-ubun itu. Walaupun agak ragu dan kaku dia lakukan.


"Beraninya dia mencuri start pakai cium ubun-ubun segala. Upss...oh my God bukankah saya duluan yang menciumnya, ya cium punggung tangannya." Batin Femila merasa eneg mengingat apa yang baru ustadz Mirza lakukan dan dia lakukan pula.


Yang membuat Femila bertambah eneg, mereka yang ikut menghadiri prosesi pernikahan bisa-bisanya bersorak "Gendong, gendong, gendong." Al hasil ustadz Mirza pun menggendong ala bridal style. Femila sempat tersentak kaget ketika tubuhnya tiba-tiba dibopong oleh ustadz Mirza. Inginnya menolak namun tidak kuasa mengecewakan semua yang hadir dalam acara.


"Tidak mungkinkan kalau saya harus melingkarkan tangan dileher ustadz Mirza?" Batin Femila. Namun nyatanya tangan itu langsung dia lingkarkan ke leher ustadz Mirza karena tubuhnya hampir jatuh.


"Saya memang belum mencintai kamu Femila, tapi saya sudah berjanji atas nama Allah akan menjadi imam yang baik untuk kamu dan selalu menjagamu." Batin ustadz Mirza.

__ADS_1


Ustadz Mirza tersenyum.


"Atau jangan-jangan ini ulah nya. Sengaja membuat saya seakan-akan jatuh biar saya melingkarkan tangan di lehernya." Femila mencibirkan bibirnya menatap lekat wajah ustadz Mirza. "Ingin rasanya sekalian mencekik lehernya." Geram Femila masih dalam hatinya.


Ustadz Mirza mendudukkan Femila di kursi pelaminan. Semua mata masih menatap sang mempelai pengantin. Bak selebritis sehari, momen pernikahan itu penuh dengan pengambilan gambar dari awal acara sampai momen yang katanya romantis gendong ala bridal style. Tetap tangan para hadirin masih memfokuskan ponsel untuk pengambilan gambar


Semua tamu undangan tumpah ruah membaur satu sama lain. Mulai dari keluarga dua mempelai sampai sahabat dari dua mempelai. Keluarga mempelai wanita dari pihak ibu dan pihak bapak juga ada walaupun semua tidak bisa hadir. Keluarga mempelai laki-laki di wakili oleh pakde dan bude ustadz Mirza dan beberapa anggota keluarga dekat. Sahabat-sahabat ustadz Mirza yang kebanyakan alumni dan mahasiswa juga tidak kalah antusias dalam memeriahkan acara tersebut.


Menjelang istirakhat siang, sahabat-sahabat Femila satu departemen marketing juga ikut memeriahkan acara.


"Serasi, cantik dan tampan."


"Cantik sih, tapi sayang kakinya cacat."


"Jadi dia pengganti kekasihnya Femila yang dulu? Tampan juga sih."


"Kasihan tampan-tampan kok dapatnya wanita cacat."


"Femila makin cantik memakai jilbab."


"Jilbab hanya untuk style saja. Tidak dari hati memakainya."


Masih banyak lagi nyinyiran orang. Ada yang memuji dan ada yang mencari celah kekurangan asal ada bahan omongan.


Setelah menikmati hidangan, silih berganti tamu undangan mulai pamit dari acara. Ucapan doa tidak berhenti mengalir dari mereka.


Ikbal mendekat ke telinga ustadz Mirza. "Ustadz, saya tidak menyangka bukan berakhir di pengadilan tapi di pelaminan." Terkekeh setelah itu sambil merangkul tubuh ustadz Mirza.


Ustadz Mirza tersenyum. "Terima kasih sudah datang ke acara ini."


"Semoga sakinah mawadda wa Rohmah." Ucap yang lainnya.


Femila hanya mengembangkan senyum menyambut ucapan doa dari sahabat-sahabat ustadz Mirza. Senyum yang dibuat sedemikian rupa agar mengembang dan tidak terlihat terpaksa.


Keluarga Femila juga mulai meninggalkan tempat resepsi. Tamu sedikit lengang, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang.


"Mari salat dulu." Ajak ustadz Mirza.


"Ustadz duluan." Jawab Femila.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, ustadz Mirza duduk kembali di kursi pengantin. Menyalami tamu undangan yang sudah menunggunya ke panggung.


Pakde dan bude yang sudah berganti baju, melangkah ke arah Femila dan ustadz Mirza. "Kami pamit ya Nak," Ucap Pakde Mulyo.


"Pakde dan yang lainnya istirahat dulu di rumah saya."


"Ya, nanti istirakhat dulu. Sorenya kita langsung pulang." Ucap Pakde.


"Kami pulang dulu Ndok ( panggilan untuk anak perempuan). Kalau sampai Mirza tidak bener jadi seorang suami, kamu lapor saja sama Pakde."


"Ya Pakde." Ucap Femila sambil merekahkan senyum.


"Semoga kalian bahagia. Jadi keluarga yang sakinah ma Wardah wa Rohmah. Dan juga cepat diberi momongan." Sambung Bude Aisyah dengan mengelus kepala Femila.


"Momongan?" Kata itu mendengung dalam otak Femila.


Femila tersenyum namun sekejap nyaris tak terlihat, karena memang sangat getir mendengar ucapan bude Aisyah.


"Doa yang baik mbok ya diamini." Tutur bude.


"A - amin." Ucap Femila kaku.


"Tante, jaga om ku yang ganteng ini ya. Dan hari ini kakak terlihat makin cantik, kece badai banged." Puji Retha anak bungsu pakde Mulyo dan bude Aisyah.


"Ya, Tante akan jaga bayi kalian." Ceplos Femila.


"Ihhh...Tante lucu deh." Celetuk Retha diiringi tawa khasnya.


"Semuanya bilang tolong jaga, tolong jaga, kaya toko saja perlu dijaga." Gerutu batin Femila.


"Besan, titip anak saya ya, tolong sayangi dia seperti anak sendiri. Kalau dia ada salah, jangan sungkan-sungkan untuk menegurnya." Pamit bude pada mama Anita.


"Ya, pasti saya jaga dan saya sayangi seperti anak sendiri." Jawab mama Anita.


Keluarga besan sudah berpamitan, dan sebagian keluarga Femila juga pulang terlebih dahulu. Hanya ada segelintir tamu yang masih datang ke resepsi itu.


deg


Hati Femila tiba-tiba terguncang hebat, jantungnya memacu dengan cepat. Seseorang melangkah ke panggung pernikahan, langkah kakinya, postur tubuhnya, senyum yang dia kembangkan, sorot matanya, dan wajahnya, wajah yang sangat tidak asing bahkan setiap hari menggelayuti bayang otak Femila.

__ADS_1


__ADS_2