KARENA USTADZ AKU CACAT

KARENA USTADZ AKU CACAT
bab 62


__ADS_3

"Mama tunggu action kamu selanjutnya. Mama, papa akan selalu support kamu. Yakinkanlah Femila. Menangkan hatinya." Mama Anita tersenyum sambil menepuk bahu menantunya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Ma, Pa." Terkejut Femila, tidak seperti biasanya mama dan papanya sudah datang lebih awal di sore hari. Femila meraih tangan kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan itu.


"Ehem, ehem...," Mata mama Anita memandang ke Femila namun dagunya menunjuk ke arah ustadz Mirza. Femila langsung paham apa maksud mamanya.


Dia mendekat ke ustadz Mirza, meraih tangannya kemudian mencium punggung tangan itu. "Puas Ma." Ucap Femila merasa kegiatan itu atas paksaan dari mamanya.


Mama Anita tersenyum mengangguk. "Masa begitu saja diajari Mama." Ucap mama Anita kemudian.


"Terserah Mama." Mode pasrah Femila.


"Mama mau apa ke sini?" Tanya Femila sinis.


"Astaghfirullah haladhim. Ini anak di temui orang tua, tanyanya ketus seperti itu.


"Mama seharusnya temui anaknya di rumah sakit. Dia kan sedang kritis." Masih ketus Femila.


Mama Anita tersenyum kecil mendengar ucapan Femila. "Jadi marah karena ini?"


"Gondok saja. Ada orang tua yang nyumpahi anaknya kritis."


"Mama tidak nyumpahi kok. Mama cuma mendramatisir suasana biar kayak di drama-drama gitu," Senyum mengembang lagi di wajah mama Anita.


"Dan sepertinya rencana mama berhasil, ya tidak Nak Mirza?" Mama menoleh ke arah menantunya.


Ustadz Mirza hanya dapat membalas dengan senyum yang nyaris tidak terlihat.


Femila ngloyor masuk ke arah kamarnya.


"Mau kemana sayang?" Tanya mama Anita.


"Mandi." Jawab Femila tanpa menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu."


Terpaksa Femila berhenti. "Saya tidak ada waktu buat ngladenin Mama."


"Siapa juga minta diladenin. Mama mau pamit pulang."


Femila menoleh ke belakang, "Mengapa mama langsung pulang?" Muka masam langsung diperlihatkan ke mamanya.


"Mama hanya mengantar makanan buat makan malam kalian. Mama lagi tidak enak badan." Mama memijit sendiri tengkuknya.


"Mama sakit?" Femila mendekat ke mamanya merasa khawatir dan langsung memijit bahunya.


Dua orang yang sedikit-sedikit bertengkar namun cepat baikkan.


"Tidak. Agak capek saja. Sudah sana mandi." Kilah mama Anita.


"Yuk Pa kita pulang, Assalamualaikum."


" Waalaikum salam." Jawab Femila dan ustadz Mirza.


"Mama benar tidak apa-apa?"


"Ya. Tidak usah antar ke depan, kamu langsung mandi sana. Keburu Magrib." Ucap mama Anita.


Femila mengiyakan ucapan mamanya karena badannya memang sudah lengket ingin segera mandi.


Lima belas menit kemudian Femila keluar dari kamar mandi dengan kursi rodanya.


"Saya bantu pakaikan." Tawar ustadz Mirza langsung meraih kaki palsu Femila."


"Terkadang, saya iri melihat keakraban kamu dengan mama. Pertengkaran kalian bukanlah pertengkaran sesungguhnya, dalam lubuk hati kalian ada rasa saling menyayangi." Senyum ustadz Mirza.


"Saya tidak besar dengan kedua orang tua, menjadi yatim piatu sejak kecil. Melihat kamu dengan kedua orang tuamu begitu akrab, sungguh hati saya meronta iri." Sambungnya.


Femila memandang intens wajah yang katanya sudah sah menjadi suaminya. "Apanya yang perlu diirikan. Kemarin mama begitu keterlaluan, ustadz juga ikut jadi korban keisengan mama."


"Mama hanya ingin sebuah kebenaran." Ucap ustadz Mirza.

__ADS_1


"Kebenaran apa! Kebenaran kalau Us..."


Femila menghentikan bicaranya dia tidak sadar perkataannya akan mengarah hal yang lebih intim.


"Kebenaran kalau saya begitu khawatir kehilangan kamu."


Femila mulai terlihat canggung mendengar keseriusan ucapan ustadz Mirza.


"Kebenaran kalau saya begitu egois dan kesimpulannya, saya tidak akan menyerahkan kamu pada siapapun."


Ustadz Mirza menelan salivanya.


"Apa boleh saya egois? Setelah membuat hidup kamu berantakan, menyebabkan fisik kamu cacat, pernikahan kamu batal, kekasih kamu pergi. Sekarang saya malah berharap agar kamu tetap bersama saya?" Sambung ustadz Mirza.


Femila terdiam mencerna arah pembicaraan ustadz Mirza.


"Apa boleh saya egois? Berharap kamu mau membuka hatimu. Seperti hati saya yang telah tertuju hanya padamu?" Cecar ustadz Mirza.


"Apa kamu sedang menyatakan cinta?" Femila menggerakkan mulutnya dengan susah hanya batinnya yang berucap.


"Saya mencintaimu, Femila Amore Ibrahim."


deg


"Apa saya salah dengar? Tadi...kamu benar-benar menyatakan cinta." Femila masih membatin.


"Jangan bengong saja." Ustadz Mirza menoel hidung mancung Femila.


Femila mencibirkan bibirnya. "Sa-saya."


"Tidak harus kamu jawab. Rasakan saja cinta yang nanti kuberikan untukmu." Ustadz Mirza mengusap pucuk kepala Femila.


tok


tok


tok


Menoleh ke sumber suara, kemudian kaki ustadz Mirza melangkah ke pintu


"Ustadz...mau jamaah Magrib tidak?" Tanya Habibi.


"Kita salat." Ajak ustadz Mirza mendekat ke Femila dan mendorong kursi roda yang dia duduki.


...****************...


"Dia bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa di kemarin sore. Huh! Saya yang merasa gimana gitu." Gerutu Femila dalam hati.


Pandangannya keluar jendela mobil.


"Kenapa Non?" Tanya Aliyah masih mengemudikan mobilnya.


"Pengen kabur dari rumah." Jawab Femila.


"Apa!" Kaget Aliyah.


"Lupakan." Sahut Femila.


"Non punya masalah dengan Ustadz?"


"Tidak."


"Kenapa ingin kabur dari rumah?"


"Hanya masalah kecil."


Aliyah membuang napasnya kasar. " Katanya tidak ada, kali ini bilang masalah kecil." Gumam Aliyah.


Mobil memasuki parkiran rumah. Aliyah turun dan membuka pintu mobilnya.


"Setelah ini kamu ada acara Al?"


"Mau ke rumah teman. Ada apa Non?"


"O...saya kira tidak acara, temani saya dulu, ustadz pulangnya malam, katanya ada acara."

__ADS_1


"Duh, maaf ya Non. Saya sudah janjian dengan teman saya dari minggu kemarin."


"Ya tidak apa-apa, kamu langsung pulang saja." Ucap Femila.


"Bener Non tidak apa-apa?"


Femila mengangguk.


"Assalamualaikum Non."


"Waalaikum salam."


Satu, tiga , empat jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Femila sudah merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya tapi belum terpejam, menatap ponsel yang dia pegang.


"Sudah setengah sepuluh malam kenapa ustadz belum pulang?"


Femila mendengar langkah kaki di balik pintu kamar, tidak lama knop pintu diputar dan suara pintu terbuka.


Mata Femila langsung dipejamkan.


Sosok bayang berhenti di belakang pintu yang sudah dia tutup kemudian langkah kakinya masuk ke toilet dalam kamar. Ada suara kran yang dibuka dan aliran air mengalir.


Femila memicingkan satu matanya hingga satu mata terbuka.


"Untung langsung memejamkan mata. Kalau tidak pasti dia merasa besar kepala berasa saya sedang menunggunya." Batin Femila.


"Menunggu? Sebentar, apa saya belum memejamkan mata karena menunggunya pulang?" Tidak! Tidak!" Sambung batin Femila dengan menggelengkan kepalanya keras.


Kran dimatikan dan suara gemericik air berhenti. Femila langsung memejamkan mata.


Bayang itu mendekat ke arah Femila, kemudian menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuh Femila. Bayang itu menggelengkan kepalanya. Tangannya menggulung celana kimono yang dipakai Femila dengan telaten, kemudian melepas kaki palsunya.


"Belum dilepas kenapa tidur?" Lirih ustadz Mirza menarik dua sudut bibirnya ada sebesit ide menjaili wanita yang di depannya karena dia tahu wanita itu hanya pura-pura tidur.


"Kamu tidak mungkin tidur tanpa melepas kaki palsu." Batin ustadz Mirza.


Tangannya menyibak anak rambut yang menghalangi wajahnya. Rambut itu dia selipkan di belakang telinga. Tangannya mulai turun meraba bibir yang selama ini jauh dari jangkauannya. Dengan lembut bibir itu dia sapu menggunakan jari jempolnya.


"Ustadz!" Jerit Femila segera bangkit dan menyender di kepala ranjang.


Senyum tergambar dari wajah ustadz Mirza.


"Saya kira kamu sudah tidur." Ucap ustadz Mirza, kakinya melangkah kemudian naik ke atas ranjang.


"Issst. Sungguh tidak saya duga. Kemarin dia menyatakan perasaannya dan malam ini dia meraba salah satu aset saya." Geram Femila dalam batinnya.


"Jangan mesum!" Femila mencibirkan bibirnya.


Lagi-lagi ustadz Mirza menanggapinya dengan senyum.


"Mesum dengan istri pahalanya besar." Goda Ustadz Mirza masih dengan senyum yang dia perlihatkan.


Femila mencibirkan bibirnya mendengar ucapan ustadz Mirza.


"Ini." Ustadz Mirza menyodorkan satu amplop panjang.


Femila meraihnya, membuka amplop itu dan membaca isinya.


"Undangan dari panti asuhan Anak Bangsa?"


Ustadz Mirza mengangguk.


"Ustadz dari sana?"


"Tidak sengaja saya lihat di meja pengurus panti, di amplop itu tertulis nama lengkap kamu kemudian saya memastikan barang kali ada Femila Amore Ibrahim yang lain, ternyata itu benar kamu. Undangan itu akhirnya saya minta."


"Ustadz bilang kalau Ustadz suami saya?"


Ustadz Mirza menggelengkan kepalanya. "Pengurus panti bilang sudah lama sekali kamu tidak berkunjung ke sana. Walaupun donasi tiap bulan tetap kamu transfer ke rekening panti."


"Sejak kecelakaan, sekali pun saya tidak pernah ke sana." Sahut Femila.


"Maukah Minggu besok datang dengan saya?"


Femila terdiam. Hadirnya dia ke sana tentu akan mengingatkan memori dengan sesosok orang yang masih singgah di hatinya.

__ADS_1


Mawar merah untuk ustadz Mirza yang berani mengungkapkan perasaannya.🌹🤗🥰😍🙏


Berikan komen kalian 🥰😍🙏


__ADS_2