
Habibi yang sebenarnya sudah di tempat kejadian, merasa heran karena ini pertama kalinya dia melihat ustadz Mirza semarah itu. Safera dia turunkan dari gendongan, langkah kakinya mendekat ke arah ustadz Mirza. Matanya menatap lekat pada tiga pegawai yang ada di depannya.
"Minta diselesaikan secara damai atau jalur hukum? Percakapan anda sudah saya rekam di ponsel saya. Kami bisa melayangkan KUHP 310 pencemaran nama baik dan 321 tentang fitnah bahkan kita bisa menambah KUHP 335 perbuatan yang tidak menyenangkan!" Tantang Habibi.
Mereka terdiam. Menundukkan kepala.
"Berarti kalian ingin jalur hukum?" Ancam Habibi.
"Tidak Pak, ka-kami minta maaf." Ucap salah satu dari mereka dengan gugup.
"Bukan saya yang menjadi korban tapi nona Femila Amore Ibrahim."
"I-iya kami akan meminta maaf pada Femila."
"Kamu lihat foto ini." Habibi memperlihatkan satu foto di layar ponselnya.
Mereka bertiga mendongakkan wajahnya menatap layar ponsel itu. Kemudian menganggukan kepala bersama.
"Dia anaknya ceo PT Perkasa Bintang. Bahkan dia sekarang ikut kami."
Mereka kompak menatap bocah kecil yang menempel di ustadz Mirza.
"Besok saya sudah mendengar kabar kalau kalian sudah meminta maaf langsung pada nona Femila dan pernyataan maaf di grup kantor." Tegas Habibi.
Sekali lagi mereka menganggukkan kepala.
"Silahkan kalian lanjutkan perjalanan pulang." Ucap Habibi kemudian.
Dengan langkah cepat mereka pergi dari hadapan ustadz Mirza dan Habibi.
"Kamu merekam pembicaraan mereka?" Tanya ustadz Mirza setelah mereka tidak tampak.
"Tidaklah Ustadz, bagaimana saya rekam, saya sedang gendong Safera." Habibi tersenyum.
Ustadz Mirza mengangguk, mengakui kecerdasan Habibi.
"Foto itu, kapan kamu mengambil foto itu?"
"Oh...bilang saja Ustadz minta fotonya. Sudah langsung saya kirim ke Ustadz."
"Habibi! Siapa juga yang minta." Greget Ustadz Mirza.
"Sekalian ke non Femila, sudah saya kirim."
Foto yang Habibi perlihatkan pada tiga pegawai tadi adalah fotonya Femila, ustadz Mirza, dan Safera sedang bermain puzzle balok. Foto itu sangat indah, Femila dan ustadz Mirza tertawa menampakkan gigi rapi mereka, Safera dengan ekspresi tertawa memegang puzzle balok itu. Boleh dikatakan seperti foto keluarga kecil bahagia.
"Tante Femila lama sekali Om?" Tanya Safera yang terlihat sudah mulai bosan menunggu.
"Paling sebentar lagi." Jawab ustadz Mirza.
Benar saja ucapan ustadz Mirza, dari arah gedung kantor muncul sesosok Femila yang sedang berjalan dengan kruk yang mengapit di kedua tangannya dan Aliyah yang sudah melebarkan senyum ke arah Safera, dan yang lainnya.
"Tante." Safera menghambur ke arah Femila.
"Hai Sayang...Safera tidak langsung pulang?" Tanya Femila menghentikan langkahnya. Menatap bocah itu.
"Tadi ikut ngaji sama om Mirza."
__ADS_1
Semuanya masuk ke mobil. Ustadz Mirza duduk di belakang kemudi, dengan Femila dan Safera. Sedangkan Aliyah duduk di samping Habibi. Mobil pun melaju menelusuri jalanan kota.
"Tante, Safera cantikan pakai kerudung ini?" Bocah itu memamerkan kerudung yang dia kenakan.
Femila menatap bocah itu, "Cantik sayang." Ucap Femila menangkupkan dua tangannya di kedua rahang bocah itu dan menekan gemas kedua pipinya.
"Kerudungnya dibelikan Om Mirza." Lapor Safera.
"Oya." Femila menatap ustadz Mirza memastikan ucapan Safera.
"Punya kamu ada, saya taruh di bagasi." Ucap ustadz Mirza.
Femila mengangguk pelan. "Terima kasih." Ucapnya kemudian.
"Tante, Safera punya ponsel baru." Safera merogoh tas punggungnya kemudian mengeluarkan benda pipih canggih itu.
"Papa yang belikan?" Tanya Femila.
Safera mengangguk. "Tadi pagi Safera telepon om Andra."
deg
Seketika jantung Femila terpompa dengan cepat mendengar nama Andra terucap dari bibir Safera.
"Tapi tidak lama, om Andra masih sibuk. Katanya sore ini suruh telepon lagi." Oceh Safera.
Ustadz Mirza diam, sekejap melirik Femila yang terlihat gusar menatap keluar jendela mobil. Habibi dan Aliyah pun pasang mode diam.
"Tante, tolong telepon kan om Andra." Pinta Safera dengan mengulurkan ponselnya ke Femila.
Femila menoleh memandang ponsel itu kemudian menatap wajah Safera. Tangannnya bergerak ragu untuk meraih ponsel itu.
Ustadz Mirza mengusap layar itu menyentuh aplikasi WA dan memilih panggilan. Tertera panggil video keluar yang bergambar video merah, Om Andra Ganteng nama itu ustadz Mirza sentuh, layar bertulis memanggil dan bergambar seorang laki-laki muda yang terlihat tampan menawan dengan celana pendek casual dan kaos pendek duduk menatap ke depan.
Femila melirik ke arah ponsel yang masih mode memanggil.
"Safera tidak usah bilang kalau om Mirza dan Tante Femila ada di sini.
Safera mengangguk.
"Assalamualaikum Om." Sapa Safera begitu layar ponselnya menampilkan gambar dan suara seorang yang sangat tidak asing bagi Femila. Seorang yang masih singgah di lubuk hatinya, seorang yang sampai detik ini memacu jantungnya lebih kencang walau hanya mendengar namanya. Namun seorang pula yang membuat hatinya remuk-seremuknya dan jatuh-sejatuhnya.
"Waalaikum salam Safera cantik. Wah...Safera cantik sekali pakai jilbab."
"Ya, dong om. Safera habis ngaji."
"Pintarnya ponakan om. Sekarang mau pulang?"
"Ya." Jawab Safera.
"Om belum selesai kerjanya?"
"Iya sayang."
"Tante Femila ini sudah pulang."
deg
__ADS_1
Raut muka Andra berubah. "Sudah dulu ya sayang, nanti om telepon lagi. Om kedatangan tamu."
"Ya Om. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Panggilan itu terputus.
Safera memandang ke arah ustadz Mirza, "Safera tidak bilang kan kalau Safera bersama om Mirza dan Tante Femila." Ucap Safera masih dengan kepolosannya.
Ustadz Mirza tersenyum dan mengelus pucuk kepala Safera. Kemudian membantu memasukkan ponsel ke tas Safera.
"Safera pinter ya mengucap salam untuk menyapa." Ucap Aliyah mengurai ketegangan yang terlihat diantara mereka yang duduk di kursi belakang kemudi.
" Ya dong. Safera kan habis ngaji sama om Mirza."
Ustadz Mirza melirik ke arah Femila. Wajah cantik itu menatap keluar jendela dan secara jelas mengusap pipinya yang telah basah. Ada rasa iba yang menusuk ulu hatinya bukan rasa cemburu yang mendominasi namun juga rasa tidak tega dan tidak rela melihat wanita itu meneteskan air mata.
Mobil itu akhirnya terparkir di rumah ustadz Mirza. Satu persatu turun dari mobil. Membersihkan diri dan bersiap-siap menunaikan salat Magrib berjamaah, tak terkecuali Femila karena Safera terus merengek membuntutinya untuk segera ikut berjamaah.
Selesai menunaikan salat Magrib, om Fery sudah menunggunya di ruang tamu.
"Papa..." Safera menghambur memeluk papanya yang sudah jongkok membalas pelukan anaknya.
"Kenapa Papa lama sekali?"
"Papa ada urusan mendadak."
"Kalau Safera bobok di sini boleh tidak?" Pinta Safera dengan wajah memelas.
"Besok Safera kan harus sekolah, tante Femila dan om Mirza juga kerja."
"Kalau dengan Kak Aliyah boleh?"
Aliyah menatap kaget permintaan Safera.
"Kak Aliyah juga sama, harus kerja, Om Habibi juga kerja."
"Ya...semuanya tidak asik." Kecewa Safera.
"Kalau semuanya libur berarti Safera boleh bobok dengan Tante dan Om Mirza?"
"Boleh, yang penting Safera jadi anak yang nurut apa yang dikatakan papa Safera." Ucap ustadz Mirza.
"Hore!!!" Sorak Safera. "Tapi janji ya Om." Sambung Safera menyodorkan kelingkingnya.
"Insya Allah." Ustadz Mirza membalas tautan kelingking itu
"Pa, tadi Safera telepon video sama om Andra."
"Oya, Safera telepon sendiri?"
"Om Mirza yang bantu buat telepon om Andra."
Om Fery menatap ustadz Mirza, memastikan ucapan anaknya. Ustadz Mirza membalas dengan senyuman, isyarat mengiyakan ucapan Safera.
"Pantesan saja Andra telepon saya. Menanyakan keberadaan Safera, tapi yang membuat saya sangat terkejut, Andra menanyakan Femila. Ini pertama kali Andra tanya Femila setelah perpisahan dengannya. Sering saya singgung tentang Femila dia takkan menyahuti pembicaraan saya. Bahkan pernah saya menyinggung mengenai pernikahan Femila, sepatah kata pun dia tidak menyahuti hal itu." Batin om Fery.
__ADS_1
"Pasti Andra tahu sore tadi Femila ada di dekat Safera." Batin om Fery masih bermonolog.