
Melisa mencoba merayu suaminya agar nggak ngambek dan mau memberitahu temannya yang punya perusahaan arsitektur itu. Plus suaminya yang bakal ngomong dan jadi perantara mereka agar temannya mau menangani desain kafenya sendiri dan siapa tau nanti mau jadi fotografer dadakan juga. Kan untung banyak Melisa, nggak keluar duit banyak nanti.
Dan benar saja rayuan Melisa membuahkan hasil manis. Suaminya nggak jadi ngambek dan mau memperkenalkan dirinya dengan temannya yang punya perusahaan arsitektur itu.
"Besok aku bakal coba hubungi temenku bisa apa nggak dia ngurus desain kafe kamu" ucap Prabu setelah luluh dengan rayuan Melisa.
"Bener lho! Nanti jangan tengah jalan ambekan lagi" ucap Melisa dengan bibir mencerbik.
"Iya,,,, Sekarang kita tidur aja ya, karena kerjaan aku udah selesai sekarang waktunya kita tidur aja. Besok aku telfon temenku ok!" ucap Prabu. Lalu dia turun dari ranjang dan meletakkan leptopnya di meja kerjanya yang juga berada di kamarnya.
"Janji dulu bakal di telfonin nanti temen kamu"
"Iya iya janji" Jawab Prabu sambil meletakkan leptopnya.
"Ya udah yuk tidur, aku juga udah ngantuk" jawab Melisa kemudian saat dia baru merebahkan tubuhnya dan ingin memejamkan matanya. Tiba-tiba urung karena mendengar suara suaminya.
"Eh tunggu dulu. Ada yang hampir kelupaan" ucap Prabu setelah dia sadar melupakan sesuatu yang penting.
Melisa segera membuka mata dan segera duduk karena mendengar suara Prabu. Seingatnya dia tidak melupakan sesuatu tapi kenapa suaminya berkata begitu? gumam Melisa dalam hati.
"Hal penting apa mas?" Melisa pun bertanya pada suaminya.
"Apalagi kalau bukan ngebajak sawah sayang" jawab Prabu sambil menyunggingkan senyum mes*mnya. Lalu dengan cepat naik ke kasur dan mengukung tubuh Melisa.
"Ya ampun mas, aku kira apa? Aku sampai kaget tau" ucap Melisa lalu dia mengalungkan tangannya di leher suaminya. Balas ingin menggoda balik.
"Daripada badan pada kaku karena nggak pernah olahraga, mending kita lemesin aja dengan olahraga malem" ucap Prabu masih dengan senyum mes*mnya dan tak lupa dia menaiki turunkan alisnya menggoda Melisa.
*********
Pagi harinya saat selesai sarapan Melisa kembali menanyakan pada suaminya tentang janjiannya semalam. Rasanya Melisa sudah tidak sabar dari semalam tapi dia masih harus bersabar menunggu sampai pagi.
__ADS_1
"Mas Prabu katanya semalem mau telfon temennya buat desain interior kafe ku, kok belum di telfon juga sih sampai sekarang, mas Prabu udah janji lho semalam" ucap Melisa menagih janji.
"Iya iya nih aku telfonin si Abian biar kamu seneng, nggak ngerengek terus kayak bocah" ucap Prabu pada Melisa.
"Ohhh jadi nama temen mas Prabu itu Abian" jawab Melisa tersenyum sumringah. Sebenarnya senyum Melisa di untuk kan suaminya yang mau membantu dirinya.
Tapi Prabu malah berpikiran lain saat melihat istrinya tersenyum lebar begitu saat mendengar nama Abian.
"Kenapa semangat banget kamu denger nama dia. Senyumnya juga lebar banget. Awas kering ntar gigi kamu" ketus prabu.
Sontak Melisa membuka sedikit mulutnya membentuk huruf o sangking speclesnya dengan ke cemburuan suaminya yang sudah pada taraf memprihatinkan.
'Perasaan aku nggak salah ngomong deh. Senyum juga sana dua nggak sana cowok lain. Sensi amat ni suami gue' gumam Melisa dalam hati.
"Ih mas Prabu jangan mulai deh. Aku lihat orangnya aja nggak jadi jangan berpikir aneh aneh ok. Aku lagi nggak mut nih kalau ada adegan ambek ambekan lagi" ucap Melisa agak kesal.
"Lho kok malah kamu yang marah sih?"
"Ya udah ya ya ya aku telfonin dia sekarang nih. Aku losspeker aja sekalian biar kamu denger" ucap Prabu mencoba membujuk Melisa dengan segera menelfon Abian.
"Ya udah buruan" ucap Melisa masih ketus.
"Iya nih udah aku telfon nunggu di angkat" Jawab Prabu menunjukkan handphone nya yang memang menunjukkan sedang memanggil.
"Bagus" ucap Melisa singkat.
Memang selalu begitu, meski Prabu posesif dan ambekan, tapi kalau Melisa balas ngambek maka Prabu akan kelabakan sendiri dan malah dia yang jadi merass salah. Maklum,,,,, bukan cuma Melisa yang Vucinic tapi suaminya tambah kelewat bucin. Tapi dengan cara dan fersi mereka sendiri.
Panggilan pertama tak diangkat dan Prabu menatap wajah istrinya yang ternyata masih terlihat masam, akhirnya Prabu pun terus mencoba menghubungi nomer itu terus sampai di angkat panggilan darinya.
Dan benar saja saat panggilan ke tiga panggilan nya di angkat oleh Abian. Prabu pun mendesah lega karena akhirnya temannya ini mengangkat panggilan darinya juga. Kalau sampai Abian tidak mengangkat panggilan darinya bisa bisa istrinya akan ngambek sampai besok nih.
__ADS_1
📞"Hallo ada apa bro" ucap. Abian dari ujung telfon.
📞" Bi, istri gue mau buka kafe baru gitu, dan dia buruh seorang desain interior buat kafe dia. Kira kira elo bisa bantu nggak? Tapi istriku mau kalau bisa kamu sendiri yang ngehendel projek ruko ini" ucap Prabu.
📞"Ya udah aku usahain. Kalau aku sendiri yang akan pegang pada projects ini" sahut Abian.
📞"Ok thanks ya bro. jadi kira kira ada waktu nggak buat ngebahas hal ini sama mereka. Karena kafe ini nanti akan di rintis oleh istriku dan temennya"
📞"Emmm gimana kalau nanti siang aja sekalian makan siang" ujar Abian.
📞" Ok kalau gitu gue matiin tefonnya . Ntar elo langsung koordinasi sama istri ku dan temannya aja" ucap Prabu
📞" Ya oke. Ntar lo kirim nomer istri elo atau temennya aja biar gampang hubungannya"
📞"Iya ntar gue kirim nomernya elo. Thanks ya, gue tutup dulu telfonnya kalau gitu"
📞" Iya bro santai aja nggak usah sungkan gitu kayak sama siapa aja"
Melisa mendengar percakapan antara suaminya dengan temannya yang bernama Abian pun tersenyum puas saat dia mendengar kalau Abian mau menjadi desain interior untuk kafenya.
Setelah itu pun panggilan berakhir dan Prabu langsung menoleh pada istrinya yang sudah tak nampak lagi raut ngambeknya. Malah sekarang berubah sangat senang.
"Makasih ya sayang kuh,,,,,,,,, aduh makin cinta deh sama suamiku ini" ucap Melisa lalu berdiri dari duduknya dan segera memeluk tubuh suaminya. Dan Prabu pun membalas pelukan itu.
Mereka berpelukan selama beberapa saat sampai suara Melisa membuat pelukan itu terurai.
"Mas, kita mau sampai kapan nih pelukan terus. Mas Prabu nggak ke kantor?" tanya Melisa merusak suasana romantis itu.
"Kekantor lah, kamu sih main peluk peluk aja kan mas jadi lupa kalau harus segera ke kantor"
"Idih malah nyalahin aku. Yuk aku anter kamu kedepan" lalu Melisa kenarik tangan Prabu dan mengambil tas kerja suaminya yang ada di meja.
__ADS_1